Pemerintah Perbarui KBLI, Sektor Kripto Kini Miliki Klasifikasi Usaha Resmi

Merespons pesatnya laju ekonomi digital dan lahirnya berbagai model bisnis inovatif, pemerintah Indonesia resmi memperbarui pedoman Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Pembaruan yang diumumkan pada Kamis (23/4/2026) ini kini mengakomodasi sejumlah sektor masa depan, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi perubahan iklim, hingga industri aset kripto. Guna mempermudah transisi, pemerintah memastikan pelaku usaha tidak perlu melewati birokrasi yang rumit. Penyesuaian data usaha dengan pedoman KBLI terbaru ini akan tersinkronisasi secara otomatis melalui sistem perizinan terintegrasi Online Single Submission (OSS). Kode KBLI 66123 untuk Pialang Kripto Salah satu sorotan utama dalam pembaruan KBLI ini adalah penetapan kategori resmi untuk ekosistem aset digital, yakni “Kepialangan Aset Keuangan Digital” dengan kode KBLI 66123. Klasifikasi ini secara spesifik mencakup kegiatan usaha yang memfasilitasi perdagangan aset keuangan digital, termasuk aset kripto. Di dalamnya, pelaku usaha diizinkan untuk melakukan transaksi di bursa atas nama nasabah maupun pihak ketiga lainnya. Kehadiran kode khusus ini dinilai memberikan kepastian hukum dan pijakan operasional yang selama ini dinantikan oleh para pelaku industri kripto di Tanah Air. Sinyal Positif bagi Kepastian Investasi Langkah strategis pemerintah ini disambut hangat oleh para pelaku industri. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai pembaruan ini sebagai bentuk legitimasi dan pengakuan nyata negara terhadap industri kripto domestik. “Pembaruan KBLI ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah semakin serius dalam mengakomodasi perkembangan industri aset kripto. Dengan adanya klasifikasi yang lebih jelas, pelaku usaha memiliki kepastian dalam menjalankan bisnisnya sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih luas bagi inovasi di sektor ini,” ungkap Calvin, Jumat (24/4/2026). Lebih lanjut, Calvin meyakini bahwa kejelasan regulasi ini akan membawa efek domino yang positif. Pengakuan resmi melalui KBLI diproyeksikan mampu mendongkrak tingkat kepercayaan investor, menarik aliran investasi baru, serta mempercepat adopsi teknologi blockchain di berbagai sektor bisnis di Indonesia. Kontribusi Nyata terhadap Kas Negara Pengakuan resmi sektor kripto ini sejalan dengan kontribusinya yang terus meningkat terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data, industri aset kripto telah menyumbang penerimaan pajak yang signifikan bagi negara, mencapai Rp1,96 triliun sepanjang periode tahun 2022 hingga Februari 2026. Angka kontribusi ini menjadi bukti kuat bahwa sektor aset digital memiliki potensi masif sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Masuknya sektor kripto ke dalam KBLI diharapkan menjadi fondasi yang kokoh dalam memperkuat ekosistem industri digital nasional. Langkah ini sekaligus menjadi modal penting bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saingnya di kancah transformasi ekonomi global. Untuk tetap mengikuti perkembangan pasar, Anda dapat membaca Berita Blockchain terbaru yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.
Mengenal Ancaman Komputer Kuantum dan Strategi Solana Melindungi Jaringan

Dunia blockchain dan aset kripto dirancang dengan tingkat keamanan kriptografi yang sangat tinggi. Namun, kemajuan pesat di bidang komputasi kuantum (quantum computing) mulai memunculkan pertanyaan kritis: Apakah komputer super cepat di masa depan mampu membobol keamanan kripto yang ada saat ini? Meski ancaman tersebut diperkirakan baru akan terjadi beberapa tahun ke depan, para pengembang di ekosistem kripto sudah mulai mengambil langkah antisipasi. Salah satu contoh nyata datang dari jaringan Solana, yang baru-baru ini memaparkan rencana strategis mereka untuk menghadapi risiko era pasca-kuantum (post-quantum). Mengenal “Falcon”: Solusi Keamanan Masa Depan Berdasarkan publikasi terbaru dari Solana Foundation, dua tim pengembang utama jaringan tersebut—yakni Anza dan Firedancer (dari Jump Crypto)—telah menemukan titik terang. Keduanya secara independen menyepakati penggunaan solusi yang sama untuk melindungi jaringan, yaitu jenis tanda tangan digital baru yang disebut Falcon. Skema tanda tangan Falcon ini dirancang khusus agar kebal terhadap kemampuan peretasan komputer kuantum. Saat ini, para pengembang bahkan sudah mulai membangun versi awal dari implementasi teknologi tersebut. Tantangan Performa vs Keamanan Dalam dunia blockchain, ada sebuah tantangan teknis yang dikenal luas: keamanan yang lebih tinggi (seperti kriptografi pasca-kuantum) biasanya membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih berat. Hal ini sempat memunculkan keraguan bagi Solana. Sebagai jaringan yang terkenal dengan kecepatan transaksi tinggi dan latensi rendah, adopsi sistem keamanan yang berat dikhawatirkan dapat mengorbankan performa jaringan. Namun, Solana Foundation menepis kekhawatiran tersebut. Mereka meyakinkan bahwa transisi ke sistem keamanan baru ini dapat dikelola dengan baik dan kemungkinan besar tidak akan berdampak signifikan pada kecepatan transaksi pengguna. Peta Jalan (Roadmap) Transisi yang Terukur Solana Foundation menegaskan bahwa ancaman kuantum memang nyata, tetapi masih butuh waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar menjadi bahaya. Oleh karena itu, tidak ada perubahan mendadak yang akan diterapkan dalam waktu dekat. Rencana migrasi ini disusun secara bertahap dan telah melalui riset yang matang. Berikut adalah gambaran peta jalan (roadmap) Solana dalam menghadapi era kuantum: Melanjutkan Riset: Pengembang akan terus meneliti skema Falcon dan berbagai alternatif solusi kriptografi lainnya. Penerapan pada Dompet Baru: Jika ancaman kuantum mulai tereskalasi, skema keamanan pasca-kuantum ini akan diperkenalkan terlebih dahulu untuk pembuatan dompet kripto (wallet) baru. Migrasi Dompet Lama: Pada tahap akhir, pengguna dengan dompet kripto yang sudah ada akan dipandu untuk bermigrasi ke sistem yang kebal kuantum. Di luar protokol utama, ekosistem Solana sebenarnya sudah mulai beradaptasi. Salah satu contohnya adalah “Winternitz Vault” besutan Blueshift. Ini adalah sistem primitif tahan kuantum yang sudah aktif di jaringan Solana selama lebih dari dua tahun, dan bahkan baru-baru ini mendapat pengakuan dari tim riset Google Quantum AI. Kesimpulan untuk Investor dan Pengguna Bagi masyarakat dan pengguna kripto, langkah proaktif dari pengembang jaringan ini memberikan wawasan edukatif yang penting: teknologi blockchain tidaklah statis. Infrastruktur digital ini terus berevolusi dan mempersiapkan pertahanan jauh sebelum ancaman masa depan, seperti komputasi kuantum, benar-benar tiba di depan pintu. Sebagai referensi tambahan, Anda dapat membaca Info Seputar Crypto terbaru yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.
Tren Keuangan Masa Kini: Perusahaan Besar Timbun Aset, Masyarakat Pilih Strategi Cuan Pasif

Dunia investasi digital kini memperlihatkan dua tren menarik yang berjalan beriringan. Di satu sisi, perusahaan-perusahaan berskala besar terus mengakumulasi aset untuk simpanan jangka panjang. Di sisi lain, masyarakat umum mulai mengubah gaya investasinya dengan mencari cara agar portofolio mereka bisa memberikan pemasukan pasif (passive income) yang lebih pasti di tengah naik-turunnya kondisi pasar. Langkah akumulasi raksasa ini terlihat jelas dari manuver perusahaan investasi global, Strategy, yang kembali memborong 34.000 Bitcoin (BTC) pada pekan ini. Aksi borong ini tercatat sebagai salah satu yang terbesar sejak November 2024, menegaskan kuatnya kepercayaan institusi terhadap aset digital sebagai cadangan perbendaharaan (treasury). Dengan penambahan tersebut, total kepemilikan Strategy kini membengkak menjadi sekitar 815.061 BTC. Hal ini mengukuhkan posisi mereka sebagai perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia. Nilai transaksi terbaru ini ditaksir mencapai US$2,54 miliar, dengan harga rata-rata pembelian di kisaran US$74.395 per keping. Menariknya, langkah agresif ini tetap dieksekusi meski kondisi pasar tengah dibayangi volatilitas tinggi. Pergeseran Gaya Hidup Finansial Masyarakat Di saat para institusi raksasa sibuk menimbun kekayaan, masyarakat dan investor ritel justru menunjukkan perubahan pola pikir. Jika dulu banyak orang hanya tergiur oleh potensi lonjakan harga yang instan, kini fokusnya mulai bergeser pada produktivitas aset. Pengamat aset digital sekaligus peneliti Web3 dari Chainbase.id, Isybel Harto, menyebut fenomena ini sebagai babak baru dalam evolusi pasar keuangan digital. “Institusi besar seperti Strategy masih fokus pada akumulasi sebagai penyimpan nilai (store of value). Namun di level masyarakat, mulai terlihat pergeseran ke arah penciptaan pendapatan (income generation). Mereka tidak hanya ingin memegang aset, tetapi juga ingin aset tersebut produktif menghasilkan uang,” jelas Isybel, Selasa (28/4/2026). Menurutnya, gejolak harga yang tajam selama beberapa tahun terakhir telah mendewasakan para pelaku pasar. Masyarakat kini tampil lebih rasional dan selektif dalam mengelola keuangan mereka. Stabilitas dan keberlanjutan mulai dikedepankan alih-alih sekadar mengejar momentum untung-untungan sesaat, meskipun disadari bahwa setiap instrumen tetap membawa risikonya masing-masing. Memburu Kepastian lewat Platform Terstruktur Tingginya minat terhadap stabilitas finansial ini mendorong lahirnya berbagai platform yang menawarkan pendekatan pendapatan terstruktur. Salah satunya adalah Varntix, yang berani mematok target aset kelolaan (AUM) sebesar US$1 miliar pada tahun 2027 mendatang. Berbeda dengan gaya trading spekulatif yang memacu adrenalin, model ini bekerja dengan mengalokasikan dana ke berbagai strategi pengelolaan untuk membuahkan imbal hasil yang lebih terukur dan dapat diprediksi. Secara umum, inovasi layanan yang ditawarkan terbagi menjadi dua: skema imbal hasil tetap dengan periode penguncian dana, serta opsi fleksibel yang memberikan cuan meski dana dapat ditarik kapan saja. Meski menawarkan ketenangan, pendekatan ini tetap menuntut kebijaksanaan pengguna. Masyarakat harus mempertimbangkan faktor penguncian dana serta tingkat ketergantungan pada keandalan strategi platform pengelola. Daya tarik dari model cuan pasif ini terbukti sangat kuat. Dalam salah satu program serupa yang baru diluncurkan, tercatat aliran dana segar mencapai sekitar US$20 juta dalam waktu yang sangat singkat dari kalangan investor high-net-worth. Fenomena ini menjadi rekam jejak nyata bahwa di tengah riuhnya pasar digital, masyarakat modern kini semakin mendambakan ketenangan finansial lewat instrumen yang menawarkan pendapatan rutin yang andal. Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, Anda bisa mengakses Portal Crypto kami yang menyajikan berbagai update terbaru melalui beranda website Blockped.
Mengapa Kripto Lebih Cocok untuk Agen AI?

Infrastruktur sistem keuangan tradisional yang kita gunakan saat ini dibangun berdasarkan batasan fisik manusia. Ada jam operasional bank, batas geografis negara, proses verifikasi identitas fisik, hingga waktu tidur. Namun, ketika entitas non-manusia mulai bertindak sebagai pelaku ekonomi, desain yang berpusat pada manusia ini justru berubah menjadi hambatan. Fakta menarik ini disoroti oleh Nikil Viswanathan, CEO sekaligus salah satu pendiri Alchemy, sebuah perusahaan infrastruktur blockchain yang menyediakan berbagai alat dan layanan bagi para pengembang aplikasi terdesentralisasi. Menurutnya, gelombang perdagangan berikutnya tidak akan digerakkan secara manual oleh manusia, melainkan oleh agen AI yang beroperasi secara native di atas ekosistem kripto. Ketidakcocokan Perbankan Tradisional dengan Mesin Sistem keuangan konvensional penuh dengan friksi atau hambatan. Mengirim uang lintas negara membutuhkan pertukaran mata uang, melibatkan banyak pihak ketiga, memakan waktu, dan membebankan biaya admin. Bagi manusia, birokrasi ini dianggap wajar. Namun, bagi sebuah program kecerdasan buatan, sistem ini sama sekali tidak efisien dan sulit digunakan. Di sisi lain, agen AI beroperasi secara berbeda. Entitas digital ini tidak membutuhkan tidur, tidak terikat pada wilayah geografis tertentu, dan tidak bisa secara fisik datang ke kantor cabang perbankan untuk membuka rekening. Mereka menuntut kemampuan transaksi yang instan, lintas batas, beroperasi 24 jam penuh tanpa henti, dan sering kali dalam pecahan nominal yang sangat kecil (micro-transactions). Kompleksitas Kripto adalah “Bahasa Ibu” bagi AI Selama bertahun-tahun, adopsi aset kripto sering kali terhambat karena dianggap terlalu rumit bagi pengguna awam. Manajemen private keys (kunci privat), seed phrases, hingga keharusan berinteraksi dengan baris kode pintar (smart contracts) menjadi rintangan yang cukup tinggi. Namun, Viswanathan menjelaskan bahwa kerumitan yang menyusahkan manusia ini justru menjadi keunggulan utama bagi mesin. Tidak seperti manusia, program AI beroperasi secara langsung menggunakan kode. “Agen membaca dalam angka nol dan satu. Itu adalah bahasa asli mereka, dan itu juga merupakan bahasa pemrograman kripto,” jelas Viswanathan. Sebagai perbandingan yang mudah dipahami, pergeseran dari sistem komunikasi surat menyurat fisik (kantor pos) menuju komunikasi digital (email) adalah analogi yang tepat untuk menggambarkan transisi dari bank tradisional menuju kripto. Email jauh lebih efisien karena sejak awal dirancang untuk komputer. Hal yang sama berlaku untuk teknologi buku besar terdistribusi atau blockchain. Masa Depan Keuangan yang Dikelola oleh Agen Kemampuan kustomisasi dan pemrograman menjadi alasan utama mengapa kripto sangat ideal untuk otomasi. Seorang pengembang dapat dengan mudah menulis baris kode untuk mengelola dan mengoperasikan sebuah dompet kripto. Hal ini sangat kontras dengan rekening bank tradisional yang hampir mustahil dikelola seutuhnya hanya dengan baris kode tanpa melibatkan verifikasi identitas fisik. Ke depannya, struktur sistem keuangan diproyeksikan akan terbagi menjadi beberapa lapisan pelengkap: Lapisan Dasar: Terdiri dari infrastruktur kripto dan keuangan tradisional sebagai penyedia likuiditas dan pencatat transaksi. Lapisan Agen (Tengah): Di sinilah agen AI beroperasi. Mereka akan mengambil alih segala kerumitan di balik layar, mengoptimalkan aliran modal secara real-time, memvalidasi data, dan mengeksekusi transaksi dengan presisi tinggi. Lapisan Antarmuka Manusia (Atas): Lapisan tempat pengguna manusia berinteraksi. Pengguna hanya akan melihat aplikasi dengan antarmuka yang sangat ramah, sederhana, dan mudah dimengerti, sementara seluruh tugas berat dieksekusi oleh AI di lapisan bawah. Dengan struktur integrasi seperti ini, pengguna dapat memegang kendali penuh atas aset mereka dengan cara yang jauh lebih praktis. Keberadaan kecerdasan buatan yang berjalan di atas rel blockchain akan menciptakan ekosistem finansial global yang sepenuhnya otonom, tanpa batas, dan jauh lebih efisien. Sebagai referensi tambahan, Anda dapat bergabung dengan Komunitas Crypto kami untuk mendapatkan insight dan update terbaru langsung melalui beranda website Blockped.
Bitcoin Gagal Tembus US$ 80.000, Tertahan Sentimen Global

Pasar Kripto Tertekan Ketidakpastian Global, Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000 Laju harga Bitcoin kembali mengalami hambatan setelah sebelumnya nyaris menyentuh level psikologis US$80.000 pada pertengahan pekan lalu. Memasuki akhir pekan, pasar kripto secara keseluruhan mencatatkan pelemahan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global yang memicu sikap hati-hati di kalangan investor. Berdasarkan data pasar pada Minggu (26/4/2026) pagi, harga Bitcoin terpantau turun ke level US$77.542. Pelemahan ini turut menyeret turun **kapitalisasi pasar kripto** global sebesar 1,07% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,59 triliun. Koreksi harga ini merupakan imbas dari kombinasi tekanan geopolitik, penguatan makroekonomi tradisional, dan gelombang likuidasi di pasar berjangka. Dihantam Sentimen Makro dan Geopolitik Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memaparkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dan menguatnya nilai tukar dolar AS telah secara efektif menekan selera risiko investor terhadap aset berisiko. Situasi semakin diperkeruh oleh munculnya gesekan baru antara Amerika Serikat dan China terkait perebutan dominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). “Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Setelah sempat menembus level US$79.000, harga dengan cepat berbalik arah dan melemah ke kisaran di bawah US$78.000,” jelas Fyqieh, Jumat (24/4/2026). Pembalikan arah yang tiba-tiba ini memicu efek domino berupa likuidasi paksa berskala besar di pasar derivatif, dengan total posisi yang hangus ditaksir mencapai US$278 juta. Tekanan jual masif dari proses likuidasi inilah yang mempercepat laju kejatuhan harga dalam jangka pendek. Altcoin Tumbang, Dominasi Bitcoin Menguat Tren negatif ini tidak hanya dialami oleh Bitcoin. Sejumlah altcoin utama turut terseret ke zona merah. Ethereum (ETH) terkoreksi dari rekor tertingginya pekan ini, sementara XRP tertahan kokoh di bawah level resistensi. Aset kripto populer lainnya seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin juga mencatatkan rapor merah. Menariknya, di tengah pelemahan pasar secara luas, dominasi Bitcoin (BTC dominance) justru merangkak naik hingga menyentuh kisaran 60%. Hal ini mengindikasikan adanya manuver investor yang memindahkan dana mereka dari altcoin ke Bitcoin, yang dinilai sebagai aset pertahanan (defensive asset) yang lebih aman saat pasar sedang goyah. Tekanan tambahan juga datang dari ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Peluang pengesahan CLARITY Act pada tahun 2026 dilaporkan semakin menipis akibat perbedaan pandangan di kongres, yang pada gilirannya mengikis kepercayaan institusi terhadap kerangka hukum aset digital. Fokus Selanjutnya: FOMC dan Aksi Jual Miner Meski tengah berada dalam tekanan, fondasi pasar dinilai masih cukup kuat. Fyqieh menyebut pelemahan ini sebagai fase konsolidasi yang wajar setelah reli panjang, didorong oleh aksi ambil untung (profit-taking) dari trader jangka pendek. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level dukungan kuat US$75.000, peluang pemulihan masih terbuka lebar,” tambahnya. Namun, tren kenaikan yang lebih berkelanjutan dinilai membutuhkan dorongan likuiditas baru dan partisipasi ritel yang lebih masif untuk menjaga pergerakan di area kunci US$78.000 hingga US$83.000. Ke depan, para pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada rapat komite kebijakan moneter AS atau FOMC yang dijadwalkan pada 28-29 April. Keputusan The Fed terkait arah suku bunga akan menjadi penentu utama pergerakan pasar. Selain itu, tingginya aktivitas penjualan Bitcoin oleh para penambang (miner) baru-baru ini juga menjadi faktor risiko tambahan yang berpotensi membatasi ruang kenaikan harga jika tidak segera diserap oleh permintaan baru. Untuk memperluas wawasan Anda, jangan lewatkan Info Kripto terbaru yang kami sajikan secara lengkap dan selalu terupdate melalui beranda website Blockped.
Whale Bitcoin Borong Aset Saat Harga Mendekati $80.000

Pergerakan harga Bitcoin yang semakin mendekati $80.000 diiringi oleh aksi akumulasi besar dari para investor kelas kakap (whale). Platform analisis sentimen kripto Santiment melaporkan bahwa para pemegang utama Bitcoin tengah meningkatkan kepemilikan mereka secara signifikan dalam dua minggu terakhir. Santiment mencatat bahwa wallet dengan kepemilikan antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah sekitar 40.967 BTC sejak 10 April, dengan nilai mencapai lebih dari $3 miliar. Sementara itu, harga Bitcoin sempat menyentuh $79.327 sebelum terkoreksi ke kisaran $77.000-an. Sinyal Kuat Menuju Bull Run Jangka Panjang? Menariknya, di saat investor besar terus mengakumulasi, investor ritel justru menunjukkan kecenderungan berbeda. Wallet kecil (di bawah 0,1 BTC) hanya menambah sekitar 46 BTC dalam periode yang sama. Menurut Santiment, kombinasi di mana whale terus membeli sementara investor ritel mulai mengambil keuntungan merupakan salah satu sinyal paling kuat untuk potensi bull run jangka panjang. Pola ini sebelumnya sering muncul sebelum kenaikan harga yang lebih besar. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Andre Dragosch dari Bitwise, yang menilai bahwa permintaan dari investor institusional kini semakin meningkat. Sentimen Pasar Mulai Berubah Dalam beberapa hari terakhir, sentimen terhadap Bitcoin berubah drastis. Dari kondisi pesimis di awal pekan, pasar kini bergerak menuju fase FOMO (fear of missing out). Namun, secara keseluruhan, kondisi pasar kripto masih belum sepenuhnya optimistis. Indeks Crypto Fear & Greed masih berada di zona “Fear” dengan skor 39, yang menunjukkan bahwa sebagian investor masih berhati-hati. Level $80.000 Jadi Penentu Santiment menilai bahwa jika Bitcoin berhasil menembus $80.000 — level yang belum terlihat sejak akhir Januari — hal tersebut bisa menjadi pemicu meningkatnya minat trader secara signifikan. Meski begitu, kenaikan yang terlalu cepat dalam kondisi euforia tinggi juga berisiko memicu koreksi jangka pendek. Oleh karena itu, kenaikan yang lebih stabil dan bertahap dinilai lebih sehat untuk membentuk tren naik yang berkelanjutan. Potensi Lanjut ke $86.000 Beberapa analis melihat ruang kenaikan yang masih terbuka. Pendiri MN Trading Capital, Michael van de Poppe, menyebut bahwa Bitcoin masih berpotensi naik hingga $86.000. Namun, ia mengingatkan bahwa level $75.000 harus tetap dipertahankan sebagai support agar momentum kenaikan tidak hilang. Untuk mendapatkan insight pasar dan pergerakan aset digital terbaru, kamu juga bisa mengikuti berbagai Info Seputar Crypto yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.
Komputer Kuantum Berhasil Retas Kunci Kriptografi 15-bit

Sebuah terobosan di bidang komputasi kuantum kembali memicu perdebatan di komunitas kripto. Perusahaan riset keamanan kuantum Project Eleven memberikan penghargaan kepada peneliti Giancarlo Lelli setelah berhasil memecahkan kunci kriptografi elliptic curve berukuran 15-bit. Eksperimen ini menggunakan komputer kuantum dengan pendekatan berbasis variasi dari Shor’s algorithm, yang memungkinkan Lelli menurunkan private key dari public key. Metode ini merupakan versi sederhana dari sistem yang juga digunakan dalam Bitcoin, meskipun Bitcoin sendiri menggunakan kunci yang jauh lebih kompleks, yaitu 256-bit. Masih Jauh dari Ancaman Nyata, Tapi Jarak Mulai Menyempit Meskipun keberhasilan ini hanya terjadi pada skala kecil, para peneliti menilai bahwa jarak antara kemampuan komputer kuantum saat ini dan kebutuhan untuk meretas sistem kriptografi modern mulai berkurang. CEO Project Eleven, Alex Pruden, menyatakan bahwa kebutuhan sumber daya untuk melakukan serangan semacam ini terus menurun, sehingga hambatan teknis untuk menerapkannya di dunia nyata juga semakin kecil. Eksperimen ini disebut sebagai demonstrasi publik terbesar sejauh ini dalam upaya memecahkan kunci berbasis ECDSA, yang saat ini melindungi aset kripto bernilai hingga triliunan dolar. Perdebatan: Ancaman Dekat atau Masih Lama? Komunitas kripto masih berbeda pendapat terkait seberapa cepat ancaman ini akan menjadi nyata. Diperkirakan sekitar $450 miliar Bitcoin yang tersimpan di alamat lama berpotensi lebih rentan, karena public key-nya sudah terekspos. Beberapa analis memperkirakan bahwa industri memiliki waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk bersiap menghadapi potensi ancaman ini. Namun, pandangan lain lebih konservatif. CEO Blockstream, Adam Back, menyebut bahwa teknologi komputasi kuantum saat ini masih dalam tahap eksperimen dan belum siap menjadi ancaman nyata dalam waktu dekat. Meski begitu, ia tetap menyarankan agar industri mulai mempersiapkan solusi kriptografi tahan kuantum sejak sekarang. Efisiensi Komputer Kuantum Mulai Meningkat Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa komputer kuantum mungkin membutuhkan lebih sedikit unit komputasi (qubit) daripada yang sebelumnya diperkirakan untuk menembus sistem kriptografi modern. Hal ini menambah urgensi bagi industri untuk mulai beradaptasi lebih cepat. Untuk memahami lebih jauh perkembangan teknologi dan dampaknya pada industri aset digital, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Crypto terbaru yang kami sajikan secara akurat dan terpercaya.
Sinyal Perubahan Tren Bitcoin Muncul, Tapi Butuh Konfirmasi di Atas $80.000

Bitcoin kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah sempat berjuang di level $78.000. Para pelaku pasar kini melihat peluang perubahan tren, meskipun konfirmasi kuat masih dibutuhkan, khususnya jika harga mampu bertahan di atas $80.000. Beberapa faktor mulai mendukung sentimen positif ini, mulai dari struktur pasar yang membaik, masuknya dana institusional ke ETF Bitcoin spot, hingga optimisme bahwa regulasi seperti CLARITY Act akan disahkan sebelum pemilu paruh waktu di AS. Aliran Dana Institusional Perkuat Support Dari sisi institusi, aliran dana baru membantu membangun area support yang lebih kuat di kisaran $68.000 hingga $70.000. Sepanjang April, ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk dana sebesar $2,03 miliar. Selain itu, Strategy membeli 34.000 BTC senilai $2,54 miliar, sementara Morgan Stanley melalui ETF MSBT yang baru diluncurkan berhasil menarik lebih dari $153 juta dalam dua minggu pertama. Analis ETF dari Bloomberg, Eric Balchunas, menyebut bahwa arus dana ke ETF Bitcoin kini kembali berada dalam kondisi sangat positif. Ia mencatat bahwa hampir semua periode pengamatan menunjukkan tren inflow yang konsisten, sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, CIO Bitwise, Matt Hougan, memberikan perspektif berbeda. Ia menilai bahwa minat institusi sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, hanya melambat, sementara arus keluar sebelumnya lebih dipicu oleh trader jangka pendek. Level $80.000 Jadi Penentu Arah Selanjutnya Meski Bitcoin sempat naik hingga sekitar $79.000, para analis sepakat bahwa harga perlu menutup candle harian secara konsisten di atas $80.000 hingga $83.000 untuk memastikan perubahan tren yang valid. Analis teknikal Aksel Kibar mencatat bahwa pola channel pada grafik semakin jelas, dengan beberapa kali penolakan di batas atas. Sementara itu, Fidelity melalui direktur global makro Jurrien Timmer melihat pergerakan saat ini masih bisa dikategorikan sebagai pola bear flag. Namun, ia juga menilai bahwa Bitcoin sedang membangun fondasi kuat untuk potensi kenaikan besar berikutnya. Data Orderbook Tunjukkan Optimisme Terlepas dari sinyal teknikal yang masih beragam, data orderbook menunjukkan adanya peningkatan minat beli. Platform analisis TRDR mencatat bahwa pembeli mulai menaikkan posisi bid mereka di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa “lantai harga” Bitcoin perlahan naik, dengan fokus utama pasar saat ini tertuju pada level psikologis $80.000 sebagai penentu arah selanjutnya. Untuk mendapatkan update terkini dan analisis mendalam seputar pergerakan pasar kripto, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Bockchain yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.
Industri Kripto Desak AS Segera Sahkan RUU Struktur Pasar Digital

Lebih dari 120 organisasi yang terkait dengan industri kripto dan blockchain mendesak para legislator di Amerika Serikat untuk segera melanjutkan pembahasan undang-undang terkait struktur pasar aset digital. Dalam surat yang ditujukan kepada Komite Perbankan Senat AS, organisasi seperti Crypto Council for Innovation dan Blockchain Association meminta agar pembahasan CLARITY Act segera dilanjutkan ke tahap berikutnya. Mereka menilai regulasi ini penting untuk menciptakan kerangka hukum yang jelas dan menyeluruh bagi industri kripto di tingkat federal. RUU tersebut sebelumnya telah lolos dari Dewan Perwakilan Rakyat pada Juli 2025, namun hingga kini masih tertunda di Senat. Penundaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk shutdown pemerintah serta perdebatan terkait isu seperti imbal hasil (yield) stablecoin. Risiko Kehilangan Daya Saing Global Dalam surat tersebut, para pelaku industri menekankan bahwa keterlambatan regulasi dapat membuat Amerika Serikat tertinggal dari negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan kerangka hukum kripto yang komprehensif. Mereka memperingatkan bahwa tanpa kepastian regulasi, potensi investasi, lapangan kerja, dan inovasi teknologi bisa berpindah ke luar negeri. Oleh karena itu, keberadaan regulasi yang jelas dinilai krusial untuk menjaga daya saing AS di sektor aset digital. Proses Legislasi Masih Tertunda Komite Perbankan Senat yang dipimpin oleh Tim Scott sebelumnya menunda pembahasan lanjutan RUU ini pada Januari. Penundaan tersebut terjadi tak lama setelah CEO Coinbase, Brian Armstrong, menyatakan bahwa pihaknya belum bisa mendukung versi RUU yang ada saat ini. Sejak saat itu, perwakilan dari industri kripto dan perbankan terus berdiskusi dengan pembuat kebijakan untuk mencari solusi, khususnya terkait pengaturan yield stablecoin. Hingga saat ini, belum ada jadwal baru yang diumumkan untuk pembahasan lanjutan. Bahkan, Senator Thom Tillis mengusulkan agar proses tersebut ditunda hingga Mei guna memberi waktu tambahan untuk mencapai kesepakatan. Dukungan Luas dari Industri Surat ini ditandatangani oleh berbagai pelaku industri, termasuk platform seperti Kraken serta organisasi seperti Texas Blockchain Council dan Solana Policy Institute. Sebelumnya, organisasi advokasi The Digital Chamber juga telah mendesak agar pembahasan RUU segera dijadwalkan kembali, mengingat waktu legislasi yang semakin terbatas. Isu Stablecoin Masih Jadi Perdebatan Di sisi lain, American Bankers Association meminta tambahan waktu 60 hari kepada regulator untuk memberikan masukan terkait aturan stablecoin dalam kerangka regulasi GENIUS. Jika disetujui, permintaan ini berpotensi memperlambat implementasi regulasi secara keseluruhan. Untuk mengikuti perkembangan kebijakan dan tren terbaru di industri aset digital, kamu juga bisa mengakses berbagai Portal Crypto yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.
Volume Taker Ether Naik 72%, Trader Bidik Area $2.600

Ethereum menunjukkan sinyal bullish setelah aktivitas pembelian di pasar derivatif meningkat signifikan. Dalam sepekan terakhir, volume taker buy melonjak tajam, menandakan dominasi pembeli yang semakin kuat dan membuka peluang kelanjutan tren naik. Di Binance, volume taker bersih dalam 24 jam mencapai sekitar $5,5 miliar, naik 72% dibanding awal bulan yang berada di kisaran $3,2 miliar. Indikator ini mengukur selisih antara order beli dan jual di market, sehingga mencerminkan siapa yang lebih dominan dalam pergerakan harga. Rata-rata 30 hari untuk metrik ini juga tetap berada di zona positif sejak 1 Maret, kembali ke level yang terakhir terlihat pada Juli 2022. Hal ini menunjukkan tekanan beli yang konsisten dari pelaku pasar. Analis kripto Amr Taha menjelaskan bahwa lonjakan pembelian di dekat level harga tinggi biasanya mencerminkan keyakinan kuat dari trader. Selama permintaan ini bertahan, arah harga jangka pendek cenderung tetap dikuasai oleh pembeli. Resistance $2.400 Jadi Kunci Menuju Zona Likuiditas Saat ini, harga ETH bergerak di bawah level resistance $2.400, yang sudah tiga kali diuji sejak awal Februari. Setiap penolakan di level ini secara bertahap mengurangi tekanan jual di atasnya. Jika harga berhasil menembus level tersebut secara meyakinkan, maka potensi kenaikan terbuka menuju area $2.475 hingga $2.634. Zona ini dikenal sebagai fair value gap, yaitu area yang terbentuk saat harga bergerak cepat tanpa banyak transaksi, sehingga menyisakan likuiditas yang belum terisi. Dalam kondisi seperti ini, harga sering kali kembali ke area tersebut untuk menyeimbangkan pergerakan pasar. Dukungan Indikator Teknikal dan Derivatif ETH juga sedang berusaha menembus garis 100-day exponential moving average (EMA), yang sering menjadi indikator lanjutan tren. Jika harga mampu bertahan di atas level ini, peluang reli lanjutan akan semakin kuat. Sementara itu, EMA 200 hari bergerak mendekati area atas zona likuiditas di sekitar $2.634, menciptakan pertemuan sinyal teknikal yang penting. Dari sisi derivatif, data cumulative volume delta (CVD) terus meningkat hingga mendekati $12,6 miliar, sementara funding rate masih relatif netral. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak didorong oleh leverage berlebihan, melainkan oleh permintaan riil dari pasar. Keseimbangan ini menjaga potensi kenaikan tetap sehat, dengan area $2.475 hingga $2.634 menjadi fokus utama dalam jangka pendek. Untuk terus mengikuti perkembangan harga dan analisis pasar kripto terbaru, kamu juga bisa membaca berbagai Info Kripto yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.