Harga minyak mentah berjangka melonjak tajam di platform perdagangan terdesentralisasi, Hyperliquid. Lonjakan signifikan ini dipicu oleh instruksi Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang memerintahkan blokade angkatan laut di jalur suplai global utama, Selat Hormuz, menyusul kebuntuan perundingan nuklir dengan Iran di Islamabad.
Pergeseran Penemuan Harga ke Platform Terdesentralisasi
Berdasarkan data perdagangan, kontrak perpetual futures minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat melesat 7% hingga menyentuh US$96,40. Tren serupa juga dialami kontrak berjangka Brent yang terkerek naik 6% ke level US$96.
Menariknya, volume perdagangan WTI di platform Hyperliquid berhasil menembus angka US$1,53 miliar. Pencapaian ini menjadikannya instrumen ketiga yang paling banyak diperdagangkan di platform tersebut, tepat di bawah dominasi Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH). Tingginya volume ini menyoroti pergeseran tren investor yang kini semakin mengandalkan platform blockchain terdesentralisasi untuk melakukan penemuan harga (price discovery), terutama di saat jam operasional pasar tradisional sedang tutup.
Ancaman Krisis Pasokan yang Belum Pernah Terjadi
Keputusan blokade ini diumumkan pada waktu yang sangat rentan. Pertengahan April merupakan periode kritis bagi pasar minyak global, mengingat penarikan besar-besaran cadangan minyak strategis yang dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) mulai mendekati batas maksimal.
Sebagai informasi, pelepasan cadangan darurat yang diinisiasi sejak meletusnya konflik pada 28 Februari lalu telah membantu menutupi defisit pasokan sekitar 4,5 hingga 5 juta barel per hari akibat gangguan di Selat Hormuz. Namun, seiring dengan semakin menipisnya bantalan cadangan tersebut dalam beberapa pekan mendatang, selisih pasokan berisiko melebar tajam hingga menyentuh angka 10 hingga 11 juta barel per hari jika arus perdagangan tidak segera dinormalkan.
Pihak House of Saud belum lama ini memperingatkan bahwa skenario terburuk tersebut dapat memicu “kejutan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pasar minyak modern.” Sejalan dengan itu, Kepala IEA, Fatih Birol, pada pekan lalu juga telah mewanti-wanti bahwa guncangan pasokan minyak di bulan April berpotensi jauh lebih parah dibandingkan bulan Maret.
Dampak Sistemik ke Pasar Saham dan Kripto
Krisis di jalur energi ini diproyeksikan akan memberikan efek kejut instan ke berbagai pasar keuangan. Indeks acuan harga minyak diperkirakan akan melompat tajam pada pembukaan pasar hari Senin di tengah ekspektasi ketatnya pasokan.
Di sisi lain, pasar saham (equities) diprediksi akan menghadapi tekanan aksi jual (risk-off) akibat kembali mencuatnya kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Para trader tampaknya akan mulai mengkalkulasi ulang asumsi pertumbuhan ekonomi global, yang berujung pada meningkatnya volatilitas baik di pasar tradisional maupun kripto.
Tekanan terhadap aset berisiko ini sudah mulai terlihat nyata. Bitcoin, yang sering dijadikan indikator utama selera risiko (risk appetite) oleh para trader, kini tengah berada di bawah tekanan. Berdasarkan data dari CoinDesk saat berita ini ditulis, Bitcoin mengalami koreksi hampir 3% dalam sehari dan diperdagangkan di kisaran level US$71.000.
Sebagai referensi tambahan, kami juga menyediakan Komunitas Crypto terupdate dan pastinya solid.