Blockped

Mengenal Apa Itu ICO (Initial Coin Offering)

licensed-image

Pada masa kejayaannya di tahun 2017, Initial Coin Offering (ICO) sempat merajai dunia pendanaan startup blockchain, bahkan mengalahkan metode modal ventura tradisional. Namun, apa sebenarnya ICO itu, dan bagaimana cara kerjanya?

Definisi dan Cara Kerja ICO

ICO atau Initial Coin Offering adalah sebuah metode penggalangan dana yang pernah sangat populer di kalangan proyek mata uang kripto tahap awal. Konsepnya mirip dengan crowdfunding (urun dana) digital. Dalam sebuah ICO, startup berbasis blockchain akan mencetak token digital asli mereka sendiri, lalu menawarkannya kepada investor awal. Sebagai gantinya, investor biasanya membayar menggunakan mata uang kripto yang sudah mapan seperti Bitcoin atau Ethereum.

 

Bagi startup, ICO adalah cara brilian untuk mengumpulkan modal tanpa harus menyerahkan ekuitas atau kepemilikan saham perusahaan. Di sisi lain, metode ini juga membantu mereka membangun komunitas pengguna yang sangat termotivasi. Investor tentu berharap proyek tersebut sukses agar nilai token presale yang mereka beli ikut melonjak.

Keuntungan bagi pembeli token terbagi menjadi dua: mereka mendapatkan akses ke layanan yang ditawarkan platform tersebut, dan jika proyeknya meledak sukses, harga token di bursa akan meroket tajam. Salah satu contoh kesuksesan terbesar adalah ICO Ethereum pada tahun 2014. Saat itu, 50 juta token Ether (ETH) dijual seharga $0,311 per keping. Pada Mei 2021, harga ETH menyentuh angka $4.382,73, memberikan keuntungan fantastis lebih dari 1,4 juta persen bagi investor awalnya.

Jejak Sejarah ICO

Perjalanan ICO dipenuhi dengan pasang surut yang luar biasa:

  • 2013: Dimulai ketika J.R. Willet menulis “The Second Bitcoin White Paper” untuk proyek MasterCoin (kini Omni Layer) dan sukses meraup $600.000.

  • 2014: Mulai berkembang dengan 7 proyek yang mengumpulkan total $30 juta. Ethereum mendominasi dengan meraup lebih dari $18 juta.

  • 2016: Aktivitas ICO kembali menggeliat dengan 43 proyek yang berhasil mengumpulkan $256 juta. Tahun ini juga ditandai dengan insiden The DAO, sebuah dana investasi otonom yang berhasil mengumpulkan rekor $150 juta, namun sayangnya diretas sebesar $60 juta yang berujung pada keruntuhan proyek dan hard fork jaringan Ethereum.

  • 2017 (Puncak Kejayaan): Berkat kemajuan teknologi, ICO mengalami ledakan luar biasa. Terdapat 342 penerbitan token yang menghasilkan hampir $5,4 miliar. Orang-orang berlomba-lomba berinvestasi secara tergesa-gesa tanpa terlalu memedulikan fundamental proyek.

Sorotan Tajam dari Regulator

Seiring dengan popularitasnya yang meroket, ICO mulai menarik perhatian ketat dari para penegak hukum. Pada tahun 2017, Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat merilis peringatan bahwa jika sebuah aset digital memiliki karakteristik sekuritas (seperti hak kepemilikan atau ekspektasi keuntungan dari pihak lain), maka aset tersebut harus tunduk pada hukum sekuritas AS. Ketua SEC, Gary Gensler, bahkan meyakini bahwa hampir semua ICO adalah sekuritas ilegal.

Negara-negara lain pun mengambil tindakan:

  • Regulator di Inggris, Australia, dan berbagai negara lain mengeluarkan peringatan keras kepada investor ritel terkait potensi penipuan.

  • Tiongkok dan Korea Selatan mengambil langkah tegas dengan melarang ICO secara total.

  • Thailand sempat memberlakukan larangan sementara untuk menyusun kerangka hukum yang baru.

Hingga saat ini, belum ada konsensus global yang seragam mengenai undang-undang perlindungan investor dari penjualan token bodong.

Risiko Tinggi di Balik ICO

Token yang dibeli melalui ICO diklasifikasikan sebagai investasi berisiko sangat tinggi. Sebuah laporan dari Satis Group untuk Bloomberg pada tahun 2018 mengungkapkan fakta mengejutkan: hampir 80% dari ICO pada masa itu diyakini sebagai penipuan (scam).

Jika Anda tertarik berinvestasi di proyek kripto baru, lakukanlah riset mendalam (due diligence) dengan langkah-langkah berikut:

  1. Periksa Tim Pengembang: Pastikan mereka memiliki pengalaman nyata dan rekam jejak yang jelas dalam membangun bisnis. Cari tahu akun media sosial profesional mereka.

  2. Baca White Paper dan Roadmap: Pahami bagaimana produk tersebut bekerja dan kapan fitur-fiturnya akan diluncurkan.

  3. Audit Keamanan: Proyek yang serius biasanya menyewa pihak ketiga untuk mengaudit kode komputer mereka.

  4. Waspadai Red Flag: Situs web yang dibuat asal-asalan, penuh salah ketik (typo), sering kali merupakan indikasi penipuan.

Selain risiko penipuan, ada juga risiko pump and dump. Sangat umum terjadi di mana investor awal langsung menjual koin diskon mereka secara massal begitu token tersebut masuk ke bursa kripto demi keuntungan instan. Hal ini sering membuat harga token hancur dan jarang bisa pulih kembali. Faktanya, studi tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 50% proyek ICO gagal bertahan lebih dari empat bulan, menyisakan ribuan “koin mati” (dead coins) di pasar.

Picture of pediadmin

pediadmin