Harga Bitcoin (BTC) sempat mencatatkan penguatan signifikan hingga menembus level psikologis US$75.000. Momentum positif ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon pada Jumat (17/4/2026) dini hari. Meredanya tensi geopolitik ini sukses mengembalikan selera risiko investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Berdasarkan data pasar pada Minggu (19/4/2026) pagi, Bitcoin diperdagangkan pada level US$75.693, menandai kenaikan sebesar 3,62% dalam sepekan terakhir. Penguatan ini sekaligus menyapu bersih tren pelemahan di awal pekan, didorong oleh optimisme pasar bahwa konflik Timur Tengah dapat segera mereda dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran.
Tertahan oleh Sentimen Makroekonomi AS
Kendati mendapat dorongan dari sentimen geopolitik, laju bullish Bitcoin tidak berjalan mulus. Tekanan jual kembali muncul menyusul rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan fundamental pasar tenaga kerja masih sangat tangguh, sehingga memicu koreksi harian Bitcoin sebesar 1,92%.
Berikut adalah rincian data ekonomi AS yang memengaruhi sentimen pasar:
-
Klaim Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims): Turun ke angka 207.000, jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar yang berada di kisaran 213.000.
-
Inflasi Konsumen (CPI): Tercatat di level 3,3% pada bulan Maret. Angka ini sedikit di bawah ekspektasi, namun mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
-
Inflasi Produsen (PPI): Berada di level 4%, lebih rendah dari perkiraan.
Kombinasi data ini dinilai belum cukup kuat untuk mendorong bank sentral AS (The Fed) melakukan pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Bitcoin di Persimpangan Jalan
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini tengah berada di persimpangan antara angin segar geopolitik dan tekanan makroekonomi global.
“Kenaikan Bitcoin ke area US$75.000 jelas didorong oleh meredanya risiko geopolitik. Namun, data ekonomi AS yang tangguh justru menjadi penahan karena mengecilkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat,” jelas Fyqieh, Jumat (17/4/2026).
Menurutnya, dinamika ini membuktikan bahwa karakter pasar kripto kini semakin sensitif terhadap kondisi makro. Pergerakan harga tidak lagi murni didorong oleh sentimen internal industri kripto, melainkan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global, khususnya langkah The Fed.
Fundamental Kuat, Namun Rawan Profit Taking
Dari sisi fundamental, Fyqieh menyoroti bahwa pasar sebenarnya masih memancarkan sinyal positif. Arus dana segar dari institusi melalui produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin mulai kembali mencatatkan inflow. Selain itu, aksi akumulasi oleh investor skala besar (whale) terpantau terus berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
“Akumulasi oleh whale dan kembalinya minat institusional ini menjadi fondasi yang kokoh untuk tren jangka menengah. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih dihantui oleh aksi ambil untung (profit taking),” terangnya.
Setiap kali harga mencoba mendekati level resistensi US$76.000, investor jangka pendek cenderung memanfaatkannya untuk merealisasikan keuntungan. Hal ini tercermin dari meningkatnya volume aliran Bitcoin yang masuk ke bursa (exchange), yang secara historis menjadi sinyal distribusi aset.
Dengan kondisi tarik-menarik sentimen tersebut, Fyqieh memproyeksikan Bitcoin masih akan berada dalam fase konsolidasi. Selama belum ada katalis yang benar-benar kuat—seperti kepastian pemangkasan suku bunga The Fed atau terobosan perdamaian geopolitik yang lebih masif—pergerakan Bitcoin diperkirakan akan tetap terbatas di sekitar area resistensi saat ini.
Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto yang selalu diperbarui dan dapat Anda akses langsung melalui beranda website Blockped.