Bitcoin menghadapi tekanan setelah dana keluar (outflow) dari ETF Bitcoin spot mencapai sekitar $490 juta dalam tiga hari terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa momentum kenaikan harga mulai melemah, terutama setelah BTC gagal kembali menembus level $78.000.
ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS sebelumnya menunjukkan tren positif, namun arus keluar terbaru ini mengindikasikan penurunan minat dari investor institusional dalam jangka pendek. Meski begitu, jika dilihat secara lebih luas, sejak Maret masih tercatat aliran dana masuk (inflow) bersih sebesar $3,3 miliar.
Tekanan Datang dari Faktor Makro dan Teknologi
Sebagian keraguan investor dipicu oleh performa Bitcoin yang masih turun sekitar 14% sejak awal tahun, sementara S&P 500 Index justru mencetak rekor tertinggi.
Selain itu, sektor teknologi juga mengalami tekanan setelah laporan keuangan yang kurang memuaskan. Saham Meta turun sekitar 9%, sementara Microsoft terkoreksi sekitar 4%.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar. Harga minyak Brent bahkan sempat mencapai $126, diiringi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Inflasi Bisa Jadi Pendorong Jangka Panjang
Meski kondisi saat ini terlihat kurang mendukung, meningkatnya inflasi justru bisa menjadi faktor positif bagi Bitcoin dalam jangka panjang.
Inflasi yang tinggi cenderung menurunkan imbal hasil riil dari instrumen pendapatan tetap seperti obligasi. Hal ini dapat mendorong investor untuk mencari alternatif aset yang lebih langka, seperti Bitcoin.
Namun, data ekonomi terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS sedikit di bawah ekspektasi, yang turut menambah ketidakpastian pasar.
Peran Institusi Masih Penting
Pergerakan harga Bitcoin juga dipengaruhi oleh aktivitas institusi. Strategy, yang dipimpin oleh Michael Saylor, diketahui membeli lebih dari 56.000 BTC dalam empat minggu pertama April.
Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap kemungkinan perlambatan akumulasi dari institusi seperti Strategy, yang bisa berdampak pada harga BTC jika terjadi.
Prospek BTC Masih Terjaga
Walaupun terjadi outflow dalam jangka pendek, kondisi ini belum tentu menjadi sinyal negatif jangka panjang. Faktor utama seperti inflasi tinggi dan menurunnya daya tarik instrumen tradisional justru dapat memperkuat posisi Bitcoin sebagai alternatif investasi.
Dengan demikian, peluang Bitcoin untuk kembali menuju level $80.000 masih terbuka, meskipun pasar saat ini sedang berada dalam fase kehati-hatian.
Sebagai tambahan referensi untuk memahami tren pasar aset digital, kamu juga bisa mengikuti berbagai Info Seputar Crypto terbaru yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.