Kalahkan Investor Saham, Pengguna Kripto RI Tembus 21 Juta di Tengah Ancaman Kesenjangan Literasi

Minat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, terhadap instrumen investasi digital terpantau semakin masif. Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, jumlah investor aset kripto di Tanah Air telah menyentuh angka 21,07 juta orang. Menariknya, angka ini secara resmi telah melampaui jumlah investor di pasar saham domestik. Lonjakan adopsi ini sejalan dengan tren global yang ada. Laporan dari World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa sekitar 42% investor dari kalangan Generasi Z saat ini telah mengantongi aset kripto. Kendati antusiasme generasi muda ini menjadi sinyal positif bagi industri, hal tersebut memunculkan tantangan baru terkait urgensi penguatan literasi keuangan. Fokus Beralih: Dari Adopsi ke Edukasi Chief Marketing Officer (CMO) Pintu, Timothius Martin, memaparkan bahwa tingkat adopsi kripto secara global kini telah mencapai sekitar 700 juta pengguna. “Rasionya sekitar 1 banding 15. Artinya, dari setiap 15 orang di dunia, satu di antaranya sudah pernah melakukan trading atau berinvestasi kripto,” jelas pria yang akrab disapa Timo tersebut. Untuk konteks Indonesia, dengan jumlah 21 juta investor yang telah melampaui pasar saham, Timo menegaskan bahwa masalah utama saat ini bukan lagi soal bagaimana mendorong adopsi. Tantangan terbesar yang sesungguhnya tengah dihadapi oleh industri adalah literasi dan edukasi. Sebagai langkah nyata, platform pertukaran kripto Pintu saat ini aktif menggandeng OJK dan berbagai universitas untuk menggelar kampanye literasi ke kampus-kampus. “Tujuannya agar mahasiswa dapat memiliki pemahaman yang matang sebelum mereka mulai menyisihkan uang untuk berinvestasi,” tambahnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026). OJK Soroti Fenomena FOMO dan Kesenjangan Inklusi Salah satu agenda edukasi terbaru digelar di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, Bandung, yang dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa. Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya pemahaman finansial sejak dini. “Kalau kita tidak kenal (dengan instrumen investasinya), maka ini akan memicu hal-hal yang menjadi permasalahan di masa yang akan datang,” ungkap Arief. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Djoko Kurnijanto, menyoroti adanya anomali di tengah masyarakat. Ia memaparkan bahwa OJK menemukan adanya celah atau gap yang signifikan antara tingkat inklusi (keikutsertaan berinvestasi) dengan tingkat literasi (pemahaman produk) di sektor kripto. “Inilah yang kemudian membuat kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi. Bagaimana caranya supaya masyarakat yang melakukan investasi kripto ini tidak sekadar ikut-ikutan (FOMO),” tegas Djoko. Di tengah laju inovasi industri yang sangat cepat serta berbagai dinamika makroekonomi global yang memengaruhi volatilitas pasar, generasi muda diimbau untuk tidak sekadar menunggangi tren semata. Pemahaman mendalam dan manajemen risiko yang baik dinilai sebagai kunci utama agar investasi di aset digital dapat memberikan manfaat finansial yang optimal. Untuk mengikuti perkembangan teknologi terbaru, Anda bisa membaca Berita Blockchain terkini yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.
Gencatan Senjata Kerek Bitcoin Lewati US$75.000, Namun Laju Tertahan Data Ekonomi AS

Harga Bitcoin (BTC) sempat mencatatkan penguatan signifikan hingga menembus level psikologis US$75.000. Momentum positif ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon pada Jumat (17/4/2026) dini hari. Meredanya tensi geopolitik ini sukses mengembalikan selera risiko investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Berdasarkan data pasar pada Minggu (19/4/2026) pagi, Bitcoin diperdagangkan pada level US$75.693, menandai kenaikan sebesar 3,62% dalam sepekan terakhir. Penguatan ini sekaligus menyapu bersih tren pelemahan di awal pekan, didorong oleh optimisme pasar bahwa konflik Timur Tengah dapat segera mereda dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Tertahan oleh Sentimen Makroekonomi AS Kendati mendapat dorongan dari sentimen geopolitik, laju bullish Bitcoin tidak berjalan mulus. Tekanan jual kembali muncul menyusul rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan fundamental pasar tenaga kerja masih sangat tangguh, sehingga memicu koreksi harian Bitcoin sebesar 1,92%. Berikut adalah rincian data ekonomi AS yang memengaruhi sentimen pasar: Klaim Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims): Turun ke angka 207.000, jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar yang berada di kisaran 213.000. Inflasi Konsumen (CPI): Tercatat di level 3,3% pada bulan Maret. Angka ini sedikit di bawah ekspektasi, namun mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Inflasi Produsen (PPI): Berada di level 4%, lebih rendah dari perkiraan. Kombinasi data ini dinilai belum cukup kuat untuk mendorong bank sentral AS (The Fed) melakukan pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Bitcoin di Persimpangan Jalan Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini tengah berada di persimpangan antara angin segar geopolitik dan tekanan makroekonomi global. “Kenaikan Bitcoin ke area US$75.000 jelas didorong oleh meredanya risiko geopolitik. Namun, data ekonomi AS yang tangguh justru menjadi penahan karena mengecilkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat,” jelas Fyqieh, Jumat (17/4/2026). Menurutnya, dinamika ini membuktikan bahwa karakter pasar kripto kini semakin sensitif terhadap kondisi makro. Pergerakan harga tidak lagi murni didorong oleh sentimen internal industri kripto, melainkan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global, khususnya langkah The Fed. Fundamental Kuat, Namun Rawan Profit Taking Dari sisi fundamental, Fyqieh menyoroti bahwa pasar sebenarnya masih memancarkan sinyal positif. Arus dana segar dari institusi melalui produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin mulai kembali mencatatkan inflow. Selain itu, aksi akumulasi oleh investor skala besar (whale) terpantau terus berlangsung selama beberapa pekan terakhir. “Akumulasi oleh whale dan kembalinya minat institusional ini menjadi fondasi yang kokoh untuk tren jangka menengah. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih dihantui oleh aksi ambil untung (profit taking),” terangnya. Setiap kali harga mencoba mendekati level resistensi US$76.000, investor jangka pendek cenderung memanfaatkannya untuk merealisasikan keuntungan. Hal ini tercermin dari meningkatnya volume aliran Bitcoin yang masuk ke bursa (exchange), yang secara historis menjadi sinyal distribusi aset. Dengan kondisi tarik-menarik sentimen tersebut, Fyqieh memproyeksikan Bitcoin masih akan berada dalam fase konsolidasi. Selama belum ada katalis yang benar-benar kuat—seperti kepastian pemangkasan suku bunga The Fed atau terobosan perdamaian geopolitik yang lebih masif—pergerakan Bitcoin diperkirakan akan tetap terbatas di sekitar area resistensi saat ini. Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto yang selalu diperbarui dan dapat Anda akses langsung melalui beranda website Blockped.
Apakah Kriptografi Tahan Kuantum Akan Memperlambat Ethereum?

Perkembangan teknologi komputasi kuantum mulai menjadi perhatian serius di dunia kripto. Saat ini, Ethereum masih menggunakan sistem kriptografi yang aman dari komputer klasik. Namun, di masa depan, komputer kuantum yang cukup canggih berpotensi membobol sistem tersebut, membuka akses ke private key dan membahayakan aset bernilai miliaran dolar. Meski ancaman ini belum terjadi dalam waktu dekat, pengembang Ethereum tidak ingin menunda persiapan. Targetnya, jaringan ini siap menghadapi era kuantum sekitar tahun 2029. Proses ini tentu tidak sederhana, karena melibatkan perubahan protokol, koordinasi ekosistem, serta pengujian menyeluruh. Tantangan Utama: Performa vs Keamanan Kriptografi tahan kuantum umumnya membutuhkan lebih banyak sumber daya dibanding sistem yang digunakan saat ini. Beberapa konsekuensinya antara lain: Ukuran tanda tangan (signature) lebih besar, sehingga data transaksi meningkat Proses verifikasi lebih berat secara komputasi Belum mendukung agregasi data secara efisien seperti sistem saat ini Hal ini memunculkan tiga tantangan utama: 1. Bandwidth dan PenyimpananData transaksi menjadi lebih besar, mempercepat pertumbuhan ukuran blockchain dan meningkatkan beban jaringan. 2. Biaya KomputasiValidator harus bekerja lebih keras untuk memverifikasi transaksi, yang berpotensi memperlambat jaringan dan meningkatkan kebutuhan hardware. 3. Efisiensi Agregasi MenurunSaat ini, Ethereum memanfaatkan tanda tangan BLS untuk menggabungkan banyak data secara efisien. Sayangnya, sebagian besar solusi tahan kuantum belum memiliki fitur ini secara optimal. Masalah di Layer Konsensus Risiko terbesar ada di layer konsensus, di mana ribuan validator mengirimkan validasi yang kemudian digabungkan menggunakan tanda tangan BLS. Sistem ini memungkinkan jaringan tetap cepat dan efisien. Jika Ethereum langsung mengganti sistem tersebut dengan solusi yang lebih berat, dampaknya bisa berupa: Proses blok menjadi lebih lambat Beban validator meningkat Efisiensi jaringan menurun Solusi Ethereum: Bukan Mengganti, Tapi Mendesain Ulang Alih-alih sekadar mengganti teknologi, Ethereum memilih pendekatan yang lebih cerdas, yaitu merancang ulang sistemnya. Salah satu solusi utama adalah penggunaan SNARK, yang memungkinkan ribuan data besar dikompresi menjadi satu bukti kriptografi yang ringkas. Dengan cara ini: Data bisa dipadatkan Beban verifikasi berkurang Skalabilitas tetap terjaga Dampak ke Pengguna Perubahan ini paling terasa di layer eksekusi, yaitu bagian yang berhubungan langsung dengan pengguna, seperti wallet dan transaksi. Beberapa dampak yang mungkin terjadi: Biaya gas sedikit meningkat Desain wallet akan diperbarui (misalnya melalui account abstraction) Transisi dilakukan secara bertahap, bukan langsung sekaligus Tujuannya adalah agar sistem lama dan baru bisa berjalan berdampingan, memberi waktu bagi pengguna dan developer untuk beradaptasi. Beban Tambahan pada Jaringan Kriptografi tahan kuantum juga berdampak pada lapisan data. Ukuran data yang lebih besar bisa: Menambah tekanan pada sistem penyimpanan Mempengaruhi solusi scaling seperti blob storage Memperlambat distribusi data di jaringan Karena itu, roadmap Ethereum tidak hanya fokus pada kriptografi, tetapi juga mencakup peningkatan di berbagai lapisan sistem. Trade-off: Keamanan atau Performa? Inti dari perubahan ini adalah mencari keseimbangan antara: Keamanan (melindungi dari ancaman kuantum) Performa (kecepatan dan efisiensi) Biaya (gas fee dan kebutuhan validator) Desentralisasi (akses yang tetap terbuka bagi semua) Jika tidak dikelola dengan baik, perubahan ini bisa meningkatkan biaya dan mempersempit partisipasi jaringan. Namun jika berhasil, justru bisa memperkuat desain kriptografi dan menjaga desentralisasi. Pendekatan Hati-hati dari Ethereum Ethereum tidak terburu-buru memilih satu solusi. Pengembang ingin memastikan fleksibilitas agar sistem bisa terus diperbarui di masa depan tanpa terjebak pada teknologi yang kurang optimal. Pendekatan ini disebut cryptographic agility, yaitu kemampuan untuk mengganti algoritma sesuai kebutuhan tanpa risiko besar. Kesimpulan: Apakah Ethereum Akan Melambat? Jika Ethereum hanya mengganti sistem kriptografi tanpa penyesuaian lain, kemungkinan besar jaringan akan menjadi lebih lambat dan mahal. Namun, strategi Ethereum berbeda. Dengan kombinasi teknologi seperti SNARK, account abstraction, dan redesign protokol, mereka berusaha menanggung beban tambahan tersebut tanpa membebani pengguna. Artinya, kriptografi tahan kuantum tidak harus membuat Ethereum melambat—selama implementasinya dilakukan dengan tepat. Untuk mendapatkan insight lebih dalam seputar teknologi blockchain dan perkembangan terbaru industri kripto, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Crypto yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.
Eksekutif Kripto Tingkatkan Keamanan Pribadi di Tengah Lonjakan Serangan “Wrench Attack”

Kasus penculikan dan pemerasan terhadap tokoh-tokoh penting di industri kripto mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini bahkan dikenal di komunitas sebagai “$5 wrench attack,” yaitu metode sederhana namun efektif untuk memaksa korban menyerahkan aset kripto mereka. Perhatian terhadap isu ini semakin meningkat, terutama dalam ajang Paris Blockchain Week, di mana banyak pelaku industri mulai menyoroti pentingnya keamanan pribadi. Pemerintah Prancis pun mulai mengambil langkah dengan menghadirkan platform pencegahan, sementara sektor swasta seperti perusahaan asuransi menawarkan perlindungan khusus yang mencakup pelatihan keamanan dan mitigasi risiko. Mengapa Pelaku Kripto Jadi Target? Serangan terhadap pemilik aset kripto bukanlah hal baru. Tokoh awal Bitcoin, Jameson Lopp, bahkan mendokumentasikan ratusan kasus serupa sejak 2014. Hingga kini, setidaknya ratusan insiden telah tercatat, termasuk puluhan kasus pada 2025 dan puluhan lainnya yang sudah terjadi di 2026. Menurut Christian Ogden Davies dari Relm Insurance, banyak individu yang tiba-tiba menjadi sangat kaya dari kripto tidak memiliki sistem manajemen risiko yang memadai. Berbeda dengan perusahaan tradisional yang memiliki tim khusus seperti chief risk officer, banyak pelaku kripto belum memiliki perlindungan yang setara. Selain itu, sifat industri kripto yang terbuka dan sosial juga menjadi faktor. Para CEO dari perusahaan yang bahkan saling bersaing sering kali tetap berinteraksi secara santai, sehingga meningkatkan eksposur terhadap risiko. Kripto juga dikenal sangat likuid, sehingga dana hasil kejahatan relatif lebih mudah dicairkan dibandingkan aset lain. Bahkan dengan pengawasan ketat dan sanksi internasional, kelompok seperti Lazarus Group masih mampu memindahkan dana curian. Paris Jadi Sorotan Utama Prancis, khususnya Paris, menjadi salah satu pusat kejadian penculikan terkait kripto. Salah satu kasus paling terkenal adalah penculikan pada 2025 terhadap David Balland, salah satu pendiri Ledger. Rekan pendirinya, Eric Larchevêque, menyebut bahwa regulasi lokal yang mengharuskan pengusaha mencantumkan identitas dan alamat mereka bisa menjadi salah satu faktor risiko. Selain itu, daya tarik Paris sebagai kota global juga membuat banyak individu kaya berkumpul di sana, sehingga meningkatkan potensi target bagi pelaku kejahatan. Pengeluaran Keamanan Melonjak Sebagai respons, para eksekutif kripto kini mulai meningkatkan pengeluaran untuk keamanan pribadi secara signifikan. Coinbase, misalnya, menghabiskan sekitar $6,2 juta pada 2024 untuk perlindungan CEO-nya, Brian Armstrong—jumlah yang bahkan melampaui total biaya keamanan eksekutif dari beberapa perusahaan besar lainnya. Sementara itu, Larchevêque dilaporkan mengeluarkan lebih dari $50.000 per bulan untuk keamanan keluarga, termasuk pemasangan sistem pengawasan dan perlindungan tambahan di rumah. Pemerintah Prancis juga mulai bertindak. Dalam Paris Blockchain Week, pejabat dalam negeri Jean-Didier Berger mengumumkan peluncuran platform pencegahan yang telah menarik ribuan pengguna. Selain itu, kehadiran aparat keamanan di acara tersebut juga ditingkatkan secara signifikan. Asuransi dan Edukasi Jadi Solusi Perusahaan asuransi kini melihat lonjakan permintaan untuk perlindungan penculikan dan tebusan (kidnap and ransom/K&R). Menurut pelaku industri, hampir semua klien kini mulai mempertimbangkan perlindungan ini. Polis K&R tidak hanya menawarkan kompensasi finansial, tetapi juga edukasi dan pelatihan untuk mencegah situasi berbahaya. Mulai dari cara berkomunikasi, mengenali risiko, hingga kebiasaan sederhana seperti menghindari rute berbahaya, semuanya menjadi bagian penting dari strategi keamanan. Untuk tetap update dengan perkembangan terbaru di dunia aset digital dan isu penting lainnya, kamu juga bisa mengikuti berbagai Komunitas Crypto yang aktif membahas tren dan keamanan di industri ini.
Rusia Rancang Undang-Undang untuk Pidanakan Layanan Kripto Tanpa Izin

Pemerintah Rusia secara resmi telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) baru ke majelis rendah parlemen (Duma Negara) untuk merevisi kitab undang-undang hukum negara tersebut. RUU ini bertujuan untuk menjerat para penyedia layanan aset kripto yang beroperasi tanpa persetujuan atau lisensi dari regulator dengan sanksi pidana. Dalam draf yang diserahkan pada hari Jumat, anggota parlemen menegaskan bahwa setiap entitas yang memfasilitasi “peredaran mata uang digital” wajib terdaftar di Bank Sentral Rusia. Bagi individu yang nekat menjalankan layanan tanpa izin resmi, mereka akan dihadapkan pada ancaman denda hingga $4.000 serta hukuman penjara maksimal empat tahun. Sanksi yang jauh lebih tegas menanti jika kejahatan tersebut dilakukan oleh kelompok terorganisir, menimbulkan kerugian besar, atau meraup keuntungan dalam jumlah masif. Hukuman untuk kategori berat ini berupa kerja paksa hingga lima tahun atau kurungan penjara maksimal tujuh tahun, ditambah dengan denda hingga 1 juta rubel (sekitar $13.100) atau penyitaan pendapatan terpidana selama lima tahun. Langkah legislasi ini merupakan kelanjutan dari paket RUU yang pertama kali diusulkan pada bulan Maret lalu, yang awalnya difokuskan untuk menghukum penambang kripto ilegal. Kendati demikian, Mahkamah Agung Rusia melalui media lokal RBC menyatakan bahwa penerapan sanksi pidana ini masih “prematur” dan tidak memiliki pembenaran yang cukup kuat. Pihak pengadilan menyarankan agar pemerintah menunggu hingga “Undang-Undang Mata Uang Digital dan Hak Digital” resmi diberlakukan, yang diperkirakan jatuh pada bulan Juli mendatang. Jika RUU ini disahkan, pemerintah Rusia akan memiliki kendali dan pengawasan yang jauh lebih ketat terhadap industri kripto. Sementara itu, di tengah wacana pengetatan regulasi, Grinex—sebuah bursa kripto asal Rusia yang saat ini sedang berada di bawah sanksi—dilaporkan telah menghentikan seluruh aktivitas perdagangan bagi penggunanya. Platform tersebut baru saja kebobolan lebih dari 1 miliar rubel (sekitar $13,7 juta) akibat serangan siber yang diduga kuat didalangi oleh peretas dari “negara musuh”. Untuk memantau perkembangan regulasi kripto global dan dampaknya terhadap pasar aset digital, pastikan Anda tidak melewatkan pembaruan Info Kripto dari platform kami. Kami berkomitmen menyajikan wawasan terakurat untuk membantu Anda membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan aman.
Fitur Baru ‘Cashtags’ di X Sukses Cetak Volume Perdagangan $1 Miliar dalam Dua Hari

Platform media sosial X dilaporkan telah membukukan perkiraan volume perdagangan hingga $1 miliar berkat fitur terbarunya, Cashtags. Fitur inovatif ini memungkinkan pengguna untuk memantau data saham dan mata uang kripto secara langsung dari dalam aplikasi. Menurut pernyataan Kepala Produk X, Nikita Bier, pencapaian luar biasa ini diraih hanya dalam waktu dua hari sejak diluncurkan pada Selasa malam, berdasarkan data agregat dari program uji coba perdagangan mereka. Untuk saat ini, fitur Cashtags baru dapat diakses oleh pengguna iPhone di Amerika Serikat dan Kanada. Peluncuran ini merupakan langkah nyata dari visi besar Elon Musk untuk menyulap X menjadi “aplikasi serba ada” (everything app), yang kelak akan dilengkapi dengan layanan pembayaran peer-to-peer (P2P) hingga e-commerce. Berbekal lebih dari 550 juta pengguna aktif bulanan, X kini berada di posisi strategis untuk menyaingi penyedia informasi keuangan tradisional dalam menyajikan data dan konten pasar. Secara teknis, Cashtags memungkinkan pengguna untuk memilih aset atau alamat smart contract tertentu saat menuliskan ticker di postingan mereka. Saat tag tersebut diklik, pengguna akan disajikan dengan grafik harga real-time serta berbagai cuitan terkait. Guna memaksimalkan fitur ini, X telah menggandeng perusahaan pialang online asal Kanada, Wealthsimple. Melalui integrasi ini, pengguna di Kanada yang mengklik ticker saham atau kripto akan langsung diarahkan ke platform perdagangan Wealthsimple. Kendati demikian, fitur ini belum terintegrasi dengan platform pialang mana pun di pasar Amerika Serikat. Menanti Kehadiran X Money Selain Cashtags, perusahaan milik Musk ini juga tengah mempersiapkan peluncuran X Money. Ini adalah sistem pembayaran P2P yang dirancang untuk menawarkan rekening berbunga, kartu debit cashback, dan berbagai fasilitas menarik lainnya. Pada awal Maret lalu, X telah melakukan uji coba beta eksternal untuk X Money, yang memamerkan kelancaran transaksi antara Musk dan aktor legendaris Hollywood, William Shatner. Meski perkembangannya cukup pesat, masih belum diketahui secara pasti apakah fitur pembayaran kripto akan diintegrasikan ke dalam X Money. Namun sebagai fondasi legalitasnya, X dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil mengantongi lisensi pengiriman uang di lebih dari 40 negara bagian AS dan resmi terdaftar di Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) untuk memfasilitasi pembayaran P2P di platformnya. Untuk terus mengikuti inovasi terbaru dari platform seperti X serta perkembangan tren pasar digital secara global, pastikan Anda tidak ketinggalan update Berita Crypto harian dari kami. Kami siap menjadi referensi utama Anda dalam menavigasi dunia investasi aset digital yang bergerak cepat.
Studi Ungkap Minimnya Transparansi Market Maker di Protokol Kripto

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa hampir tidak ada protokol kripto yang secara terbuka mengungkapkan kerja sama mereka dengan market maker, meskipun peran pihak tersebut sangat penting dalam aktivitas perdagangan token. Riset yang dilakukan oleh Novora terhadap lebih dari 150 protokol kripto besar menunjukkan bahwa kurang dari 1% proyek yang mengungkapkan detail terkait perjanjian market maker. Dari seluruh sampel, hanya satu proyek yang benar-benar transparan, yaitu Meteora, yang mempublikasikan informasi tersebut melalui laporan tahunan pemegang token tahun 2025. Penelitian ini mencakup berbagai sektor utama dalam industri kripto, seperti decentralized exchange (DEX), platform lending, perpetual futures, jaringan layer-1 dan layer-2, hingga bridge dan token exchange terpusat. Nilai proyek yang dianalisis pun bervariasi, mulai dari sekitar $40 juta hingga $45 miliar dalam valuasi fully diluted. Novora menggunakan pendekatan penilaian berbasis transparansi sederhana, termasuk keterbukaan informasi dan dukungan data dari pihak ketiga. Data tersebut diverifikasi melalui berbagai sumber publik seperti Token Terminal, Dune, dan DefiLlama. Pendiri Novora, Connor King, menyebut kondisi ini sebagai salah satu celah transparansi terbesar di industri kripto. Ia menekankan bahwa dalam pasar keuangan tradisional, perjanjian penting seperti ini biasanya wajib diungkapkan, sementara di dunia kripto, hampir semua pelaku pasar beroperasi tanpa informasi tersebut. Kesenjangan Pelaporan Investor Masih Besar Temuan ini juga menunjukkan adanya masalah lebih luas dalam hubungan investor di industri kripto. Meskipun sekitar 91% protokol yang diteliti menghasilkan pendapatan yang dapat dilacak, hanya 18% yang secara rutin merilis laporan kuartalan, dan hanya 8% yang menyediakan laporan khusus untuk pemegang token. Hal ini mengindikasikan bahwa data sebenarnya tersedia, namun jarang disusun dalam bentuk laporan yang terstruktur dan mudah diakses oleh investor. Di sisi lain, infrastruktur analitik pihak ketiga justru sudah berkembang pesat, dengan tingkat cakupan data mencapai lebih dari 85% di berbagai platform. Artinya, akses terhadap data sebenarnya luas, tetapi belum diformalisasi dalam praktik pelaporan resmi. Sorotan pada Risiko Market Maker Kurangnya transparansi dalam kerja sama dengan market maker telah lama menjadi perhatian, terutama terkait struktur pinjaman token. Dalam beberapa kasus, proyek meminjamkan token kepada market maker untuk menyediakan likuiditas dan aktivitas trading. Namun, model seperti ini dinilai berisiko karena dapat mendorong market maker untuk menjual token pinjaman ke pasar, yang berpotensi menekan harga. Kondisi ini bisa merugikan proyek, terutama yang masih dalam tahap awal, karena melemahkan likuiditas dan performa token mereka. Bahkan, Securities and Exchange Commission (SEC) pernah mengambil tindakan terhadap praktik manipulasi harga yang melibatkan market maker di industri kripto. Untuk memperluas pemahaman kamu tentang tren dan isu penting di industri aset digital, jangan lewatkan berbagai Portal Crypto yang kami hadirkan dengan informasi terkini dan terpercaya.
Sengketa Prediction Market Berpotensi Masuk Mahkamah Agung AS

Perselisihan hukum terkait regulasi platform prediction market di Amerika Serikat berpotensi naik ke tingkat tertinggi, yaitu Supreme Court of the United States. Hal ini menyusul konflik antara kewenangan pemerintah negara bagian dan regulator federal dalam mengatur industri tersebut. Pada Kamis, United States Court of Appeals for the Ninth Circuit mendengarkan argumen dari pihak platform prediction market Kalshi dan otoritas negara bagian Nevada. Sengketa ini bermula dari larangan Nevada terhadap kontrak berbasis peristiwa (event contracts) yang ditawarkan Kalshi, dengan alasan perusahaan tersebut memerlukan lisensi perjudian. Kasus ini merupakan banding atas putusan sebelumnya yang melarang Kalshi menawarkan produk tersebut di Nevada. Di sisi lain, berbagai tindakan penegakan hukum juga terjadi di tingkat negara bagian, termasuk tuntutan pidana di Arizona. Namun, pengadilan federal baru-baru ini memblokir upaya Arizona untuk menerapkan hukum perjudian terhadap kontrak milik Kalshi. Pihak Kalshi menekankan pentingnya menghindari konflik putusan antara pengadilan negara bagian dan federal dalam isu yang sama, yang berpotensi menghasilkan keputusan yang berbeda. Perebutan Kewenangan: Negara Bagian vs Regulator Federal Inti dari argumen Kalshi adalah bahwa kontrak berbasis peristiwa yang mereka tawarkan sebenarnya termasuk dalam kategori “swap”, sehingga berada di bawah pengawasan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), bukan otoritas perjudian negara bagian. Pandangan ini juga didukung oleh Ketua CFTC, Michael Selig, dalam kasus serupa yang melibatkan platform lain seperti Crypto.com. Meski demikian, pengadilan banding belum mengeluarkan keputusan final. Hasil dari kasus ini berpotensi memengaruhi bagaimana negara bagian memperlakukan platform prediction market seperti Kalshi maupun Polymarket, terutama di tengah pertumbuhan industri yang diperkirakan bisa mencapai nilai $1 triliun pada 2030. Pandangan dari Industri Kripto Chief Legal Officer Coinbase, Paul Grewal, menilai bahwa kasus ini kemungkinan besar akan berlanjut hingga Mahkamah Agung AS. Menurutnya, hasil persidangan saat ini belum tentu mencerminkan arah keputusan akhir. Ia tetap berpendapat bahwa Mahkamah Agung pada akhirnya akan menentukan apakah kontrak berbasis peristiwa, termasuk yang terkait olahraga, masuk dalam kategori swap yang sepenuhnya berada di bawah yurisdiksi CFTC. Sebagai konteks, Mahkamah Agung sebelumnya telah memberikan kewenangan kepada negara bagian untuk mengatur perjudian olahraga melalui putusan Murphy v. National Collegiate Athletic Association pada tahun 2018. Untuk mengikuti perkembangan regulasi dan tren industri kripto secara lebih lengkap, kamu juga bisa mengakses berbagai Info Seputar Crypto terbaru yang kami sajikan secara konsisten dan terpercaya.
Bursa Kripto Terkait Rusia, Grinex, Hentikan Perdagangan Usai Diretas $14 Juta

Bursa kripto Grinex yang tengah dijatuhi sanksi mengumumkan penangguhan seluruh aktivitas perdagangannya setelah kehilangan lebih dari 1 miliar rubel Rusia (sekitar $13,7 juta) akibat serangan siber. Platform yang terdaftar di Kirgistan namun terafiliasi erat dengan ekosistem kripto Rusia ini menyatakan bahwa peretasan tersebut menunjukkan indikasi keterlibatan badan intelijen asing. Dana tersebut dikuras dari 54 alamat kripto, dengan jejak digital yang mengisyaratkan tingkat teknologi dan sumber daya yang “hanya dimiliki oleh negara musuh.” Akibat insiden ini, operasional Grinex terpaksa dihentikan sementara. Pihak bursa telah menyerahkan seluruh bukti kepada penegak hukum dan mengajukan laporan pidana di lokasi infrastruktur mereka berada. Sebelumnya, Grinex sering dianggap sebagai penerus Garantex, bursa lain yang juga terkena sanksi. Otoritas Amerika Serikat menuduh kedua entitas ini memfasilitasi Rusia dalam menghindari sanksi dan melakukan pencucian uang bagi peretas. Pendiri Elliptic, Tom Robinson, bahkan menuding Grinex sebagai platform utama transaksi A7A5—sebuah stablecoin berbasis rubel yang dikaitkan dengan penghindaran sanksi. Namun, perwakilan Grinex tahun lalu sempat membantah keras dan mengutuk segala bentuk aktivitas ilegal. Di sisi lain, peretas tampaknya tidak hanya menyasar Grinex. Firma intelijen blockchain TRM Labs menemukan bahwa dua dompet dari TokenSpot—bursa asal Kirgistan yang terhubung secara on-chain dengan Grinex—mengirimkan sekitar $5.000 ke alamat penampungan yang digunakan oleh peretas. TRM Labs juga mengidentifikasi 16 alamat tambahan yang terkait dengan peretasan ini. Saat ini, alamat konsolidasi tersebut menyimpan 45,9 juta token TRON (TRX), yang bernilai hampir $15 juta. Menurut analisis Elliptic, peretas berhasil memindahkan sekitar $15 juta dalam bentuk USDT dari Grinex ke jaringan Tron dan Ethereum. Dana tersebut langsung dikonversi menjadi TRX atau ETH guna menghindari pemblokiran oleh pihak Tether. Insiden peretasan bursa kripto yang dituduh melanggar sanksi AS ini bukan yang pertama kalinya terjadi; sebelumnya pada Juni 2025, bursa asal Iran, Nobitex, juga diretas sebesar $81 juta oleh kelompok peretas pro-Israel. Untuk terus memantau perkembangan kasus keamanan aset digital dan tren pasar global lainnya, pastikan Anda menjadikan Portal Crypto kami sebagai rujukan utama untuk mendapatkan informasi terupdate dan terpercaya.
Penyelidikan Polisi Zanzibar Terhadap Eksekutif Kripto Joe McCann Terkait Kematian Sang Tunangan

Kepolisian Zanzibar saat ini dilaporkan tengah menahan dan memeriksa Joe McCann, pendiri dana kripto Asymmetric sekaligus seorang trader aset digital. Pemeriksaan ini dilakukan menyusul kematian tragis tunangannya, Ashly Robinson (31), saat keduanya sedang menghabiskan waktu liburan bersama. Berdasarkan pernyataan kepolisian Tanzania yang dikutip oleh NBC News, Ashly menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada 9 April, satu hari setelah ditemukan tak sadarkan diri oleh staf hotel tempat mereka menginap. Pihak berwenang sementara ini menyimpulkan bahwa kematian Robinson disebabkan oleh bunuh diri, namun McCann masih terus dimintai keterangan secara intensif. Laporan dari CBS News juga menyebutkan bahwa paspor McCann sedang ditahan oleh pihak kepolisian hingga seluruh hasil autopsi selesai. Menurut keterangan dari staf hotel, pasangan tersebut sebelumnya sempat berselisih paham sehingga manajemen hotel memisahkan mereka dan memindahkan McCann ke kamar yang berbeda. Seorang karyawan hotel kemudian menemukan Robinson dalam kondisi tidak sadar di kamarnya dengan sebuah sabuk yang melilit lehernya. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Meski demikian, pihak keluarga Robinson sangat meragukan laporan dan kronologi tersebut. Sang adik, Alyssa Endres, menegaskan kepada NBC bahwa dugaan bunuh diri ini sangat tidak masuk akal. Menurutnya, Robinson sedang dalam kondisi yang sangat bahagia karena baru saja merayakan ulang tahun sekaligus pertunangannya dengan McCann beberapa hari sebelum insiden nahas itu terjadi. Sebagai informasi tambahan, Joe McCann adalah tokoh utama di balik perusahaan ventura dan hedge fund kripto, Asymmetric. Pada bulan Juli lalu, perusahaan ini sempat menjadi sorotan karena terpaksa mengubah strategi perdagangannya akibat protes keras dari para investor. Hal ini dipicu oleh kerugian dana hingga 80% di tengah tingginya volatilitas pasar kripto. Selain itu, rencana merger untuk membawa sebuah perusahaan treasury Solana (SOL) menjadi perusahaan publik yang rencananya akan dipimpin oleh McCann juga mendadak dibatalkan pada bulan Agustus tanpa alasan yang jelas. Hingga saat ini, McCann belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar terkait insiden tersebut. Untuk terus mengikuti perkembangan kasus ini dan dinamika industri mata uang digital secara keseluruhan, pastikan Anda selalu memperbarui wawasan melalui Berita Crypto yang kami sajikan. Kami terus berkomitmen untuk menyediakan informasi paling akurat dan terpercaya untuk memandu perjalanan investasi Anda.