Blockped

Harga Bitcoin Kembali Turun di Bawah $70.000: Tiga Faktor Utama di Baliknya

Harga Bitcoin kembali turun ke bawah level $70.000 setelah mengalami penurunan sekitar 5% dalam dua hari terakhir. Penurunan ini membuat BTC kembali berada dalam kisaran pergerakan harga bulanan yang sebelumnya sempat ditembus. Data pasar menunjukkan bahwa area sekitar $70.000 kini menjadi titik resistensi penting. Arus data onchain, aktivitas pasar futures, serta melemahnya volume perdagangan di pasar spot mengindikasikan adanya tekanan jual baru yang menghambat upaya Bitcoin untuk mempertahankan level harga tertinggi minggu ini. Aksi ambil untung dari pemegang jangka pendek Salah satu faktor utama penurunan harga berasal dari aksi ambil untung oleh pemegang Bitcoin jangka pendek. Saat harga sempat naik di atas $74.000, banyak investor dari kelompok ini mulai menjual aset mereka untuk mengunci keuntungan. Analis kripto Darkfost melaporkan bahwa lebih dari 27.000 BTC yang sedang berada dalam posisi profit dipindahkan ke bursa dalam 24 jam terakhir oleh pemegang jangka pendek. Lonjakan ini termasuk salah satu transfer keuntungan terbesar dari kelompok tersebut sejak November 2025. Menurut Darkfost, sebagian besar keuntungan yang direalisasikan berasal dari BTC yang dibeli sekitar satu minggu hingga satu bulan sebelumnya, dengan harga rata-rata sekitar $68.000. Tekanan jual juga terlihat di pasar futures Aktivitas serupa juga terlihat pada data pasar futures. Analis pasar IT Tech mencatat bahwa indikator cumulative volume delta (CVD) di pasar spot maupun futures perpetual menunjukkan angka negatif. CVD mengukur selisih antara volume pembelian dan penjualan. Ketika indikator ini bernilai negatif, artinya tekanan jual lebih dominan dibandingkan pembelian. Dalam data terbaru, CVD pasar spot tercatat sekitar –$202,49 juta, sementara CVD pada futures perpetual turun hingga –$185,60 juta. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan turunnya harga Bitcoin di bawah $70.000 karena likuiditas pembeli di pasar mulai berkurang. Permintaan dari investor AS mulai melemah Indikasi melemahnya permintaan juga terlihat dari Coinbase Premium Index, yaitu indikator yang mengukur selisih harga Bitcoin di platform Coinbase dibandingkan dengan bursa kripto luar negeri. Biasanya, angka premium positif menandakan permintaan kuat dari investor berbasis di Amerika Serikat. Namun, setiap kali harga Bitcoin mendekati $74.000, indikator ini justru mulai melemah. Ketika BTC sempat naik ke kisaran $73.000–$74.000 pada hari Rabu, premium sempat melonjak di atas 0,08 yang menunjukkan aktivitas beli cukup kuat. Namun tidak lama kemudian harga kembali turun dari level tersebut dan indikator premium berubah menjadi negatif. Pendiri MN Capital, Michaël van de Poppe, menyebut bahwa sesi perdagangan AS pada hari Jumat belakangan ini sering memicu aksi jual di berbagai aset berisiko, termasuk indeks saham teknologi seperti Nasdaq Composite. Ia menilai bahwa selama Bitcoin mampu bertahan di kisaran $67.000 hingga $68.000, tren jangka pendek masih bisa stabil sebelum potensi kenaikan berikutnya. Sementara itu, trader kripto Titan of Crypto menyoroti adanya area fair value gap (FVG) di dekat harga saat ini yang dapat menjadi zona konsolidasi. FVG terbentuk ketika harga bergerak cepat dan meninggalkan area likuiditas rendah dengan sedikit transaksi. Dalam analisis teknikal, harga sering kali kembali mengunjungi area tersebut untuk menyeimbangkan likuiditas pasar. Batas bawah zona FVG ini berada di sekitar $66.500, yang kini dipantau sebagai kemungkinan area likuiditas berikutnya jika harga turun lebih dalam.

Data Menunjukkan: Beli Bitcoin Butuh Waktu Minimal 3 Tahun untuk Untung

Volatilitas harga Bitcoin (BTC) sering kali membuat ngeri para pembeli baru, terutama saat harga sedang turun tajam. Namun, data historis membuktikan bahwa waktu adalah kunci: investor yang menahan (hold) aset mereka setidaknya selama tiga tahun memiliki peluang jauh lebih besar untuk mengunci keuntungan yang signifikan. Siklus Waktu: Mengapa 3 Tahun Sangat Penting? Performa Bitcoin sangat bergantung pada kapan Anda membeli dan berapa lama Anda menyimpannya. Data siklus pasar menunjukkan pola yang konsisten: Membeli di Puncak Harga: Investor yang membeli BTC di harga tertinggi pada tahun 2017 dan 2021 harus menelan kerugian sekitar 40%–50% pada dua tahun pertama. Namun, ketika mereka menahannya hingga tahun ketiga, posisi tersebut berbalik menjadi profit (naik 108,7% untuk pembeli 2017, dan 14,5% untuk pembeli 2021). Membeli di Harga Dasar (Bear Market): Jika investor membeli di titik terendah (seperti pada tahun 2019 atau 2022), keuntungannya jauh lebih masif. Pembeli di tahun 2019 menikmati keuntungan lebih dari 1.000% setelah tiga tahun. Metrik Onchain: Mencari Titik Beli Terbaik Untuk mengetahui kapan Bitcoin mencapai titik harga bawah, analis menggunakan metrik realized price (harga realisasi), yaitu harga rata-rata saat koin terakhir kali dipindahkan. Saat ini, realized price Bitcoin berada di sekitar $55.000, dengan batas penyesuaian bawah di kisaran $42.000. Secara historis sejak 2015, harga yang menyentuh zona ini sering kali menjadi titik terendah siklus sebelum akhirnya memulai reli kenaikan harga selama bertahun-tahun. Riset Institusional: Risiko Trading vs. Holding Matt Hougan, Chief Information Officer di Bitwise, mengutip data yang mendukung strategi holding ini. Menambahkan 5% Bitcoin ke portofolio investasi tradisional terbukti selalu meningkatkan imbal hasil dalam periode tiga tahunan. Berdasarkan tinjauan data Bitwise dari Juli 2010 hingga Februari 2026, tingkat risiko memegang Bitcoin dapat dijabarkan sebagai berikut: Trading Harian (Day Trading): Sangat berisiko, dengan probabilitas kerugian mencapai 47,1%. Hold 1 Tahun: Masih cukup fluktuatif, dengan peluang merugi sekitar 24,3%. Hold 3 Tahun: Risiko kerugian anjlok drastis menjadi hanya 0,7%. Hold 5 hingga 10 Tahun: Peluang merugi menyusut ke angka 0,2% dan akhirnya mencapai 0% jika ditahan selama satu dekade. Singkatnya, semakin pendek rentang waktu investasi Anda di Bitcoin, semakin besar ketidakpastiannya.

Mantan CFO Dihukum 2 Tahun Penjara Akibat Gelapkan $35 Juta untuk Investasi Kripto

Nevin Shetty, mantan Chief Financial Officer (CFO) sebuah startup di Seattle, resmi dijatuhi hukuman dua tahun penjara atas tuduhan penipuan elektronik (wire fraud). Ia terbukti bersalah karena diam-diam memindahkan dana perusahaan sebesar $35 juta (sekitar Rp 540 miliar) ke platform kripto pribadinya. Rincian Kronologi Kasus: Pemindahan Dana Ilegal: Pada tahun 2022, Shetty memindahkan dana $35 juta milik perusahaan ke HighTower Treasury, sebuah platform kripto yang ia kendalikan sebagai bisnis sampingan. Tindakan ini dilakukan tanpa sepengetahuan jajaran eksekutif maupun dewan direksi startup tersebut. Investasi Berisiko Tinggi: Departemen Kehakiman AS (DOJ) menyebutkan bahwa dana tersebut digunakan untuk investasi pada protokol pinjaman Decentralized Finance (DeFi) yang menjanjikan imbal hasil tinggi, yakni di atas 20%. Kehancuran Pasar: Meski Shetty sempat meraup keuntungan $133.000 di bulan pertama, keruntuhan ekosistem Terra tak lama setelahnya memicu kehancuran pasar kripto. Pada 13 Mei 2022, nilai investasi $35 juta tersebut anjlok hingga nyaris nol. Pemecatan dan Hukuman: Setelah menyadari uang tersebut hangus, Shetty mengaku kepada dua rekan eksekutifnya dan langsung dipecat. Ia didakwa pada Mei 2023, dinyatakan bersalah atas empat tuntutan pada November 2025, dan diwajibkan untuk mengembalikan seluruh dana yang dicuri serta menjalani tiga tahun masa pengawasan pasca-penjara. Konteks Tambahan: Artikel ini juga mencatat bahwa kasus Shetty terjadi beberapa bulan sebelum skandal besar runtuhnya bursa kripto FTX. Mantan CEO FTX, Sam “SBF” Bankman-Fried, yang juga terlibat kasus serupa, telah dijatuhi hukuman 25 tahun penjara pada tahun 2024 dan saat ini masih menunggu hasil pengajuan bandingnya.

Hong Kong Menjadi Forum Terpercaya Untuk Kolaborasi Web3

Menyusul kesuksesan luar biasa pada edisi perdananya tahun lalu di mana seluruh tiket ludes terjual Consensus Hong Kong 2026 kini bersiap untuk kembali menggebrak industri teknologi. Dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 12 Februari 2026 di lokasi prestisius Hong Kong Convention and Exhibition Centre, perhelatan ini memantapkan posisinya sebagai salah satu konferensi Web3 dan aset digital paling masif di kawasan Asia Pasifik. Antusiasme tahun ini diproyeksikan akan melonjak tajam, dengan perkiraan kehadiran lebih dari 15.000 delegasi yang mewakili lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Konvergensi Lintas Sektor dan Pemangku Kepentingan Lebih dari sekadar pameran teknologi, konferensi ini dirancang sebagai titik temu esensial bagi para penggerak utama industri. Consensus Hong Kong akan menyatukan para pendiri perusahaan rintisan, jajaran eksekutif senior (C-level), investor institusional kelas kakap, hingga pengembang teknologi dan pembuat kebijakan (regulator). Mereka yang hadir berasal dari spektrum ekosistem yang luas, mencakup sektor keuangan tradisional, industri blockchain, pionir Web3, hingga inovator di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi masa depan lainnya. Selama tiga hari penuh, para peserta akan diajak untuk menyelami dan mendebatkan berbagai topik krusial yang sedang mendisrupsi dunia saat ini. Diskusi akan berpusat pada evolusi berkelanjutan dari teknologi blockchain, dinamika terbaru dalam keuangan digital dan Decentralized Finance (DeFi), tren tokenisasi aset, hingga strategi pengembangan infrastruktur teknologi yang tangguh. Lebih jauh, forum ini juga akan menyoroti bagaimana integrasi AI mulai mentransformasi lanskap ekonomi digital secara global. Menjembatani Inovasi Timur dan Barat Consensus Hong Kong 2026 secara strategis diposisikan sebagai gerbang utama bagi industri kripto dan Web3 internasional yang ingin berekspansi atau memperdalam pijakan mereka di pasar Asia. Forum ini memiliki peran vital dalam menjembatani dan memperkuat dialog strategis antara pemangku kepentingan dari belahan bumi Timur dan Barat. Penyelenggaraan acara berskala masif ini sekaligus menjadi penegasan atas status Hong Kong yang tak terbantahkan sebagai pusat inovasi global, wadah kolaborasi lintas industri yang ideal, serta episentrum bagi aktivitas deal-making (pembentukan kesepakatan bisnis) dalam roda ekonomi digital dunia. (Menariknya, gairah industri ini juga sejalan dengan antusiasme di kawasan lain, seperti kembalinya Festival Kripto Terbesar Dunia Coinfest Asia 2026 yang akan segera hadir di Bali). Agenda Terkurasi dan Barisan Pembicara Bintang Di bawah kurasi ketat dari CoinDesk, agenda utama Consensus Hong Kong 2026 akan dipecah ke dalam enam panggung megah yang siap menampilkan lebih dari 100 pembicara visioner dari berbagai lintas sektor. Rangkaian acaranya sangat padat, mencakup sesi keynote yang inspiratif, panel diskusi mendalam, hingga forum-forum terkurasi. Topik bahasan akan menukik tajam ke isu-isu spesifik seperti percepatan adopsi institusional, navigasi tren regulasi kripto global, revolusi tokenisasi aset dunia nyata (RWA), lanskap stablecoin, penguatan infrastruktur dasar blockchain, hingga sinergi dengan teknologi mutakhir semacam AI dan robotika. Panggung konferensi ini akan bertabur tokoh-tokoh paling berpengaruh di industri, di antaranya: Lily Liu (Presiden Solana Foundation), Richard Teng (CEO Binance), Justin Sun (Pendiri Tron DAO), Ella Zhang (Head of YZI Labs), Joseph Chalom (CEO Sharplink), Ian De Bode (Chief Strategy Officer Ondo), Graham Ferguson (Head of Ecosystem Securitize), Naveen Mallela (Global Co-Head Kinexys, J.P. Morgan), Evan Cheng (CEO & Co-Founder Mysten Labs), Stephen Mackintosh (Chief Investment Officer Sui Group Holdings), Hsiao-Wei Wang (Co-Executive Director Ethereum Foundation), Sandy Peng (Co-Founder Scroll), Emin Gün Sirer (Founder & CEO Ava Labs), Bart Smith (CEO Avalanche Treasury Company), Haseeb Qureshi (Managing Partner Dragonfly) Demografi Peserta Eksekutif dan Kompetisi Inovasi Kekuatan utama dari Consensus Hong Kong terletak pada kualitas pesertanya. Berdasarkan data, sekitar 72 persen dari total peserta menduduki posisi dari level direktur hingga eksekutif puncak. Demografi kelas atas ini secara otomatis mengubah konferensi ini menjadi forum strategis yang sangat efektif untuk pertukaran gagasan tingkat tinggi, inkubasi kemitraan strategis, serta akselerasi kerja sama bisnis bernilai tinggi lintas kawasan. Tidak hanya berisi diskusi, acara ini juga memfasilitasi inovasi konkret melalui berbagai program pendukung yang kompetitif: CoinDesk PitchFest: Sebuah arena kompetisi sengit bagi startup tahap awal di ranah Web3, blockchain, dan AI. Di sini, para inovator akan melakukan pitching secara langsung di hadapan investor untuk memperebutkan kucuran dana segar sekaligus eksposur di panggung global. EasyA Consensus Hackathon: Ajang ini mempertemukan para developer cemerlang dengan protokol dan builder terkemuka. Mereka ditantang untuk berkolaborasi, membangun solusi nyata, dan bersaing memperebutkan peluang pendanaan dari berbagai perusahaan modal ventura kelas dunia. Solana Accelerate APAC: Sebagai bentuk kolaborasi khusus dengan Solana Foundation, program ini akan berjalan beriringan dengan agenda utama. Membawa fokus pada pengembangan infrastruktur blockchain dan masa depan pasar modal digital, program ini diperkirakan akan menyedot perhatian sekitar 2.000 builder, eksekutif, dan pembuat kebijakan dari lebih dari 100 perusahaan fintech serta puluhan startup kripto terkemuka. Transformasi Skala Kota Melalui Side Event Kemeriahan Consensus Hong Kong 2026 tidak berhenti di dalam dinding pusat konvensi saja. Konferensi ini akan memicu lebih dari 350 side event berskala besar yang tersebar di berbagai sudut kota Hong Kong. Rangkaian acara pendukung ini sangat variatif, membentang dari pesta pembuka dan penutup yang glamor, sesi hackathon independen, eksplorasi pengalaman budaya lokal, hingga zona-zona networking terkurasi. Semuanya dirancang secara khusus untuk memfasilitasi perluasan koneksi informal antar pelaku industri dalam suasana yang lebih santai namun tetap produktif. Secara keseluruhan, melalui perpaduan harmonis antara forum strategis kelas berat, kompetisi inovasi yang memacu adrenalin, dan serangkaian aktivitas networking yang menghidupkan seluruh kota, Consensus Hong Kong 2026 hadir sebagai perhelatan paling komprehensif bagi siapa saja yang ingin terhubung dan berkontribusi langsung dalam membentuk masa depan teknologi terdesentralisasi dan tatanan keuangan digital global. Bagi calon peserta yang berminat, informasi pendaftaran, tiket, dan detail operasional acara secara lengkap dapat diakses dengan mengunjungi situs web resmi Consensus Hong Kong 2026.

Seal M on CROSS Hadirkan Server Global & Sistem Token Kripto SHILTZx

Seal M on CROSS Hadirkan Server Global & Sistem Token Kripto SHILTZx

Pernah merasa frustrasi saat main MMORPG? Server yang terpisah sering membatasi interaksi antarpemain. Anda tidak bisa bermain dengan teman di negara lain. Kompetisi juga terasa kurang menantang. Sistem ekonomi dalam permainan pun cepat stagnan. Kini, masalah struktural tersebut resmi teratasi.Seal M on CROSS siap meluncur secara global. Gim ini akan rilis pada 11 Februari 2026. Playwith Korea resmi membuka tahap pra-registrasi. Mereka berkolaborasi dengan Nexus untuk inovasi ini. Tujuannya menciptakan lingkungan bermain lintas negara. Inovasi ini mengubah tren permainan masa kini. Gim ini menjadi lebih modern, adil, dan transparan. Anda bisa memainkannya lewat Android, iOS, atau PC Windows. Mengenal Era Baru game penghasil cuan Lewat Dunia Shiltz Pecinta RPG pasti ingat kejayaan waralaba Seal. Maskot kelinci nakal dan grafis kartunnya sangat khas. Kini, pesona dunia klasik itu dihidupkan kembali. Kualitas visualnya mendapat peningkatan yang memanjakan mata. Performa server juga diklaim jauh lebih stabil. Permainan ini bukan sekadar RPG biasa. Ini adalah realitas virtual interaktif bagi semua pesertanya. Anda bisa merasakan nostalgia dengan pengalaman baru. Fitur modern ditambahkan tanpa merusak nilai klasiknya. Pemain lama maupun baru pasti mudah beradaptasi. Konsep Server Global Tanpa Batas Versi sebelumnya memisahkan pemain berdasarkan zona regional. Pemain Asia Tenggara terpisah dari wilayah Amerika. Hal ini sangat membatasi potensi interaksi antarpemain.  Sekarang, batasan wilayah tersebut resmi dihapus sepenuhnya. Pembaruan besar dari Seal M on CROSS ini menggabungkan seluruh pemain. Semua berada dalam satu lingkungan terpadu berskala masif. Keputusan strategis ini membuat setiap pencapaian lebih bergengsi. Anda kini bersaing langsung di mata dunia. Prestise karakter Anda akan jauh lebih tinggi. Gameplay Klasik Tetap Jadi Prioritas Gim ini memang membawa inovasi teknologi modern. Namun, keseruan bermain tetap menjadi fondasi utama. Anda tetap bisa memancing dengan sangat santai. Mengalahkan monster di peta juga tetap seru. Interaksi sosial khas MMORPG murni tetap terjaga. Pengalaman bernostalgia ini dijaga dengan sangat ketat. Anda bisa bermain tanpa beban finansial. Eksplorasi dunia Shiltz tetap menyenangkan seperti dulu. Fokus utama pengembang adalah kenyamanan para pemain. Anda bebas menentukan gaya bermain sendiri. Integrasi ekosistem Nexus CROSS untuk Kompetisi Dunia Penggabungan jaringan membawa dampak positif yang signifikan. Dinamika persaingan antar pahlawan dari berbagai benua meningkat. Melalui sistem jaringan terbaru, semua data terhubung. Peringkat musiman dan pencapaian individu diperbarui serentak. Atmosfer kompetisi menjadi jauh lebih hidup. Hal ini pasti memacu adrenalin para pemain. Mereka akan terus mengasah kemampuan bertarung. Semua ingin membuktikan siapa petarung paling tangguh. Benua Shiltz siap menyambut juara dunia baru. Persiapkan diri Anda untuk pertarungan tanpa batas. Papan Peringkat Musiman yang Kompetitif Sistem papan peringkat kini tidak lagi lokal. Skalanya jauh lebih luas dan menantang. Gim ini menuntut konsistensi tinggi dari pemain. Setiap bos lapangan yang dikalahkan sangat berarti. Misi harian juga memengaruhi posisi di papan peringkat. Data peringkat ini dibagikan secara global. Anda harus meracik strategi penyerangan terbaik. Tujuannya agar bisa bertahan dan terus bersaing. Dunia di dalam ekosistem Nexus CROSS sangat dinamis. Hanya pemain terbaik yang bisa mencapai puncak. Nilai Ekonomi di Dunia Nyata Infrastruktur gim ini memiliki fitur yang unik. Nilai dari waktu bermain Anda bisa dihargai. Aset digital dalam gim punya nilai ekonomi nyata. Konsep ini memperkokoh posisinya sebagai game penghasil cuan. Fondasi ekonomi makronya sangat kuat dan berkelanjutan. Sistem ini menciptakan penghargaan yang lebih adil. Semuanya berjalan transparan bagi seluruh pemain aktif. Dedikasi Anda akan dibayar dengan hasil sepadan. Ini adalah evolusi penting dalam industri gim. Masa depan hiburan digital ada di sini. Memahami fitur blockchain Web3 Secara Opsional Banyak pemain tradisional skeptis dengan aset digital. Token terintegrasi sering dianggap merusak keseruan bermain. Namun, teknologi kripto di sini sungguh berbeda. Sistem ini dirancang khusus sebagai pelengkap saja. Kenyamanan bermain pemain kasual tidak akan terganggu. Anda diberi kebebasan penuh dalam bermain. Anda bisa mengabaikan aspek tokenomik ini sepenuhnya. Pemain tetap bisa menikmati alur cerita dengan nyaman. Tidak ada paksaan untuk menggunakan sistemnya. Semuanya murni bergantung pada pilihan Anda. Cara Kerja Shiltz Crystal dan SHILTZx Keunggulan utama fitur blockchain Web3 adalah kemudahannya. Proses konversinya dibuat sangat sederhana dan logis. Pemula pun bisa memahaminya dengan sangat cepat. Ada tahapan sistematis untuk mengubah sumber daya gim. Sumber daya ini akan menjadi aset bernilai nyata. Berikut adalah tahapan proses konversi tersebut: Pemain menyelesaikan berbagai misi harian yang menantang. Pemain menaklukkan musuh untuk memanjat peringkat global. Sistem mendistribusikan material Shiltz Crystal di akhir musim. Shiltz Crystal dikonversi menjadi token SHILTZx yang bernilai. Jadwal Rilis dan Hadiah Pra-Registrasi Antusiasme jutaan pemain Seal M on CROSS dunia sudah terlihat jelas. Angka partisipasi pra-registrasi sangat tinggi menjelang peluncuran. Token kripto SHILTZx ini punya banyak kegunaan. Anda bisa membeli aset khusus dengan token ini. Transaksinya dijamin bebas dan sangat aman. Pihak pengembang telah menyiapkan hadiah eksklusif: Ratusan tiket perjalanan cepat untuk mempermudah mobilitas Anda. Kostum kelinci rascal eksklusif dan kalung ikonik Shiltz. Persediaan makanan hewan peliharaan tingkat langka harian. Kupon undian spesial musim dingin yang sangat menarik. Materi premium untuk meningkatkan kualitas perlengkapan tempur. Apakah Anda masih ragu atau ingin memahami lebih dalam tentang ekosistem Web3? Mari belajar dan berdiskusi langsung bersama Komunitas Blockchain kami. Temukan berbagai informasi edukasi kripto yang paling mutakhir dan terpercaya. Bergabunglah sekarang juga dan perluas wawasan digital Anda bersama para penggiat lainnya!

Regulator AS Tegaskan Sekuritas Bertokenisasi Tunduk pada Aturan Modal yang Sama

Regulator perbankan di Amerika Serikat menegaskan bahwa sekuritas yang diterbitkan dalam bentuk token digital akan diperlakukan sama dengan sekuritas tradisional dalam hal aturan permodalan. Prinsip ini disebut sebagai pendekatan yang “netral terhadap teknologi.” Dalam pernyataan bersama, Federal Reserve, Federal Deposit Insurance Corporation, dan Office of the Comptroller of the Currency menyampaikan bahwa baik sekuritas konvensional maupun yang berbasis token akan mengikuti ketentuan modal bank yang sama. Menurut para regulator, teknologi yang digunakan untuk menerbitkan atau memperdagangkan suatu sekuritas pada dasarnya tidak memengaruhi perlakuan modalnya. Oleh karena itu, sekuritas yang telah ditokenisasi akan diperlakukan sama seperti versi non-tokenisasi dari aset yang sama berdasarkan aturan permodalan yang berlaku. Dengan panduan terbaru ini, lembaga keuangan tidak diwajibkan untuk melakukan over-collateralization saat menyimpan sekuritas bertokenisasi di neraca mereka, berbeda dengan perlakuan terhadap aset digital yang masih dianggap belum terbukti atau memiliki volatilitas tinggi. Peningkatan minat dari sektor keuangan tradisional terhadap tokenisasi aset menjadi salah satu alasan regulator mengeluarkan panduan tersebut. Selain itu, regulator juga menyatakan bahwa derivatif yang merujuk pada sekuritas bertokenisasi yang memenuhi syarat harus diperlakukan sama dengan derivatif yang merujuk pada sekuritas versi tradisionalnya dalam perhitungan modal. Sekuritas bertokenisasi juga tetap dapat dikategorikan sebagai jaminan keuangan (financial collateral), selama memenuhi syarat tertentu, seperti memiliki likuiditas yang memadai serta dimiliki atau dikendalikan secara sah oleh institusi yang dapat menjualnya jika pihak peminjam gagal memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian jaminan. Para regulator menambahkan bahwa jika sekuritas bertokenisasi memenuhi definisi sebagai “financial collateral,” maka aset tersebut dapat diakui sebagai alat mitigasi risiko kredit dalam perhitungan aturan modal bank, selama semua persyaratan lain yang relevan terpenuhi. Tokenisasi aset sendiri semakin menarik perhatian perusahaan keuangan besar. Beberapa institusi ternama seperti JPMorgan, BlackRock, dan Franklin Templeton telah mulai terlibat di sektor ini melalui berbagai investasi maupun pengembangan infrastruktur. Salah satu daya tarik utama tokenisasi adalah kemampuannya memungkinkan perdagangan aset selama 24 jam sehari melalui blockchain, berbeda dengan pasar keuangan tradisional yang umumnya hanya beroperasi dalam jam perdagangan tertentu.

Musim Altcoin Diprediksi Berubah: Token dengan Utilitas Nyata Berpotensi Mendominasi

Matt Hougan, Chief Investment Officer dari Bitwise, menilai bahwa pola “altcoin season” seperti yang terjadi pada siklus kripto sebelumnya kemungkinan tidak akan terulang. Menurutnya, periode ketika hampir semua altcoin mengalami kenaikan bersamaan di pasar mungkin sudah berakhir. Dalam wawancara pada Rabu, Hougan menjelaskan bahwa siklus altcoin di masa depan kemungkinan akan berbeda. Ia memperkirakan pasar akan lebih selektif dan hanya menguntungkan proyek yang memiliki penggunaan nyata serta adopsi di dunia nyata. “Saya rasa kita akan melihat altcoin season yang tidak tradisional,” ujarnya. “Periode tersebut akan lebih banyak memberi penghargaan pada aset yang benar-benar memiliki traksi dan aplikasi nyata.” Ia juga menambahkan bahwa pola lama, di mana kenaikan harga Bitcoin diikuti oleh Ethereum, lalu sektor DeFi dan bahkan aset spekulatif seperti NFT tanpa utilitas jelas, kemungkinan tidak akan terjadi lagi seperti sebelumnya. Sebaliknya, Hougan memperkirakan pasar akan mulai menilai ulang (rerating) sejumlah token tertentu, terutama yang berkaitan dengan bisnis atau ekosistem besar yang memiliki aktivitas ekonomi nyata. Altcoin season diprediksi lebih selektif Menurut Hougan, siklus altcoin berikutnya kemungkinan akan lebih terfragmentasi dibandingkan sebelumnya. Artinya, tidak semua aset akan naik bersamaan, melainkan hanya proyek tertentu yang benar-benar menunjukkan nilai dan penggunaan yang jelas. Selama ini, banyak trader kripto mengacu pada pola siklus pasar lama. Biasanya Bitcoin terlebih dahulu mencapai rekor harga baru, kemudian modal mulai mengalir ke Ether, dan akhirnya menyebar ke berbagai altcoin hingga memicu altcoin season. Mengenai kondisi Bitcoin sendiri, Hougan mengatakan bahwa aset tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah sempat turun hingga sekitar 60.000 dolar pada Februari. Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 70.237 dolar berdasarkan data CoinMarketCap. Perdebatan soal altcoin season masih berlangsung Pandangan mengenai altcoin season masih menjadi perdebatan di kalangan pelaku industri kripto. Analis kripto Matthew Hyland sebelumnya menyatakan bahwa trader seharusnya tetap optimistis terhadap kemungkinan datangnya altcoin season dalam waktu dekat. Ia menunjuk grafik dominasi Bitcoin yang menurutnya menunjukkan sinyal bearish selama beberapa minggu. Sementara itu, pendiri BitMEX Arthur Hayes memiliki pandangan berbeda. Pada Desember lalu ia menyatakan bahwa “altcoin season selalu terjadi,” hanya saja investor mungkin tidak memegang aset yang sedang naik. Menurut Hayes, jika seseorang merasa tidak ada altcoin season, kemungkinan besar karena mereka tidak memiliki token yang mengalami kenaikan harga pada saat itu. Di sisi lain, platform analisis sentimen kripto Santiment melaporkan bahwa pembicaraan mengenai altcoin di media sosial turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Data tersebut juga menunjukkan bahwa perhatian investor saat ini lebih banyak tertuju pada Bitcoin dibandingkan aset kripto lainnya.

Perjalanan Ether (ETH) Menuju $2.500 Lebih Sulit dari Perkiraan: Ini Alasannya

Dampak Kondisi Makroekonomi Global Harga Ether (ETH) baru-baru ini mengalami penurunan sebesar 6% setelah sempat naik menyentuh level $2.200. Penurunan ini dipicu oleh sentimen penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor akibat memanasnya kondisi global, termasuk: Sinyal Pasar Derivatif yang Lesu Data dari pasar derivatif menunjukkan bahwa para trader profesional sedang bersikap hati-hati: Penurunan Aktivitas Jaringan (On-chain) Aktivitas di jaringan Ethereum saat ini sedang stagnan. Volume mingguan di bursa terdesentralisasi (DEX) turun drastis dari $20,2 miliar menjadi $12,6 miliar hanya dalam sebulan. Selain itu, pendapatan dari aplikasi terdesentralisasi (DApp) juga anjlok 47%. Namun, hal ini bukan masalah eksklusif bagi Ethereum, karena jaringan pesaing seperti Solana juga mengalami penurunan volume DEX sekitar 50% pada periode yang sama. Kekuatan Fundamental: Dominasi Institusional Tetap Kuat Meskipun metrik jangka pendek terlihat lemah, fundamental Ethereum masih sangat solid: Kesimpulan Lesunya data derivatif dan on-chain saat ini tidak berarti ETH akan segera jatuh atau hancur. Sentimen pasar bisa dengan cepat berubah menjadi positif jika ETH berhasil menembus kembali level resistensi $2.400. Namun, selama kekhawatiran ekonomi global (risk-off) masih membayangi, laju kenaikan Ether diprediksi akan terus tertahan.

Pembangunan Fasilitas Komputer Kuantum Raksasa Dimulai: Potensi Ancaman bagi Bitcoin?

Proyek Kuantum Bernilai Miliaran Dolar PsiQuantum baru saja memulai pembangunan fasilitas komputasi kuantum raksasa di Chicago yang dirancang untuk menampung komputer berkekuatan 1 juta qubit. Proyek yang didanai sebesar $1 miliar dan berkolaborasi dengan Nvidia ini akan menciptakan superkomputer AI generasi berikutnya. Dari segi ukuran, para ilmuwan menyebut bahwa kekuatan sebesar ini secara teoritis mampu meretas sistem kriptografi yang melindungi Bitcoin. Tidak Ada Niat untuk Menyerang Bitcoin Meskipun teknologinya berpotensi menembus keamanan blockchain, para pendiri PsiQuantum (Terry Rudolph dan Peter Shadbolt) menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berencana menggunakan komputer tersebut untuk menyerang jaringan Bitcoin atau mencuri kunci privat (private keys). Reaksi Komunitas dan Pengembang Bitcoin Kehadiran teknologi ini memicu perdebatan di kalangan komunitas kripto: Seberapa Rentan Bitcoin Saat Ini? Secara teknis, Bitcoin yang paling berisiko adalah koin-koin dari dompet lama yang tidak pernah melakukan transaksi sejak awal diciptakan (dikenal sebagai UTXO). Meskipun riset terbaru memperkirakan sekitar 100.000 qubit diperlukan untuk menjebol sistem keamanan yang lebih kuat dari Bitcoin, komputer kuantum terbesar saat ini (di Caltech) baru memiliki kapasitas sebesar 6.100 qubit. Dampak Pasar yang Minim Menenangkan kekhawatiran yang ada, riset dari CoinShares pada bulan Februari menunjukkan bahwa hanya sekitar 10.230 BTC (bernilai sekitar $728,2 juta) yang benar-benar rentan terhadap serangan kuantum. Jika pun jumlah tersebut diretas dan dijual ke pasar, dampaknya hanya akan terlihat seperti aktivitas perdagangan rutin dan tidak akan menghancurkan harga Bitcoin secara keseluruhan.

Apa yang Diungkap Pasar Stablecoin $310 Miliar tentang Adopsi Kripto

Pasar stablecoin mencapai tonggak penting pada 12 Desember 2025 dengan total nilai sekitar 310 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 70% hanya dalam satu tahun. Pertumbuhan tersebut tidak sekadar mencerminkan tren spekulatif di pasar kripto, tetapi juga menandakan perubahan besar dalam cara aset digital mulai digunakan secara global. Stablecoin adalah jenis kripto yang dirancang untuk menjaga nilai tetap stabil dengan mengacu pada aset tertentu, biasanya melalui cadangan aset atau mekanisme algoritmik. Umumnya, aset yang dijadikan acuan adalah dolar AS, meskipun ada juga stablecoin yang mengikuti nilai euro atau komoditas seperti emas. Berbeda dengan Bitcoin atau Ether yang nilainya dapat berubah drastis, stablecoin berusaha mempertahankan harga yang relatif tetap. Konsep ini membantu mengatasi salah satu masalah utama dalam dunia kripto, yaitu volatilitas harga. Ketika seseorang mengirim uang lintas negara sebesar 100 dolar, mereka tentu berharap penerima mendapatkan jumlah yang sama, bukan nilai yang berubah drastis karena fluktuasi pasar. Stablecoin memungkinkan hal tersebut dengan berfungsi sebagai penghubung antara sistem keuangan tradisional dan ekonomi terdesentralisasi. Saat ini pasar stablecoin didominasi oleh USDT dari Tether dengan nilai sekitar 172 miliar dolar, serta USDC dari Circle dengan sekitar 145 miliar dolar. Kedua stablecoin ini menyumbang sekitar 80% dari aktivitas transaksi stablecoin global. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa dalam adopsi kripto, pengguna sering kali lebih mengutamakan kepercayaan dan efek jaringan dibandingkan inovasi teknologi semata. Revolusi pembayaran global yang berkembang secara perlahan Potensi terbesar stablecoin terlihat dalam pembayaran lintas negara. Sistem transfer internasional tradisional biasanya melibatkan banyak perantara seperti bank koresponden, lembaga kliring, dan broker valuta asing. Setiap tahap menambah biaya serta memperlambat proses transaksi. Transfer internasional konvensional umumnya memerlukan waktu tiga hingga lima hari kerja dan biaya sekitar 2% hingga 3% dari nilai transaksi. Sebaliknya, transaksi menggunakan stablecoin dapat diselesaikan dalam hitungan menit dengan biaya yang jauh lebih rendah, bahkan hanya sebagian kecil dari satu persen. Beberapa penyedia layanan remitansi melaporkan bahwa biaya dapat berkurang hingga 95% setelah beralih ke sistem settlement berbasis stablecoin, sekaligus mempercepat proses pengiriman dari beberapa hari menjadi hanya beberapa menit. Di negara dengan tingkat inflasi tinggi seperti Argentina dan Venezuela, stablecoin juga semakin sering digunakan sebagai sarana penyimpan nilai ketika mata uang lokal menjadi tidak stabil. Hal ini memberikan bentuk inklusi keuangan baru, karena masyarakat dapat mengakses aset digital yang relatif stabil tanpa harus bergantung pada sistem perbankan tradisional yang mungkin terbatas. Peran institusi dalam mempercepat adopsi Adopsi stablecoin juga didorong oleh keterlibatan institusi besar. Sejumlah perusahaan teknologi keuangan dan lembaga keuangan mulai mengembangkan infrastruktur khusus untuk mendukung penggunaan stablecoin secara lebih efisien. Contohnya, Stripe mengakuisisi platform stablecoin Bridge, Circle meluncurkan blockchain layer-1 bernama Arc, dan proyek Stable yang didukung Tether juga mengembangkan protokol layer-1 sendiri. Langkah-langkah ini menunjukkan meningkatnya investasi dalam infrastruktur yang dirancang khusus untuk mendukung ekosistem stablecoin. Laporan “Stablecoins in Banking 2025” dari Fireblocks menunjukkan bahwa hampir setengah institusi yang disurvei sudah menggunakan stablecoin dalam operasi mereka, sementara 41% lainnya sedang melakukan uji coba atau merencanakan implementasi. Di antara pengguna aktif, penggunaan paling umum adalah transaksi lintas negara. Survei dari Ernst & Young juga menemukan bahwa 62% perusahaan menggunakan stablecoin untuk membayar pemasok, sementara 53% menerima stablecoin sebagai metode pembayaran bisnis. Perubahan ini menandai pergeseran dari penggunaan kripto yang bersifat spekulatif menuju kebutuhan operasional. Banyak perusahaan kini melihat stablecoin sebagai alat untuk mempercepat alur kerja keuangan. Dana yang bergerak melalui sistem perbankan tradisional dapat menimbulkan biaya peluang dan risiko nilai tukar, sementara stablecoin memungkinkan penyelesaian transaksi hampir instan selama 24 jam dengan transparansi yang lebih baik. Stablecoin sebagai fondasi DeFi Stablecoin juga memiliki peran penting dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi). Banyak protokol besar seperti Aave dan Curve membangun sistem pinjaman serta perdagangan mereka dengan stablecoin sebagai inti karena aset ini menawarkan jaminan yang lebih stabil dan dapat diprediksi. Selain itu, para pengembang mulai bereksperimen dengan stablecoin yang dapat menghasilkan imbal hasil, seperti USDe dari Ethena. Aset semacam ini dirancang agar dapat menghasilkan keuntungan secara otomatis sehingga mata uang digital tidak hanya disimpan secara pasif, tetapi juga dapat menjadi sumber produktivitas modal. Volume transaksi stablecoin mencerminkan peran penting tersebut. Pada 2025, total volume transfer onchain yang melibatkan stablecoin utama mencapai nilai tahunan dalam skala triliunan dolar. Dalam beberapa periode, nilai penyelesaian transaksi bahkan melampaui jaringan pembayaran kartu tradisional jika diukur dari nilai settlement mentah. Meski demikian, banyak pengguna tidak berinteraksi langsung dengan infrastruktur tersebut. Tantangan skala: dari miliaran menuju triliunan Dengan nilai pasar mencapai 310 miliar dolar, muncul pertanyaan mengapa stablecoin belum berkembang hingga skala triliunan dolar. Jawabannya berkaitan dengan pola umum adopsi infrastruktur keuangan yang biasanya berkembang secara bertahap sebelum akhirnya meningkat pesat. Saat ini stablecoin masih banyak digunakan sebagai infrastruktur perdagangan di pasar kripto dan sebagai jalur pembayaran lintas negara untuk remitansi maupun transaksi institusional. Agar dapat berkembang lebih jauh, beberapa komponen infrastruktur masih perlu matang, seperti sistem on-ramp dan off-ramp yang menghubungkan bank dengan wallet kripto, alat pembayaran bagi merchant yang memudahkan penerimaan stablecoin seperti kartu pembayaran, serta antarmuka pengguna yang menyederhanakan kompleksitas blockchain. Beberapa analisis industri memproyeksikan bahwa pasokan stablecoin dapat mencapai sekitar 2 triliun dolar pada tahun 2028 jika integrasi dengan institusi keuangan besar terus berkembang. Dalam skenario tersebut, stablecoin tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat perdagangan, tetapi juga menjadi lapisan uang digital yang digunakan secara luas dalam e-commerce, pembayaran antar bisnis, dan layanan keuangan terintegrasi. Infrastruktur kuat menjadi kunci adopsi massal Pertumbuhan pesat pasar stablecoin menggambarkan bagaimana teknologi transformatif sebenarnya menyebar. Stablecoin mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama seperti siklus halving Bitcoin, tetapi aset ini mendukung banyak penggunaan nyata dalam ekosistem kripto. Stablecoin menggabungkan stabilitas harga, kerangka regulasi yang semakin jelas, serta kemampuan teknis untuk terintegrasi dengan berbagai aplikasi. Kombinasi ini membuatnya menarik bagi institusi konservatif sekaligus bagi protokol DeFi yang inovatif. Dengan hadirnya regulasi seperti MiCA di Eropa dan GENIUS Act di Amerika Serikat serta perkembangan infrastruktur yang semakin matang, stablecoin diperkirakan akan tetap menjadi elemen penting yang menghubungkan dunia kripto dengan sistem keuangan arus utama. Bagi banyak pengguna sehari-hari, inovasi kripto yang paling berdampak mungkin bukan blockchain baru, melainkan penyebaran dolar digital yang semakin luas dan mampu menjalankan fungsi pembayaran secara lebih efisien dibandingkan sistem tradisional.