Blockped

Konflik Geopolitik Memanas, Volume Transaksi Kripto Kuartal I 2026 Kompak Menyusut

Gemini_Generated_Image_qv9dtgqv9dtgqv9d-scaled-rll9vrefty6nxoaft1j0085ggzucry2n69cdq7picg

Ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, tidak hanya mengguncang pasar komoditas seperti minyak mentah, tetapi juga memberikan efek domino pada industri mata uang kripto. Ketidakpastian situasi dunia ini mendorong para investor kripto di Tanah Air untuk bersikap ekstra hati-hati di sepanjang kuartal pertama tahun 2026.

Transaksi di Bursa Kripto Lokal Melambat

Dampak dari sentimen negatif global ini terekam jelas pada laporan volume perdagangan di berbagai bursa kripto utama Indonesia.

  • Indodax: Vice President Indodax, Antony Kusuma, mencatat adanya penyusutan nilai transaksi hingga 40% pada Kuartal I 2026 jika dibandingkan dengan Kuartal IV 2025. Antony menilai penurunan ini sebagai respons wajar pasar, di mana para pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see. Selain faktor geopolitik, pasar juga dinilai sedang memasuki fase penyesuaian yang lumrah terjadi dalam siklus historis pergerakan Bitcoin.

  • Tokocrypto: Kondisi serupa juga terjadi di Tokocrypto. Sang CEO, Calvin Kizana, mengungkapkan bahwa meski platformnya berhasil membukukan nilai transaksi lebih dari US$ 1,5 miliar di Kuartal I 2026, angka tersebut masih mengalami penurunan dari kuartal sebelumnya. Calvin menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah hal yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari lesunya aktivitas pasar kripto secara nasional dan global akibat minimnya volatilitas serta tingginya kehati-hatian investor.

Tren Investasi: Mengamankan Aset vs Spekulasi Jangka Pendek

Di tengah dinamika makroekonomi yang bergejolak, terjadi pergeseran strategi yang menarik di kalangan pelaku pasar. Mayoritas investor mencari aman, namun sebagian trader ritel tetap agresif mencari peluang.

Berdasarkan data dari Indodax dan Tokocrypto, berikut adalah profil aset kripto yang paling diminati sepanjang Kuartal I 2026:

  • Pelarian ke Stablecoin dan Blue-Chip: Tether (USDT) dan Bitcoin (BTC) tak tertandingi sebagai dua aset paling favorit. Di Indodax, keduanya mendominasi sekitar 40% dari total volume perdagangan. Sementara di Tokocrypto, USDT memimpin dengan digunakan oleh lebih dari 1 juta trader. Hal ini menunjukkan kecenderungan investor yang memanfaatkan USDT untuk menjaga nilai aset tetap stabil (stablecoin) dan likuid, serta menjadikan BTC dan Ethereum (ETH) sebagai aset fundamental untuk investasi jangka panjang karena kapitalisasi pasarnya yang raksasa.

  • Fokus pada Utilitas dan Ekosistem: Aset seperti Solana (SOL) mendapat sorotan karena pertumbuhan ekosistemnya yang sangat pesat. Di sisi lain, TKO turut diminati oleh pengguna Tokocrypto karena menawarkan berbagai utilitas native di dalam platform mereka.

  • Ritel Masih Berburu Meme Coin: Di balik sikap wait and see pasar secara umum, trader ritel rupanya masih aktif mencari cuan kilat. Hal ini dibuktikan dengan masuknya jajaran token berkapitalisasi rendah dan aset tren seperti PIPPIN, FARTCOIN, JELLYJELLY, PEPE, hingga DOGE ke dalam daftar 10 aset terpopuler di Indodax. Mereka memanfaatkan momentum pergerakan harga yang fluktuatif untuk meraup keuntungan jangka pendek.

Secara keseluruhan, data Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa kombinasi antara stabilitas, kepercayaan aset yang tinggi, serta pemanfaatan momentum jangka pendek menjadi strategi utama para investor dalam menavigasi panasnya iklim geopolitik global saat ini.

Picture of pediadmin

pediadmin