Blockped

Gagal Bertahan di US$76.000, Sinyal Langka Ini Justru Indikasikan Bitcoin Berada di Dasar Pasar

Gagal Bertahan di US$76.000, Sinyal Langka Ini Justru Indikasikan Bitcoin Berada di Dasar Pasar

Harga Bitcoin (BTC) kembali gagal mempertahankan momentum penembusan (breakout) di atas level US$76.000. Kendati demikian, sebuah metrik langka dari pasar derivatif justru memancarkan sinyal kuat bahwa aset kripto terbesar ini mungkin sedang berada di titik terendah pasar (market bottom) dan bersiap untuk lonjakan harga yang signifikan.

Pergerakan Harga dan Anomali Pasar Tradisional

Pada perdagangan baru-baru ini, Bitcoin sempat memberikan harapan setelah menyentuh level resistensi kunci di US$76.000. Namun, reli tersebut kembali terhenti di batas yang sama yang telah menahan laju harga selama lebih dari dua bulan terakhir. BTC berbalik arah dan turun ke bawah US$74.000, sebelum akhirnya diperdagangkan di kisaran US$74.300 dengan kenaikan tipis 1,3% dalam 24 jam terakhir.

Tren serupa juga dialami oleh Ethereum (ETH) yang ditarik mundur dari level US$2.400, meskipun masih mencatatkan kinerja yang sedikit lebih baik dengan kenaikan harian sebesar 2,5%.

Menariknya, koreksi di pasar kripto ini berbanding terbalik dengan euforia di pasar tradisional. Indeks Nasdaq ditutup di level tertingginya dengan lonjakan 2%. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 1,2% dan kini hanya terpaut beberapa poin dari rekor tertinggi baru (All-Time High). Pemandangan ini sangat kontras dengan posisi Bitcoin yang masih berada sekitar 40% di bawah rekor tertingginya di angka US$126.000.

Sinyal ‘Short Squeeze’ dari Pasar Derivatif

Meskipun breakout Bitcoin gagal bertahan, kondisi internal pasar saat ini dinilai sangat matang untuk memicu lonjakan harga secara tiba-tiba (squeeze).

Kepala Riset K33 Research, Vetle Lunde, mengungkapkan bahwa tingkat pendanaan (funding rates) pada kontrak perpetual Bitcoin di bursa Binance telah mencatatkan nilai negatif selama 11 periode berturut-turut di tengah reli baru-baru ini. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas trader masih bersikap pesimis (bearish) dan terus bertaruh pada penurunan harga.

Di saat yang bersamaan, open interest (jumlah kontrak yang aktif) justru terus meningkat. Menurut Lunde, kombinasi ini menunjukkan bahwa trader terus menambah posisi jual (short) baru alih-alih menutupnya. Secara historis, penumpukan posisi short seperti ini sering kali menjadi bahan bakar utama yang memicu lonjakan harga tajam ke atas ketika para trader tersebut terpaksa melikuidasi posisi mereka.

Mengulang Sejarah Krisis FTX 2022

Lebih lanjut, Lunde menyoroti bahwa rata-rata funding rate 30 harian kini telah berada di zona negatif selama 46 hari berturut-turut. Rangkaian sentimen bearish yang berkepanjangan ini merupakan fenomena langka yang menyamai periode stres pasar ekstrem di masa lalu.

Pola serupa sebelumnya hanya terlihat setelah peristiwa keruntuhan bursa FTX pada akhir tahun 2022, serta pada masa bear market pertengahan tahun 2021 ketika China melarang keras aktivitas penambangan Bitcoin.

“Rezim penghindaran risiko (risk-off) yang sebanding seperti ini secara historis selalu terbukti menjadi titik masuk (entry point) yang sangat menarik bagi BTC,” tegas Lunde, merujuk pada potensi lonjakan harga akibat penutupan paksa dari posisi short yang terlalu padat.

Sebagai sumber terpercaya, Anda dapat mengakses Berita Crypto terkini yang kami rangkum secara lengkap langsung melalui beranda website Blockped.

Picture of pediadmin

pediadmin