Mengamankan Aset dengan Dompet Multisig: Solusi Cerdas Tanpa Titik Kegagalan

Komunitas mata uang kripto global selalu dikenal karena semangat dan dedikasi mereka terhadap proyek atau token favorit masing-masing. Namun, di balik semangat tersebut, ada satu perdebatan klasik yang tak berkesudahan dan sering kali memicu gesekan tajam: manakah yang lebih baik antara Penyimpanan Kripto panas (hot storage) atau penyimpanan dingin (cold storage)? Kubu pendukung dompet panas (hot wallet) selalu mengedepankan aspek kepraktisan, akses transaksi yang kilat, dan biaya yang sangat rendah. Di sisi lain, para penganut garis keras dompet dingin (cold wallet) akan selalu membentengi argumen mereka dengan pepatah emas industri kripto: “Bukan kunci Anda, bukan koin Anda” (Not your keys, not your crypto). Meskipun perangkat keras luring (cold storage) memang menawarkan tingkat keamanan yang tak tertandingi oleh aplikasi daring, ada kalanya Anda memiliki tuntutan operasional yang mewajibkan aset kripto tersebut harus tetap berada dalam jaringan internet (misalnya untuk kebutuhan perputaran dana harian perusahaan). Terlebih lagi, pepatah penguasaan Kunci Pribadi tunggal tersebut menjadi sangat problematik dan tidak relevan ketika aset kripto yang harus dikelola bukanlah milik individu, melainkan kas milik sebuah perusahaan, lembaga institusi, maupun Organisasi Otonom Terdesentralisasi (DAO). Menitipkan miliaran rupiah kas perusahaan kepada satu orang pemegang kunci tentu adalah mimpi buruk secara manajerial. Oleh karena itu, kita akan membedah sebuah solusi penengah yang brilian untuk meroketkan keamanan aset tanpa harus bergantung pada perangkat keras luring, yakni dengan menggunakan Dompet Kripto Multi-Tanda Tangan (Multisignature atau Multisig). Konsep Dasar dan Arsitektur Dompet Multisig Dompet multisig, yang dalam dunia DeFi (Decentralized Finance) juga sering dijuluki sebagai brankas multisig (multisig vault), adalah sebuah Dompet Kripto berteknologi tinggi yang mewajibkan persetujuan dari dua atau lebih Kunci Pribadi sebelum sebuah transaksi keuangan dapat dieksekusi oleh jaringan blockchain. Sistem pertahanan berlapis ini diciptakan khusus untuk mengeliminasi pencurian. Proses kerjanya sangat ketat; dompet akan meminta tanda tangan digital dari sekumpulan alamat pengesah yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jika ada satu saja tanda tangan wajib yang tidak terpenuhi, maka dana tersebut tidak akan pernah bisa keluar dari brankas. Bayangkan sistem ini seperti prosedur pembukaan brankas rahasia di bank sentral yang mewajibkan tiga manajer berbeda untuk memasukkan kunci mereka masing-masing ke dalam lubang kunci secara bersamaan. Berdasarkan konfigurasi matematiknya, terdapat dua tipe skema persetujuan yang paling umum digunakan: Persetujuan Mutlak: Semua pihak yang terdaftar wajib memberikan tanda tangannya (misalnya skema 3-dari-3, di mana tiga kunci terdaftar harus menandatangani transaksi). Persetujuan Kuorum mayoritas: Hanya membutuhkan batas minimal persetujuan dari total peserta yang terdaftar (misalnya skema 2-dari-3, atau skema 3-dari-5). Skema ini paling populer karena fleksibel jika salah satu pihak sedang berhalangan. Satu perbedaan arsitektur yang paling mencolok antara dompet tradisional dan dompet multisig terletak pada mesin pembangunnya. Dompet tradisional (seperti MetaMask standar) bertindak sebagai Akun Milik Eksternal (Externally Owned Account / EOA) yang murni dikendalikan oleh frasa benih pengguna. Sebaliknya, dompet multisig dibangun secara utuh di atas kerangka Kontrak Pintar (Smart Contract). Dompet ini adalah potongan perangkat lunak yang berjalan secara otonom di atas blockchain, tidak memiliki frasa benih (seedless), dan murni dikendalikan oleh logika baris kode yang telah disetujui bersama oleh para pemiliknya. Tiga Keunggulan Utama Mengadopsi Arsitektur Multisig Selain menawarkan pengamanan berlapis ala militer dan fasilitas pengambilan keputusan kolektif, dompet multisig juga menyuguhkan berbagai keunggulan struktural yang membuatnya menjadi standar emas bagi tata kelola dana institusional dan DAO. 1. Menghapus Risiko Sosok Kunci Terpusat (Key Person Risk) Keunggulan paling fundamental dari dompet multisig adalah kemampuannya menyingkirkan “Risiko Sosok Kunci” (Key Person Risk). Ini adalah sebuah istilah manajemen yang merujuk pada kondisi fatal di mana kelangsungan hidup sebuah entitas bergantung sepenuhnya pada pundak satu individu. Di dunia Penyimpanan Kripto tradisional, membiarkan satu orang CEO atau bendahara menyimpan frasa benih dompet perusahaan adalah sebuah bom waktu. Sejarah kelam industri kripto pernah mencatat tragedi jatuhnya bursa QuadrigaCX. Ketika sang pendiri bursa mendadak meninggal dunia, barulah terungkap bahwa ia adalah satu-satunya manusia yang memegang kata sandi cold storage perusahaan. Akibatnya, dana deposit pelanggan senilai ratusan juta dolar lenyap terkurung selamanya tak tersentuh. Dengan dompet multisig berkonfigurasi 2-dari-3 atau 3-dari-5, tragedi semacam ini mustahil terjadi. Sistem ini melenyapkan titik kegagalan tunggal (single point of failure). Sekalipun salah satu direktur kehilangan kuncinya, mengundurkan diri, atau bahkan berkhianat, sisa mayoritas direktur lainnya tetap memiliki kendali penuh untuk mengakses dan menyelamatkan aset perusahaan. 2. Transparansi Tak Terbantahkan Karena beroperasi di atas kerangka kontrak pintar, dompet multisig secara alamiah mempromosikan tingkat transparansi tertinggi. Segala hal terkait tata kelola kas—mulai dari daftar publik para pihak penandatangan, jejak rekam mutasi saldo, hingga kebijakan persetujuan transaksi—tercatat rapi dan terbuka secara publik di buku besar blockchain. Sistem pencatatan yang transparan ini menghadirkan gambaran utuh mengenai tanggung jawab masing-masing pengambil keputusan. Lebih jauh lagi, kode sumber kontrak pintar multisig biasanya bersifat open-source, sehingga siapa pun (termasuk auditor keamanan independen dari luar) dapat membedah logika kode tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada pintu belakang (backdoor) yang bisa membahayakan aset. 3. Ekosistem Modular yang Terbuka untuk Dikembangkan Karena dompet multisig pada dasarnya adalah dompet pintar (smart wallet), ia memiliki sifat modular. Artinya, dompet ini bisa dimodifikasi, diperbarui, dan disesuaikan dengan kebutuhan kompleks dari institusi atau komunitas DAO di masa depan. Para pengembang web dapat dengan mudah mengintegrasikan protokol-protokol baru di atas antarmuka dompet tersebut. Misalnya, menambahkan fitur yang mengharuskan anggota komunitas untuk melakukan pemungutan suara (DAO voting) sebelum bendahara dompet multisig diizinkan untuk mengeluarkan dana investasi. Berkat infrastruktur pintar inilah, dompet multisig perlahan mulai berevolusi menjadi instrumen perbankan mandiri tingkat korporat yang tak tergantikan di era ekonomi digital masa depan.
Bitcoin Anjlok ke $67.000, Investor Kripto Ramai-ramai Amankan Dana ke Stablecoin

Pasar mata uang kripto tengah mengalami pergeseran modal yang signifikan. Di tengah tren penurunan harga Bitcoin (BTC) yang kini menyentuh kisaran US$ 67.000, para investor terlihat melakukan aksi pelarian modal (capital flight) besar-besaran menuju aset kripto yang dipatok ke dolar AS atau stablecoin. Menariknya, kepanikan yang terjadi di ekosistem kripto ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar tradisional yang justru terpantau stabil. Dominasi Bitcoin Merosot, Permintaan Stablecoin Melonjak Berdasarkan data pasar, harga Bitcoin telah tergelincir sekitar 12% dalam sepekan terakhir ke level US$ 66.800. Penurunan ini turut menyeret kinerja pasar kripto secara keseluruhan. Imbasnya, tingkat dominasi Bitcoin—yakni pangsa pasar BTC terhadap total kapitalisasi pasar kripto—turun menyentuh angka 58,5%. Kondisi ini menghapus tren kenaikan (reli) dominasi Bitcoin yang sebelumnya sempat mencapai level puncak 61,2% pada bulan April hingga awal Mei lalu. Di saat yang bersamaan, permintaan terhadap stablecoin justru melonjak tajam. Tether (USDT), stablecoin terbesar di dunia, mencatatkan lonjakan dominasi hingga 8,30%, yang merupakan level tertingginya sejak akhir Februari. USD Coin (USDC) juga terpantau merangkak naik ke level yang terakhir kali terlihat pada awal April. Meskipun gabungan pangsa pasar USDT dan USDC baru menyentuh porsi 11% dari total pasar, tren kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor mulai mencari perlindungan likuiditas dolar di tengah rontoknya nilai aset kripto. Altcoin Ikut Terkapar di Tengah Anomali Pasar Tradisional Peralihan dana ke stablecoin seperti ini bukanlah fenomena baru. Pola serupa pernah terjadi pada saat pasar mengalami koreksi tajam sebelumnya, termasuk pada periode Januari dan Februari ketika harga Bitcoin anjlok dari kisaran US$ 90.000 menuju US$ 60.000. Koreksi saat ini tidak hanya menghantam Bitcoin. Sejumlah altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP, dan Solana (SOL) juga mencatatkan penurunan antara 8% hingga 11% dalam sepekan terakhir. Bahkan, koin lain seperti Bitcoin Cash (BCH), SUI, dan RAO terperosok lebih dalam hingga hampir 20%. Semua rentetan penurunan ini semakin mempercepat rotasi dana ke aset digital setara dolar. Di sisi lain, pasar keuangan tradisional justru memperlihatkan anomali dan tidak menunjukkan adanya kepanikan serupa. Saat pasar kripto dihantam aksi jual, indeks saham utama Amerika Serikat seperti Nasdaq dan S&P 500 masih nyaman diperdagangkan di dekat level rekor tertinggi mereka. Sementara itu, Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap keranjang mata uang utama—tetap tertahan dalam rentang yang sangat ketat, yakni antara 98,50 dan 99,50. Sebagai sarana berbagi pengetahuan dan wawasan, Komunitas Crypto di Blockped menghadirkan berbagai informasi terbaru yang dapat Anda akses melalui beranda website Blockped.
Mengapa Pengguna Lansia Sering Menjadi Korban Penipuan Crypto ATM?

Penipuan yang melibatkan crypto ATM atau mesin ATM kripto semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik, sebagian besar korbannya berasal dari kelompok usia lanjut. Banyak lansia kehilangan tabungan, dana pensiun, hingga aset berharga lainnya akibat berbagai modus penipuan yang berujung pada transfer dana melalui mesin kripto. Meski terlihat seperti masalah yang berkaitan dengan teknologi, akar persoalannya justru sering kali berasal dari manipulasi psikologis yang dilakukan jauh sebelum korban mendatangi crypto ATM. Penipuan Biasanya Dimulai Sebelum Korban Menggunakan Crypto ATM Dalam banyak kasus, mesin crypto ATM hanyalah tahap akhir dari sebuah skema penipuan yang telah berlangsung cukup lama. Pelaku biasanya menghubungi korban melalui telepon, pesan singkat, media sosial, atau aplikasi perpesanan. Mereka dapat menyamar sebagai petugas bank, aparat pemerintah, teknisi komputer, hingga calon pasangan romantis. Tujuannya adalah membangun rasa takut, kepanikan, kepercayaan, atau harapan keuntungan besar. Ketika korban akhirnya berdiri di depan mesin crypto ATM, keputusan untuk mengirim uang sering kali sudah dipengaruhi oleh manipulasi yang berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Data dari Internet Crime Complaint Center (IC3) menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat lebih dari 13.400 laporan terkait penipuan yang melibatkan crypto ATM, dengan total kerugian melampaui 388 juta dolar AS. Lebih dari separuh kerugian tersebut dialami oleh individu berusia 50 tahun ke atas. Apa Itu Penipuan Crypto ATM? Crypto ATM adalah mesin yang memungkinkan pengguna menukar uang tunai dengan aset digital seperti Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Pada penggunaan yang sah, mesin ini memudahkan masyarakat membeli aset digital tanpa harus menggunakan platform perdagangan online. Namun, para pelaku penipuan memanfaatkan karakteristik transaksi blockchain yang sulit dibatalkan setelah dikirim. Skema penipuan biasanya berjalan melalui tahapan berikut: Penipu menghubungi korban. Korban diberi informasi mengenai ancaman, masalah keamanan, atau peluang investasi yang menggiurkan. Korban diminta menarik uang dari rekening bank. Penipu memberikan alamat dompet kripto atau kode QR. Korban menyetor uang tunai ke crypto ATM. Dana dalam bentuk aset kripto langsung dikirim ke dompet milik penipu. Berbeda dengan transaksi kartu kredit yang masih memiliki mekanisme pengembalian dana (chargeback), transaksi kripto umumnya tidak dapat dibatalkan setelah dikonfirmasi di jaringan blockchain. Mengapa Lansia Menjadi Sasaran Utama? Pelaku penipuan sering mengincar lansia karena kelompok ini umumnya memiliki akses terhadap dana pensiun, tabungan jangka panjang, investasi, atau aset properti. Namun, alasan utamanya tidak hanya berkaitan dengan jumlah aset yang dimiliki. Banyak modus penipuan memanfaatkan faktor emosional seperti kesepian, rasa takut, dan kepercayaan terhadap figur otoritas. Lansia juga cenderung lebih mungkin menjawab panggilan dari nomor tak dikenal atau mempercayai pesan yang tampak resmi. Penipuan romansa, misalnya, sering menyasar individu yang mengalami kesepian atau kehilangan pasangan. Sementara itu, penipuan teknis memanfaatkan kurangnya pemahaman mengenai keamanan digital, perangkat lunak, atau cara kerja transaksi blockchain. Pada 2025, laporan kejahatan siber yang diterima IC3 melampaui satu juta kasus. Kelompok usia 60 tahun ke atas menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan total kerugian mencapai 7,7 miliar dolar AS. Menariknya, rata-rata kerugian korban kejahatan siber tercatat sekitar 20.699 dolar AS. Namun, ketika melibatkan aset kripto, rata-rata kerugiannya melonjak hingga 62.604 dolar AS per korban. Modus Panggilan Palsu Mengatasnamakan Pemerintah Salah satu bentuk penipuan yang paling umum dimulai melalui panggilan telepon yang menakutkan. Pelaku dapat mengaku berasal dari lembaga pemerintah, aparat penegak hukum, kantor pajak, atau badan investigasi. Mereka memberi tahu korban bahwa identitasnya digunakan dalam tindak kriminal seperti pencucian uang atau perdagangan narkotika. Beberapa klaim yang sering digunakan antara lain: Data identitas korban telah bocor. Rekening sedang diselidiki. Aset berisiko disita. Akan ada tindakan hukum dalam waktu dekat. Untuk menghindari masalah tersebut, korban diminta memindahkan dana ke rekening “aman” melalui crypto ATM. Padahal, lembaga pemerintah yang sah tidak pernah meminta masyarakat mengirim uang menggunakan mesin kripto untuk menghindari penangkapan atau penyelidikan. Penipuan Romansa yang Berujung pada Transfer Kripto Modus romansa biasanya berkembang secara perlahan. Pelaku membangun hubungan emosional dengan korban melalui media sosial, aplikasi kencan, atau platform perpesanan. Setelah kepercayaan terbentuk, percakapan mulai mengarah pada kebutuhan finansial. Penipu dapat mengaku membutuhkan biaya perjalanan, mengalami keadaan darurat, atau menawarkan peluang investasi yang diklaim sangat menguntungkan. Dalam beberapa kasus, korban bahkan diperlihatkan laporan keuntungan investasi palsu untuk meyakinkan mereka agar mengirim dana dalam jumlah yang semakin besar. Karena sudah terikat secara emosional, korban sering mengabaikan berbagai tanda bahaya yang seharusnya menimbulkan kecurigaan. Penipuan Dukungan Teknis (Tech Support Scam) Modus lain yang cukup sering terjadi adalah penipuan dukungan teknis. Korban melihat peringatan palsu yang menyatakan perangkatnya terkena malware, diretas, atau mengalami kebocoran data. Setelah itu, mereka dihubungi seseorang yang mengaku sebagai teknisi dari perusahaan teknologi terkenal atau ahli keamanan siber. Korban kemudian diyakinkan bahwa dana mereka harus segera diamankan sebelum dicuri oleh peretas. Solusi yang ditawarkan adalah menarik uang dari rekening dan menyetorkannya melalui crypto ATM. Dalam banyak kasus, penipu bahkan tetap berada di telepon dan memandu korban langkah demi langkah selama proses transaksi berlangsung. Penipuan yang Mengatasnamakan Bank Pelaku juga sering menyamar sebagai petugas bank atau tim keamanan keuangan. Mereka memberi tahu korban bahwa telah terjadi aktivitas mencurigakan pada rekening atau kartu mereka. Untuk menambah tekanan, penipu biasanya meminta korban segera mengambil tindakan tanpa memberi kesempatan untuk melakukan verifikasi. Korban sering diminta untuk: Menarik uang tunai sesegera mungkin. Tidak memberi tahu keluarga. Tidak berdiskusi dengan pihak bank lain. Memindahkan dana ke akun kripto yang disebut aman. Permintaan untuk menjaga kerahasiaan merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa korban sedang berhadapan dengan penipuan. Investasi Bodong yang Memanfaatkan Crypto ATM Skema investasi palsu masih menjadi salah satu sumber kerugian terbesar dalam dunia kejahatan siber. Pelaku biasanya menawarkan: Keuntungan tinggi yang dijamin. Investasi kripto eksklusif. Platform trading berbasis kecerdasan buatan (AI). Strategi investasi berisiko rendah dengan imbal hasil besar. Korban sering diperlihatkan dashboard profesional dengan angka keuntungan yang tampak meyakinkan. Setelah menyetor dana dalam jumlah besar, mereka baru menyadari bahwa keuntungan tersebut hanyalah manipulasi. Saat mencoba menarik dana, korban justru diminta membayar biaya tambahan seperti pajak, biaya verifikasi, atau biaya aktivasi akun. Pada akhirnya, banyak pembayaran tersebut dilakukan melalui crypto ATM dan langsung masuk ke dompet milik penipu. Mengapa Crypto ATM Disukai Penipu? Crypto ATM memberikan beberapa keuntungan bagi pelaku kejahatan. Pertama, uang tunai dapat diubah menjadi aset digital dalam hitungan menit. Kedua, aset kripto
Pasar Kripto Melambat, Bitcoin Tetap Jadi Incaran Utama Investor Jangka Panjang

Kinerja pasar aset kripto dilaporkan masih tertinggal jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya sepanjang tahun ini. Tingginya ketidakpastian ekonomi global membuat para investor lebih berhati-hati dan memilih memarkirkan dananya di aset pelindung nilai (safe haven), sementara pasar kripto masih harus bergulat dengan volatilitas tinggi dan maraknya aksi ambil untung (profit taking). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, dua aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia mengalami tekanan harga yang cukup signifikan: Aset Kripto Koreksi Mei 2026 (MoM) Koreksi Sejak Awal Tahun (YtD) Bitcoin (BTC) 4,66% 16,84% Ethereum (ETH) 11,79% 32,78% Faktor Makroekonomi dan Migrasi Aset Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa pelemahan kinerja kripto saat ini tidak lepas dari kombinasi tekanan makroekonomi dan dinamika pasar. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global mendorong investor memindahkan likuiditas mereka ke instrumen dengan profil risiko yang lebih rendah. “Setelah mencatatkan reli yang cukup signifikan pada periode sebelumnya, sangat wajar jika pasar kripto kini memasuki fase konsolidasi dan profit taking,” jelas Antony, Senin (1/6/2026). Sebagai perbandingan, pasar saham masih mendapatkan angin segar dari pesatnya perkembangan sektor teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI), sementara harga emas terus melonjak berkat tingginya permintaan aset safe haven. Investor Lebih Selektif, Bitcoin Jadi Primadona Koreksi tajam yang dialami Ethereum mencerminkan perubahan perilaku investor yang kini jauh lebih selektif. Dana segar saat ini lebih banyak mengalir ke Bitcoin, yang dinilai memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan altcoin lainnya. Posisi Bitcoin semakin kokoh berkat likuiditas pasar yang sangat besar, meningkatnya adopsi oleh institusi global, serta perannya yang semakin diakui sebagai emas digital (digital gold). Meski begitu, Antony menegaskan bahwa anjloknya Ethereum bukan berarti runtuhnya minat publik terhadap ekosistem blockchain. Investor hanya sedang memprioritaskan aset dengan narasi fundamental yang paling kuat di tengah kondisi pasar yang belum stabil. Fase Akumulasi Dimulai: Proyeksi Kuartal III-2026 Meski pasar tengah memerah, Antony melihat adanya sinyal pembentukan fase akumulasi. Banyak investor institusi dan jangka panjang yang memanfaatkan momentum penurunan harga ini untuk memborong dan menambah kepemilikan aset kripto mereka secara bertahap. “Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek jangka panjang industri aset kripto masih cukup terjaga, meskipun dalam jangka pendek sentimen pasar masih menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya. Menatap ke depan, prospek Bitcoin masih ditopang oleh keterbatasan pasokan pasca-halving dan adopsi institusional. Di sisi lain, Ethereum tetap memegang peran krusial sebagai tulang punggung infrastruktur aset kripto, mulai dari tokenisasi aset hingga aplikasi kontrak pintar (smart contract). Dengan asumsi tidak ada gejolak makroekonomi yang luar biasa, berikut adalah proyeksi pergerakan harga kripto pada kuartal III-2026: Bitcoin (BTC): Berpotensi bergerak di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 90.000. Ethereum (ETH): Diproyeksikan berada di rentang US$ 1.800 hingga US$ 3.000. Untuk membantu Anda memahami perkembangan dunia aset digital, Berita Crypto terbaru dapat diakses dengan mudah melalui beranda website Blockped.
CEO Swan Bitcoin: Sentimen Investor Ritel Masih Berpengaruh pada Pergerakan Bitcoin

Meningkatnya keterlibatan institusi keuangan besar di industri kripto tidak serta-merta mengurangi pentingnya sentimen investor ritel terhadap Bitcoin. Menurut CEO Swan Bitcoin, Cory Klippsten, pandangan dan perilaku investor individu masih memiliki pengaruh besar terhadap dinamika pasar aset digital tersebut. Dalam wawancara bersama Cointelegraph yang dipublikasikan melalui YouTube pada Selasa, Klippsten menjelaskan bahwa kepemilikan Bitcoin belum terkonsentrasi pada perusahaan investasi besar seperti BlackRock atau Fidelity. Menurutnya, sebagian besar permintaan yang masuk melalui produk investasi institusional tetap berasal dari investor ritel. Ia menilai banyak investor membeli eksposur Bitcoin melalui berbagai produk investasi yang dikelola lembaga keuangan. Meskipun dilakukan melalui perantara, aset yang dibeli tetap harus didukung oleh Bitcoin asli yang disimpan dalam kustodian, sehingga permintaan tersebut tetap berdampak pada pasokan Bitcoin yang tersedia di pasar. Klippsten mengakui bahwa terdapat sejumlah instrumen seperti kontrak berjangka dan produk derivatif lainnya yang dapat menciptakan dinamika pasokan yang berbeda. Namun, ia menegaskan bahwa keunikan Bitcoin terletak pada kemampuannya untuk dimiliki dan dipindahkan secara langsung melalui jaringan blockchain. Menurutnya, permintaan terhadap Bitcoin yang benar-benar berada di jaringan (on-chain) tetap menjadi faktor utama yang membedakan aset tersebut dari instrumen keuangan tradisional. Sementara itu, data dari Farside menunjukkan bahwa ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih gabungan sebesar 2,90 miliar dolar AS sejak 15 Mei. Dalam periode yang sama, harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 9,5%. Pada saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 73.630 dolar AS berdasarkan data CoinMarketCap. Penurunan harga tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian dan kehati-hatian investor. Sentimen pasar kripto sepanjang 2026 juga terpantau cukup fluktuatif. Crypto Fear & Greed Index, yang digunakan untuk mengukur kondisi psikologis pelaku pasar kripto, sempat menunjukkan skor 23 atau berada pada kategori “Extreme Fear” pada Jumat lalu. Angka tersebut mengindikasikan bahwa banyak investor masih mengambil sikap defensif terhadap aset kripto. Peluang Bitcoin Mencetak Rekor Harga Baru Dinilai Menurun Selain membahas kondisi pasar saat ini, Klippsten juga menyampaikan pandangannya mengenai peluang Bitcoin mencapai rekor harga tertinggi baru sepanjang 2026. Ia mengaku sebelumnya cukup optimistis ketika Bitcoin masih diperdagangkan di sekitar level 95.000 dolar AS pada awal tahun. Saat itu, ia memperkirakan peluang munculnya rekor harga baru berada di kisaran 50%. Namun, setelah harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 23% dari level tersebut dan bahkan sempat turun hingga mendekati 60.000 dolar AS, pandangannya menjadi lebih konservatif. Menurut Klippsten, peluang Bitcoin mencatatkan all-time high baru pada tahun ini kini hanya berada di kisaran 20% hingga 25%. Ia menilai posisi harga yang masih bertahan di area 70.000 dolar AS membuat potensi untuk menembus rekor sebelumnya menjadi lebih menantang dibandingkan perkiraannya di awal tahun. Meski demikian, pernyataan tersebut lebih mencerminkan pandangan pribadi berdasarkan kondisi pasar saat ini. Pergerakan harga Bitcoin ke depan masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen investor, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, serta arus dana yang masuk maupun keluar dari produk investasi berbasis kripto. Kunjungi Berita Kripto Terbaru untuk mengikuti perkembangan terkini pasar aset digital, pergerakan harga Bitcoin, dan berbagai informasi penting dari industri kripto global.
SEC Setujui Paxos sebagai Clearing Agency Berbasis Blockchain Pertama

Platform infrastruktur blockchain dan penerbit stablecoin Paxos mengumumkan bahwa mereka menjadi perusahaan “blockchain-native” pertama yang memperoleh registrasi sebagai clearing agency dari Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat. Dalam pengumuman yang disampaikan pada Kamis, Paxos menyatakan bahwa anak usahanya, Paxos Securities Settlement Company, kini menjadi satu-satunya perusahaan yang berfokus pada teknologi blockchain yang mendapatkan persetujuan SEC untuk menyediakan layanan kliring dan penyelesaian transaksi sebagai central securities depository di Amerika Serikat. Persetujuan ini dinilai sebagai langkah penting bagi perkembangan infrastruktur pasar keuangan modern. Seiring meningkatnya integrasi antara teknologi blockchain dan pasar modal tradisional, kehadiran clearing agency berbasis blockchain dapat membantu mempercepat transformasi sistem keuangan menjadi lebih efisien dan transparan. Sebagai informasi, clearing agency memiliki peran penting dalam memastikan transaksi sekuritas berjalan dengan baik. Dalam perdagangan saham, pembeli dan penjual tidak melakukan pertukaran aset secara langsung. Sebaliknya, lembaga kliring dan penyelesaian bertugas memverifikasi transaksi, mencocokkan pihak yang terlibat, serta memastikan proses pertukaran dana dan aset berlangsung secara akurat dan aman. Dengan adanya lembaga kliring berbasis blockchain yang telah terdaftar dan disetujui SEC, hambatan bagi bank maupun perusahaan pialang untuk mengembangkan infrastruktur keuangan berbasis aset digital menjadi lebih rendah. Hal ini berpotensi mendorong adopsi teknologi blockchain dalam sistem keuangan arus utama. Perjalanan Paxos menuju persetujuan ini telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada Oktober 2019, SEC mengeluarkan no-action letter yang mengizinkan Paxos menguji layanan penyelesaian transaksi saham AS berbasis blockchain. Program percontohan tersebut kemudian resmi diluncurkan pada Februari 2020. Menurut Paxos, hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pasca-perdagangan berbasis blockchain mampu menghadirkan penyelesaian transaksi pada hari yang sama (same-day settlement), menekan biaya operasional, serta meningkatkan efisiensi proses tanpa mengabaikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Co-founder sekaligus CEO Paxos, Charles Cascarilla, menyatakan bahwa registrasi sebagai clearing agency merupakan hasil dari kerja sama yang telah terjalin selama tujuh tahun dengan SEC. Upaya tersebut dimulai dari penerbitan no-action letter pada 2019 hingga pelaksanaan program percontohan bersama sejumlah institusi keuangan terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Selain dikenal sebagai penyedia infrastruktur blockchain, Paxos juga merupakan penerbit berbagai aset digital dan stablecoin, termasuk PayPal USD (PYUSD), Global Dollar (USDG), dan Pax Gold (PAXG). Meski demikian, hubungan Paxos dengan SEC tidak selalu berjalan mulus. Pada masa kepemimpinan mantan Ketua SEC Gary Gensler, perusahaan ini sempat menerima Wells Notice pada 2023. Saat itu, SEC berencana merekomendasikan tindakan penegakan hukum terkait penerbitan Binance USD (BUSD), stablecoin yang terhubung dengan bursa kripto Binance dan dianggap sebagai sekuritas yang belum terdaftar. Pada periode yang sama, New York Department of Financial Services (NYDFS) juga memerintahkan Paxos untuk menghentikan pencetakan token BUSD baru. Namun, investigasi SEC terhadap perusahaan tersebut akhirnya ditutup pada 2024 melalui pemberitahuan resmi yang menyatakan bahwa tidak akan ada tindakan penegakan hukum lebih lanjut. Paxos juga berhasil menyelesaikan permasalahan regulasinya dengan NYDFS melalui kesepakatan senilai 48,5 juta dolar AS pada Agustus 2025 terkait isu kepatuhan yang melibatkan Binance dan BUSD. Persetujuan terbaru dari SEC ini menjadi tonggak penting bagi Paxos sekaligus menunjukkan semakin besarnya pengakuan regulator terhadap potensi teknologi blockchain dalam mendukung infrastruktur pasar keuangan modern. Bagi industri aset digital, langkah ini dapat menjadi sinyal positif bahwa integrasi antara sistem keuangan tradisional dan teknologi blockchain terus berkembang ke arah yang lebih matang. Kunjungi Komunitas Crypto untuk mendapatkan informasi, wawasan, dan perkembangan terbaru mengenai dunia aset digital serta teknologi blockchain.
Bitcoin Masuki Fase Pendinginan di Bawah $75 Ribu Saat Distribusi Aktif Meningkat

Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan setelah turun di bawah level $75.000 pada Rabu dan menyentuh area sekitar $72.500. Penurunan ini memunculkan berbagai sinyal distribusi aktif yang mengindikasikan meningkatnya tekanan jual di pasar. Meski potensi koreksi lebih dalam menuju kisaran $60.000 hingga $70.000 masih terbuka, sejumlah data onchain menunjukkan bahwa investor jangka panjang masih mempertahankan keyakinan mereka terhadap Bitcoin. Tekanan Pasar Meningkat Setelah Bitcoin Turun ke $72.500 Analis kripto CryptoOnChain menyebut penurunan Bitcoin dipicu oleh melemahnya permintaan spot dan posisi long derivatif yang dinilai sudah terlalu tinggi. Salah satu indikator utama adalah Coinbase Premium Index yang mencatat deviasi -1.083% dibanding rata-rata tiga bulan terakhir. Angka ini menjadi salah satu diskon terdalam sejak 2025. Perbedaan harga tersebut menunjukkan trader Amerika Serikat menjual Bitcoin dengan harga lebih rendah dibanding pasar offshore. Dalam sejarah pasar kripto, kondisi seperti ini sering muncul pada periode distribusi besar dibanding sekadar koreksi biasa. Binance Ikut Catat Lonjakan Tekanan Jual Tekanan jual juga terlihat meningkat di Binance. Netflow Bitcoin di exchange tersebut rata-rata mencapai +1.496 BTC dalam tujuh hari terakhir atau naik sekitar 528% di atas rata-rata tiga bulanan. Kondisi ini menandakan semakin banyak Bitcoin yang dipindahkan ke exchange, yang biasanya dikaitkan dengan potensi aksi jual. Selain itu, data futures Binance juga memperlihatkan funding rate melonjak 781% di atas rata-rata tiga bulan sebelum Bitcoin kehilangan level $75.000. Di saat yang sama, total likuidasi pasar kripto mencapai $935 juta hanya dalam satu hari, sementara kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar $41 miliar. Aktivitas Wallet Besar Menunjukkan Distribusi Data onchain juga menunjukkan peningkatan arus keluar dari wallet besar. Alamat Bitcoin yang memegang antara 100 BTC hingga 10.000 BTC mencatat outflow mencapai 648.000 BTC, tertinggi sejak Februari lalu. Lonjakan perpindahan aset dari wallet besar ini biasanya menjadi tanda distribusi atau pengurangan eksposur terhadap pasar. Meski demikian, kondisi saat ini dinilai masih berbeda dibanding aksi jual besar pada Oktober 2025 dan Februari 2026. Holder Jangka Panjang Masih Bertahan Salah satu sinyal positif datang dari holder jangka panjang Bitcoin. Saat ini, investor jangka panjang menguasai sekitar 84,3% total suplai Bitcoin yang beredar. Persentase tersebut setara dengan periode ketika harga BTC berada di kisaran $105.000 hingga $126.000 pada kuartal ketiga 2025. Berbeda dengan koreksi sebelumnya, wallet lama tidak terlihat melakukan distribusi agresif selama penurunan harga kali ini. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar investor jangka panjang masih melihat area harga saat ini sebagai peluang akumulasi, bukan momen panik untuk menjual aset. Volume Spot Bitcoin Mengalami Penurunan Tajam Analis pasar Darkfost juga menyoroti penurunan volume perdagangan spot Bitcoin. Volume spot Binance turun drastis menjadi $36,4 miliar dari sebelumnya $198,6 miliar pada Oktober 2025, atau turun sekitar 81%. Sementara itu, volume spot bulanan Bitcoin yang sempat berada di sekitar $84 miliar pada Februari kini kembali turun sekitar $50 miliar dalam tiga bulan terakhir. Penurunan volume spot biasanya mengurangi tekanan jual langsung karena semakin sedikit aset yang aktif berpindah tangan di pasar. Situasi serupa juga pernah terjadi menjelang akhir bear market 2023 sebelum volatilitas dan kekuatan tren kembali meningkat. Realized Loss Menurun, Tanda Kapitulasi Melemah Data realized loss Bitcoin juga menunjukkan tren penurunan. Rata-rata realized loss 30 hari turun menjadi sekitar $12,85 juta pada 26 Mei, jauh lebih rendah dibanding $56 juta pada 19 Februari. Angka ini menunjukkan semakin sedikit investor yang menjual Bitcoin dalam kondisi rugi. Penurunan realized loss biasanya mengindikasikan bahwa tekanan kapitulasi mulai melemah meskipun harga masih berada dalam fase koreksi. Pasar Bitcoin Masih Menunggu Arah Selanjutnya Saat ini pasar Bitcoin terlihat memasuki fase pendinginan setelah reli panjang sebelumnya. Tekanan jual jangka pendek memang meningkat, terutama dari trader derivatif dan melemahnya permintaan spot. Namun di sisi lain, holder jangka panjang masih menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek Bitcoin. Kondisi ini membuat pasar berada dalam fase yang cukup sensitif, di mana investor terus memantau apakah Bitcoin mampu mempertahankan area support penting atau justru mengalami koreksi lebih dalam dalam beberapa minggu ke depan. Kunjungi Portal Crypto untuk mendapatkan update terbaru seputar Bitcoin, analisis pasar kripto, data onchain, dan perkembangan industri blockchain global.
Komisioner SEC Bela Teknologi Privasi Kripto dari Dorongan Pengawasan Berlebihan

Komisioner Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat, Hester Peirce, menyatakan bahwa privasi finansial semakin kurang dihargai dalam regulasi modern. Ia juga memperingatkan agar teknologi privasi kripto tidak selalu dipandang sebagai alat kriminalitas. Dalam pidatonya di Georgetown Law pada Rabu, Peirce menegaskan bahwa teknologi peningkat privasi atau privacy-enhancing technologies merupakan bagian sah dari infrastruktur keuangan modern, termasuk berbagai alat berbasis kriptografi yang berkembang di industri blockchain. Hester Peirce Nilai Privasi Finansial Tetap Penting Hester Peirce yang juga memimpin Crypto Task Force SEC mengatakan bahwa perlindungan privasi tidak bertentangan dengan keamanan nasional. Menurutnya, pemerintah memang perlu memiliki kemampuan untuk mengejar pelaku kejahatan, tetapi masyarakat juga berhak melindungi informasi pribadi mereka, termasuk data keuangan. Peirce menilai teknologi privasi justru dapat membantu pengguna melindungi diri dari: Hacker Penipu digital Kebocoran data Penyalahgunaan informasi finansial Ia menolak anggapan bahwa perkembangan teknologi privasi harus dijadikan alasan bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas warga. SEC Dorong Pengembang Privacy Tools Berdialog Dalam pidatonya, Peirce juga mendorong pengembang teknologi privasi untuk berkomunikasi langsung dengan SEC melalui Crypto Task Force. Ia membuka peluang diskusi terkait bagaimana privacy tools tetap dapat mendukung kepatuhan terhadap regulasi seperti: Know Your Customer (KYC) Anti-Money Laundering (AML) Pernyataan tersebut dinilai cukup penting karena selama ini banyak proyek privasi kripto menghadapi tekanan regulasi akibat kekhawatiran terkait pencucian uang dan aktivitas ilegal. Privasi Kembali Jadi Perdebatan Besar di Industri Kripto Privasi sebenarnya sudah lama menjadi salah satu fungsi utama cryptocurrency. Beberapa proyek seperti Monero dan Zcash bahkan dibangun khusus untuk menyembunyikan data transaksi dan identitas pengguna. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai teknologi privasi kembali memanas. Pendukung privacy tools berpendapat bahwa teknologi tersebut penting untuk melindungi pengguna dari: Pengawasan massal Serangan siber Eksploitasi data pribadi Sementara itu, pihak regulator khawatir teknologi privasi dapat dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal seperti pencucian uang atau pendanaan kejahatan. Uni Eropa Juga Mulai Perketat Aturan Privasi Kripto Perdebatan serupa juga terjadi di Uni Eropa. Regulator Eropa saat ini tengah membahas aturan AML baru yang dijadwalkan mulai berlaku pada 2027. Dalam rancangan aturan tersebut, institusi keuangan dan penyedia layanan aset kripto dilarang menyediakan akun anonim maupun mendukung cryptocurrency berbasis privasi. Konsultan hukum European Crypto Initiative, Anja Blaj, mengatakan bahwa mempertahankan akses terhadap aset digital berfokus privasi telah menjadi “perjuangan terus-menerus” antara industri kripto dan regulator. Industri Blockchain Tetap Kembangkan Teknologi Privasi Meski menghadapi tekanan regulasi, perusahaan blockchain tetap aktif mengembangkan solusi privasi baru. Blockchain Aptos baru-baru ini memperkenalkan stablecoin privat yang dirancang agar perusahaan dapat melakukan transaksi onchain tanpa membuka data treasury, arus pembayaran, maupun strategi perdagangan kepada kompetitor. Sementara itu, Polygon juga meluncurkan fitur private stablecoin payments untuk institusi sebagai bagian dari upaya mendorong adopsi transaksi blockchain di sektor perusahaan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap privasi digital masih menjadi bagian penting dalam evolusi industri blockchain global. Privasi dan Regulasi Diperkirakan Akan Terus Bertabrakan Pernyataan Hester Peirce mencerminkan semakin besarnya perdebatan mengenai batas antara privasi pengguna dan pengawasan regulator di era aset digital. Di satu sisi, pemerintah ingin memastikan sistem keuangan tidak digunakan untuk aktivitas ilegal. Namun di sisi lain, pengguna dan perusahaan teknologi juga menuntut perlindungan data pribadi yang lebih kuat. Perdebatan ini kemungkinan akan terus berkembang seiring semakin luasnya penggunaan blockchain, stablecoin, dan layanan keuangan berbasis kripto dalam kehidupan sehari-hari. Kunjungi portal blockchain untuk mendapatkan update terbaru seputar regulasi kripto, teknologi privasi blockchain, dan perkembangan industri aset digital global.
Kraken Luncurkan Bitcoin Vault untuk Hasilkan Yield bagi Holder BTC

Exchange kripto Kraken resmi meluncurkan produk Bitcoin vault non-kustodian yang memungkinkan pengguna memperoleh imbal hasil tahunan sebesar 2,5% dari kepemilikan Bitcoin mereka. Produk baru ini menjadi bagian dari ekspansi layanan yield Kraken di tengah meningkatnya minat investor terhadap produk penghasil passive income berbasis aset kripto. Kraken Hadirkan Produk Bitcoin Yield Non-Kustodian Kraken memperkenalkan layanan terbaru tersebut pada Rabu dengan dukungan infrastruktur yield kripto dari perusahaan Veda. Menurut Veda, produk ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih sederhana bagi pemilik Bitcoin tanpa harus menghadapi proses teknis rumit seperti wrapping aset, memindahkan token antar jaringan, atau mengelola wallet kripto secara manual. Kraken menyebut banyak holder Bitcoin menginginkan cara mudah untuk memperoleh imbal hasil dari aset yang memang mereka simpan dalam jangka panjang. Direktur produk Kraken Earn, John Zettler, mengatakan bahwa permintaan terhadap layanan penghasil yield untuk Bitcoin terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Deposit Bitcoin Tembus $30 Juta dalam 10 Jam Minat investor terhadap produk baru Kraken terlihat sangat tinggi sejak hari pertama peluncuran. Sekitar 10 jam setelah resmi diluncurkan, Veda mengungkapkan bahwa Bitcoin Vault Kraken berhasil mengumpulkan deposit Bitcoin senilai lebih dari $30 juta. Dana tersebut berasal dari sekitar 4.000 wallet unik yang ikut menggunakan layanan baru tersebut. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pasar masih memiliki minat besar terhadap produk passive income berbasis Bitcoin, terutama yang menawarkan kemudahan penggunaan dan sistem non-kustodian. Mengapa Produk Yield Bitcoin Masih Terbatas? Berbeda dengan blockchain seperti Ethereum atau Solana yang mendukung staking dan berbagai mekanisme DeFi, jaringan Bitcoin sebenarnya tidak memiliki fitur bawaan untuk menghasilkan yield. Karena itu, pengembangan produk penghasil imbal hasil berbasis Bitcoin selama ini cenderung lebih terbatas dibanding aset kripto lain. Meski demikian, meningkatnya permintaan investor membuat banyak perusahaan mulai mencari solusi alternatif agar Bitcoin tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Cara Kerja Bitcoin Vault Kraken Produk Kraken Earn BTC Vault menghasilkan yield dengan mengonversi Bitcoin pengguna menjadi Kraken Wrapped Bitcoin (kBTC), yaitu token yang merepresentasikan harga Bitcoin di jaringan lain. Setelah dikonversi, aset tersebut akan dialokasikan oleh platform Sentora ke berbagai protokol lending kripto seperti: Aave Morpho Tydro Melalui proses tersebut, pengguna bisa memperoleh imbal hasil dari aktivitas pinjam-meminjam aset digital di ekosistem decentralized finance (DeFi). Sistem Non-Kustodian Jadi Nilai Tambah Salah satu fitur utama layanan baru Kraken adalah model non-kustodian. Artinya, pengguna tetap memiliki kendali penuh atas aset mereka dan hanya pemilik wallet yang dapat menarik atau memindahkan dana. Namun, Kraken menyebut proses penarikan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hari. Selain itu, penyedia layanan juga akan mengambil biaya performa sebesar 25% dari total reward yang diperoleh pengguna. Produk Yield Kraken Terus Berkembang Sebelumnya pada Januari lalu, Kraken juga meluncurkan tiga produk yield stablecoin. Sejak diluncurkan pada 26 Januari, ketiga produk tersebut berhasil mengumpulkan dana pelanggan sekitar $245 juta dan menghasilkan lebih dari $2,2 juta yield bagi pengguna. Ekspansi ini menunjukkan bahwa Kraken semakin agresif memperluas layanan passive income berbasis aset digital di tengah meningkatnya persaingan industri exchange kripto. Produk Passive Income Kripto Semakin Diminati Dalam beberapa tahun terakhir, investor kripto semakin tertarik pada produk yang memungkinkan aset digital menghasilkan pendapatan tambahan. Selain staking dan lending, berbagai platform kini berlomba menghadirkan layanan yield berbasis Bitcoin yang selama ini dikenal lebih pasif dibanding blockchain lain. Meski menawarkan potensi keuntungan tambahan, investor tetap perlu memahami berbagai risiko yang terkait dengan produk DeFi dan lending kripto, termasuk risiko smart contract, volatilitas pasar, serta keamanan platform. Kunjungi Berita Blockchain untuk mendapatkan update terbaru seputar Bitcoin, DeFi, exchange kripto, dan perkembangan industri aset digital global.
Mengapa ABA Khawatir Stablecoin Berbunga Bisa Menguras Simpanan Bank AS?

Perdebatan mengenai stablecoin kini tidak lagi sekadar membahas teknologi blockchain atau aset digital. Fokus utama mulai bergeser ke dampaknya terhadap sistem keuangan tradisional, khususnya industri perbankan Amerika Serikat. American Bankers Association (ABA) memperingatkan bahwa stablecoin yang menawarkan imbal hasil atau yield berpotensi menarik dana masyarakat keluar dari rekening bank konvensional. Jika kondisi ini terjadi dalam skala besar, kemampuan bank dalam menyalurkan kredit dan menjaga likuiditas bisa ikut terdampak. Stablecoin Berubah dari Alat Pembayaran Menjadi Produk Investasi Pada awal kemunculannya, stablecoin dirancang sebagai versi digital dari mata uang fiat yang digunakan untuk pembayaran, trading, dan settlement di ekosistem kripto. Namun situasinya berubah ketika stablecoin mulai menawarkan imbal hasil kepada penggunanya. Ketika stablecoin berbasis dolar AS mampu memberikan return seperti rekening tabungan atau money market account, aset tersebut mulai dianggap sebagai alternatif penyimpanan dana, bukan sekadar alat transaksi digital. Menurut ABA, perubahan inilah yang menjadi ancaman utama bagi bank tradisional. Nasabah yang sebelumnya menyimpan dana di rekening tabungan kini bisa mulai membandingkan keuntungan antara bank dan stablecoin. Jika stablecoin menawarkan return lebih tinggi sekaligus kemudahan transaksi digital, sebagian dana masyarakat berpotensi berpindah ke ekosistem aset digital. Mengapa Simpanan Bank Sangat Penting? Bank sangat bergantung pada simpanan nasabah untuk menjalankan bisnisnya. Dana yang disimpan masyarakat di rekening tabungan maupun deposito biasanya digunakan bank untuk menyalurkan pinjaman kepada individu dan perusahaan. Semakin stabil dan murah biaya simpanan tersebut, semakin mudah bank menyediakan kredit untuk ekonomi. Jika dana masyarakat mulai keluar dari bank menuju stablecoin, bank kemungkinan harus mencari sumber pendanaan lain yang lebih mahal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa membuat biaya kredit meningkat atau mengurangi jumlah pinjaman yang tersedia. Inilah alasan utama ABA menganggap stablecoin berbunga sebagai potensi ancaman bagi sistem perbankan. Stablecoin Dinilai Semakin Kompetitif ABA menilai stablecoin kini tidak hanya menawarkan potensi imbal hasil, tetapi juga berbagai keunggulan teknologi. Beberapa kelebihan stablecoin antara lain: Transfer lebih cepat Akses transaksi 24 jam Integrasi dengan layanan keuangan berbasis blockchain Kemudahan perpindahan dana lintas platform Seiring perkembangan teknologi, perpindahan dana dari rekening bank ke stablecoin diperkirakan akan semakin mudah dilakukan. Kombinasi antara return dan fleksibilitas digital inilah yang dinilai dapat meningkatkan risiko migrasi dana dari bank tradisional. Jenis Simpanan yang Paling Rentan Tidak semua jenis rekening bank memiliki tingkat risiko yang sama terhadap persaingan stablecoin. ABA menilai rekening yang fokus pada pencarian imbal hasil seperti: Rekening tabungan Money market account Dana besar tanpa perlindungan asuransi lebih berpotensi berpindah ke stablecoin dibanding rekening transaksi harian biasa. Nasabah dengan dana besar umumnya lebih sensitif terhadap perubahan tingkat bunga dan cenderung memindahkan dana ke instrumen dengan return lebih menarik. Meski rekening giro diperkirakan masih relatif stabil dalam jangka pendek, perkembangan stablecoin dapat meningkatkan tekanan terhadap jenis rekening tersebut di masa depan. Bank Kecil Dinilai Paling Rentan Terdampak ABA juga menyoroti bahwa dampak stablecoin kemungkinan tidak akan dirasakan secara merata. Bank besar biasanya memiliki akses lebih luas terhadap pasar modal dan sumber pendanaan alternatif. Sebaliknya, bank komunitas dan bank kecil sangat bergantung pada simpanan nasabah lokal. Jika terjadi arus keluar dana meskipun dalam jumlah terbatas, bank kecil bisa mengalami tekanan lebih besar dalam menyediakan pinjaman untuk bisnis lokal maupun rumah tangga. Karena itu, ABA menilai stablecoin berbunga bukan hanya persoalan teknologi baru, tetapi juga berpotensi memengaruhi distribusi kredit dalam ekonomi. Pemerintah AS Menilai Dampaknya Mungkin Terbatas Meski ABA menyampaikan kekhawatiran besar, tidak semua pihak sepakat dengan pandangan tersebut. Beberapa pembuat kebijakan menilai dampak stablecoin terhadap sistem perbankan kemungkinan jauh lebih kecil dibanding yang diperkirakan industri perbankan. Analisis dari White House Council of Economic Advisers menyebut bahwa pembatasan imbal hasil stablecoin hanya akan meningkatkan pinjaman bank sekitar $2,1 miliar atau setara 0,02% dari total kredit nasional. Menurut pandangan ini, dana yang digunakan untuk mendukung stablecoin sebenarnya tidak benar-benar keluar dari sistem keuangan. Cadangan stablecoin umumnya tetap disimpan dalam bentuk deposito bank atau surat utang pemerintah jangka pendek seperti US Treasury. Artinya, uang tersebut masih tetap berada dalam sistem finansial secara keseluruhan. Perbedaan Pandangan ABA dan Pemerintah Perbedaan pendapat antara ABA dan pemerintah AS berasal dari cara mereka melihat sistem keuangan. ABA lebih fokus pada pentingnya stabilitas sumber pendanaan bank, khususnya bagi bank kecil dan komunitas lokal. Sementara itu, pemerintah lebih melihat dampak secara keseluruhan terhadap sistem keuangan nasional. Pemerintah menilai perpindahan dana ke stablecoin tidak otomatis mengurangi total likuiditas ekonomi secara signifikan. Regulasi Stablecoin Mulai Jadi Sorotan Perdebatan mengenai stablecoin berbunga kini mulai memengaruhi pembahasan regulasi di Amerika Serikat. Beberapa proposal undang-undang bahkan berupaya membatasi atau melarang stablecoin pembayaran memberikan bunga kepada pengguna. Tujuannya adalah menjaga perbedaan antara rekening bank tradisional dan stablecoin sebagai alat pembayaran digital. ABA juga mendorong aturan yang lebih ketat untuk mencegah stablecoin menawarkan imbal hasil secara tidak langsung melalui program afiliasi atau insentif tertentu. Regulator kini dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana mengatur stablecoin tanpa menghambat inovasi teknologi finansial. Stablecoin Bisa Mengubah Cara Orang Menyimpan Uang Bagi ABA, stablecoin berbunga menjadi titik penting yang dapat mengubah hubungan masyarakat dengan sistem perbankan. Jika sebelumnya stablecoin hanya digunakan sebagai alat transfer atau trading, kini aset tersebut mulai berkembang menjadi alternatif penyimpanan dana yang kompetitif. Perkembangan ini membuat batas antara uang digital dan produk investasi semakin kabur. Di masa depan, pertanyaan utamanya bukan lagi hanya bagaimana stablecoin bekerja, tetapi juga apakah masyarakat akan mulai lebih memilih menyimpan uang mereka di ekosistem blockchain dibanding rekening bank tradisional. Masa Depan Perbankan dan Stablecoin Masih Terbuka Stablecoin diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan blockchain dalam sistem keuangan global. Meski demikian, masih belum jelas apakah stablecoin benar-benar akan mengganggu sistem perbankan tradisional dalam skala besar. Sebagian pihak melihat stablecoin sebagai ancaman terhadap model bisnis bank, sementara yang lain menganggap dampaknya terhadap ekonomi secara keseluruhan akan tetap terbatas. Yang pasti, perkembangan stablecoin kini mulai memaksa regulator, bank, dan pelaku industri keuangan untuk memikirkan ulang bagaimana masyarakat menyimpan dan menggunakan uang di era digital. Kunjungi Info Kripto untuk mendapatkan update terbaru seputar stablecoin, regulasi aset digital, dan perkembangan industri blockchain global.