Ketegangan geopolitik yang berpusat pada konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memasuki fase krusial. Ultimatum terbaru dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan jalur vital Selat Hormuz diproyeksikan menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar, di mana Bitcoin (BTC) berpotensi memanfaatkannya sebagai momentum untuk menembus level US$75.000.
Tarik-Ulur Diplomasi dan Ketidakpastian Pasar
Pada akhir pekan lalu, Presiden Trump mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran. Ia mengancam bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika tidak segera membuka akses Selat Hormuz selambat-lambatnya Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 waktu setempat (ET). Di sisi lain, para petinggi Iran bersikeras menolak pembukaan jalur tersebut sebelum tuntutan kompensasi atas kerugian perang mereka penuhi.
Sinyal diplomasi yang campur aduk antara ancaman militer dan negosiasi ini membuat pasar saham Amerika Serikat bergerak stagnan pada awal pekan. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, Bitcoin justru menunjukkan tajinya dengan melesat menembus level US$69.000 untuk pertama kalinya dalam sepuluh hari terakhir, sebelum akhirnya stabil di kisaran US$68.596 pada Selasa pagi.
Dua Skenario untuk Ekosistem Kripto
Para analis menilai bahwa tenggat waktu dari ultimatum ini akan menjadi pedang bermata dua yang sama-sama bisa menguntungkan Bitcoin:
-
Jika Kesepakatan Gagal: Kebuntuan geopolitik akan meningkatkan ketakutan pasar. Dalam skenario ini, narasi Bitcoin sebagai aset independen dan terdesentralisasi akan semakin kuat, menjadikannya tempat berlindung dari sistem keuangan tradisional yang rentan guncangan.
-
Jika Kesepakatan Berhasil: Tercapainya gencatan senjata akan memulihkan sentimen pasar secara umum. Kembalinya selera risiko (risk appetite) investor diyakini akan turut mengerek naik berbagai aset berisiko, termasuk mata uang kripto.
Pergeseran Aset: Emas Dilepas, Obligasi AS Mengintai
Menariknya, momentum penguatan Bitcoin ini terjadi di saat aset safe haven konvensional seperti emas tengah mengalami tekanan. Bank sentral di negara-negara seperti Turki dan Rusia dilaporkan melakukan aksi jual cadangan emas secara masif demi menstabilkan ekonomi domestik mereka imbas perang. Harga emas pun merosot ke kisaran US$4.650, turun 17% dari rekor tertingginya.
Kendati skenario perdamaian berpotensi mendorong harga Bitcoin naik, para pengamat mengingatkan bahwa penyelesaian konflik juga akan kembali memperkuat daya tarik Obligasi AS (US Treasury). Terlebih, imbal hasil obligasi bertenor 5 tahun baru-baru ini telah melonjak ke level 4% akibat kekhawatiran inflasi energi dan membengkaknya utang militer AS. Kepercayaan yang pulih terhadap instrumen negara dapat sedikit mengerem laju adopsi aset alternatif seperti kripto.
Pada akhirnya, meski penyelesaian diplomasi tercapai, kerusakan pada rantai pasok global dan kepercayaan pasar tidak bisa pulih dalam semalam. Potensi Bitcoin untuk menyentuh US$75.000 dalam waktu dekat sangat terbuka lebar jika kabar positif muncul pekan ini, namun untuk menjaga tren bullish yang berkelanjutan, pasar tampaknya masih akan membutuhkan katalis tambahan.