Blockped

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Pasar investasi global kembali berada di persimpangan kritis seiring dengan memanasnya tensi geopolitik. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, prospek Bitcoin justru kian menguat dengan harganya yang kokoh bertahan di atas level krusial US$75.000.

Masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington, dengan peluang perpanjangan yang terbilang sangat tipis. Ketegangan memuncak pasca penyitaan kapal kargo Iran oleh AS pada akhir pekan lalu, disusul insiden baku tembak di Selat Hormuz—menjadikannya hari paling bergejolak di perairan tersebut sejak krisis bermula. Merespons keengganan AS untuk mencabut blokade laut, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 18 April dan menegaskan penolakannya terhadap negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.

Pergeseran Paradigma: Dari Aset Berisiko ke Pelindung Inflasi

Secara teori, eskalasi konflik berskala besar semacam ini seharusnya menekan laju aset berisiko. Namun, Bitcoin justru menampilkan anomali pola pergerakan. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (22/4) pukul 06.50 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$76.050, mencatatkan kenaikan harian sebesar 0,32%.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai ketahanan ini sebagai sinyal kematangan pasar yang patut diperhitungkan. Ia mengamati adanya pola konsisten: ancaman perang besar dan blokade militer saat ini hanya mampu menekan harga aset kripto dalam rentang waktu yang singkat, sebelum akhirnya lonjakan permintaan bersih kembali terjadi.

“Posisi Bitcoin telah semakin bergeser menjadi inflation hedge (lindung nilai terhadap inflasi), setelah sebelumnya lebih banyak dipersepsikan sebagai risk-on asset,” papar Fahmi dalam keterangan resminya, Selasa (21/4/2026).

Level US$75.000 kini menjadi titik tumpu strategis yang diawasi ketat oleh pelaku pasar. Stabilitas harga di atas batas ini dinilai mampu membuka jalan bagi tren kenaikan lanjutan yang lebih organik dan berkesinambungan.

Dorongan Kuat dari Akumulasi Institusional

Ketahanan harga ini tidak lepas dari dukungan fundamental berupa structural demand—yakni permintaan institusional yang terstruktur dan konsisten.

Sebagai contoh, perusahaan raksasa Strategy tercatat memborong 34.164 BTC pada kisaran harga rata-rata US$74.395 per BTC antara 13-19 April. Total nilai akuisisi mencapai sekitar US$2,54 miliar, menjadikannya pembelian terbesar ketiga dalam sejarah entitas tersebut. Langkah masif ini menyusul pembelian pekan sebelumnya sebanyak 13.927 BTC senilai US$1 miliar.

“Melihat kondisi keuangan dan kapasitas capital raising Strategy saat ini, akumulasi tersebut kemungkinan masih akan berlanjut meski mungkin dalam jumlah yang lebih moderat. Ini menciptakan tekanan beli yang stabil dan terus menekan suplai beredar, membuat Bitcoin semakin langka di tengah peningkatan adopsi,” jelas Fahmi.

Strategi Investasi di Tengah Gejolak

Fahmi menyoroti bahwa ini merupakan eskalasi keempat dalam pusaran konflik AS-Israel versus Iran yang berhasil diserap oleh pasar kripto sejak konflik meletus, dengan pola tekanan jual yang kian melemah.

Di tengah bayang-bayang inflasi global akibat ancaman lonjakan harga minyak bumi, Bitcoin semakin diandalkan sebagai instrumen penjaga nilai kekayaan dari depresiasi mata uang fiat. Hal ini menjadi sangat relevan bagi investor di Indonesia, mengingat tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut.

Menurutnya, investor yang mengintegrasikan aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum ke dalam portofolio mereka memiliki potensi meraih rasio risk/reward yang lebih menguntungkan di tengah situasi makroekonomi saat ini.

“Bagi yang baru memulai, strategi DCA (Dollar Cost Averaging) atau membeli secara rutin dalam jumlah terukur tetap menjadi pendekatan paling prudent (bijak). Strategi ini berfokus pada fundamental jangka panjang, bukan fluktuasi harian yang dipicu sentimen berita,” saran Fahmi.

Ia meyakini, jika supply shock jangka panjang benar-benar terbentuk akibat kombinasi kelangkaan pasokan dan adopsi yang meluas, nilai fundamental dari aset digital ini memiliki potensi apresiasi yang sangat signifikan di masa mendatang.

Untuk mendapatkan update terkini, Anda dapat membaca Info Seputar Crypto yang kami sajikan lengkap dan terpercaya melalui beranda website Blockped.

Picture of pediadmin

pediadmin