Pasar Kripto Tertekan Ketidakpastian Global, Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000
Laju harga Bitcoin kembali mengalami hambatan setelah sebelumnya nyaris menyentuh level psikologis US$80.000 pada pertengahan pekan lalu. Memasuki akhir pekan, pasar kripto secara keseluruhan mencatatkan pelemahan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global yang memicu sikap hati-hati di kalangan investor.
Berdasarkan data pasar pada Minggu (26/4/2026) pagi, harga Bitcoin terpantau turun ke level US$77.542. Pelemahan ini turut menyeret turun **kapitalisasi pasar kripto** global sebesar 1,07% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,59 triliun. Koreksi harga ini merupakan imbas dari kombinasi tekanan geopolitik, penguatan makroekonomi tradisional, dan gelombang likuidasi di pasar berjangka.
Dihantam Sentimen Makro dan Geopolitik
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memaparkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dan menguatnya nilai tukar dolar AS telah secara efektif menekan selera risiko investor terhadap aset berisiko. Situasi semakin diperkeruh oleh munculnya gesekan baru antara Amerika Serikat dan China terkait perebutan dominasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Setelah sempat menembus level US$79.000, harga dengan cepat berbalik arah dan melemah ke kisaran di bawah US$78.000,” jelas Fyqieh, Jumat (24/4/2026).
Pembalikan arah yang tiba-tiba ini memicu efek domino berupa likuidasi paksa berskala besar di pasar derivatif, dengan total posisi yang hangus ditaksir mencapai US$278 juta. Tekanan jual masif dari proses likuidasi inilah yang mempercepat laju kejatuhan harga dalam jangka pendek.
Altcoin Tumbang, Dominasi Bitcoin Menguat
Tren negatif ini tidak hanya dialami oleh Bitcoin. Sejumlah altcoin utama turut terseret ke zona merah. Ethereum (ETH) terkoreksi dari rekor tertingginya pekan ini, sementara XRP tertahan kokoh di bawah level resistensi. Aset kripto populer lainnya seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin juga mencatatkan rapor merah.
Menariknya, di tengah pelemahan pasar secara luas, dominasi Bitcoin (BTC dominance) justru merangkak naik hingga menyentuh kisaran 60%. Hal ini mengindikasikan adanya manuver investor yang memindahkan dana mereka dari altcoin ke Bitcoin, yang dinilai sebagai aset pertahanan (defensive asset) yang lebih aman saat pasar sedang goyah.
Tekanan tambahan juga datang dari ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Peluang pengesahan CLARITY Act pada tahun 2026 dilaporkan semakin menipis akibat perbedaan pandangan di kongres, yang pada gilirannya mengikis kepercayaan institusi terhadap kerangka hukum aset digital.
Fokus Selanjutnya: FOMC dan Aksi Jual Miner
Meski tengah berada dalam tekanan, fondasi pasar dinilai masih cukup kuat. Fyqieh menyebut pelemahan ini sebagai fase konsolidasi yang wajar setelah reli panjang, didorong oleh aksi ambil untung (profit-taking) dari trader jangka pendek.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level dukungan kuat US$75.000, peluang pemulihan masih terbuka lebar,” tambahnya. Namun, tren kenaikan yang lebih berkelanjutan dinilai membutuhkan dorongan likuiditas baru dan partisipasi ritel yang lebih masif untuk menjaga pergerakan di area kunci US$78.000 hingga US$83.000.
Ke depan, para pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada rapat komite kebijakan moneter AS atau FOMC yang dijadwalkan pada 28-29 April. Keputusan The Fed terkait arah suku bunga akan menjadi penentu utama pergerakan pasar. Selain itu, tingginya aktivitas penjualan Bitcoin oleh para penambang (miner) baru-baru ini juga menjadi faktor risiko tambahan yang berpotensi membatasi ruang kenaikan harga jika tidak segera diserap oleh permintaan baru.
Untuk memperluas wawasan Anda, jangan lewatkan Info Kripto terbaru yang kami sajikan secara lengkap dan selalu terupdate melalui beranda website Blockped.