Blockped

crypto5

Harga Bitcoin Sempat Naik Lalu Anjlok Usai Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump

Sesuai dengan tren pasar kripto belakangan ini, setiap kenaikan harga yang terjadi sering kali langsung direspons dengan aksi jual cepat oleh para investor.

Poin Penting:

  • Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
  • Kabar ini sempat membuat harga Bitcoin (BTC) melonjak sekitar 2% hingga menembus $68.000. Namun, kenaikan ini hanya sekejap sebelum harganya kembali turun ke level $67.000.
  • Di hari yang sama, data ekonomi AS menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dari perkiraan, diwarnai dengan tingkat inflasi yang lebih tinggi dari harapan.

Respons Singkat Pasar Kripto Pada hari Jumat, Mahkamah Agung AS secara resmi membatalkan rezim tarif Presiden Trump melalui pemungutan suara 6-3. Dokumen putusan pengadilan menyatakan bahwa secara historis, belum pernah ada presiden yang menggunakan undang-undang untuk memberlakukan tarif dengan skala dan cakupan sebesar ini. Pengadilan menilai tindakan tersebut melampaui batas kewenangan sah seorang presiden.

Berita ini langsung memicu reaksi spontan di pasar kripto. Harga Bitcoin sempat terkerek naik sekitar 2% melampaui batas $68.000. Namun, keuntungannya menguap dalam hitungan menit dan harga kembali terperosok ke bawah $67.000. Menariknya, respons sesaat di pasar kripto ini berbanding terbalik dengan pasar saham tradisional, di mana indeks Nasdaq justru berhasil mempertahankan kenaikan sebesar 0,6%.

Bayang-bayang Stagflasi Ekonomi AS Sebelumnya pada hari yang sama, rilis data ekonomi AS menunjukkan adanya indikasi stagflasi—kondisi di mana pertumbuhan ekonomi lesu namun harga-harga barang tetap naik. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa ekonomi hanya tumbuh tipis sebesar 1,4% pada tiga bulan terakhir tahun 2025. Secara tahunan, ekonomi AS hanya tumbuh 2,2%, yang merupakan laju paling lambat sejak era pandemi Covid-19 di tahun 2020.

Di saat yang sama, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti justru naik 3% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka inflasi ini lebih tinggi dari ekspektasi awal yang dipatok sebesar 2,9%, dan naik dari periode sebelumnya (2,8%).

Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B. Riley Wealth, menyatakan bahwa rilis data ekonomi hari itu memberikan pesan yang cukup rumit. “Perpaduan antara inflasi yang lebih panas dan pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan ini menegaskan kemungkinan bahwa The Fed (Bank Sentral AS) tidak akan terburu-buru dalam mengubah kebijakan moneternya,” ujarnya.

Picture of pediadmin

pediadmin

You may also like