Blockped

Gagal Tembus Resisten, Harga Bitcoin Terkoreksi 4,75% Dihantam Arus Keluar ETF dan Makro Global

Gagal Tembus Resisten, Harga Bitcoin Terkoreksi 4,75% Dihantam Arus Keluar ETF dan Makro Global

JAKARTA — Laju pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat mencetak reli dan menyentuh level US$ 81.500 pada akhir pekan lalu, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini gagal mempertahankan posisinya dan kembali merosot ke kisaran US$ 76.500–US$ 77.000 pada awal pekan ini.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Selasa (19/5/2026) pukul 18.40 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 76.799, mencatatkan penurunan sebesar 4,75% dalam sepekan terakhir.

Katalis Reli Singkat: Regulasi AS dan Arus Masuk Institusi

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa reli singkat yang terjadi sebelumnya didorong oleh kombinasi sentimen positif yang kuat.

“Ada optimisme terkait regulasi di Amerika Serikat setelah draf Clarity Act menunjukkan kemajuan di Senat. Sentimen ini sempat memberikan dorongan jangka pendek pada aset kripto dan saham-saham terkait, sebelum akhirnya tertahan oleh aksi hindar risiko (risk-off) di pasar yang lebih luas,” ungkap Fyqieh, Selasa (19/5).

Selain sentimen regulasi, derasnya arus modal institusional juga sempat memompa harga. Merujuk pada data Farside, produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot sempat mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) yang masif, yakni US$ 629,8 juta pada 4 Mei dan US$ 532,3 juta pada 5 Mei 2026.

Penyebab Koreksi: Tembok Resisten dan Tekanan Makro

Meski didukung oleh arus dana besar, Bitcoin akhirnya kehabisan tenaga. Ada beberapa faktor utama yang memicu koreksi harga saat ini:

  • Gagal Tembus Tembok Resisten: Secara teknikal, area US$ 82.000–US$ 82.500 terbukti menjadi batas atas (key ceiling) yang sangat solid. Kegagalan menembus area krusial ini memicu aksi tarik mundur (pullback) yang luas di pasar digital.

  • Aksi Jual di Pasar ETF: Tren arus dana institusi berbalik arah dengan cepat. Data Farside menunjukkan adanya arus keluar (outflow) dari ETF Bitcoin sebesar US$ 648,6 juta pada 18 Mei, membalikkan tren positif di awal bulan.

  • Tekanan Makroekonomi Global: Kondisi ekonomi global turut membebani pasar kripto. Naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, kekhawatiran atas inflasi yang persisten, serta tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik membuat investor cenderung menjauhi aset berisiko tinggi.

  • Likuidasi Posisi Leverage: Penurunan harga diperparah oleh tingginya aksi likuidasi pada posisi leverage (perdagangan margin), yang mempercepat laju koreksi ketika momentum bullish patah.

Prospek Harga: Fase Konsolidasi Berlanjut

Melihat dinamika saat ini, Fyqieh menilai bahwa pergerakan Bitcoin masih terjebak dalam fase konsolidasi. Pasar belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren (trend reversal) skala besar selama harga gagal kembali ke atas area resisten utamanya.

Ke depan, jika tekanan makro global dan arus keluar dana ETF masih terus berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji area support (batas bawah) di kisaran US$ 77.800–US$ 78.500.

“Selama Bitcoin belum mampu kembali menembus dan bertahan secara solid di atas level US$ 82.500, pergerakan harga saat ini masih akan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bayang-bayang risiko koreksi lanjutan,” tutup Fyqieh.

Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto terbaru yang dapat Anda akses kapan saja melalui beranda website Blockped.

Picture of pediadmin

pediadmin