Skip to main content

Blockped

Panduan Lengkap Memahami Grafik Candlestick dan Pola-Polanya

Bagi pengguna Supercharts, Anda pasti sudah tidak asing dengan grafik candlestick (grafik lilin). Metode pemetaan yang dikembangkan pada abad ke-18 di Jepang untuk menganalisis pasar beras ini kini menjadi salah satu metode tertua sekaligus paling populer di dunia trading. Melalui visualisasinya, candlestick membantu para trader memahami sentimen pasar dan dinamika pergerakan harga dalam rentang waktu tertentu. Berikut adalah panduan lengkap untuk memahami cara kerjanya. Anatomi Dasar Candlestick Saat ini, candlestick sangat luas digunakan dalam analisis teknikal bersamaan dengan grafik garis (line chart) dan grafik batang (bar chart). Mempelajari variasinya memang membutuhkan waktu, tetapi wawasan yang didapatkan sangat berguna untuk mengidentifikasi potensi kelanjutan atau pembalikan tren. Setiap batang lilin terdiri dari dua komponen utama: Tubuh (Body): Menunjukkan rentang antara harga pembukaan (open) dan harga penutupan (close). Sumbu/Bayangan (Wick/Shadow): Garis yang memanjang di atas atau di bawah tubuh lilin. Sumbu ini mewakili harga tertinggi (high) dan terendah (low) selama periode waktu tersebut. Warna pada candlestick juga memberikan informasi arah pergerakan harga: Lilin Hijau (Bullish): Harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan (harga bergerak naik). Lilin Merah (Bearish): Harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan (harga bergerak turun). Candlestick vs Grafik Batang (Bar Chart) Keduanya adalah jenis grafik yang krusial bagi trader karena menyajikan data yang hampir sama (Open, High, Low, Close). Namun, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing: Candlestick: Sangat intuitif dan menarik secara visual. Cocok bagi trader yang fokus pada area buka/tutup harga. Bentuk pola yang dihasilkan dapat memberikan informasi komprehensif tentang sentimen pasar bahkan sebelum Anda menerapkan alat gambar atau indikator teknikal. Grafik Batang (Bar Chart): Lebih menyoroti harga penutupan sebagai standar harga aset yang sebenarnya. Namun, memindai dan memahami sekumpulan harga penutupan dari banyak grafik batang secara cepat cenderung lebih sulit dan kurang intuitif dibandingkan dengan melihat warna dan bentuk tubuh candlestick. Cara Mengaktifkan dan Mengatur Grafik Untuk memunculkan grafik ini di Supercharts, buka menu jenis grafik pada bilah alat (toolbar) di bagian atas, lalu pilih “Candles”. Agar visualisasinya lebih nyaman, Anda bisa menyesuaikan pengaturannya dengan mengeklik ikon roda gigi (Settings) dan membuka tab “Symbol”: Warna berdasarkan penutupan sebelumnya: Jika diaktifkan, warna lilin akan ditentukan berdasarkan perbandingan harga penutupannya dengan harga penutupan batang sebelumnya (bukan harga buka/tutup lilin itu sendiri). Body, Borders, dan Wick: Anda dapat mengubah warna tubuh, garis tepi, hingga sumbu lilin sesuai selera visual Anda. Mengenal Pola-Pola Candlestick Pola candlestick adalah formasi visual yang berulang, baik dari segi bentuk, urutan, maupun posisi antar-lilin, yang dapat memberikan sinyal mengenai pergerakan harga di masa depan. Sebuah pola bisa terbentuk hanya dari satu lilin tunggal, atau gabungan hingga lima lilin. Semakin banyak formasi lilin yang dibutuhkan, semakin jarang pola tersebut muncul. Terdapat tiga jenis pola utama: Pola Pembalikan Arah (Reversal Patterns) Memberikan sinyal bahwa tren yang sedang berlangsung kemungkinan akan berakhir dan berbalik arah. Contohnya adalah Tweezer Top (Bearish)—pola dua lilin yang muncul di puncak tren tren naik. Harga tertinggi dari lilin kedua sejajar dengan lilin pertama, mengindikasikan bahwa pembeli (bulls) sudah kehabisan tenaga untuk mendorong harga lebih tinggi. Pola Kelanjutan (Continuation Patterns) Mengindikasikan bahwa tren saat ini akan terus berlanjut. Contohnya adalah Rising Three Methods, yang terdiri dari satu lilin hijau panjang, diikuti tiga lilin merah kecil (yang tubuhnya tetap berada di dalam rentang lilin pertama), dan ditutup dengan satu lilin hijau panjang yang kembali melanjutkan tren naik. Pola Netral (Neutral Patterns) Pola ini sangat sering muncul di berbagai fase harga, salah satunya adalah Doji. Doji adalah pola satu lilin yang memiliki tubuh sangat tipis (harga buka dan tutup hampir sama) dengan sumbu yang seimbang. Warna Doji (merah atau hijau) tidak terlalu penting karena esensinya menunjukkan keraguan atau keseimbangan kekuatan di pasar. Menggunakan Indikator Pola Otomatis Untuk menghemat waktu analisis, Anda tidak perlu menghafal dan mencari semua pola tersebut secara manual. Platform penyedia grafik biasanya menyediakan alat pendeteksi otomatis. Di bilah alat atas, buka “Indicators” → “Technicals”, lalu pilih “Patterns” dan cari “Candlestick patterns”. Alat otomatis ini akan menyoroti konfigurasi spesifik pada grafik Anda. Meski begitu, ingatlah bahwa tidak semua indikator pola bekerja sempurna 100%. Terkadang sinyalnya bisa bertentangan dengan indikator lain. Oleh karena itu, penting untuk selalu melihat konteks pasar secara lebih luas dan menyesuaikannya dengan strategi Anda. Kesimpulan Fungsi utama candlestick adalah untuk menganalisis pergerakan harga. Metode ini telah menjadi standar emas dalam trading modern karena kesederhanaannya dalam merangkum data keuangan yang kompleks. Meskipun saat ini terdapat banyak variasi seperti hollow candles atau volume candles, menguasai bentuk orisinalnya beserta pola-polanya (dari Doji hingga formasi multi-lilin) adalah langkah awal terbaik untuk menavigasi kerasnya pasar keuangan.

Gagal Tembus Resisten, Harga Bitcoin Terkoreksi 4,75% Dihantam Arus Keluar ETF dan Makro Global

Gagal Tembus Resisten, Harga Bitcoin Terkoreksi 4,75% Dihantam Arus Keluar ETF dan Makro Global

JAKARTA — Laju pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat mencetak reli dan menyentuh level US$ 81.500 pada akhir pekan lalu, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini gagal mempertahankan posisinya dan kembali merosot ke kisaran US$ 76.500–US$ 77.000 pada awal pekan ini. Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Selasa (19/5/2026) pukul 18.40 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 76.799, mencatatkan penurunan sebesar 4,75% dalam sepekan terakhir. Katalis Reli Singkat: Regulasi AS dan Arus Masuk Institusi Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa reli singkat yang terjadi sebelumnya didorong oleh kombinasi sentimen positif yang kuat. “Ada optimisme terkait regulasi di Amerika Serikat setelah draf Clarity Act menunjukkan kemajuan di Senat. Sentimen ini sempat memberikan dorongan jangka pendek pada aset kripto dan saham-saham terkait, sebelum akhirnya tertahan oleh aksi hindar risiko (risk-off) di pasar yang lebih luas,” ungkap Fyqieh, Selasa (19/5). Selain sentimen regulasi, derasnya arus modal institusional juga sempat memompa harga. Merujuk pada data Farside, produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot sempat mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) yang masif, yakni US$ 629,8 juta pada 4 Mei dan US$ 532,3 juta pada 5 Mei 2026. Penyebab Koreksi: Tembok Resisten dan Tekanan Makro Meski didukung oleh arus dana besar, Bitcoin akhirnya kehabisan tenaga. Ada beberapa faktor utama yang memicu koreksi harga saat ini: Gagal Tembus Tembok Resisten: Secara teknikal, area US$ 82.000–US$ 82.500 terbukti menjadi batas atas (key ceiling) yang sangat solid. Kegagalan menembus area krusial ini memicu aksi tarik mundur (pullback) yang luas di pasar digital. Aksi Jual di Pasar ETF: Tren arus dana institusi berbalik arah dengan cepat. Data Farside menunjukkan adanya arus keluar (outflow) dari ETF Bitcoin sebesar US$ 648,6 juta pada 18 Mei, membalikkan tren positif di awal bulan. Tekanan Makroekonomi Global: Kondisi ekonomi global turut membebani pasar kripto. Naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, kekhawatiran atas inflasi yang persisten, serta tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik membuat investor cenderung menjauhi aset berisiko tinggi. Likuidasi Posisi Leverage: Penurunan harga diperparah oleh tingginya aksi likuidasi pada posisi leverage (perdagangan margin), yang mempercepat laju koreksi ketika momentum bullish patah. Prospek Harga: Fase Konsolidasi Berlanjut Melihat dinamika saat ini, Fyqieh menilai bahwa pergerakan Bitcoin masih terjebak dalam fase konsolidasi. Pasar belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren (trend reversal) skala besar selama harga gagal kembali ke atas area resisten utamanya. Ke depan, jika tekanan makro global dan arus keluar dana ETF masih terus berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji area support (batas bawah) di kisaran US$ 77.800–US$ 78.500. “Selama Bitcoin belum mampu kembali menembus dan bertahan secara solid di atas level US$ 82.500, pergerakan harga saat ini masih akan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bayang-bayang risiko koreksi lanjutan,” tutup Fyqieh. Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto terbaru yang dapat Anda akses kapan saja melalui beranda website Blockped.

Mengenal Apa Itu ICO (Initial Coin Offering)

Pada masa kejayaannya di tahun 2017, Initial Coin Offering (ICO) sempat merajai dunia pendanaan startup blockchain, bahkan mengalahkan metode modal ventura tradisional. Namun, apa sebenarnya ICO itu, dan bagaimana cara kerjanya? Definisi dan Cara Kerja ICO ICO atau Initial Coin Offering adalah sebuah metode penggalangan dana yang pernah sangat populer di kalangan proyek mata uang kripto tahap awal. Konsepnya mirip dengan crowdfunding (urun dana) digital. Dalam sebuah ICO, startup berbasis blockchain akan mencetak token digital asli mereka sendiri, lalu menawarkannya kepada investor awal. Sebagai gantinya, investor biasanya membayar menggunakan mata uang kripto yang sudah mapan seperti Bitcoin atau Ethereum.   Bagi startup, ICO adalah cara brilian untuk mengumpulkan modal tanpa harus menyerahkan ekuitas atau kepemilikan saham perusahaan. Di sisi lain, metode ini juga membantu mereka membangun komunitas pengguna yang sangat termotivasi. Investor tentu berharap proyek tersebut sukses agar nilai token presale yang mereka beli ikut melonjak. Keuntungan bagi pembeli token terbagi menjadi dua: mereka mendapatkan akses ke layanan yang ditawarkan platform tersebut, dan jika proyeknya meledak sukses, harga token di bursa akan meroket tajam. Salah satu contoh kesuksesan terbesar adalah ICO Ethereum pada tahun 2014. Saat itu, 50 juta token Ether (ETH) dijual seharga $0,311 per keping. Pada Mei 2021, harga ETH menyentuh angka $4.382,73, memberikan keuntungan fantastis lebih dari 1,4 juta persen bagi investor awalnya. Jejak Sejarah ICO Perjalanan ICO dipenuhi dengan pasang surut yang luar biasa: 2013: Dimulai ketika J.R. Willet menulis “The Second Bitcoin White Paper” untuk proyek MasterCoin (kini Omni Layer) dan sukses meraup $600.000. 2014: Mulai berkembang dengan 7 proyek yang mengumpulkan total $30 juta. Ethereum mendominasi dengan meraup lebih dari $18 juta. 2016: Aktivitas ICO kembali menggeliat dengan 43 proyek yang berhasil mengumpulkan $256 juta. Tahun ini juga ditandai dengan insiden The DAO, sebuah dana investasi otonom yang berhasil mengumpulkan rekor $150 juta, namun sayangnya diretas sebesar $60 juta yang berujung pada keruntuhan proyek dan hard fork jaringan Ethereum. 2017 (Puncak Kejayaan): Berkat kemajuan teknologi, ICO mengalami ledakan luar biasa. Terdapat 342 penerbitan token yang menghasilkan hampir $5,4 miliar. Orang-orang berlomba-lomba berinvestasi secara tergesa-gesa tanpa terlalu memedulikan fundamental proyek. Sorotan Tajam dari Regulator Seiring dengan popularitasnya yang meroket, ICO mulai menarik perhatian ketat dari para penegak hukum. Pada tahun 2017, Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat merilis peringatan bahwa jika sebuah aset digital memiliki karakteristik sekuritas (seperti hak kepemilikan atau ekspektasi keuntungan dari pihak lain), maka aset tersebut harus tunduk pada hukum sekuritas AS. Ketua SEC, Gary Gensler, bahkan meyakini bahwa hampir semua ICO adalah sekuritas ilegal. Negara-negara lain pun mengambil tindakan: Regulator di Inggris, Australia, dan berbagai negara lain mengeluarkan peringatan keras kepada investor ritel terkait potensi penipuan. Tiongkok dan Korea Selatan mengambil langkah tegas dengan melarang ICO secara total. Thailand sempat memberlakukan larangan sementara untuk menyusun kerangka hukum yang baru. Hingga saat ini, belum ada konsensus global yang seragam mengenai undang-undang perlindungan investor dari penjualan token bodong. Risiko Tinggi di Balik ICO Token yang dibeli melalui ICO diklasifikasikan sebagai investasi berisiko sangat tinggi. Sebuah laporan dari Satis Group untuk Bloomberg pada tahun 2018 mengungkapkan fakta mengejutkan: hampir 80% dari ICO pada masa itu diyakini sebagai penipuan (scam). Jika Anda tertarik berinvestasi di proyek kripto baru, lakukanlah riset mendalam (due diligence) dengan langkah-langkah berikut: Periksa Tim Pengembang: Pastikan mereka memiliki pengalaman nyata dan rekam jejak yang jelas dalam membangun bisnis. Cari tahu akun media sosial profesional mereka. Baca White Paper dan Roadmap: Pahami bagaimana produk tersebut bekerja dan kapan fitur-fiturnya akan diluncurkan. Audit Keamanan: Proyek yang serius biasanya menyewa pihak ketiga untuk mengaudit kode komputer mereka. Waspadai Red Flag: Situs web yang dibuat asal-asalan, penuh salah ketik (typo), sering kali merupakan indikasi penipuan. Selain risiko penipuan, ada juga risiko pump and dump. Sangat umum terjadi di mana investor awal langsung menjual koin diskon mereka secara massal begitu token tersebut masuk ke bursa kripto demi keuntungan instan. Hal ini sering membuat harga token hancur dan jarang bisa pulih kembali. Faktanya, studi tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 50% proyek ICO gagal bertahan lebih dari empat bulan, menyisakan ribuan “koin mati” (dead coins) di pasar.

Bawa Dogecoin ke Arus Utama, Revolut Rilis Kartu Debit Fisik Tanpa Biaya Tukar Tambahan

Bawa Dogecoin ke Arus Utama, Revolut Rilis Kartu Debit Fisik Tanpa Biaya Tukar Tambahan

Raksasa teknologi finansial (fintech) asal Eropa, Revolut, kembali melakukan gebrakan dengan meluncurkan kartu debit fisik bertema Dogecoin (DOGE). Langkah strategis ini bertujuan untuk mengintegrasikan budaya kripto, khususnya koin meme populer tersebut, ke dalam sistem pembayaran arus utama sehari-hari. Bisa Digunakan di Jaringan Visa dan Mastercard Dalam pengumumannya pada hari Senin lalu, Revolut mengonfirmasi bahwa kartu debit ini dapat digunakan di seluruh merchant atau pedagang yang menerima pembayaran melalui jaringan Visa dan Mastercard. Pada peluncuran tahap awal, fasilitas kartu ini akan tersedia bagi para pengguna di Inggris dan sebagian besar negara Uni Eropa. Namun, layanan ini untuk sementara waktu belum tersedia di Hungaria, Swiss, dan Portugal. Bebas Biaya Tukar, Namun Tetap Tunduk pada Pajak Lokal Melalui platform X (sebelumnya Twitter), pihak Revolut menegaskan bahwa pengguna tidak akan dikenakan biaya pertukaran tambahan (extra exchange fees) saat melakukan pembelian menggunakan kartu ini. Meski demikian, terdapat beberapa catatan penting bagi pengguna: Nilai Tukar Real-Time: Pembayaran menggunakan kartu kripto ini akan tunduk pada nilai tukar yang berlaku tepat pada saat transaksi dilakukan. Kewajiban Pajak: Penggunaan kripto untuk transaksi belanja berpotensi memicu kewajiban pelaporan pajak, yang mekanismenya akan sangat bergantung pada regulasi di masing-masing yurisdiksi lokal. Mendorong Kripto Lebih dari Sekadar Aset Spekulasi Peluncuran kartu Dogecoin ini hadir di tengah tren ekspansi kartu debit berbasis kripto secara global. Sebelumnya, bursa kripto raksasa seperti Coinbase dan Crypto.com juga telah memperluas jangkauan program kartu mereka untuk menghubungkan aset digital dengan transaksi ritel. Manuver bisnis ini mencerminkan upaya yang lebih luas di industri kripto untuk beranjak dari sekadar instrumen trading dan spekulasi. Perusahaan-perusahaan keuangan kini berlomba mendorong pengguna agar mulai membelanjakan kripto mereka melalui jaringan pembayaran yang sudah familier, alih-alih hanya menyimpannya di dalam dompet digital (wallet). Agresivitas Ekspansi Revolut di Sektor Perbankan dan Kripto Inovasi kartu DOGE ini sekaligus menandai semakin dalamnya penetrasi Revolut di sektor layanan perbankan dan aset digital. Sepanjang tahun 2025 lalu, Revolut telah melakukan integrasi jaringan Polygon ke dalam aplikasinya, memungkinkan pengguna untuk melakukan pengiriman uang (remittance), staking token POL, hingga melakukan pembayaran kripto in-app. Selain memperkuat ekosistem kriptonya, Revolut juga terus memantapkan posisinya sebagai lembaga keuangan tradisional. Pada bulan Maret lalu, perusahaan ini telah mengantongi persetujuan regulasi untuk beroperasi sebagai bank berlisensi penuh di Inggris, serta tengah mengajukan permohonan lisensi perbankan baru (de novo) di Amerika Serikat. Untuk memperoleh informasi terbaru dan terpercaya, Anda dapat mengunjungi Portal Crypto kami yang selalu menghadirkan update terkini melalui beranda website Blockped.

TradingView Resmi Menggandeng Universitas Idaho untuk Dorong Edukasi Finansial

TradingView terus memperluas jangkauan Program Edukasinya di kancah global. Kali ini, TradingView dengan bangga menyambut Universitas Idaho sebagai mitra terbaru untuk membantu para mahasiswa mendalami seluk-beluk pasar keuangan dunia. Mengenal Universitas Idaho Berdiri sejak tahun 1889, Universitas Idaho telah berkembang menjadi pusat pendidikan bertaraf global yang menampung hampir 12.000 mahasiswa aktif di berbagai jenjang studi—mulai dari sarjana hingga doktoral. Hingga tahun 2023, institusi ini telah mencetak lebih dari 140.000 lulusan dari beragam disiplin ilmu, mulai dari bioteknologi hingga teknologi virtual. Kampus ini terus berkomitmen untuk membentuk masa depan melalui inovasi dan solusi nyata bagi tantangan masyarakat yang kompleks. Fokus pada Manajemen Risiko Komoditas Salah satu program unggulan yang disorot dalam kemitraan ini adalah Manajemen Risiko Komoditas Pertanian (Agricultural Commodity Risk Management). Tujuan Program: Membekali mahasiswa dengan keahlian mengelola risiko dalam perdagangan dan pemasaran komoditas di sepanjang rantai pasok pertanian untuk mengoptimalkan keuntungan. Praktik Langsung: Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan langsung perdagangan komoditas menggunakan dana riil di bawah pengawasan ketat dari fakultas. Di titik inilah peran TradingView menjadi sangat krusial. Dukungan Akses Profesional dari TradingView Melalui kerja sama ini, mahasiswa program tersebut akan menikmati akses gratis ke berbagai fitur premium TradingView. Dukungan ini mencakup: Grafik harga yang sangat dinamis Ratusan indikator teknikal Beragam alat menggambar (drawing tools) dan fitur kustomisasi Berbekal perangkat analitik kelas atas ini, para mahasiswa dapat meriset pasar secara lebih mendalam, memantau pergerakan komoditas, dan memaksimalkan strategi perdagangan yang mereka susun. Tanggapan Pihak Universitas Menyambut kemitraan ini, Andres Trujillo-Barrera selaku Direktur Program menyampaikan antusiasmenya: “Kami sangat antusias dengan kemitraan bersama TradingView ini. Kolaborasi ini memberikan mahasiswa kami pengalaman praktik langsung yang sangat berharga dalam melakukan analisis teknikal dan fundamental menggunakan platform TradingView. Kerja sama ini akan meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan kami, sejalan dengan misi untuk menghadirkan peluang pembelajaran berbasis pengalaman nyata.” Langkah Maju untuk Edukasi Global Bergabungnya Universitas Idaho semakin memperpanjang daftar institusi yang tergabung dalam program mitra Edukasi TradingView. Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap globalisasi literasi keuangan, memberikan peluang riset terbaik bagi mahasiswa di seluruh dunia, dan memastikan para calon profesional di masa depan siap menghadapi pasar dengan instrumen yang tepat.

Refleksi Bitcoin Pizza Day 2026: Industri Kripto Indonesia Masuki Fase Matang dan Terpercaya

Refleksi Bitcoin Pizza Day 2026: Industri Kripto Indonesia Masuki Fase Matang dan Terpercaya

Menjelang peringatan tahunan Bitcoin Pizza Day pada 22 Mei 2026, lanskap aset kripto di Indonesia dinilai telah bertransformasi secara signifikan. PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax) menyoroti bahwa mata uang digital kini tidak lagi dipandang sebatas eksperimen teknologi, melainkan telah berevolusi menjadi pilar ekosistem keuangan yang matang, teregulasi, dan mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat. Lonjakan Adopsi dan Pergeseran Fokus Industri Kedewasaan ekosistem ini dibuktikan dengan lonjakan jumlah investor yang masif. Indodax mencatat platformnya kini hampir menembus angka 10 juta pengguna, sejalan dengan meluasnya adopsi aset digital di Tanah Air. CEO Indodax, William Sutanto, menegaskan bahwa tingginya angka ini merefleksikan pergeseran cara pandang masyarakat terhadap investasi kripto. “Industri ini sudah jauh lebih matang. Fokus utama kita saat ini bukan lagi sekadar memberikan akses, melainkan membangun kepercayaan serta memastikan perlindungan pengguna,” jelas William dalam keterangan resminya, Sabtu (16/5/2026). Momen kedewasaan ini terasa sangat relevan untuk direfleksikan bersamaan dengan Bitcoin Pizza Day—sebuah peringatan historis yang mengenang transaksi pada tahun 2010, di mana 10.000 keping Bitcoin digunakan untuk membeli dua loyang piza. Peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah pertama di mana Bitcoin diakui memiliki nilai tukar nyata di dunia. Dominasi Pasar dan Dorongan Regulasi Pertumbuhan pesat kripto tidak hanya terjadi secara global, tetapi juga menggema kuat di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026, total investor aset kripto nasional telah menembus 21,37 juta orang. Menariknya, sekitar 46,5% dari total investor tersebut merupakan basis pengguna Indodax. William menambahkan bahwa ekspansi pasar saat ini telah diiringi dengan fondasi regulasi yang kokoh. Pengesahan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) telah menjadi katalis bagi para pelaku industri untuk secara proaktif meningkatkan tata kelola perusahaan, transparansi, dan ketahanan sistem keamanan. Inovasi Keamanan dan Diversifikasi Aset Untuk menjawab tantangan regulasi dan ekspektasi publik, pelaku industri seperti Indodax kini menjadikan keamanan sebagai prioritas mutlak. Beberapa inisiatif strategis yang diterapkan meliputi: Penerapan KYC Hygiene: Pengetatan protokol Know Your Customer (KYC) ini dirancang untuk memitigasi berbagai risiko, mulai dari penyalahgunaan identitas, penipuan digital, hingga ancaman siber. William menegaskan bahwa keamanan kini mencakup perlindungan aset sekaligus identitas digital nasabah. Audit Proof of Reserves (PoR): Fitur transparansi yang memungkinkan nasabah untuk memverifikasi cadangan aset bursa secara berkala. Hal ini menjamin bahwa dana pengguna benar-benar tersimpan dengan aman, sekaligus menetapkan standar akuntabilitas yang tinggi. Selain memperkokoh benteng keamanan operasional, perluasan instrumen investasi juga terus dilakukan. Saat ini, Indodax telah menyediakan akses ke lebih dari 500 aset kripto. Daftar ini turut mencakup instrumen inovatif berbasis Real World Assets (RWA) seperti Tokenized Stocks, yang membuka opsi diversifikasi portofolio yang lebih luas dan terintegrasi bagi para investor di Indonesia. Sebagai tempat berbagi wawasan dan update terbaru, Komunitas Crypto kami dapat menjadi referensi tambahan yang bisa Anda akses melalui beranda website Blockped.

CEO SharpLink Ungkap 3 Faktor yang Bisa Membuat Harga Ethereum Melonjak

CEO SharpLink Gaming, Joseph Chalom, mengungkap tiga faktor utama yang diyakini dapat mendorong harga Ethereum kembali mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, kombinasi regulasi yang lebih jelas, meningkatnya minat risiko pasar, serta pertumbuhan tokenisasi aset dunia nyata akan menjadi pendorong utama pergerakan Ethereum ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan Chalom dalam wawancara bersama Robert Baggs di acara Chain Reaction milik Cointelegraph yang tayang di YouTube pada Kamis lalu. CLARITY Act Dinilai Jadi Katalis Besar untuk Ethereum Menurut Chalom, faktor pertama yang perlu terjadi agar harga Ethereum kembali mendapatkan momentum adalah lolosnya Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) di Amerika Serikat. RUU tersebut bertujuan memberikan kepastian regulasi yang lebih jelas bagi industri kripto di AS. Pada hari yang sama dengan wawancara tersebut, seluruh 13 anggota Partai Republik dan dua anggota Demokrat menyetujui langkah lanjutan pembahasan CLARITY Act dalam pertemuan Komite Perbankan Senat AS. Chalom menilai banyak orang menganggap regulasi ini hanya berdampak di Amerika Serikat. Namun, menurutnya, negara-negara lain juga memantau perkembangan tersebut dengan sangat serius. Negara-Negara Asia Ikut Memantau Perubahan Sikap AS terhadap Kripto Chalom mengatakan dirinya banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara Asia seperti Korea Selatan, Hong Kong, Tokyo, dan Singapura. Ia melihat bahwa negara-negara tersebut memperhatikan perubahan sikap Amerika Serikat terhadap aset digital. Menurutnya, AS sebelumnya dikenal memiliki pendekatan yang cukup keras terhadap industri kripto. Namun kini, negara tersebut mulai bergerak menuju posisi yang lebih terbuka dan bahkan berpotensi kembali menjadi pemimpin sektor keuangan global. Ia juga menyebut banyak pusat keuangan dunia khawatir apabila Amerika Serikat berhasil memimpin kembali perkembangan ekonomi digital berbasis dolar melalui industri aset kripto. Sentimen Risiko Pasar Jadi Faktor Penting Berikutnya Selain regulasi, Chalom menilai faktor kedua yang dapat mendorong kenaikan Ethereum adalah kembalinya minat investor terhadap aset berisiko. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut kemungkinan besar bergantung pada meredanya tensi geopolitik global serta mulai menurunnya dominasi narasi investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Chalom, pasar kripto memiliki peluang untuk kembali naik apabila fokus investor mulai bergeser dan kondisi global menjadi lebih stabil. SharpLink Gaming sendiri saat ini menjadi perusahaan treasury Ethereum publik terbesar kedua di dunia. Berdasarkan data Ethereum Treasuries, perusahaan tersebut memegang sekitar 861.251 ETH dengan nilai mencapai sekitar $1,89 miliar saat artikel ini ditulis. Ethereum sempat mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa di level $4.823 pada Agustus 2025 saat pasar kripto mengalami reli besar. Namun setelah itu, harga ETH turun sekitar 55% dan berada di kisaran $2.190 berdasarkan data CoinMarketCap. Tokenisasi Aset Dunia Nyata Diyakini Jadi Masa Depan Ethereum Faktor ketiga yang dinilai sangat penting oleh Chalom adalah perkembangan tokenisasi aset dunia nyata atau real-world asset (RWA). Menurutnya, sektor tokenisasi akan menjadi area dominasi utama Ethereum di masa depan. Chalom menyebut nilai aset RWA yang telah ditokenisasi saat ini berada di kisaran $32 miliar. Meski proses tokenisasi sudah dimulai sejak 2017, pertumbuhannya selama ini masih tergolong lambat. Namun sekarang, semakin banyak institusi besar mulai mengumumkan proyek tokenisasi aset keuangan mereka. Institusi Besar Mulai Masuk ke Tokenisasi di Ethereum Beberapa perusahaan keuangan besar telah menunjukkan minat serius terhadap tokenisasi berbasis blockchain Ethereum. Pada Rabu lalu, JPMorgan mengajukan peluncuran dana pasar uang tokenisasi di jaringan Ethereum. Produk tersebut memungkinkan penerbit stablecoin menyimpan cadangan mereka dalam instrumen yang lebih terregulasi sambil tetap memperoleh imbal hasil. Sementara itu pada Maret lalu, Franklin Templeton mengumumkan kerja sama dengan Ondo Finance untuk menghadirkan versi tokenisasi dari produk exchange-traded fund (ETF) mereka ke dalam blockchain. Melalui pendekatan tersebut, investor nantinya dapat mengakses produk investasi langsung melalui dompet kripto. Chalom optimistis pertumbuhan tokenisasi akan meningkat drastis dalam beberapa tahun mendatang. Ia bahkan menyebut kemungkinan nilai aset tokenisasi tidak lagi hanya berada di angka $30 miliar dalam setahun ke depan, melainkan dapat mencapai $500 miliar hingga $1 triliun. Kunjungi Info Kripto untuk mendapatkan update terbaru mengenai Ethereum, regulasi aset digital, serta perkembangan teknologi blockchain dunia.

Bagaimana Pasar Stablecoin Naik dari $100 Miliar Menjadi $300 Miliar dalam Satu Tahun

Dari likuiditas trading hingga pembayaran lintas negara, stablecoin berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pencapaian kapitalisasi lebih dari $300 miliar menjadi bukti bahwa stablecoin kini memainkan peran penting dalam transformasi sistem keuangan digital global. Tonggak $300 Miliar: Apa yang Mendorong Pertumbuhan Stablecoin? Lonjakan pasar stablecoin hingga melampaui angka $300 miliar terjadi karena kombinasi berbagai faktor yang saling mendukung dalam jangka waktu tertentu. Meski terlihat seperti pertumbuhan yang sangat cepat dari $100 miliar, peningkatan ini sebenarnya berlangsung secara bertahap sebelum akhirnya mengalami percepatan seiring meningkatnya adopsi kripto dan stablecoin. Sepanjang tahun 2025, jumlah penerbitan stablecoin meningkat signifikan dan mendorong total kapitalisasi pasar jauh melewati $300 miliar. Hal ini menandai perubahan besar, di mana stablecoin tidak lagi hanya digunakan dalam ekosistem kripto, tetapi mulai menjadi bagian penting dari sistem keuangan yang lebih luas. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa stablecoin kini digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari aktivitas trading, pembayaran lintas negara, regulasi keuangan hingga hubungan ekonomi internasional. Pada awal 2025, nilai pasar stablecoin berada sedikit di atas $200 miliar. Dalam 12 bulan berikutnya, pasar bertambah hampir $100 miliar hingga mencapai kisaran $317 miliar sampai $320 miliar pada awal 2026. Tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkan pertumbuhan ini. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya partisipasi pasar kripto, regulasi yang semakin jelas, keterlibatan institusi besar, serta penggunaan stablecoin dalam aktivitas keuangan sehari-hari. Selain itu, pemulihan pasar aset digital juga meningkatkan kebutuhan terhadap instrumen berbasis dolar yang stabil dan mudah dipindahkan. Stablecoin Kembali Menjadi Sumber Likuiditas Utama Kripto Stablecoin kembali menjadi alat utama bagi trader untuk memindahkan dana di berbagai pasar kripto. Aset ini berfungsi sebagai penghubung penting untuk mentransfer nilai antar exchange, membuka maupun menutup posisi trading, hingga digunakan dalam aplikasi decentralized finance (DeFi). Ketika aktivitas trading meningkat sepanjang 2025, permintaan terhadap instrumen berbasis dolar yang cepat dan efisien ikut melonjak. Kemampuan stablecoin dalam memproses transfer hampir instan tanpa bergantung pada sistem perbankan tradisional membuatnya semakin dibutuhkan saat volatilitas pasar tinggi. Pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan pemulihan pasar kripto, tetapi juga memperkuatnya. Semakin banyak dana yang mengalir melalui stablecoin, semakin mudah aktivitas trading dilakukan. Kondisi tersebut kemudian memicu peningkatan penggunaan stablecoin secara berkelanjutan. Tahukah Anda?Beberapa stablecoin mampu memproses nilai transaksi harian yang bahkan melampaui jaringan kartu pembayaran besar saat aktivitas kripto sedang tinggi. Hal ini banyak dipengaruhi oleh bot trading dan arbitrase yang terus memindahkan dana antar exchange demi memanfaatkan selisih harga kecil di pasar. Regulasi yang Lebih Jelas Tingkatkan Kepercayaan Pasar Salah satu faktor penting di balik pertumbuhan stablecoin adalah perkembangan regulasi di berbagai pusat keuangan dunia. Di Amerika Serikat, pembahasan kebijakan dan rancangan undang-undang mulai mengarah pada aturan yang lebih jelas terkait cadangan aset dan transparansi stablecoin. Sementara itu, Uni Eropa melalui regulasi Markets in Crypto Assets (MiCA) juga menghadirkan standar serupa. Negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Uni Emirat Arab turut mengembangkan kerangka regulasi untuk mendukung penerbitan dan penggunaan stablecoin yang sesuai aturan. Walaupun regulasi tersebut belum menghilangkan seluruh risiko, kejelasan aturan berhasil meningkatkan rasa percaya pasar dan menarik minat institusi besar. Stablecoin pun mulai dipandang bukan sekadar alat spekulasi, melainkan instrumen keuangan yang semakin matang. Dua Model Stablecoin Dominan Terus Berkembang Pasar stablecoin saat ini didominasi oleh dua pemain besar dengan pendekatan berbeda, yaitu USDt dan USDC. USDt tetap mempertahankan posisinya sebagai penyedia likuiditas utama di berbagai exchange global, terutama di wilayah yang memiliki akses terbatas terhadap layanan perbankan dolar tradisional. Pertumbuhan USDt sangat berkaitan dengan tingginya volume trading dan permintaan aset berbasis dolar di pasar internasional. Di sisi lain, USDC berkembang melalui pendekatan yang lebih fokus pada kepatuhan regulasi. Pertumbuhan USDC didukung oleh integrasi yang lebih dalam dengan perbankan, layanan pembayaran, dan aplikasi perusahaan, khususnya di negara-negara yang menekankan transparansi serta kepatuhan hukum. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa stablecoin berkembang di dua jalur sekaligus, yaitu kebutuhan likuiditas di dunia kripto dan integrasi dengan sistem keuangan tradisional. Transfer Lintas Negara Jadi Area Pertumbuhan Baru Selain untuk trading, stablecoin kini semakin banyak digunakan untuk transaksi lintas negara. Hal ini menunjukkan bahwa stablecoin perlahan mulai digunakan dalam aktivitas keuangan global sehari-hari. Metode remitansi dan pembayaran bisnis tradisional umumnya masih lambat serta mahal. Stablecoin menawarkan solusi yang lebih efisien dengan mengurangi ketergantungan pada banyak perantara dan mempercepat perpindahan dana antar negara. Walaupun volume transaksi stablecoin secara keseluruhan mencapai triliunan dolar setiap bulan, sebagian besar masih berasal dari aktivitas trading, arbitrase, dan penyediaan likuiditas. Namun demikian, penggunaan nyata di luar ekosistem kripto, seperti pembayaran perusahaan dan remitansi personal, terus mengalami pertumbuhan. Stablecoin Mulai Memiliki Pengaruh Geopolitik Stablecoin juga mulai berkaitan dengan kebijakan negara karena pemerintah menilai dampaknya terhadap arus modal, kontrol moneter, dan sistem pembayaran internasional. Salah satu contoh penting datang dari Rusia yang mengusulkan regulasi kripto dengan mengklasifikasikan aset digital sebagai properti. Walaupun penggunaan aset digital untuk pembayaran domestik tetap dilarang, penggunaannya diperbolehkan untuk penyelesaian transaksi perdagangan internasional. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pemerintah dapat mempertahankan kontrol terhadap mata uang lokal sambil tetap membuka fleksibilitas dalam transaksi global. Dalam kondisi seperti ini, stablecoin menjadi solusi praktis bagi wilayah yang menghadapi sanksi ekonomi, pembatasan modal, atau keterbatasan akses ke jaringan perbankan internasional. Stablecoin Ikut Memengaruhi Permintaan Obligasi AS Bagian lain yang cukup penting dari pertumbuhan stablecoin adalah keterkaitannya dengan pasar keuangan tradisional. Sebagian besar stablecoin berbasis fiat didukung oleh cadangan berupa uang tunai dan surat utang pemerintah jangka pendek. Seiring meningkatnya penerbitan stablecoin, perusahaan penerbit mulai menjadi pembeli signifikan di pasar Treasury Bills Amerika Serikat. Fenomena ini menciptakan hubungan langsung antara permintaan dolar digital dengan aset keuangan tradisional. Dampak jangka panjangnya terhadap likuiditas pasar dan stabilitas sistem keuangan masih terus dipelajari. Tahukah Anda?Tidak semua dompet stablecoin dimiliki individu. Banyak wallet dikendalikan oleh sistem trading otomatis yang mampu menjalankan ribuan transaksi per menit tanpa campur tangan manusia. Data Pertumbuhan Tetap Perlu Dibaca dengan Hati-Hati Meski angka pertumbuhannya sangat besar, data stablecoin tetap perlu dianalisis secara hati-hati. Sebagian besar aktivitas on-chain berasal dari perpindahan internal, strategi trading, dan pergerakan likuiditas, bukan sepenuhnya penggunaan ekonomi nyata. Data transaksi mentah sering kali terlihat lebih besar karena mencakup aktivitas bot trading, perpindahan dana antar exchange, dan transaksi non-pembayaran lainnya. Meski demikian, setelah dilakukan penyesuaian, perkembangan stablecoin tetap menunjukkan pertumbuhan yang

Nigel Farage Beli Rumah $1,8 Juta Setelah Terima Donasi Kripto Rp6,7 Juta Pound

Politikus Inggris Nigel Farage dikabarkan membeli properti senilai 1,4 juta pound sterling atau sekitar $1,8 juta setelah menerima “hadiah pribadi” sebesar 5 juta pound sterling ($6,7 juta) dari miliarder kripto Christopher Harborne. Menurut laporan Sky News, transaksi pembelian rumah tersebut selesai pada Mei 2024, hanya beberapa minggu sebelum Farage mengumumkan pencalonannya dalam pemilu umum Inggris. Kini, Farage menghadapi penyelidikan parlemen Inggris terkait hadiah bernilai besar tersebut. Para pengkritiknya menilai donasi itu seharusnya dilaporkan dan didaftarkan setelah ia resmi menjabat. Farage Bantah Melanggar Aturan Pihak Reform Party dan Farage menegaskan tidak ada pelanggaran hukum dalam kasus ini. Farage berargumen bahwa hadiah tersebut diterima sebelum dirinya resmi memegang jabatan publik, sehingga tidak tunduk pada kewajiban pelaporan yang sama seperti donasi politik saat menjabat. Ia juga menyatakan partainya akan menentang upaya pelarangan maupun moratorium sementara terhadap donasi politik berbasis kripto di Inggris. Inggris Semakin Soroti Donasi Politik Kripto Kasus ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari anggota parlemen dan pejabat Inggris yang ingin membatasi donasi politik menggunakan aset kripto. Pada Februari 2025, Matt Western selaku ketua Joint Committee on the National Security Strategy meminta pemerintah mempertimbangkan larangan sementara terhadap donasi kripto untuk partai politik dan tokoh publik. Menurutnya, ada kekhawatiran bahwa pemerintah asing dapat memengaruhi politik Inggris melalui donasi aset digital, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pemerintah Inggris Siapkan Regulasi Baru Pemerintah Inggris kemudian mengajukan proposal legislasi pada Maret lalu untuk membatasi sementara donasi politik berbasis kripto. Aturan tersebut masih harus melewati persetujuan dua kamar parlemen Inggris serta mendapat pengesahan dari King Charles III sebelum resmi menjadi undang-undang. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pemerintah akan bertindak tegas untuk melindungi demokrasi Inggris dari potensi pengaruh asing melalui pendanaan politik digital. Dapatkan berbagai Berita Bockchain dan perkembangan terbaru dunia aset digital global hanya melalui update terpercaya yang kami sajikan setiap hari.

Bank of England Pertimbangkan Pelonggaran Aturan Stablecoin

Bank of England dikabarkan tengah mempertimbangkan kembali aturan ketat terkait stablecoin pound sterling setelah mendapat kritik dari pelaku industri aset digital. Menurut laporan terbaru, bank sentral Inggris sedang mengevaluasi rencana pembatasan kepemilikan stablecoin serta ketentuan cadangan aset yang dinilai terlalu berat bagi penerbit stablecoin lokal. Deputy Governor BoE, Sarah Breeden, mengatakan pihaknya kini membuka kemungkinan alternatif selain pembatasan sementara jumlah stablecoin yang dapat dimiliki individu maupun perusahaan. Aturan Dinilai Hambat Adopsi Stablecoin Inggris Sebelumnya, dalam proposal regulasi tahun 2025, BoE mengusulkan agar individu hanya dapat memegang maksimal 20.000 pound sterling stablecoin tertentu, sementara perusahaan dibatasi hingga sekitar $13,5 juta selama masa transisi awal. Selain itu, penerbit stablecoin diwajibkan menyimpan minimal 40% aset cadangan dalam bentuk deposito non-bunga di Bank of England. BoE beralasan aturan tersebut diperlukan untuk mencegah perpindahan dana besar-besaran dari bank komersial menuju stablecoin apabila aset digital itu diadopsi secara luas untuk pembayaran. Namun sejumlah perusahaan kripto dan calon penerbit stablecoin menilai kebijakan tersebut terlalu membatasi dan berpotensi membuat stablecoin Inggris sulit bersaing secara global. Industri Kripto Minta Regulasi Lebih Fleksibel Pelaku industri berpendapat bahwa pembatasan kepemilikan stablecoin akan menyulitkan penggunaan untuk kebutuhan institusi seperti treasury perusahaan, payroll, hingga settlement lintas negara. Mereka juga menilai ketentuan cadangan aset dapat memangkas margin bisnis penerbit stablecoin dan membuat Inggris kalah kompetitif dibanding Amerika Serikat maupun Uni Eropa. Saat ini, stablecoin berbasis pound sterling masih memiliki pangsa sangat kecil dibanding pasar stablecoin global senilai sekitar $300 miliar yang didominasi stablecoin berbasis dolar AS. Inggris Cari Titik Tengah Regulasi Stablecoin Perubahan pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah Inggris masih mencari keseimbangan antara mendukung inovasi aset digital dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Awal tahun ini, parlemen Inggris juga membuka diskusi terkait pengawasan stablecoin fiat-backed dengan melibatkan berbagai pelaku industri, termasuk Coinbase. Head of Policy Europe Coinbase, Katie Haries, menyambut positif langkah BoE untuk meninjau ulang kebijakan stablecoin. Menurutnya, pembatasan kepemilikan stablecoin sama saja dengan membatasi inovasi, dan dapat mengurangi daya saing Inggris dalam industri aset digital global. Stablecoin GBP Bisa Jadi Penantang Stablecoin Dolar Jika aturan dibuat lebih fleksibel, stablecoin berbasis pound sterling berpotensi menjadi pesaing serius stablecoin dolar dalam pembayaran lintas negara dan pasar kripto domestik Inggris. Sebaliknya, jika regulasi tetap terlalu ketat, aktivitas penerbitan stablecoin kemungkinan akan tetap terkonsentrasi di negara-negara dengan kebijakan yang lebih ramah terhadap industri kripto. Ikuti perkembangan regulasi aset digital dunia dan berbagai Info Seputar Crypto terbaru agar selalu update dengan tren industri blockchain global.