Komite Oversight dan Government Reform DPR Amerika Serikat resmi meluncurkan investigasi terhadap platform prediction market Kalshi dan Polymarket terkait dugaan insider trading. Penyelidikan ini muncul setelah ditemukan sejumlah transaksi mencurigakan yang terjadi sebelum operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diumumkan ke publik.
Ketua komite, James Comer, mengirim surat langsung kepada CEO Polymarket, Shayne Coplan, dan CEO Kalshi, Tarek Mansour, untuk meminta data internal terkait bagaimana kedua perusahaan menangani potensi insider trading di platform mereka.
Kongres AS Khawatir Pejabat Memanfaatkan Informasi Rahasia
Dalam unggahannya di platform X, James Comer menyebut ada kekhawatiran bahwa pejabat pemerintah atau pihak yang memiliki akses informasi rahasia memanfaatkan prediction market untuk memperoleh keuntungan finansial.
Menurut Comer, terdapat lebih dari 80 transaksi yang dianggap “mencurigakan” dan dilakukan sebelum operasi militer terkait Iran diumumkan secara resmi. Ia menilai praktik seperti ini harus dihentikan karena berpotensi menjadi bentuk insider trading berbasis informasi pemerintah.
Kasus tersebut pertama kali mendapat perhatian luas setelah laporan media mengungkap adanya pengguna prediction market yang memasang taruhan terkait operasi militer Israel terhadap Iran, pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump, hingga kontrak politik pemilu Kongres.
Polymarket dan Kalshi Klaim Punya Sistem Pengawasan
Polymarket sebelumnya mengumumkan pembaruan kebijakan terkait insider trading pada Maret lalu. Platform tersebut menyatakan melarang penggunaan informasi rahasia atau nonpublik dalam aktivitas trading.
Sementara itu, Kalshi pada April lalu juga mengumumkan telah melarang tiga politisi Amerika Serikat karena melakukan taruhan pada pemilu mereka sendiri.
Juru bicara Polymarket mengatakan bahwa perusahaan memiliki “framework integritas pasar yang komprehensif” dan siap bekerja sama dengan Kongres terkait transparansi platform. Kalshi juga menyatakan bangga dengan sistem perlindungan mereka terhadap insider trading dan akan berkoordinasi dengan regulator AS.
Kasus Tentara AS Jadi Sorotan Besar
Investigasi ini juga berkaitan dengan kasus sebelumnya yang melibatkan seorang anggota militer Amerika Serikat.
Pada April lalu, Departemen Kehakiman AS mendakwa Master Sergeant Gannon Ken Van Dyke karena diduga menggunakan informasi rahasia terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraih keuntungan lebih dari $400 ribu di Polymarket.
Van Dyke didakwa atas tuduhan penipuan komoditas dan penyalahgunaan informasi pemerintah rahasia demi keuntungan pribadi. Namun ia menyatakan tidak bersalah dan saat ini dibebaskan dengan jaminan sebesar $250 ribu sambil menunggu proses persidangan.
Prediction Market Makin Diawasi Regulator
Kasus ini memperlihatkan bagaimana prediction market kini semakin menjadi perhatian regulator Amerika Serikat.
Platform seperti Polymarket dan Kalshi memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari politik, perang, ekonomi, hingga olahraga. Namun meningkatnya aktivitas tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait manipulasi pasar dan penggunaan informasi rahasia.
Beberapa analis menilai prediction market berada di wilayah abu-abu regulasi karena memiliki karakteristik yang mirip antara pasar finansial dan perjudian digital.
Dengan meningkatnya tekanan politik dan investigasi Kongres, industri prediction market kemungkinan akan menghadapi aturan yang lebih ketat dalam waktu dekat.
Kunjungi situs berita cryptocurrency untuk mendapatkan update terbaru seputar prediction market, regulasi aset digital, dan perkembangan industri blockchain global.