Bitcoin Tembus $75.000, Derivatif Jadi Pendorong Utama Reli Aset Kripto Hari Ini

Mata uang digital paling populer, Bitcoin, kembali menorehkan prestasi gemilang pada awal sesi perdagangan hari Selasa ini. Harga Aset tersebut berhasil melesat tajam dan sukses melewati batas psikologis yang sangat penting di angka $75.000. Kenaikan nilai tukar yang cukup fantastis ini bahkan sempat menyentuh titik tertingginya di level $75.800 pada sesi perdagangan pagi. Pencapaian luar biasa ini menandai keberhasilan aset tersebut dalam menembus area resisten jangka panjang yang selama ini menjadi tembok penghalang. Area batas atas yang berada di kisaran $73.750 hingga $74.400 tersebut tercatat telah tiga kali menggagalkan upaya kenaikan sepanjang tahun ini. Namun, dorongan beli yang sangat solid kali ini akhirnya mampu menghancurkan tembok pertahanan tersebut dengan sangat meyakinkan. Menariknya, motor utama dari lonjakan harga kali ini ternyata tidak murni berasal dari transaksi perdagangan spot tradisional biasa. Dinamika pertukaran yang terjadi di pasar Instrumen Derivatif disinyalir menjadi faktor penentu utama di balik pergerakan arah harga yang sangat agresif ini. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana mekanisme transaksi turunan ini bisa memicu gelombang hijau di seluruh Pasar Mata Uang Digital. Analisis Tren Pergerakan Nilai Bitcoin yang Menembus Resisten Dinamika Perubahan Sentimen Para Pelaku Perdagangan Aksi penembusan batas atas yang mengesankan ini sejatinya dipicu oleh langkah serentak para pedagang yang menutup Posisi Jual Kosong mereka. Taruhan pada penurunan harga ini sebagian besar mulai dibuka oleh para spekulan saat terjadi aksi jual massal pada awal bulan Februari lalu. Kala itu, kepanikan sesaat sempat membuat harga aset anjlok mendekati level $60.000 di berbagai bursa pertukaran utama global. Namun, seiring berjalannya waktu, sentimen pasar yang dipenuhi ketakutan tersebut perlahan mulai memudar dan kondisi kembali menemukan titik keseimbangannya. Stabilitas harga yang kembali terbentuk ini secara otomatis memaksa para pedagang pesimis untuk segera mengevaluasi ulang strategi transaksi mereka. Mereka akhirnya menyadari bahwa menahan taruhan penurunan nilai di tengah tren makro yang mulai membaik adalah sebuah langkah yang sangat berisiko. Akibatnya, terjadilah sebuah gelombang penutupan posisi taruhan secara masif dari publik untuk menghindari kerugian finansial yang jauh lebih dalam. Proses likuidasi mandiri ini mengharuskan para pedagang untuk membeli kembali koin di pasar yang sedang berjalan secara seketika. Aksi tebus secara terpaksa inilah yang kemudian menciptakan efek bola salju dan mendorong Tren Pergerakan Nilai melesat semakin tajam. Konfirmasi Momentum Melalui Data Transaksi Historis Berdasarkan catatan lalu lintas perdagangan, pergerakan kali ini terbukti memiliki pondasi teknikal yang jauh lebih kokoh dibandingkan reli sebelumnya. Volume transaksi pertukaran yang mengiringi aksi penembusan batas $75.000 terpantau sangat tebal dan didominasi oleh pesanan berskala jumbo. Fakta ini membuktikan bahwa ada tingkat keyakinan yang sangat solid dari para pemodal besar terhadap kelanjutan siklus positif ini. Secara analisis historis, area di sekitar angka $74.000 selalu menjadi zona rawan di mana banyak pihak memilih untuk merealisasikan keuntungannya. Kegagalan berulang untuk menaklukkan rintangan tersebut sejak awal tahun kemarin sempat membuat banyak analis meragukan ketahanan siklus pertumbuhan. Oleh karena itu, keberhasilan menembus dan bertahan kuat di atas level $75.800 menjadi sinyal konfirmasi valid yang sangat dinanti. Pada fase selanjutnya, batas resisten lama yang sangat alot ini diproyeksikan akan segera berubah fungsi menjadi level pijakan yang kuat. Selama harga harian mampu ditutup di atas batas psikologis tersebut, peluang untuk terus mencetak rekor angka tertinggi akan selalu terbuka lebar. Para pelaku pasar kini diyakini mulai mengalihkan pandangan strategis mereka pada pencapaian target evaluasi yang jauh lebih ambisius. Dampak Penutupan Kontrak Opsi Jual Terhadap Kenaikan Harga Aset Kripto Memahami Mekanisme Transaksi Asuransi Penurunan Nilai Untuk bisa memahami fenomena ini secara utuh, kita perlu menyelami bagaimana cara kerja Kontrak Opsi Jual di dalam ekosistem bursa berjangka. Fasilitas keuangan turunan ini pada dasarnya memberikan hak khusus kepada pembelinya untuk menjual aset dasar pada kisaran harga yang telah disepakati sebelumnya. Fasilitas mutakhir ini umumnya selalu dimanfaatkan sebagai bentuk asuransi atau tameng perlindungan nilai guna mengantisipasi skenario kejatuhan harga mendadak. Markus Thielen, seorang pendiri dari lembaga riset data penyedia wawasan finansial, memberikan sudut pandang analitis yang mendalam mengenai dinamika tersebut. Ia memaparkan bahwa pada fase awal bulan Februari, banyak pihak secara sangat agresif memborong perlindungan nilai di kisaran angka eksekusi $55.000 hingga $60.000. Tindakan defensif massal tersebut sangat wajar terjadi mengingat kondisi psikologis pasar saat itu sedang didera tekanan yang sangat mencekam. Namun, ketika pergerakan grafik justru berbalik naik, nilai dari kontrak jaminan tersebut akan menyusut drastis mendekati angka nol karena peluang eksekusinya lenyap. Menyadari realita tersebut, para pemegang dokumen kesepakatan akhirnya memutuskan untuk melepas posisi lindung nilai mereka sebelum masa kedaluwarsanya tiba. Aksi pelepasan massal secara serentak inilah yang tanpa disadari kemudian memicu rentetan reaksi berantai di seluruh sistem buku pesanan. Efek Lanjutan pada Sistem Penyeimbangan Likuiditas Pelepasan masal kontrak jaminan penurunan harga ini ternyata langsung memicu sebuah efek lanjutan positif yang luar biasa menguntungkan bagi arah pasar. Ketika tekanan jual dari instrumen pelindung ini mereda, beban psikologis yang selama ini menekan pergerakan harga seketika menghilang tanpa jejak. Situasi netral ini membuat pergerakan grafik menuju zona atas menjadi jauh lebih ringan dan nyaris tanpa hambatan teknikal berarti. Selain itu, mekanisme penutupan ini juga secara langsung akan memaksa para penyedia likuiditas atau kelompok Penggerak Pasar untuk bertindak cepat. Mereka sangat diwajibkan oleh protokol manajemen risiko perusahaan untuk menyeimbangkan kembali neraca eksposur mereka agar tidak menderita kerugian. Aliran dana segar dari proses penyeimbangan inilah yang menjadi bensin tak terlihat pendorong laju kenaikan harga. Berikut adalah urutan tahapan proses penyeimbangan risiko oleh entitas Penggerak Pasar yang memicu kenaikan eksponensial: Para pedagang institusi maupun ritel secara bersamaan memutuskan untuk membatalkan Kontrak Opsi Jual karena tren harga terus merangkak naik. Entitas Penggerak Pasar yang sebelumnya berperan menampung transaksi tersebut mendapati bahwa eksposur risiko mereka mendadak berubah menjadi tidak seimbang. Untuk mengembalikan portofolio ke posisi netral, algoritma manajemen risiko mereka secara otomatis mengeksekusi pembelian aset dasar di bursa spot reguler. Rentetan pesanan beli tanpa henti ini langsung menyapu bersih dinding antrean jual, sehingga berhasil mendorong batas atas harga secara dramatis. Imbas Positif pada Pasar Mata Uang Digital Secara Keseluruhan Momentum Kebangkitan Ekosistem Koin Alternatif Gempita lonjakan harga dari aset berkapitalisasi terbesar ini tak pelak langsung memicu efek domino yang sangat manis bagi seluruh pelaku industri. Pasar Mata Uang Digital secara kolektif langsung merespons dan ikut terseret dalam arus
Tren Investor Kripto Diversifikasi, PINTU Tambah Produk Tokenisasi Aset

Di tengah kondisi pasar Kripto yang terus mengalami fluktuasi, para pelaku pasar kini mulai melakukan penyesuaian terhadap strategi keuangan mereka. Kebutuhan untuk melakukan Diversifikasi portofolio saat ini telah menjadi prioritas utama bagi mayoritas pemilik modal di Indonesia. Menyikapi perkembangan minat pengguna tersebut, platform pertukaran aset digital PINTU mengumumkan penambahan instrumen investasi baru. Langkah pencatatan produk ini diambil secara khusus untuk mengakomodasi tingginya permintaan pengguna yang ingin membagi risiko keuangan mereka ke berbagai sektor. Melalui pembaruan sistem terbaru ini, para pengguna dapat langsung memperdagangkan lebih dari 30 Tokenisasi Aset secara praktis. Berbagai instrumen yang kini ditawarkan mencakup representasi saham global, reksa dana bursa, hingga komoditas fisik bernilai tinggi seperti emas dan perak. Kehadiran fitur baru ini diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan para pemilik modal untuk menjangkau pasar finansial global secara lebih efisien. Terobosan teknologi rantai blok memungkinkan aset tradisional untuk dibungkus dalam bentuk digital tanpa menghilangkan nilai intrinsiknya. Kemudahan ini membuka peluang bagi masyarakat luas untuk ikut serta dalam dinamika ekonomi internasional hanya melalui satu genggaman gawai. Dinamika Pasar dan Perubahan Tren Diversifikasi Investor Kripto Kebutuhan Penyebaran Risiko di Tengah Fluktuasi Pergerakan harga yang tajam dan tidak menentu memang selalu menjadi karakteristik bawaan dari instrumen investasi Kripto. Situasi pasar yang dinamis ini secara perlahan memaksa para pelaku pasar untuk tidak lagi menempatkan seluruh dana mereka pada satu jenis koin saja. Mereka mulai menyadari pentingnya mengalokasikan modal pada berbagai instrumen yang berbeda untuk menjaga stabilitas nilai kekayaan secara keseluruhan. Praktik Diversifikasi portofolio ini secara teori dinilai sangat efektif untuk meredam potensi kerugian massal apabila terjadi koreksi harga secara tiba-tiba. Para pengguna aplikasi keuangan kini terlihat semakin selektif dalam memilih instrumen yang memiliki landasan nilai di dunia nyata. Pendekatan keuangan yang lebih rasional dan terukur ini mengindikasikan adanya peningkatan taraf literasi finansial di kalangan masyarakat luas. Pergeseran pola pikir dari spekulatif menjadi strategis ini turut mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru di sektor industri keuangan digital nasional. Masyarakat modern saat ini sangat membutuhkan solusi instan untuk menjangkau pasar global tanpa harus terbentur birokrasi perbankan yang panjang. Ketersediaan akses menuju instrumen konvensional yang digabungkan dengan teknologi desentralisasi kini telah berubah menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Respons Industri Pertukaran terhadap Minat Pasar Merespons perubahan tren perilaku konsumen tersebut, perusahaan teknologi finansial seperti PT Pintu Kemana Saja atau PINTU mulai menyesuaikan arah bisnis mereka. Perusahaan berupaya membangun jembatan penghubung yang kokoh antara sistem ekonomi tradisional dengan ekosistem aset digital masa depan. Sasaran utamanya adalah untuk mendistribusikan lebih banyak pilihan instrumen investasi yang terjangkau bagi seluruh lapisan penggunanya. Kepala Pemasaran Produk PINTU, Iskandar Mohammad, memberikan penjelasan resmi terkait strategi penambahan daftar produk aset tersebut. Ia menyatakan bahwa langkah integrasi produk baru ini memang dirancang secara khusus untuk menjawab permintaan pasar domestik yang terus membludak. Pihaknya mengamati bahwa konsumen di Indonesia kini sangat haus akan akses yang lebih setara menuju berbagai kelas aset berskala global. Pihak manajemen juga memastikan bahwa seluruh produk turunan yang ditawarkan telah melewati tahapan kurasi serta audit yang sangat ketat. Proses evaluasi ini mutlak dilakukan untuk menjaga kualitas fundamental aset serta memberikan rasa aman saat bertransaksi bagi seluruh nasabah. Semua layanan transaksi lintas batas ini disajikan dalam satu aplikasi terpusat yang selalu dipantau oleh otoritas negara. Pertumbuhan Global Aset Dunia Nyata dan Dampaknya di Indonesia Data Kenaikan Nilai Pasar Tokenisasi Aset Tren adopsi produk tertokenisasi di ranah domestik rupanya berjalan lurus dengan perkembangan sentimen pasar di kancah internasional. Berdasarkan laporan data statistik terbaru dari portal berita Tokenizer Estate News, sektor aset dunia nyata terus mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif. Kategori instrumen keuangan ini mulai menyita perhatian dari banyak lembaga pengelola dana raksasa di berbagai negara maju. Laporan berkala per tanggal 9 Maret 2026 tersebut memaparkan bahwa total nilai pasar global telah mencapai angka yang sangat fantastis. Nilai kapitalisasi pasar untuk kategori instrumen ini tercatat sukses menembus batas US$26,54 miliar atau yang setara dengan Rp450,49 triliun. Angka akumulasi tersebut mencerminkan adanya pertumbuhan positif sebesar 2,20% apabila disandingkan dengan capaian total pada minggu sebelumnya. Konsistensi kenaikan nilai pasar ini secara tidak langsung membuktikan bahwa integrasi antara aset konvensional dan jaringan digital memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Para pemegang modal di tingkat global tampaknya mulai merelokasi sebagian porsi kekayaan mereka ke dalam bentuk instrumen hibrida inovatif ini. Efek domino dari tren pergeseran arus modal internasional inilah yang kemudian mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh pasar Indonesia. Lonjakan Volume Perdagangan di Aplikasi PINTU Antusiasme positif dari pasar finansial global tersebut ternyata juga tercermin jelas pada aktivitas transaksi yang terjadi di dalam negeri. Kategori Tokenisasi Aset di platform PINTU dilaporkan secara resmi menunjukkan performa transaksi yang sangat memuaskan sepanjang periode bulan Februari 2026. Catatan internal perusahaan merekam adanya lonjakan frekuensi perdagangan yang cukup masif dari para pengguna aplikasi yang aktif. Pihak perusahaan mencatat adanya peningkatan volume perdagangan rata-rata per pengguna hingga menyentuh angka 45% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Peningkatan drastis pada aktivitas jual beli ini juga dibarengi dengan tren pertumbuhan jumlah pendaftar baru yang terus berdatangan. Laporan tersebut merinci adanya penambahan jumlah pengguna secara kumulatif sebesar 9,18% pada rentang waktu yang sama. Angka-angka statistik yang menjanjikan ini dapat menjadi indikator kuat bahwa pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penyebaran aset semakin merata. Mereka mulai secara aktif memanfaatkan kemajuan teknologi ponsel pintar untuk membeli instrumen keuangan yang sebelumnya dianggap sangat eksklusif. Pemangkasan jarak administrasi ini menjadi faktor penentu utama dalam mendongkrak tingkat partisipasi publik pada sektor perekonomian modern. Memahami Cara Kerja dan Pilihan Produk Tokenisasi Aset Kategori Saham Teknologi dan Komoditas Unggulan Secara definisi teknis, Tokenisasi Aset merupakan sebuah proses mengubah hak kepemilikan aset fisik atau surat berharga menjadi sebuah koin digital. Produk modern ini memungkinkan seorang individu untuk memiliki sebagian kecil porsi dari saham perusahaan multinasional ataupun cadangan komoditas berharga. Sistem buku besar digital ini selalu menawarkan tingkat transparansi data yang absolut serta kemudahan proses pemindahan hak milik antar pengguna. Dari puluhan variasi instrumen yang kini tersedia, terdapat tiga aset utama yang paling sering ditransaksikan oleh para pelanggan PINTU. Ketiga aset turunan favorit tersebut adalah representasi digital dari saham perusahaan teknologi raksasa dunia, yakni instrumen NVDAx, AAPLx, dan GOOGLx. Tingginya perputaran uang pada ketiga produk tersebut mencerminkan tingginya tingkat keyakinan publik terhadap kekuatan
Bagaimana Selisih Harga 2,85% Memicu Likuidasi $27 Juta di Aave

Sistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) sangat bergantung pada otomatisasi. Sayangnya, otomatisasi ini juga berarti bahwa kesalahan teknis kecil dapat memicu kerugian finansial yang masif. Pada 10 Maret 2026, hal ini terjadi di protokol pinjaman Aave, di mana kesalahan harga sebesar 2,85% pada jaminan aset memicu gelombang likuidasi senilai $27 juta. Akar Masalah: Miskonfigurasi Sistem Oracle Banyak yang awalnya mengira likuidasi ini disebabkan oleh jatuhnya pasar atau rusaknya price oracle (sistem yang menyuplai data harga dari luar ke dalam blockchain). Namun, firma pemantau risiko Chaos Labs menemukan bahwa masalah sebenarnya terletak pada fitur pelindung Aave yang disebut CAPO (Correlated Assets Price Oracle). Kesalahan Parameter: Kontrak pintar (smart contract) CAPO menyimpan parameter yang kedaluwarsa—khususnya nilai tukar referensi dan stempel waktu (timestamp). Aset yang Salah Dinilai: Akibatnya, sistem membatasi harga token wstETH (Wrapped Staked ETH) di angka 1,19 ETH, padahal harga pasar sebenarnya adalah 1,23 ETH. Efek Domino: Selisih 2,85% ini membuat banyak posisi pinjaman pengguna seolah-olah kekurangan jaminan (undercollateralized), yang langsung memicu sistem otomatis Aave untuk melikuidasi aset mereka dalam hitungan detik. Dampak pada Ekosistem Kerugian Pengguna vs. Keuntungan Bot: Posisi pinjaman senilai sekitar $27 juta dilikuidasi. Bot likuidator berkecepatan tinggi meraup keuntungan sekitar 499 ETH dari diskon aset jaminan tersebut. Protokol Tetap Aman: Meskipun pengguna merugi, pendiri Aave, Stani Kulechov, memastikan bahwa sistem inti Aave berfungsi sesuai desain dan tidak ada kredit macet (bad debt) yang membebani protokol. Lido Tidak Bersalah: Pihak Lido mengonfirmasi bahwa tidak ada kerusakan pada token wstETH. Kesalahan murni berada pada cara Aave membaca dan mengelola data harga. Langkah Perbaikan dan Pelajaran Penting Sebagai bentuk tanggung jawab, tata kelola Aave (DAO) telah mengusulkan pengembalian dana (refund) kepada para pengguna yang terdampak akibat insiden infrastruktur ini. Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi dunia DeFi bahwa price oracle dan parameter smart contract—terutama untuk aset yang terus menghasilkan imbal hasil seperti wstETH—membutuhkan sinkronisasi presisi tinggi untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Bitcoin Tembus $74.500, Namun Trader Profesional Tetap Waspada

Meskipun harga Bitcoin (BTC) berhasil meroket dan kembali menembus level $74.000, data dari pasar derivatif mengindikasikan bahwa para trader profesional masih bersikap skeptis dan mempertahankan posisi bearish untuk melindungi aset mereka dari potensi penurunan. Katalis Pendorong Harga (Sentimen Positif) Kenaikan harga Bitcoin baru-baru ini didukung oleh beberapa faktor: Tren Pasar Saham: Sentimen positif yang mengekor kenaikan indeks Nasdaq menjelang konferensi AI global Nvidia GTC 2026. Data Ekonomi: Penurunan harga minyak dunia dan pertumbuhan sektor manufaktur di AS yang mendukung aset berisiko. Akumulasi Institusional: Terjadi dorongan beli yang masif, di mana perusahaan strategi investasi memborong 22.337 BTC dalam sepekan, ditambah aliran dana masuk sebesar 11.117 BTC ke ETF Bitcoin spot di AS. Alasan Trader Tetap Ragu (Sentimen Negatif) Walaupun ada dorongan institusional yang kuat, pasar derivatif justru menunjukkan indikator ketakutan: Premi Futures Rendah: Premi kontrak berjangka bulanan Bitcoin hanya berada di angka 2%, jauh di bawah rentang netral (4% – 8%). Hal ini mencerminkan kurangnya antusiasme pasar dalam 30 hari terakhir. Sinyal Ketakutan di Pasar Opsi: Indikator delta skew pada opsi Bitcoin tertahan di level 13% selama lima minggu berturut-turut, menandakan bahwa para “Paus” (whales) lebih memilih membayar lebih mahal untuk opsi jual (put options) guna menghindari risiko kerugian. Faktor Historis & Fundamental: Ketidakpastian mengenai jadwal eksekusi Cadangan Bitcoin Strategis AS, kekhawatiran terkait komputasi kuantum, serta efek trauma dari likuidasi besar-besaran senilai $19 miliar pada Oktober 2025 lalu. Dampak Kondisi Makroekonomi & Geopolitik Ketegangan geopolitik global turut membatasi agresivitas investor. Penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran akan krisis energi global berkepanjangan (harga minyak WTI tertahan di $95/barel). Kondisi ini mendorong investor memindahkan dana ke aset safe-haven konvensional seperti obligasi pemerintah AS (US Treasury), mengabaikan posisi Bitcoin yang belakangan ini pergerakannya terlepas (decoupling) dari emas. Kesimpulan Meski minat beli institusional sedang sangat tinggi, keraguan kuat yang tercermin di pasar derivatif membuktikan bahwa bayang-bayang sentimen bearish masih menyelimuti pergerakan Bitcoin saat ini.
Vitalik Buterin Usulkan Pembaruan untuk Sederhanakan Operasional Node Ethereum

Salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, baru-baru ini mengajukan proposal (atau pull request) untuk menyederhanakan proses pengaturan node di jaringan Ethereum. Ia ingin menggabungkan program backend dari Beacon Chain (lapisan konsensus dan staking) dengan lapisan eksekusi protokol ke dalam satu struktur kode yang terpadu. Langkah ini diambil untuk mewujudkan visi “kedaulatan mandiri” (self-sovereign), di mana pengguna biasa dapat menjalankan node mereka sendiri dengan pengalaman yang jauh lebih mudah dan praktis. Berikut adalah poin-poin utama dari inisiatif ini: 1. Mengatasi Kerumitan Teknis Saat Ini Saat ini, operator node Ethereum (validator) harus menjalankan dua program terpisah. Keduanya membutuhkan pengaturan dan sinkronisasi khusus agar data dari lapisan konsensus dan eksekusi dapat berkomunikasi. Kerumitan teknis ini sering kali menghalangi pengguna biasa untuk berpartisipasi secara langsung, memaksa mereka bergantung pada penyedia layanan pihak ketiga. Buterin dengan tegas menolak anggapan bahwa menjalankan node harus menjadi tugas rumit yang hanya bisa dilakukan oleh profesional TI (DevOps). “Menjalankan infrastruktur Ethereum Anda sendiri harus menjadi hak dasar setiap individu dan rumah tangga,” ungkap Buterin. Ia menambahkan bahwa node seharusnya dirancang agar mudah digunakan, bahkan bagi mereka yang memiliki perangkat keras memadai namun tidak punya banyak waktu luang. 2. Upaya Desentralisasi Melalui Node Semi-Stateless Kerumitan teknis dan tingginya syarat perangkat keras telah memicu kekhawatiran terkait sentralisasi di jaringan kontrak pintar seperti Ethereum. Kapasitas penyimpanan (disk space) sering kali menjadi kendala utama karena jaringan terus menghasilkan data dalam jumlah besar. Untuk mengatasi ini, pada Mei 2025 lalu Buterin telah mengusulkan konsep node semi-stateless. Node jenis ini tidak perlu menyimpan seluruh riwayat blok secara penuh, melainkan hanya menyimpan data yang benar-benar dibutuhkan oleh operator. Hal ini secara signifikan dapat memangkas biaya perangkat keras dan kebutuhan penyimpanan data. 3. Ancaman Sensor dari Penyedia Layanan Pihak Ketiga Buterin juga memperingatkan bahaya dari struktur pasar yang terlalu didominasi oleh segelintir penyedia Remote Procedure Call (RPC). Ketergantungan ini menciptakan risiko sensor yang tinggi, di mana penyedia RPC bisa saja memblokir pengguna atau bahkan seluruh negara dari akses ke jaringan. 4. Dukungan Pendanaan Pribadi Sebagai bentuk komitmen, pada akhir Januari lalu Buterin menyatakan telah menyisihkan 16.384 ETH (senilai sekitar $45 juta) dari kekayaan pribadinya. Dana ini akan disalurkan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan untuk mendukung teknologi yang menjaga privasi, perangkat keras sumber terbuka (open hardware), dan perangkat lunak yang aman. Langkah ini diambil di tengah masa “penghematan ringan” yang sedang dijalankan oleh Ethereum Foundation.
Blockchain Kini Dilirik untuk Infrastruktur Sistem Keuangan Modern

Peran teknologi blockchain di Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran makna yang sangat fundamental. Sebelumnya, teknologi ini lebih sering diasosiasikan secara sempit hanya sebagai pendukung instrumen investasi kripto yang bersifat spekulatif. Sayangnya, pemahaman tersebut membuat potensi sejatinya sering kali terabaikan oleh masyarakat luas. Namun, kini peran teknologi ini mulai bergeser menjadi fondasi infrastruktur sistem keuangan modern yang lebih kokoh. Fenomena ini tercermin dari semakin luasnya penerapan berbagai komponen inti dalam membangun sistem keuangan digital yang transparan dan efisien. Langkah-langkah inovatif ini tentu saja didukung oleh berbagai prinsip teknologi distributed ledger, mekanisme konsensus yang canggih, hingga penggunaan smart contract. Sejumlah pelaku industri terkemuka menilai bahwa blockchain telah berkembang menjadi lapisan teknologi yang sangat serbaguna. Teknologi ini dapat menopang berbagai jenis layanan keuangan baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mulai dari penerbitan stablecoin hingga proses tokenisasi aset dunia nyata yang dikenal sebagai Real-World Assets atau RWA. Memahami Blockchain sebagai Fondasi Infrastruktur Keuangan Modern melalui Teknologi Finansial Digital Peran Distributed Ledger, Konsensus, dan Smart Contract Dalam upaya membangun masa depan keuangan digital, pemanfaatan teknologi finansial digital adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Komponen utama yang menjadi tulang punggung dari sistem ini tentu saja adalah penggunaan teknologi distributed ledger. Selain itu, mekanisme konsensus memastikan semua pihak yang terlibat dalam jaringan menyepakati kebenaran data transaksi. Inovasi keuangan yang paling menarik adalah kehadiran smart contract yang dapat mengeksekusi perjanjian secara otomatis tanpa memerlukan pihak ketiga. Keberadaan ketiga elemen ini bersama-sama menciptakan sebuah ekosistem yang serba cepat, aman, dan sangat transparan. Semua pihak yang terlibat dalam sistem keuangan digital kini dapat berinteraksi dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Berikut adalah beberapa peran strategis dari elemen-elemen tersebut: Teknologi distributed ledger memungkinkan pencatatan transaksi yang permanen dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Mekanisme konsensus menjamin validitas setiap transaksi di dalam jaringan secara desentralisasi sistem keuangan. Smart contract mengotomatisasi proses bisnis yang kompleks, sehingga meningkatkan efisiensi transaksi secara signifikan. Tokenisasi Real-World Assets (RWA) dan Stablecoin Penerapan teknologi blockchain telah meluas ke berbagai use case yang sangat menarik di sektor keuangan digital. Salah satu inovasi yang paling menjanjikan adalah tokenisasi aset dunia nyata atau Real-World Assets (RWA). Model ini memungkinkan berbagai aset konvensional, seperti properti atau obligasi, untuk direpresentasikan secara digital. Aset-aset tersebut kini dapat ditransaksikan di dalam jaringan blockchain dengan tingkat efisiensi transaksi yang jauh lebih tinggi. Selain itu, stablecoin sebagai representasi digital dari mata uang fiat juga memiliki peran yang sangat krusial dalam ekosistem ini. Stablecoin berfungsi sebagai jembatan yang memudahkan perpindahan nilai di dalam jaringan yang terdesentralisasi. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari proses tokenisasi RWA: Meningkatkan transparansi kepemilikan dan aksesibilitas bagi pelaku pasar global. Memungkinkan fraksionalisasi aset, sehingga aset berharga dapat dimiliki oleh lebih banyak orang dengan modal yang lebih terjangkau. Mengurangi biaya operasional dan mempercepat proses penyelesaian transaksi yang kompleks. Proses tokenisasi RWA secara umum mengikuti tahapan-tahapan berikut: Identifikasi Aset: Menentukan aset fisik atau keuangan tradisional yang akan ditokenisasi. Hukum dan Kepatuhan: Menyiapkan kerangka hukum yang tepat agar representasi digital tersebut sah di mata hukum. Representasi Digital: Membuat token digital yang merepresentasikan nilai dan kepemilikan aset tersebut di dalam jaringan blockchain. Penerbitan: Meluncurkan token tersebut kepada investor di bursa atau platform perdagangan yang berizin. Navigasi Regulasi dan Kepatuhan untuk Stabilitas dan Kepercayaan dalam Desentralisasi Sistem Keuangan Pentingnya Kerangka Kebijakan yang Tepat untuk Regulasi Dari sisi tata kelola industri, aspek regulasi dinilai menjadi faktor yang sangat krusial dalam memastikan perkembangan teknologi ini. Hal ini penting agar implementasi blockchain tetap sejalan dengan prinsip stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Keberadaan kerangka kebijakan yang tepat akan memberikan kepastian hukum bagi para inovator dan pelaku pasar. Public Policy & Government Relations ABI, Fayza Nur M, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi blockchain. Namun, potensi ini hanya akan terwujud sepenuhnya selama diiringi oleh kerangka kebijakan yang tepat dan responsif. “Dengan tata kelola yang tepat, blockchain dapat berkembang sebagai inovasi keuangan yang tetap selaras dengan stabilitas,” ujarnya. Perlindungan konsumen juga harus menjadi perhatian utama bagi para regulator dalam menyusun kebijakan. Aturan yang jelas akan memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam berinteraksi dengan berbagai layanan keuangan berbasis blockchain. Keseimbangan antara inovasi keuangan dan stabilitas sistem adalah kunci utama dalam membangun ekosistem digital yang sehat. Standar Kepatuhan: KYC, AML, dan Transparansi Selain regulasi dari pemerintah, faktor kepatuhan internal perusahaan juga menjadi elemen yang sangat penting. Aspek ini bertujuan agar ekosistem blockchain dapat diterima dengan baik oleh institusi keuangan dan masyarakat luas. Pilar kepercayaan ini dibangun melalui prinsip transparansi serta pengawasan yang ketat dan berkelanjutan. Mobee Compliance, Rifta Titania, menekankan bahwa transparansi serta pengawasan melalui mekanisme Know Your Customer (KYC) adalah fondasi utama. Selain itu, sistem ini juga harus mampu mencegah terjadinya praktik Anti-Money Laundering (AML) secara efektif. Keberadaan standar kepatuhan tersebut akan menentukan sejauh mana teknologi blockchain dapat diintegrasikan. Berikut adalah pilar kepercayaan berbasis blockchain: Transparansi kepemilikan dan catatan transaksi yang dapat diakses secara publik. Mekanisme KYC yang ketat untuk mengidentifikasi identitas pengguna jaringan. Sistem AML yang canggih untuk memantau dan mencegah transaksi yang mencurigakan. Standar kepatuhan tersebut akan menentukan sejauh mana teknologi blockchain dapat diintegrasikan ke dalam arsitektur sistem keuangan nasional. Dalam konteks industri, Mobee memosisikan diri sebagai penghubung antara sistem keuangan tradisional dengan ekosistem keuangan digital yang transparan. Seluruh operasional mereka berada dalam pengawasan regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. Pengembangan Talenta dan Edukasi: Kunci Menuju Masa Depan Keuangan Digital dengan Keamanan Data Transaksi Membangun Talenta Teknologi Lokal dari Pengguna Menjadi Pengembang Salah satu tantangan utama dalam adopsi teknologi blockchain adalah ketersediaan talenta teknologi lokal yang berkualitas. Co-Founder PIVY, Febi Mettasari, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi blockchain telah meluas ke berbagai use case di sektor keuangan. Oleh karena itu, kebutuhan akan talenta yang kompeten menjadi semakin mendesak untuk dipenuhi. Ia menilai pemahaman mendalam terhadap desain sistem blockchain menjadi kunci agar talenta teknologi lokal tidak hanya menjadi pengguna. Mereka diharapkan mampu berperan aktif sebagai pengembang dan arsitek ekosistem digital di masa depan. Pengembangan kompetensi talenta lokal adalah investasi jangka panjang yang sangat strategis bagi Indonesia. Upaya ini penting untuk menjaga keamanan data transaksi di masa depan. Talenta lokal harus memiliki pemahaman mendalam mengenai arsitektur sistem keuangan nasional untuk membangun
Bitcoin Ungguli Pasar Saham di Tengah Krisis Geopolitik dan Potensi Pembelian Masif

Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan ketangguhannya dengan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak September 2025. Mata uang kripto utama ini berhasil melawan arus tren pasar global yang sedang menghindari risiko akibat memanasnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran. Berikut adalah poin-poin utama dari pergerakan Bitcoin saat ini: Lonjakan Harga: Harga BTC naik lebih dari 7% dalam sepekan ke kisaran $70.625, berbanding terbalik dengan indeks S&P 500 yang justru melemah 1,60%. Potensi Pembelian Besar-besaran: Berdasarkan data dari STRC.LIVE, perusahaan Strategy diperkirakan berhasil menghimpun dana segar sebesar $776 juta melalui penjualan instrumen STRC minggu ini. Dana tersebut berpotensi digunakan untuk memborong lebih dari 11.000 BTC. Dukungan Aliran Dana ETF: Di saat yang sama, ETF Bitcoin spot di AS juga mencatatkan aliran dana masuk yang fantastis, mencapai $767 juta selama lima hari perdagangan berturut-turut. Sejarah Membuktikan: Kripto Tahan Banting Terhadap Krisis Secara historis, Bitcoin sering kali mengalami penurunan sesaat pada awal pecahnya konflik geopolitik besar, namun selalu diikuti dengan reli harga yang jauh lebih tinggi. Pola ini terlihat pada beberapa kejadian penting: Februari 2022: Invasi Rusia ke Ukraina memicu aksi jual awal, namun BTC kemudian melesat naik hingga 40%. Juni 2025: Serangan Israel terhadap Iran menyebabkan harga turun sementara, namun Bitcoin kembali bangkit dan naik 25% dalam dua bulan berikutnya. Januari 2020: Ketegangan AS-Iran usai tewasnya Jenderal Qasem Soleimani membuat BTC sempat anjlok sebelum akhirnya meroket lebih dari 50%. Melihat sejarah ini, model makroekonomi mengisyaratkan bahwa Bitcoin memiliki potensi eskalasi harga untuk menembus level $100.000 dalam beberapa bulan ke depan. Waspada Jebakan Pasar: Risiko Bear Flag ke $51.000 Meskipun sentimen positif menguat, risiko penurunan tetap membayangi grafik teknikal Bitcoin. Terbentuknya pola bear flag (bendera bearish) meningkatkan kemungkinan terjadinya bull trap (jebakan bagi pembeli). Pola ini biasanya berakhir dengan penurunan tajam jika harga menembus batas bawahnya. Saat ini, pergerakan naik Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan karena tertahan di batas atas pola bendera tersebut, yang juga bertepatan dengan rata-rata pergerakan eksponensial 50-hari (EMA 50) di sekitar $72.750. Jika Bitcoin gagal bertahan dan menembus ke bawah, analisis dari pola bear flag memproyeksikan target penurunan harga hingga ke level $51.000.
Jaringan Terdesentralisasi Bangun Konstelasi Satelit Berbasis Blockchain untuk Meningkatkan Komunikasi

Seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan, kebutuhan akan daya komputasi dan energi juga meningkat pesat. Untuk mengatasi keterbatasan fisik dan lingkungan di Bumi, sektor teknologi mulai melirik ruang angkasa sebagai alternatif. Salah satu konsep yang kini mulai dipertimbangkan adalah pusat data di orbit, yang dapat memanfaatkan energi matahari yang melimpah serta pendinginan alami di luar angkasa. Namun, memindahkan infrastruktur komputasi ke orbit menghadirkan tantangan baru. Sistem tersebut membutuhkan jaringan komunikasi yang andal agar dapat beroperasi secara efisien. Jika pusat data di luar angkasa tetap harus bergantung pada menara seluler dan kabel serat optik di Bumi untuk memproses data, maka latensi tinggi dapat menghilangkan keuntungan operasional yang diharapkan. Masalah inilah yang coba diatasi oleh Spacecoin, sebuah proyek internet terdesentralisasi berbasis satelit. Proyek ini membangun konstelasi satelit kecil di orbit rendah Bumi yang dilengkapi teknologi blockchain. Tujuannya adalah menciptakan lapisan komunikasi bersama yang interoperabel untuk mendukung berkembangnya ekonomi di ruang angkasa. Mengurangi ketergantungan pada infrastruktur Bumi Infrastruktur terdesentralisasi yang dirancang untuk mendukung pusat data di orbit juga berpotensi mengatasi masalah konektivitas di Bumi. Saat ini, sekitar 2,6 miliar orang masih belum memiliki akses internet, sementara jaringan komunikasi yang ada menciptakan titik kendali terpusat bagi pengguna yang sudah terhubung. Dengan pendekatan desentralisasi, Spacecoin berupaya menghilangkan ketergantungan pada satu penyedia layanan atau pemerintah tertentu. Sistem jaringan ini dirancang agar proses seperti perutean data hingga pembayaran dapat berjalan tanpa kontrol tunggal. Selain untuk pengguna manusia, jaringan ini juga ditujukan bagi komunikasi antar mesin. Ketika node komputasi mulai berpindah ke orbit untuk menghindari keterbatasan infrastruktur di Bumi, mereka memerlukan protokol netral untuk mengirim data dan menjalankan transaksi secara aman. Spacecoin menargetkan peran sebagai protokol dasar komunikasi di luar angkasa, memungkinkan berbagai aset orbital untuk saling bertukar informasi dengan lebih efisien sekaligus membuka jalan bagi ekosistem ekonomi luar angkasa yang saling terhubung. Pembangunan infrastruktur fisik Untuk mewujudkan konsep tersebut, Spacecoin telah mulai membangun infrastruktur nyata. Pada Desember 2024, proyek ini meluncurkan satelit pertamanya, CTC-0, yang memungkinkan konektivitas antara stasiun darat dan satelit. Kemudian pada Oktober 2025, tim pengembang mengumumkan keberhasilan melakukan transaksi blockchain pertama yang sepenuhnya diproses melalui jaringan satelit di luar angkasa. Pengembangan jaringan berlanjut pada November 2025 dengan peluncuran tiga satelit tambahan CTC-1. Satelit-satelit ini digunakan untuk menguji teknologi komunikasi antar satelit, yang memungkinkan perangkat di orbit bertukar data secara langsung tanpa harus selalu mengirimkan data kembali ke Bumi. Teknologi ini dianggap penting bagi operasional pusat data orbital di masa depan. Tokenisasi industri satelit Ekosistem jaringan ini didukung oleh mata uang digital bernama SPACE. Token tersebut memungkinkan operator satelit memperoleh pendapatan tambahan dengan memanfaatkan kapasitas jaringan yang tidak terpakai. Dengan menyumbangkan bandwidth berlebih ke jaringan, operator dapat membuka sumber monetisasi baru. Selain itu, token SPACE juga berfungsi sebagai token tata kelola yang memberi pemegangnya hak suara dalam keputusan terkait pengembangan protokol serta digunakan sebagai alat pembayaran dalam ekosistem. Model ini berpotensi memperluas partisipasi dalam industri ruang angkasa yang sebelumnya didominasi perusahaan besar. Melalui pendekatan ini, investor ritel juga dapat berpartisipasi dalam ekonomi luar angkasa. Proyek ini juga telah menjalin sejumlah kerja sama strategis untuk memperluas akses internet di beberapa negara, termasuk Nigeria, Kenya, Indonesia, dan Kamboja. Dalam jangka pendek, tim pengembang fokus menguji stabilitas jaringan serta performa komunikasi antar satelit. Target mereka adalah mencapai tahap implementasi komersial penuh pada tahun 2027 seiring bertambahnya infrastruktur orbital. Menurut pendiri Spacecoin, Tae-Oh, ekonomi luar angkasa diperkirakan akan tumbuh hingga mencapai nilai sekitar satu triliun dolar. Ia menilai teknologi seperti Spacecoin membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk ikut serta dalam ekosistem tersebut. Ia juga menambahkan bahwa bagi miliaran orang yang masih berada di sisi lain kesenjangan digital, teknologi ini dapat membuka akses ke pasar global, pendidikan, serta layanan keuangan yang sebelumnya sulit dijangkau. Seiring berkembangnya ekonomi orbital, jaringan komunikasi terdesentralisasi berbasis satelit berpotensi mengubah cara dunia membangun infrastruktur telekomunikasi. Dengan mengurangi ketergantungan pada sistem berbasis darat dan membuka peluang monetisasi bagi operator satelit, platform seperti Spacecoin dapat mendorong masa depan digital yang lebih terbuka dan inklusif.
Bank Sentral Inggris Mulai Lebih Terbuka terhadap Stablecoin, Namun Menilai Masukan Industri Masih Kurang

Bank of England menyatakan kesediaannya untuk menyesuaikan kerangka regulasi stablecoin yang sedang diusulkan. Namun, salah satu pejabat bank tersebut menilai bahwa tanggapan dari pelaku industri kripto masih belum cukup konstruktif. Deputi Gubernur Sarah Breeden menjelaskan bahwa pembatasan kepemilikan stablecoin yang diusulkan bertujuan untuk mengurangi risiko perpindahan dana besar-besaran dari deposito bank ke stablecoin. Perpindahan semacam itu dinilai berpotensi mengganggu stabilitas sektor perbankan. Menurut Breeden, pembatasan tersebut hanyalah salah satu pendekatan untuk mengelola risiko tersebut dan pihak bank terbuka terhadap alternatif lain. Namun ia juga menyatakan bahwa banyak kritik dari industri belum disertai dengan usulan solusi yang jelas. Ia mengatakan bahwa banyak pihak dari industri hanya menyampaikan keberatan terhadap kebijakan tersebut tanpa menawarkan cara lain untuk mengatasi masalah yang sama. Sementara itu, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh pelaku industri. Nick Rhodes dari platform aset digital Zumo menyebut bahwa selama dua tahun terakhir para pelaku industri telah meninjau ribuan halaman dokumen konsultasi dari regulator serta mengikuti berbagai diskusi dan pertemuan meja bundar. Menurut Rhodes, tantangan utama bagi regulator dan industri adalah merancang kerangka regulasi komprehensif untuk pasar yang masih dalam tahap perkembangan. Dalam kondisi tersebut, penyediaan data konkret memang sulit dilakukan, sehingga pendekatan regulasi berbasis prinsip dengan aturan yang lebih fleksibel dinilai lebih tepat. Pendiri sekaligus CEO Zumo, Nick Jones, juga menyatakan bahwa berbagai kelompok industri sebenarnya telah berupaya memberikan rekomendasi dalam waktu yang relatif singkat. Ia menilai proses diskusi dapat menjadi lebih produktif jika Bank of England mengadopsi pendekatan seperti model workshop Spring milik Financial Conduct Authority (FCA), yang berfokus pada penggunaan praktis teknologi untuk membantu regulator memahami implikasinya. Konsep “multi-moneyverse” dalam sistem keuangan Dalam pernyataannya, Breeden juga menegaskan bahwa Bank of England terbuka terhadap penerbitan uang yang ditokenisasi oleh lembaga nonbank. Ia menggambarkan masa depan sistem keuangan sebagai sebuah “multi-moneyverse”, di mana berbagai bentuk uang dan metode pembayaran dapat berdampingan. Konsep ini menggambarkan ekosistem dengan lebih banyak pilihan serta persaingan antar bentuk uang, sementara teknologi memungkinkan transaksi menjadi lebih cepat, murah, dan inovatif. Meskipun demikian, sistem tersebut tetap harus didukung oleh kepercayaan publik terhadap nilai uang itu sendiri. Bagi industri kripto, gagasan kompetisi antar bentuk uang ini merupakan perkembangan positif dalam cara pandang Bank of England terhadap stablecoin. Rhodes menyebut perubahan ini sebagai evolusi signifikan dibandingkan pandangan sebelumnya. Namun demikian, pandangan tersebut masih berbeda dengan sikap Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, yang sebelumnya menyatakan bahwa stablecoin tidak dimaksudkan untuk menggantikan uang bank komersial. Jones menilai sikap bank sentral terhadap aset digital secara umum mulai melunak. Ia mengatakan bahwa semakin terbukanya regulator terhadap berbagai bentuk uang menunjukkan kemungkinan stablecoin yang didukung pound sterling dapat hidup berdampingan dengan sistem keuangan tradisional. Menurutnya, berbagai bentuk uang digital nantinya akan memiliki kegunaan yang berbeda. Misalnya, investor institusi mungkin lebih nyaman menggunakan deposito yang ditokenisasi, sementara perusahaan pembayaran ritel dapat memanfaatkan efek jaringan dari stablecoin. Regulasi masih dapat berubah Langkah berikutnya yang ditunggu industri adalah keputusan kebijakan final dari Bank of England. Namun, revisi terhadap proposal regulasi masih memungkinkan. Pelaku industri saat ini masih mendorong agar pembatasan kepemilikan stablecoin dihapus serta aturan modal yang menyerupai bank tidak diterapkan pada penerbit stablecoin. Jones berpendapat bahwa persyaratan tersebut tidak sesuai bagi penerbit stablecoin yang sepenuhnya didukung oleh cadangan aset. Sebagai gantinya, ia menyarankan agar pengawasan difokuskan pada kualitas cadangan serta transparansi pengelolaan dana. Saat ini Bank of England mengusulkan agar penerbit stablecoin menempatkan 40% cadangan mereka dalam bentuk deposito di bank sentral tanpa imbal hasil, sementara hingga 60% sisanya dapat disimpan dalam obligasi pemerintah Inggris jangka pendek yang berkualitas tinggi. Kebijakan tersebut sebagian didasarkan pada pengalaman krisis sebelumnya, seperti runtuhnya Silicon Valley Bank pada 2023 yang sempat menyebabkan stablecoin USD Coin kehilangan patokan nilainya. Jones juga menyarankan agar regulator mempertimbangkan pemberian imbal hasil pada sebagian dana cadangan yang ditempatkan di Bank of England agar model bisnis stablecoin tetap layak secara komersial. Ia menambahkan bahwa Inggris memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat perkembangan stablecoin di dunia, namun hal tersebut hanya dapat tercapai jika regulasi yang diterapkan bersifat proporsional dan kompetitif.
Miliarder: Stablecoin Akan Jadi Tulang Punggung Pembayaran Global dalam 10 Tahun

Investor kawakan sekaligus miliarder, Stanley Druckenmiller, memproyeksikan bahwa teknologi blockchain dan stablecoin akan mendominasi sistem pembayaran global dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Dalam wawancaranya bersama Morgan Stanley, ia menekankan bahwa token berbasis blockchain menawarkan solusi yang jauh lebih cepat, murah, dan efisien dibandingkan infrastruktur perbankan konvensional. Mantan manajer investasi yang terkenal dengan rekor tak pernah rugi selama memimpin Duquesne Capital ini menyoroti adanya krisis kepercayaan terhadap bank sentral saat ini. Ketidakpercayaan inilah yang membuka jalan bagi sistem blockchain untuk menggantikan jalur pembayaran tradisional dolar AS. Pandangannya ini sejalan dengan tren pasar, di mana raksasa pembayaran seperti Western Union dan MoneyGram mulai mengadopsi stablecoin menyusul kejelasan regulasi dari pengesahan GENIUS Act. Meski sangat mendukung penggunaan stablecoin untuk transaksi, Druckenmiller tetap skeptis terhadap fungsi aset kripto seperti Bitcoin sebagai penyimpan nilai (store of value). Ia menyebut kripto sebagai “solusi yang mencari-cari masalah” dan secara pribadi lebih memilih emas karena rekam jejaknya yang sudah teruji selama 5.000 tahun. Walaupun tidak memiliki Bitcoin dan menganggapnya tidak terlalu dibutuhkan, ia mengakui bahwa kripto telah menjadi ‘merek’ kuat yang dicintai banyak orang, sehingga ia merasa mungkin seharusnya ia ikut memilikinya.