Blockped

Bank Sentral Inggris Mulai Lebih Terbuka terhadap Stablecoin, Namun Menilai Masukan Industri Masih Kurang

Bank of England menyatakan kesediaannya untuk menyesuaikan kerangka regulasi stablecoin yang sedang diusulkan. Namun, salah satu pejabat bank tersebut menilai bahwa tanggapan dari pelaku industri kripto masih belum cukup konstruktif. Deputi Gubernur Sarah Breeden menjelaskan bahwa pembatasan kepemilikan stablecoin yang diusulkan bertujuan untuk mengurangi risiko perpindahan dana besar-besaran dari deposito bank ke stablecoin. Perpindahan semacam itu dinilai berpotensi mengganggu stabilitas sektor perbankan. Menurut Breeden, pembatasan tersebut hanyalah salah satu pendekatan untuk mengelola risiko tersebut dan pihak bank terbuka terhadap alternatif lain. Namun ia juga menyatakan bahwa banyak kritik dari industri belum disertai dengan usulan solusi yang jelas. Ia mengatakan bahwa banyak pihak dari industri hanya menyampaikan keberatan terhadap kebijakan tersebut tanpa menawarkan cara lain untuk mengatasi masalah yang sama. Sementara itu, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disetujui oleh pelaku industri. Nick Rhodes dari platform aset digital Zumo menyebut bahwa selama dua tahun terakhir para pelaku industri telah meninjau ribuan halaman dokumen konsultasi dari regulator serta mengikuti berbagai diskusi dan pertemuan meja bundar. Menurut Rhodes, tantangan utama bagi regulator dan industri adalah merancang kerangka regulasi komprehensif untuk pasar yang masih dalam tahap perkembangan. Dalam kondisi tersebut, penyediaan data konkret memang sulit dilakukan, sehingga pendekatan regulasi berbasis prinsip dengan aturan yang lebih fleksibel dinilai lebih tepat. Pendiri sekaligus CEO Zumo, Nick Jones, juga menyatakan bahwa berbagai kelompok industri sebenarnya telah berupaya memberikan rekomendasi dalam waktu yang relatif singkat. Ia menilai proses diskusi dapat menjadi lebih produktif jika Bank of England mengadopsi pendekatan seperti model workshop Spring milik Financial Conduct Authority (FCA), yang berfokus pada penggunaan praktis teknologi untuk membantu regulator memahami implikasinya. Konsep “multi-moneyverse” dalam sistem keuangan Dalam pernyataannya, Breeden juga menegaskan bahwa Bank of England terbuka terhadap penerbitan uang yang ditokenisasi oleh lembaga nonbank. Ia menggambarkan masa depan sistem keuangan sebagai sebuah “multi-moneyverse”, di mana berbagai bentuk uang dan metode pembayaran dapat berdampingan. Konsep ini menggambarkan ekosistem dengan lebih banyak pilihan serta persaingan antar bentuk uang, sementara teknologi memungkinkan transaksi menjadi lebih cepat, murah, dan inovatif. Meskipun demikian, sistem tersebut tetap harus didukung oleh kepercayaan publik terhadap nilai uang itu sendiri. Bagi industri kripto, gagasan kompetisi antar bentuk uang ini merupakan perkembangan positif dalam cara pandang Bank of England terhadap stablecoin. Rhodes menyebut perubahan ini sebagai evolusi signifikan dibandingkan pandangan sebelumnya. Namun demikian, pandangan tersebut masih berbeda dengan sikap Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, yang sebelumnya menyatakan bahwa stablecoin tidak dimaksudkan untuk menggantikan uang bank komersial. Jones menilai sikap bank sentral terhadap aset digital secara umum mulai melunak. Ia mengatakan bahwa semakin terbukanya regulator terhadap berbagai bentuk uang menunjukkan kemungkinan stablecoin yang didukung pound sterling dapat hidup berdampingan dengan sistem keuangan tradisional. Menurutnya, berbagai bentuk uang digital nantinya akan memiliki kegunaan yang berbeda. Misalnya, investor institusi mungkin lebih nyaman menggunakan deposito yang ditokenisasi, sementara perusahaan pembayaran ritel dapat memanfaatkan efek jaringan dari stablecoin. Regulasi masih dapat berubah Langkah berikutnya yang ditunggu industri adalah keputusan kebijakan final dari Bank of England. Namun, revisi terhadap proposal regulasi masih memungkinkan. Pelaku industri saat ini masih mendorong agar pembatasan kepemilikan stablecoin dihapus serta aturan modal yang menyerupai bank tidak diterapkan pada penerbit stablecoin. Jones berpendapat bahwa persyaratan tersebut tidak sesuai bagi penerbit stablecoin yang sepenuhnya didukung oleh cadangan aset. Sebagai gantinya, ia menyarankan agar pengawasan difokuskan pada kualitas cadangan serta transparansi pengelolaan dana. Saat ini Bank of England mengusulkan agar penerbit stablecoin menempatkan 40% cadangan mereka dalam bentuk deposito di bank sentral tanpa imbal hasil, sementara hingga 60% sisanya dapat disimpan dalam obligasi pemerintah Inggris jangka pendek yang berkualitas tinggi. Kebijakan tersebut sebagian didasarkan pada pengalaman krisis sebelumnya, seperti runtuhnya Silicon Valley Bank pada 2023 yang sempat menyebabkan stablecoin USD Coin kehilangan patokan nilainya. Jones juga menyarankan agar regulator mempertimbangkan pemberian imbal hasil pada sebagian dana cadangan yang ditempatkan di Bank of England agar model bisnis stablecoin tetap layak secara komersial. Ia menambahkan bahwa Inggris memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat perkembangan stablecoin di dunia, namun hal tersebut hanya dapat tercapai jika regulasi yang diterapkan bersifat proporsional dan kompetitif.

Miliarder: Stablecoin Akan Jadi Tulang Punggung Pembayaran Global dalam 10 Tahun

Investor kawakan sekaligus miliarder, Stanley Druckenmiller, memproyeksikan bahwa teknologi blockchain dan stablecoin akan mendominasi sistem pembayaran global dalam 10 hingga 15 tahun ke depan. Dalam wawancaranya bersama Morgan Stanley, ia menekankan bahwa token berbasis blockchain menawarkan solusi yang jauh lebih cepat, murah, dan efisien dibandingkan infrastruktur perbankan konvensional. Mantan manajer investasi yang terkenal dengan rekor tak pernah rugi selama memimpin Duquesne Capital ini menyoroti adanya krisis kepercayaan terhadap bank sentral saat ini. Ketidakpercayaan inilah yang membuka jalan bagi sistem blockchain untuk menggantikan jalur pembayaran tradisional dolar AS. Pandangannya ini sejalan dengan tren pasar, di mana raksasa pembayaran seperti Western Union dan MoneyGram mulai mengadopsi stablecoin menyusul kejelasan regulasi dari pengesahan GENIUS Act. Meski sangat mendukung penggunaan stablecoin untuk transaksi, Druckenmiller tetap skeptis terhadap fungsi aset kripto seperti Bitcoin sebagai penyimpan nilai (store of value). Ia menyebut kripto sebagai “solusi yang mencari-cari masalah” dan secara pribadi lebih memilih emas karena rekam jejaknya yang sudah teruji selama 5.000 tahun. Walaupun tidak memiliki Bitcoin dan menganggapnya tidak terlalu dibutuhkan, ia mengakui bahwa kripto telah menjadi ‘merek’ kuat yang dicintai banyak orang, sehingga ia merasa mungkin seharusnya ia ikut memilikinya.

Bitcoin Menguat ke $73K, Namun Sinyal Berakhirnya ‘Bear Market’ Masih Diragukan

Bitcoin menunjukkan performa yang solid pekan ini dengan berhasil melampaui angka $73.000 dan bertahan di atas level dukungan (support) $70.000. Penguatan ini utamanya didorong oleh lemahnya data ekonomi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik akibat konflik Israel-Iran, yang membuat para investor beralih ke aset-aset langka sebagai tempat berlindung. Pertumbuhan ekonomi AS tercatat lesu, hanya mencapai 0,7% pada kuartal terakhir 2025. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya resesi di tahun 2026. Situasi ini berdampak pada naiknya imbal hasil obligasi AS (Treasury) ke angka 4,26%, sekaligus mendorong minat institusional terhadap kripto. Arus masuk yang signifikan terlihat pada ETF Bitcoin spot maupun akumulasi besar-besaran oleh perusahaan institusional. Namun demikian, berbagai indikator menunjukkan bahwa fase bear market—yakni koreksi panjang sejak Bitcoin anjlok dari puncaknya di $126.000 pada Oktober 2025—kemungkinan besar belum berakhir. Berikut beberapa alasannya: Korelasi Saham Teknologi: Bitcoin saat ini memiliki korelasi yang sangat tinggi (84%) dengan indeks saham Nasdaq 100. Jika inflasi yang membandel memicu koreksi di pasar saham, harga Bitcoin berisiko besar ikut terseret turun. Tekanan Harga Minyak: Tingginya harga minyak dunia (sekitar $30 lebih mahal dari level sebelum perang) menekan daya beli konsumen dan membatasi modal yang dimiliki oleh investor ritel untuk masuk ke pasar kripto. Arus ETF Bersifat Reaktif: Masuk dan keluarnya dana besar-besaran di ETF spot tampaknya hanya mengikuti pergerakan harga Bitcoin yang ada, bukan menjadi indikator awal penentu arah pasar. Kesimpulannya, meskipun kemampuan Bitcoin mempertahankan posisi di atas $70.000 menunjukkan kepercayaan diri pasar, situasi makroekonomi saat ini belum memberikan kepastian bahwa tren penurunan jangka panjang telah benar-benar usai.

“Not Your Keys, Not Your Coins”: Apa yang Dibutuhkan untuk Self-Custody yang Sebenarnya

Salah satu janji utama cryptocurrency adalah kepemilikan aset yang terdesentralisasi dan sepenuhnya berada di tangan pengguna. Namun dalam praktiknya, banyak dana yang disimpan di bursa terpusat telah hilang selama bertahun-tahun akibat berbagai kegagalan. Dari berbagai peristiwa tersebut, para pengguna kripto kembali diingatkan pada prinsip yang sering diulang di industri ini: “Not your keys, not your coins.” Laporan terbaru dari Cointelegraph Research yang disusun bersama Trezor — produsen hardware wallet pertama — membahas bagaimana kesadaran ini memengaruhi perilaku investor. Laporan berjudul “The Future of Self-Custody: Turning Ownership Into Security” tersebut menganalisis hasil survei pengguna, evaluasi berbagai kegagalan bursa kripto, serta perkembangan arsitektur dompet digital modern untuk menjelaskan mengapa self-custody menjadi isu penting dalam keamanan kripto pada 2026. Data survei menunjukkan menurunnya tingkat kepercayaan pengguna terhadap bursa kripto terpusat. Sebagian besar responden menyatakan kepercayaan mereka terhadap platform tersebut lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Salah satu faktor utama yang masih memengaruhi persepsi tersebut adalah runtuhnya FTX. Walaupun regulasi baru seperti Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) meningkatkan pengawasan terhadap layanan kustodian, banyak pengguna menyadari bahwa akses terhadap aset tetap dapat dibatasi atau dihentikan oleh keputusan pihak ketiga. Karena itu, memindahkan aset ke self-custody semakin dipandang sebagai strategi manajemen risiko. Namun, setelah aset dipindahkan ke sistem self-custody, keamanan tidak lagi bergantung pada perlindungan institusi, melainkan pada disiplin operasional pengguna. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna menggunakan arsitektur dompet yang relatif sederhana, tetapi masih banyak yang salah memahami batasan teknologi tersebut. Hardware wallet memang dapat mengurangi risiko peretasan jarak jauh secara signifikan, tetapi tidak sepenuhnya mencegah kerugian yang disebabkan oleh kesalahan pengguna. Karena itu, laporan tersebut menekankan bahwa faktor perilaku pengguna jauh lebih penting dibandingkan sekadar perangkat yang digunakan. Hal-hal seperti cara memverifikasi transaksi, bagaimana menyimpan recovery phrase, serta pemahaman terhadap berbagai ancaman di dunia nyata menjadi elemen kunci dalam menjaga keamanan aset. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa kepemilikan aset digital tidak otomatis berarti keamanan. Self-custody yang efektif hanya dapat tercapai melalui praktik penggunaan yang disiplin serta pemahaman yang jelas mengenai perlindungan apa yang diberikan — dan tidak diberikan — oleh sistem penyimpanan aset kripto.

Wintermute: Penambang Kripto Perlu Mengoptimalkan Bitcoin Mereka untuk Bertahan

Banyak penambang Bitcoin saat ini menghadapi tekanan profitabilitas karena imbal hasil dari aktivitas penambangan semakin menurun. Menurut perusahaan market maker kripto Wintermute, para penambang mungkin perlu mengalihkan strategi bisnis, misalnya dengan menyediakan infrastruktur untuk industri kecerdasan buatan atau memanfaatkan kepemilikan Bitcoin mereka untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Dalam sebuah laporan blog yang dirilis Kamis, Wintermute menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun para penambang telah membangun infrastruktur energi berskala besar di wilayah dengan biaya listrik rendah. Infrastruktur tersebut kini sebenarnya sangat dibutuhkan oleh industri AI, namun sulit untuk direplikasi dengan cepat. Meski demikian, perusahaan tersebut menilai bahwa model bisnis penambangan Bitcoin masih cukup kaku secara struktural. Beralih ke bisnis hosting AI memang menarik, tetapi juga memerlukan investasi besar serta perubahan operasional yang signifikan. Laporan ini muncul di tengah langkah beberapa perusahaan tambang besar yang mulai melirik sektor AI. Salah satunya adalah MARA Holdings, yang pada awal Maret mengajukan dokumen ke U.S. Securities and Exchange Commission untuk mengindikasikan rencana menjual sebagian kepemilikan BTC mereka guna mendukung peralihan ke teknologi tersebut. Sejak Oktober, perusahaan tambang yang terdaftar di bursa juga dilaporkan telah menjual lebih dari 15.000 Bitcoin. Penambang masih terpengaruh “era HODL” Wintermute juga mencatat bahwa para penambang secara kolektif masih memegang sekitar 1% dari total pasokan Bitcoin yang beredar. Menurut perusahaan tersebut, praktik ini merupakan warisan dari “era HODL”, di mana banyak pelaku industri memilih menyimpan Bitcoin sebagai cadangan pasif. Padahal, berbagai strategi pengelolaan aset sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan imbal hasil tambahan. Selain metode umum seperti staking atau layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi), penambang juga dapat memanfaatkan manajemen portofolio yang lebih aktif. Contohnya termasuk menggunakan instrumen derivatif seperti covered calls atau cash-secured puts untuk memonetisasi risiko pasar. Di sisi lain, pendekatan yang lebih pasif juga tersedia, misalnya dengan menyalurkan Bitcoin ke protokol pinjaman kripto untuk memperoleh bunga. Wintermute menilai bahwa pengelolaan neraca secara aktif merupakan peluang yang masih jarang dimanfaatkan oleh para penambang. Menurut mereka, penambang yang menjadikan Bitcoin sebagai aset produktif, bukan sekadar cadangan pasif, akan memiliki keunggulan kompetitif menjelang siklus halving berikutnya. Tekanan profit berbeda dari siklus sebelumnya Perusahaan tersebut juga menyoroti bahwa untuk pertama kalinya dalam siklus pasar empat tahunan, harga Bitcoin tidak berhasil mencapai kenaikan dua kali lipat yang biasanya diperlukan untuk menutup penurunan pendapatan akibat halving. Margin kotor para penambang pun telah mencapai titik yang pada siklus sebelumnya sering menandai dasar pasar bearish. Selain itu, pendapatan dari biaya transaksi juga belum mampu menutupi kekurangan tersebut karena sifatnya tidak stabil dan hanya muncul pada periode tertentu. Sementara itu, kenaikan biaya energi terus menekan profitabilitas. Berdasarkan data yang dianalisis, kondisi saat ini berbeda dari siklus pasar sebelumnya pada 2018 dan 2022. Wintermute menilai tekanan tersebut sebagai bentuk “penyaringan sehat” yang sejalan dengan desain jaringan Bitcoin dan pada akhirnya dapat membuat industri penambangan menjadi lebih efisien.

Bertahan di Tengah Tekanan: Penambang Bitcoin Harus Tinggalkan Era “HODL”

Perusahaan pembuat pasar kripto, Wintermute, menyoroti bahwa banyak penambang Bitcoin (BTC) saat ini kesulitan meraup keuntungan akibat menurunnya imbal hasil pasca-halving. Untuk bisa bertahan dan unggul pada siklus berikutnya, penambang didesak untuk mengubah strategi mereka: beralih ke hosting Kecerdasan Buatan (AI) atau mulai memutar aset Bitcoin mereka agar menghasilkan keuntungan (yield). Peluang Transisi ke Industri AI Selama bertahun-tahun, penambang telah membangun infrastruktur energi berskala besar dengan biaya rendah—sebuah fasilitas yang saat ini sangat mendesak dibutuhkan oleh industri AI. Mengingat bisnis penambangan Bitcoin sangat kaku, transisi ke AI menjadi opsi yang menarik meski memakan modal besar. Contoh nyatanya adalah raksasa tambang MARA Holdings yang berencana menjual sebagian BTC-nya untuk mendanai transisi ke teknologi AI. Secara keseluruhan, perusahaan tambang publik tercatat telah menjual lebih dari 15.000 BTC sejak Oktober lalu. Mengubah Bitcoin Menjadi Aset Produktif Saat ini, para penambang secara kolektif menguasai sekitar 1% dari total pasokan Bitcoin. Wintermute menilai kebiasaan menahan aset atau “HODL” adalah strategi usang yang harus ditinggalkan. Penambang didorong untuk melakukan manajemen neraca keuangan secara aktif. Alih-alih membiarkan Bitcoin menganggur, aset tersebut bisa diputar melalui instrumen derivatif (seperti covered calls), atau disalurkan ke protokol peminjaman (lending protocols) untuk menghasilkan bunga pasif. “Seleksi Alam” yang Menyehatkan Industri Siklus pasar kali ini terbilang unik. Kenaikan harga Bitcoin belum mencapai dua kali lipat yang biasanya dibutuhkan untuk menutupi penurunan pendapatan akibat halving. Di sisi lain, biaya energi terus menggerus margin keuntungan, dan pendapatan dari biaya transaksi jaringan belum cukup stabil untuk menutup celah tersebut. Meski terdengar suram, Wintermute memandang tekanan ini sebagai “guncangan sehat” yang memang dirancang oleh sistem Bitcoin untuk memaksa industri pertambangan kripto beroperasi dengan jauh lebih efisien.

Ancaman Krisis Kredit Swasta: Apakah Harga Bitcoin Terancam?

Sektor kredit swasta, yang telah membengkak menjadi industri senilai $2 triliun tanpa pengawasan seketat perbankan tradisional, kini menunjukkan tanda-tanda krisis. Didorong oleh tingginya gagal bayar dan penarikan dana, situasi ini mulai disamakan oleh para ahli dengan kondisi sebelum krisis keuangan global 2008. Lembaga seperti IMF telah memberikan peringatan, sementara raksasa keuangan seperti BlackRock, JPMorgan, dan Morgan Stanley dilaporkan mulai membatasi penarikan dana klien mereka. Dampak Awal: Krisis Likuiditas Memicu Penurunan Bitcoin Jika krisis kredit swasta ini benar-benar meledak, pasar kripto kemungkinan akan terkena imbas negatif di tahap awal. Ketika investor tidak bisa menarik dana mereka dari portofolio kredit swasta yang tertahan, mereka akan mengalami krisis uang tunai (likuiditas). Sebagai solusi cepat, mereka cenderung akan mencairkan aset yang paling mudah dijual selama 24 jam penuh, yaitu Bitcoin dan aset kripto lainnya. Aksi jual paksa inilah yang berisiko menekan turun harga Bitcoin untuk sementara waktu. Peluang Jangka Panjang: Intervensi The Fed sebagai Katalis Kenaikan Namun, sejarah menunjukkan bahwa krisis sistemik semacam ini biasanya memaksa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk turun tangan dengan menyuntikkan likuiditas darurat dan memangkas suku bunga. Sama seperti yang terjadi saat krisis COVID-19 di 2020 dan krisis perbankan di 2023, ekspansi jumlah uang beredar oleh The Fed justru memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Alih-alih hancur, pelonggaran kebijakan moneter ini diprediksi kuat akan memicu lonjakan harga Bitcoin secara masif, dengan beberapa analis bahkan menargetkan harga hingga $250.000 setelah intervensi tersebut terjadi.

Ketua FDIC Sebut Stablecoin Tidak Akan Mendapat Perlindungan Asuransi Deposito di Bawah GENIUS Act

Ketua Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), Travis Hill, menyatakan bahwa undang-undang baru mengenai stablecoin di Amerika Serikat tidak memberikan kewenangan kepada FDIC untuk menjamin simpanan terkait stablecoin. Dalam pidato yang disiapkan untuk acara American Bankers Association (ABA) Washington Summit, Hill menjelaskan bahwa di bawah aturan dalam GENIUS Act, pemerintah tidak akan memberikan jaminan deposito untuk stablecoin setelah undang-undang tersebut sepenuhnya diberlakukan. Selain itu, penerbit stablecoin juga tidak diperbolehkan mengklaim bahwa aset digital mereka dilindungi oleh FDIC. Rencana regulasi yang diusulkan bahkan akan melarang mekanisme yang dikenal sebagai pass-through insurance yang dilakukan oleh pihak ketiga. Hill menjelaskan bahwa jika sistem pembayaran stablecoin memenuhi syarat untuk pass-through insurance, maka apabila bank yang menyimpan cadangan penerbit stablecoin mengalami kegagalan, FDIC seharusnya menjamin dana berdasarkan kepentingan para pemegang stablecoin. Namun dalam praktiknya, FDIC hanya akan memperlakukan rekening tersebut sebagai rekening korporasi biasa yang memiliki batas perlindungan maksimal sebesar 250.000 dolar. Undang-undang GENIUS Act, yang disahkan oleh Kongres dan ditandatangani menjadi hukum oleh Presiden AS Donald Trump pada Juli lalu, menetapkan kerangka regulasi nasional untuk stablecoin pembayaran. Aturan ini akan berlaku penuh sekitar 18 bulan setelah penandatanganan, atau 120 hari setelah regulator seperti FDIC dan Departemen Keuangan menyelesaikan regulasi turunannya. Meskipun FDIC tidak akan memberikan perlindungan deposito kepada pemegang stablecoin, para penerbit tetap diwajibkan untuk memastikan bahwa stablecoin yang dipatok pada dolar sepenuhnya didukung oleh cadangan aset. Perdebatan tentang imbal hasil stablecoin masih berlanjut Komentar Hill tidak menyinggung rancangan undang-undang lain mengenai struktur pasar aset digital yang saat ini sedang dibahas di Senat AS. Dalam pembahasan tersebut, regulator, pelaku industri kripto, dan sektor perbankan masih memperdebatkan berbagai isu seperti imbal hasil stablecoin, tokenisasi saham, serta standar etika di industri. Pada Januari lalu, American Bankers Association menyatakan bahwa salah satu prioritas kebijakan mereka adalah mencegah stablecoin pembayaran menjadi pengganti deposito bank tradisional. Organisasi tersebut juga mendorong larangan pemberian bunga, imbal hasil, atau insentif terhadap stablecoin, terlepas dari platform yang digunakan. Sejauh tahun ini, The White House telah mengadakan tiga pertemuan dengan para pemimpin industri untuk membahas arah kebijakan terkait regulasi tersebut. Namun hingga saat ini belum ada kepastian kapan rancangan undang-undang tersebut akan dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Prime Broker Dorong Akses Wall Street ke Prediction Market

Beberapa prime broker di Amerika Serikat mulai berupaya memberikan akses kepada klien institusional mereka ke pasar prediksi, yang dalam setahun terakhir mengalami pertumbuhan pesat. Prime broker sendiri merupakan lembaga keuangan yang menyediakan berbagai layanan bagi hedge fund dan investor institusional. Menurut laporan Bloomberg, eksekutif dari Clear Street dan Marex Group mengonfirmasi bahwa perusahaan mereka berencana membuka akses klien ke pasar prediksi milik Kalshi dalam waktu dekat. Clear Street, yang memiliki valuasi lebih dari 12 miliar dolar, diperkirakan menjadi perusahaan pertama yang menawarkan layanan tersebut. CEO perusahaan, Ed Tilly, menyatakan bahwa transaksi pertama di platform Kalshi kemungkinan dapat diselesaikan pada akhir Maret. Sementara itu, Marex yang bernilai sekitar 2,6 miliar dolar diperkirakan akan menyusul dalam beberapa bulan berikutnya. Kepala divisi global clearing Marex, Thomas Texier, mengatakan pihaknya melihat minat besar dari institusi keuangan besar yang ingin memanfaatkan peluang di pasar prediksi. Menurutnya, dalam beberapa minggu terakhir banyak hedge fund besar yang menanyakan apakah Marex dapat memberikan akses ke pasar tersebut. Selain untuk investasi, perusahaan juga mempertimbangkan penggunaan prediction market sebagai alat lindung nilai (hedging) bagi posisi mereka sendiri. Adopsi institusional diperkirakan meningkat CEO Kalshi, Tarek Mansour, menyebut bahwa partisipasi institusi kemungkinan akan meningkat signifikan pada 2026. Dalam unggahannya di LinkedIn, ia menjelaskan bahwa prediction market memiliki kegunaan besar sebagai sumber data untuk memperkirakan kejadian di masa depan sekaligus sebagai alat manajemen risiko investasi. Ia menilai bahwa sektor ini tidak lagi hanya digunakan oleh pengguna awal (early adopters), tetapi mulai berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan. Setiap minggu, miliaran dolar transaksi sudah mengalir melalui pasar prediksi. Mansour juga mengatakan bahwa berbagai institusi kini memanfaatkan prediction market untuk menghasilkan keuntungan, melindungi diri dari risiko dunia nyata, serta memprediksi kemungkinan peristiwa yang akan terjadi. Bahkan media besar seperti CNBC, CNN, Bloomberg, dan Fox kini mulai menyebut data dari pasar Kalshi bersamaan dengan indikator pasar tradisional. Masih ada ketidakpastian regulasi Meski demikian, CEO Clear Street menekankan bahwa perusahaannya tetap berhati-hati karena regulasi mengenai prediction market di Amerika Serikat masih belum sepenuhnya jelas. Saat ini juga terdapat sejumlah gugatan hukum yang diajukan regulator negara bagian terkait aktivitas di sektor tersebut. Beberapa isu utama yang menjadi perhatian adalah pasar prediksi yang berkaitan dengan olahraga, yang berpotensi dikategorikan sebagai taruhan olahraga, serta risiko perdagangan orang dalam (insider trading) karena cakupan topik yang luas di platform prediction market. Awal pekan ini, para eksekutif dari bursa besar seperti Nasdaq dan CME Group juga meminta adanya kejelasan regulasi agar adopsi prediction market di Amerika Serikat dapat berkembang. CEO Nasdaq, Adena Friedman, menyatakan bahwa pasar akan berkembang lebih sehat jika terdapat regulasi yang konsisten, karena hal tersebut juga membantu melindungi investor. Saat ini, Commodity Futures Trading Commission mengklaim memiliki kewenangan utama dalam mengawasi sektor ini, sementara Securities and Exchange Commission juga menyatakan akan memiliki peran dalam pengaturan pasar prediksi.

Binance.US Tunjuk CEO Baru, Bersiap Lakukan Ekspansi Besar-besaran

Setelah sempat terjerat sengketa hukum panjang dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), bursa kripto Binance.US kini menatap babak baru. Perusahaan resmi menunjuk Stephen Gregory, seorang mantan eksekutif di bidang kepatuhan hukum (compliance), sebagai CEO baru untuk memimpin rencana ekspansi mereka di Amerika Serikat. Poin-Poin Utama: Pergantian Pemimpin: Stephen Gregory resmi mengambil alih posisi CEO dari Norman Reed pada 9 Maret. Reed kini akan bertugas sebagai penasihat perusahaan. Profil Veteran Kripto: Gregory memiliki rekam jejak yang kuat. Ia pernah menjabat sebagai CEO Currency.com, Kepala Kepatuhan Hukum di CEX.IO, serta Pejabat Kepatuhan di Gemini. Fokus Ekspansi: Binance.US tidak lagi sekadar menjadi tempat jual-beli kripto, melainkan akan merambah ke layanan Decentralized Finance (DeFi), aset yang ditokenisasi (tokenized assets), dan memperluas program staking. Visi Sang CEO Baru Gregory menyatakan kebanggaannya dapat memimpin tim Binance.US untuk membangun platform terbaik bagi investor kripto di AS. “Merek Binance.US sangat kuat, didorong oleh sang pendiri, Changpeng Zhao (CZ), yang terus mengadvokasi agar AS menjadi ibu kota kripto dunia,” ujar Gregory. Bangkit dari Tekanan Hukum Penunjukan ini menandai titik balik yang signifikan bagi Binance.US. Pada tahun 2023 lalu, perusahaan sempat dituntut oleh SEC dengan tuduhan beroperasi sebagai bursa yang tidak terdaftar. Akibatnya, mereka terpaksa beroperasi hanya dengan transaksi kripto selama beberapa waktu. Namun, angin segar datang pada bulan Mei lalu ketika SEC secara resmi membatalkan gugatan tersebut secara permanen (with prejudice). Pembatalan ini menambah daftar panjang tindakan keras kripto yang ditarik kembali oleh agensi tersebut di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Setahun yang lalu, Binance.US juga telah berhasil memulihkan layanan setoran dan penarikan dalam mata uang Dolar AS. Rencana Produk dan Layanan Baru Selama setahun terakhir, Binance.US terus berinovasi dengan meluncurkan program rujukan (referral) dan penawaran reward serta staking. Ke depannya, bursa ini berencana untuk: Terus memperluas produk staking kripto mereka. Memperkenalkan layanan baru seputar DeFi dan aset yang ditokenisasi. Langkah ini sejalan dengan tren industri bursa kripto saat ini. Banyak platform mulai berekspansi di luar layanan perdagangan konvensional, seperti menawarkan aset digital yang terikat dengan saham tradisional, serta memikat pelanggan dengan berbagai produk yang menghasilkan imbal hasil (yield).