Skip to main content

Blockped

Bitcoin Gagal Tembus US$ 80.000, Tertahan Sentimen Global

Bitcoin Gagal Tembus US$ 80.000, Tertahan Sentimen Global

Pasar Kripto Tertekan Ketidakpastian Global, Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000 Laju harga Bitcoin kembali mengalami hambatan setelah sebelumnya nyaris menyentuh level psikologis US$80.000 pada pertengahan pekan lalu. Memasuki akhir pekan, pasar kripto secara keseluruhan mencatatkan pelemahan seiring dengan meningkatnya ketidakpastian makroekonomi global yang memicu sikap hati-hati di kalangan investor. Berdasarkan data pasar pada Minggu (26/4/2026) pagi, harga Bitcoin terpantau turun ke level US$77.542. Pelemahan ini turut menyeret turun **kapitalisasi pasar kripto** global sebesar 1,07% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,59 triliun. Koreksi harga ini merupakan imbas dari kombinasi tekanan geopolitik, penguatan makroekonomi tradisional, dan gelombang likuidasi di pasar berjangka. Dihantam Sentimen Makro dan Geopolitik Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memaparkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia dan menguatnya nilai tukar dolar AS telah secara efektif menekan selera risiko investor terhadap aset berisiko. Situasi semakin diperkeruh oleh munculnya gesekan baru antara Amerika Serikat dan China terkait perebutan dominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). “Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Setelah sempat menembus level US$79.000, harga dengan cepat berbalik arah dan melemah ke kisaran di bawah US$78.000,” jelas Fyqieh, Jumat (24/4/2026). Pembalikan arah yang tiba-tiba ini memicu efek domino berupa likuidasi paksa berskala besar di pasar derivatif, dengan total posisi yang hangus ditaksir mencapai US$278 juta. Tekanan jual masif dari proses likuidasi inilah yang mempercepat laju kejatuhan harga dalam jangka pendek. Altcoin Tumbang, Dominasi Bitcoin Menguat Tren negatif ini tidak hanya dialami oleh Bitcoin. Sejumlah altcoin utama turut terseret ke zona merah. Ethereum (ETH) terkoreksi dari rekor tertingginya pekan ini, sementara XRP tertahan kokoh di bawah level resistensi. Aset kripto populer lainnya seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin juga mencatatkan rapor merah. Menariknya, di tengah pelemahan pasar secara luas, dominasi Bitcoin (BTC dominance) justru merangkak naik hingga menyentuh kisaran 60%. Hal ini mengindikasikan adanya manuver investor yang memindahkan dana mereka dari altcoin ke Bitcoin, yang dinilai sebagai aset pertahanan (defensive asset) yang lebih aman saat pasar sedang goyah. Tekanan tambahan juga datang dari ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Peluang pengesahan CLARITY Act pada tahun 2026 dilaporkan semakin menipis akibat perbedaan pandangan di kongres, yang pada gilirannya mengikis kepercayaan institusi terhadap kerangka hukum aset digital. Fokus Selanjutnya: FOMC dan Aksi Jual Miner Meski tengah berada dalam tekanan, fondasi pasar dinilai masih cukup kuat. Fyqieh menyebut pelemahan ini sebagai fase konsolidasi yang wajar setelah reli panjang, didorong oleh aksi ambil untung (profit-taking) dari trader jangka pendek. “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level dukungan kuat US$75.000, peluang pemulihan masih terbuka lebar,” tambahnya. Namun, tren kenaikan yang lebih berkelanjutan dinilai membutuhkan dorongan likuiditas baru dan partisipasi ritel yang lebih masif untuk menjaga pergerakan di area kunci US$78.000 hingga US$83.000. Ke depan, para pelaku pasar kini memfokuskan perhatian pada rapat komite kebijakan moneter AS atau FOMC yang dijadwalkan pada 28-29 April. Keputusan The Fed terkait arah suku bunga akan menjadi penentu utama pergerakan pasar. Selain itu, tingginya aktivitas penjualan Bitcoin oleh para penambang (miner) baru-baru ini juga menjadi faktor risiko tambahan yang berpotensi membatasi ruang kenaikan harga jika tidak segera diserap oleh permintaan baru. Untuk memperluas wawasan Anda, jangan lewatkan Info Kripto terbaru yang kami sajikan secara lengkap dan selalu terupdate melalui beranda website Blockped.

Whale Bitcoin Borong Aset Saat Harga Mendekati $80.000

Pergerakan harga Bitcoin yang semakin mendekati $80.000 diiringi oleh aksi akumulasi besar dari para investor kelas kakap (whale). Platform analisis sentimen kripto Santiment melaporkan bahwa para pemegang utama Bitcoin tengah meningkatkan kepemilikan mereka secara signifikan dalam dua minggu terakhir. Santiment mencatat bahwa wallet dengan kepemilikan antara 10 hingga 10.000 BTC telah menambah sekitar 40.967 BTC sejak 10 April, dengan nilai mencapai lebih dari $3 miliar. Sementara itu, harga Bitcoin sempat menyentuh $79.327 sebelum terkoreksi ke kisaran $77.000-an. Sinyal Kuat Menuju Bull Run Jangka Panjang? Menariknya, di saat investor besar terus mengakumulasi, investor ritel justru menunjukkan kecenderungan berbeda. Wallet kecil (di bawah 0,1 BTC) hanya menambah sekitar 46 BTC dalam periode yang sama. Menurut Santiment, kombinasi di mana whale terus membeli sementara investor ritel mulai mengambil keuntungan merupakan salah satu sinyal paling kuat untuk potensi bull run jangka panjang. Pola ini sebelumnya sering muncul sebelum kenaikan harga yang lebih besar. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Andre Dragosch dari Bitwise, yang menilai bahwa permintaan dari investor institusional kini semakin meningkat. Sentimen Pasar Mulai Berubah Dalam beberapa hari terakhir, sentimen terhadap Bitcoin berubah drastis. Dari kondisi pesimis di awal pekan, pasar kini bergerak menuju fase FOMO (fear of missing out). Namun, secara keseluruhan, kondisi pasar kripto masih belum sepenuhnya optimistis. Indeks Crypto Fear & Greed masih berada di zona “Fear” dengan skor 39, yang menunjukkan bahwa sebagian investor masih berhati-hati. Level $80.000 Jadi Penentu Santiment menilai bahwa jika Bitcoin berhasil menembus $80.000 — level yang belum terlihat sejak akhir Januari — hal tersebut bisa menjadi pemicu meningkatnya minat trader secara signifikan. Meski begitu, kenaikan yang terlalu cepat dalam kondisi euforia tinggi juga berisiko memicu koreksi jangka pendek. Oleh karena itu, kenaikan yang lebih stabil dan bertahap dinilai lebih sehat untuk membentuk tren naik yang berkelanjutan. Potensi Lanjut ke $86.000 Beberapa analis melihat ruang kenaikan yang masih terbuka. Pendiri MN Trading Capital, Michael van de Poppe, menyebut bahwa Bitcoin masih berpotensi naik hingga $86.000. Namun, ia mengingatkan bahwa level $75.000 harus tetap dipertahankan sebagai support agar momentum kenaikan tidak hilang. Untuk mendapatkan insight pasar dan pergerakan aset digital terbaru, kamu juga bisa mengikuti berbagai Info Seputar Crypto yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.

Komputer Kuantum Berhasil Retas Kunci Kriptografi 15-bit

Sebuah terobosan di bidang komputasi kuantum kembali memicu perdebatan di komunitas kripto. Perusahaan riset keamanan kuantum Project Eleven memberikan penghargaan kepada peneliti Giancarlo Lelli setelah berhasil memecahkan kunci kriptografi elliptic curve berukuran 15-bit. Eksperimen ini menggunakan komputer kuantum dengan pendekatan berbasis variasi dari Shor’s algorithm, yang memungkinkan Lelli menurunkan private key dari public key. Metode ini merupakan versi sederhana dari sistem yang juga digunakan dalam Bitcoin, meskipun Bitcoin sendiri menggunakan kunci yang jauh lebih kompleks, yaitu 256-bit. Masih Jauh dari Ancaman Nyata, Tapi Jarak Mulai Menyempit Meskipun keberhasilan ini hanya terjadi pada skala kecil, para peneliti menilai bahwa jarak antara kemampuan komputer kuantum saat ini dan kebutuhan untuk meretas sistem kriptografi modern mulai berkurang. CEO Project Eleven, Alex Pruden, menyatakan bahwa kebutuhan sumber daya untuk melakukan serangan semacam ini terus menurun, sehingga hambatan teknis untuk menerapkannya di dunia nyata juga semakin kecil. Eksperimen ini disebut sebagai demonstrasi publik terbesar sejauh ini dalam upaya memecahkan kunci berbasis ECDSA, yang saat ini melindungi aset kripto bernilai hingga triliunan dolar. Perdebatan: Ancaman Dekat atau Masih Lama? Komunitas kripto masih berbeda pendapat terkait seberapa cepat ancaman ini akan menjadi nyata. Diperkirakan sekitar $450 miliar Bitcoin yang tersimpan di alamat lama berpotensi lebih rentan, karena public key-nya sudah terekspos. Beberapa analis memperkirakan bahwa industri memiliki waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk bersiap menghadapi potensi ancaman ini. Namun, pandangan lain lebih konservatif. CEO Blockstream, Adam Back, menyebut bahwa teknologi komputasi kuantum saat ini masih dalam tahap eksperimen dan belum siap menjadi ancaman nyata dalam waktu dekat. Meski begitu, ia tetap menyarankan agar industri mulai mempersiapkan solusi kriptografi tahan kuantum sejak sekarang. Efisiensi Komputer Kuantum Mulai Meningkat Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa komputer kuantum mungkin membutuhkan lebih sedikit unit komputasi (qubit) daripada yang sebelumnya diperkirakan untuk menembus sistem kriptografi modern. Hal ini menambah urgensi bagi industri untuk mulai beradaptasi lebih cepat. Untuk memahami lebih jauh perkembangan teknologi dan dampaknya pada industri aset digital, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Crypto terbaru yang kami sajikan secara akurat dan terpercaya.

Sinyal Perubahan Tren Bitcoin Muncul, Tapi Butuh Konfirmasi di Atas $80.000

Bitcoin kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah sempat berjuang di level $78.000. Para pelaku pasar kini melihat peluang perubahan tren, meskipun konfirmasi kuat masih dibutuhkan, khususnya jika harga mampu bertahan di atas $80.000. Beberapa faktor mulai mendukung sentimen positif ini, mulai dari struktur pasar yang membaik, masuknya dana institusional ke ETF Bitcoin spot, hingga optimisme bahwa regulasi seperti CLARITY Act akan disahkan sebelum pemilu paruh waktu di AS. Aliran Dana Institusional Perkuat Support Dari sisi institusi, aliran dana baru membantu membangun area support yang lebih kuat di kisaran $68.000 hingga $70.000. Sepanjang April, ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk dana sebesar $2,03 miliar. Selain itu, Strategy membeli 34.000 BTC senilai $2,54 miliar, sementara Morgan Stanley melalui ETF MSBT yang baru diluncurkan berhasil menarik lebih dari $153 juta dalam dua minggu pertama. Analis ETF dari Bloomberg, Eric Balchunas, menyebut bahwa arus dana ke ETF Bitcoin kini kembali berada dalam kondisi sangat positif. Ia mencatat bahwa hampir semua periode pengamatan menunjukkan tren inflow yang konsisten, sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, CIO Bitwise, Matt Hougan, memberikan perspektif berbeda. Ia menilai bahwa minat institusi sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, hanya melambat, sementara arus keluar sebelumnya lebih dipicu oleh trader jangka pendek. Level $80.000 Jadi Penentu Arah Selanjutnya Meski Bitcoin sempat naik hingga sekitar $79.000, para analis sepakat bahwa harga perlu menutup candle harian secara konsisten di atas $80.000 hingga $83.000 untuk memastikan perubahan tren yang valid. Analis teknikal Aksel Kibar mencatat bahwa pola channel pada grafik semakin jelas, dengan beberapa kali penolakan di batas atas. Sementara itu, Fidelity melalui direktur global makro Jurrien Timmer melihat pergerakan saat ini masih bisa dikategorikan sebagai pola bear flag. Namun, ia juga menilai bahwa Bitcoin sedang membangun fondasi kuat untuk potensi kenaikan besar berikutnya. Data Orderbook Tunjukkan Optimisme Terlepas dari sinyal teknikal yang masih beragam, data orderbook menunjukkan adanya peningkatan minat beli. Platform analisis TRDR mencatat bahwa pembeli mulai menaikkan posisi bid mereka di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa “lantai harga” Bitcoin perlahan naik, dengan fokus utama pasar saat ini tertuju pada level psikologis $80.000 sebagai penentu arah selanjutnya. Untuk mendapatkan update terkini dan analisis mendalam seputar pergerakan pasar kripto, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Bockchain yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.

Industri Kripto Desak AS Segera Sahkan RUU Struktur Pasar Digital

Lebih dari 120 organisasi yang terkait dengan industri kripto dan blockchain mendesak para legislator di Amerika Serikat untuk segera melanjutkan pembahasan undang-undang terkait struktur pasar aset digital. Dalam surat yang ditujukan kepada Komite Perbankan Senat AS, organisasi seperti Crypto Council for Innovation dan Blockchain Association meminta agar pembahasan CLARITY Act segera dilanjutkan ke tahap berikutnya. Mereka menilai regulasi ini penting untuk menciptakan kerangka hukum yang jelas dan menyeluruh bagi industri kripto di tingkat federal. RUU tersebut sebelumnya telah lolos dari Dewan Perwakilan Rakyat pada Juli 2025, namun hingga kini masih tertunda di Senat. Penundaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk shutdown pemerintah serta perdebatan terkait isu seperti imbal hasil (yield) stablecoin. Risiko Kehilangan Daya Saing Global Dalam surat tersebut, para pelaku industri menekankan bahwa keterlambatan regulasi dapat membuat Amerika Serikat tertinggal dari negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan kerangka hukum kripto yang komprehensif. Mereka memperingatkan bahwa tanpa kepastian regulasi, potensi investasi, lapangan kerja, dan inovasi teknologi bisa berpindah ke luar negeri. Oleh karena itu, keberadaan regulasi yang jelas dinilai krusial untuk menjaga daya saing AS di sektor aset digital. Proses Legislasi Masih Tertunda Komite Perbankan Senat yang dipimpin oleh Tim Scott sebelumnya menunda pembahasan lanjutan RUU ini pada Januari. Penundaan tersebut terjadi tak lama setelah CEO Coinbase, Brian Armstrong, menyatakan bahwa pihaknya belum bisa mendukung versi RUU yang ada saat ini. Sejak saat itu, perwakilan dari industri kripto dan perbankan terus berdiskusi dengan pembuat kebijakan untuk mencari solusi, khususnya terkait pengaturan yield stablecoin. Hingga saat ini, belum ada jadwal baru yang diumumkan untuk pembahasan lanjutan. Bahkan, Senator Thom Tillis mengusulkan agar proses tersebut ditunda hingga Mei guna memberi waktu tambahan untuk mencapai kesepakatan. Dukungan Luas dari Industri Surat ini ditandatangani oleh berbagai pelaku industri, termasuk platform seperti Kraken serta organisasi seperti Texas Blockchain Council dan Solana Policy Institute. Sebelumnya, organisasi advokasi The Digital Chamber juga telah mendesak agar pembahasan RUU segera dijadwalkan kembali, mengingat waktu legislasi yang semakin terbatas. Isu Stablecoin Masih Jadi Perdebatan Di sisi lain, American Bankers Association meminta tambahan waktu 60 hari kepada regulator untuk memberikan masukan terkait aturan stablecoin dalam kerangka regulasi GENIUS. Jika disetujui, permintaan ini berpotensi memperlambat implementasi regulasi secara keseluruhan. Untuk mengikuti perkembangan kebijakan dan tren terbaru di industri aset digital, kamu juga bisa mengakses berbagai Portal Crypto yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.

Volume Taker Ether Naik 72%, Trader Bidik Area $2.600

Ethereum menunjukkan sinyal bullish setelah aktivitas pembelian di pasar derivatif meningkat signifikan. Dalam sepekan terakhir, volume taker buy melonjak tajam, menandakan dominasi pembeli yang semakin kuat dan membuka peluang kelanjutan tren naik. Di Binance, volume taker bersih dalam 24 jam mencapai sekitar $5,5 miliar, naik 72% dibanding awal bulan yang berada di kisaran $3,2 miliar. Indikator ini mengukur selisih antara order beli dan jual di market, sehingga mencerminkan siapa yang lebih dominan dalam pergerakan harga. Rata-rata 30 hari untuk metrik ini juga tetap berada di zona positif sejak 1 Maret, kembali ke level yang terakhir terlihat pada Juli 2022. Hal ini menunjukkan tekanan beli yang konsisten dari pelaku pasar. Analis kripto Amr Taha menjelaskan bahwa lonjakan pembelian di dekat level harga tinggi biasanya mencerminkan keyakinan kuat dari trader. Selama permintaan ini bertahan, arah harga jangka pendek cenderung tetap dikuasai oleh pembeli. Resistance $2.400 Jadi Kunci Menuju Zona Likuiditas Saat ini, harga ETH bergerak di bawah level resistance $2.400, yang sudah tiga kali diuji sejak awal Februari. Setiap penolakan di level ini secara bertahap mengurangi tekanan jual di atasnya. Jika harga berhasil menembus level tersebut secara meyakinkan, maka potensi kenaikan terbuka menuju area $2.475 hingga $2.634. Zona ini dikenal sebagai fair value gap, yaitu area yang terbentuk saat harga bergerak cepat tanpa banyak transaksi, sehingga menyisakan likuiditas yang belum terisi. Dalam kondisi seperti ini, harga sering kali kembali ke area tersebut untuk menyeimbangkan pergerakan pasar. Dukungan Indikator Teknikal dan Derivatif ETH juga sedang berusaha menembus garis 100-day exponential moving average (EMA), yang sering menjadi indikator lanjutan tren. Jika harga mampu bertahan di atas level ini, peluang reli lanjutan akan semakin kuat. Sementara itu, EMA 200 hari bergerak mendekati area atas zona likuiditas di sekitar $2.634, menciptakan pertemuan sinyal teknikal yang penting. Dari sisi derivatif, data cumulative volume delta (CVD) terus meningkat hingga mendekati $12,6 miliar, sementara funding rate masih relatif netral. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak didorong oleh leverage berlebihan, melainkan oleh permintaan riil dari pasar. Keseimbangan ini menjaga potensi kenaikan tetap sehat, dengan area $2.475 hingga $2.634 menjadi fokus utama dalam jangka pendek. Untuk terus mengikuti perkembangan harga dan analisis pasar kripto terbaru, kamu juga bisa membaca berbagai Info Kripto yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.

New York dan Illinois Larang Pegawai Negara Ikut Prediction Market

Gubernur New York, Kathy Hochul, resmi menandatangani perintah eksekutif yang melarang pegawai negara bagian terlibat dalam aktivitas prediction market. Kebijakan ini menyusul langkah serupa yang lebih dulu diambil oleh Gubernur Illinois, JB Pritzker. Hochul menegaskan bahwa memanfaatkan informasi internal untuk meraih keuntungan pribadi merupakan bentuk korupsi. Ia juga menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan memastikan pejabat publik bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan demi keuntungan pribadi. Selain itu, Hochul mengkritik pemerintahan Donald Trump dan anggota Kongres dari Partai Republik karena dinilai belum menetapkan standar etika yang jelas untuk mencegah praktik insider trading di prediction market. Popularitas Naik, Risiko Ikut Meningkat Prediction market sendiri tengah mengalami pertumbuhan pesat. Volume perdagangan bulanan terus meningkat selama tujuh bulan berturut-turut dan mencapai rekor baru sekitar $23,6 miliar pada Maret. Platform ini memungkinkan pengguna “bertaruh” pada berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari olahraga, politik, hingga kondisi ekonomi. Namun, pertumbuhan cepat ini juga diiringi kekhawatiran terkait manipulasi pasar dan penyalahgunaan informasi rahasia. Sebagai respons, Illinois menerapkan aturan ketat yang melarang pegawai negara: Menggunakan informasi non-publik untuk trading Membantu pihak lain memanfaatkan informasi tersebut Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga transparansi dan integritas pemerintahan. Dugaan Insider Trading Picu Kekhawatiran Keputusan ini juga dipicu oleh beberapa kasus mencurigakan di prediction market. Salah satunya melibatkan trader yang memasang taruhan dengan probabilitas rendah terkait jatuhnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, lalu memperoleh keuntungan besar ketika peristiwa itu benar-benar terjadi. Kasus lain mencakup transaksi mencurigakan terkait konflik geopolitik, seperti invasi Iran dan isu terkait pemimpin tertingginya. Perintah eksekutif dari New York menegaskan bahwa pelanggaran aturan ini dapat berujung pada pemecatan hingga tindakan hukum. Selain itu, pegawai juga dilarang membantu orang lain memanfaatkan informasi rahasia untuk keuntungan di prediction market. Industri dan Regulasi Masih Beradaptasi Di sisi lain, platform prediction market juga mulai mengambil langkah untuk mengatasi isu ini. Misalnya, Kalshi dilaporkan pernah melarang seorang kandidat politik karena bertaruh pada hasil pemilihannya sendiri. Langkah New York dan Illinois ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas, di mana berbagai negara bagian di AS mulai memperketat pengawasan terhadap prediction market, yang selama ini berada di wilayah abu-abu antara investasi dan perjudian. Untuk mengikuti perkembangan regulasi dan tren terbaru di industri aset digital, kamu juga bisa membaca berbagai Berita Crypto yang kami sajikan secara up-to-date dan terpercaya.

Apa Itu Blockchain dan Bagaimana Teknologi Ini Mengubah Dunia Digital

Apa Itu Blockchain dan Bagaimana Teknologi Ini Mengubah Dunia Digital

Saat ini, kebocoran data pribadi sangat sering terjadi di internet. Sistem server terpusat terbukti rentan terhadap peretasan siber. Privasi pengguna internet dunia semakin terancam bahaya nyata. Jika dibiarkan, kerugian finansial global akan terus membengkak tajam. Manipulasi data dapat menghancurkan bisnis Anda secara instan. Kepercayaan publik terhadap transaksi digital perlahan akan hancur lebur. Teknologi pencatatan mutakhir hadir sebagai solusi yang revolusioner. Sangat penting memahami apa itu blockchain saat ini. Temukan literasi terbaik bersama portal blockchain andalan Anda, Blockped. Memahami Fondasi Dasar dan Konsep Desentralisasi Data Banyak orang awam masih bingung mengenai teknologi mutakhir ini. Padahal, inovasi ini mengubah struktur digital secara fundamental. Mari bedah konsep sistem terdistribusi ini secara perlahan. Sejarah Singkat Inovasi Satoshi Nakamoto Semuanya bermula dari ide brilian seorang tokoh anonim. Sosok bernama Satoshi Nakamoto merilis whitepaper pada tahun 2008. Dokumen tersebut menjadi cikal bakal lahirnya aset Bitcoin. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem keuangan tanpa otoritas perantara. Ia ingin masyarakat bertransaksi langsung secara peer-to-peer. Inilah awal mula revolusi desentralisasi finansial dunia. Mengenal Konsep Buku Besar Terdistribusi Sistem ini berfungsi layaknya buku kas digital publik. Bedanya, buku catatan ini tidak disimpan di satu tempat. Salinan data disebarkan ke seluruh perangkat di dunia. Konsep buku besar terdistribusi ini sangat transparan. Siapa saja dapat melihat riwayat transaksi yang terjadi. Namun, tidak ada satu pihak pun yang bisa mengubahnya. Tabel Perbandingan Sistem Tradisional vs Inovasi Baru Membedakan sistem terpusat dengan terdesentralisasi sebenarnya cukup mudah. Tabel komparasi di bawah merangkum perbedaan arsitektur utamanya. Pahami matriks ini untuk wawasan teknis yang lebih dalam. Fitur Utama Database Tradisional (Terpusat) Teknologi Blockchain (Terdesentralisasi) Kontrol Dipegang oleh satu entitas pusat Dikelola oleh seluruh anggota jaringan Keamanan Rentan serangan titik tunggal (SPOF) Sangat aman dengan enkripsi tinggi Transparansi Tertutup untuk pihak internal saja Terbuka dan bisa diverifikasi publik Perbedaan Blockchain dan Crypto Banyak orang masih menyamakan kedua istilah teknis ini. Faktanya, mereka memiliki fungsi yang sangat berbeda. Memahami perbedaannya mencegah Anda dari kesalahan fatal. Infrastruktur Jaringan vs Aset Digital Blockchain adalah buku besar digital yang mencatat data. Ia bertindak sebagai jalan raya sistem digital. Anda tidak bisa memperjualbelikan jalan raya ini. Di sisi lain, crypto adalah kendaraan di jalan tersebut. Ia merupakan aset digital yang memiliki nilai ekonomi. Aset inilah yang sering diperdagangkan oleh publik. Relasi Keduanya di Era Web3 Mata uang kripto tidak bisa hidup tanpa jaringannya. Jaringan mencatat setiap pergerakan koin dengan sangat presisi. Keduanya membentuk ekosistem keuangan terdesentralisasi yang utuh. Mekanisme Kerja dan Proses Validasi Blok Setelah paham konsep dasarnya, kita harus melihat cara kerjanya. Proses ini melibatkan banyak perangkat komputer di seluruh dunia. Mari kita bedah alur validasi transaksi secara teknis. Bagaimana cara kerja blockchain? Setiap kali transaksi terjadi, data dikumpulkan ke dalam blok. Blok ini memiliki kapasitas memori yang sangat terbatas. Setelah blok penuh, sistem harus memvalidasi data tersebut. Node atau komputer dalam jaringan akan saling berkomunikasi. Mereka memastikan pengirim memiliki saldo yang cukup. Jika valid, blok baru akan ditambahkan ke rantai sebelumnya. Pentingnya Protokol Konsensus Jaringan Sistem tanpa pemimpin membutuhkan aturan baku untuk sepakat. Aturan inilah yang disebut sebagai konsensus jaringan. Ia mencegah adanya transaksi ganda atau penipuan digital. Seluruh node harus setuju dengan status buku besar terbaru. Mekanisme ini memastikan desentralisasi data berjalan sempurna. Tanpa konsensus, jaringan akan mengalami kekacauan fatal. Peran Penambang dan Validator Jaringan Dalam proses ini, kita mengenal istilah penambang (miner). Mereka mendedikasikan daya komputasi tinggi untuk mengamankan jaringan. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan aset kripto baru. Menurut laporan dari World Economic Forum, validator sangat krusial. Mereka adalah tulang punggung dari keamanan jaringan global. Kinerja mereka menjaga integritas seluruh riwayat transaksi. Peran Penting Kriptografi Tingkat Lanjut Keamanan sistem ini tidak bergantung pada tembok pelindung fisik. Ia murni menggunakan ilmu matematika dan sandi yang kompleks. Inilah yang membuatnya sangat kebal terhadap manipulasi. Mengapa blockchain aman digunakan? Jawaban utamanya terletak pada penggunaan fungsi hash kriptografi. Setiap blok memiliki sidik jari digital yang unik. Jika satu huruf diubah, sidik jari akan berubah total. Perubahan ini akan otomatis memutus rantai blok selanjutnya. Seluruh jaringan akan langsung menolak blok yang dimanipulasi tersebut. Ini membuat peretasan data menjadi sangat tidak rasional. Sistem Kunci Publik dan Kunci Privat Keamanan akun pengguna dijaga oleh sepasang kunci digital. Konsep kriptografi asimetris ini merupakan standar keamanan tingkat militer. Kunci publik berfungsi seperti nomor rekening bank Anda. Sementara kunci privat adalah PIN rahasia untuk mengakses dana. Anda tidak boleh memberikan kunci privat kepada siapa pun. Jika hilang, aset Anda tidak akan bisa kembali. Spesifikasi Algoritma Enkripsi SHA-256 Pada jaringan Bitcoin, enkripsi yang digunakan adalah SHA-256. Algoritma ini mengubah input data menjadi kode 64 karakter. Proses ini bersifat satu arah dan tidak bisa dibalikkan. Mesin peretas tercanggih pun butuh ribuan tahun memecahkannya. Kompleksitas komputasi inilah yang menjamin keamanan aset digital. Ini adalah standar emas dalam dunia kriptografi modern. Evolusi Menuju Ekosistem Web3 Baru Teknologi ini tidak lagi sekadar tentang uang digital. Ia telah berevolusi menjadi fondasi internet masa depan. Kita sedang memasuki era internet yang sepenuhnya baru. Transformasi Menuju Internet Terdesentralisasi Era baru ini populer dengan sebutan Web3. Ini adalah internet yang dimiliki oleh penggunanya sendiri. Tidak ada lagi monopoli data oleh perusahaan teknologi raksasa. Sebagai penyedia Info Seputar Crypto, Blockped mendukung transisi ini. Kami percaya pengguna harus mengontrol aset dan data mereka. Desentralisasi mengembalikan privasi kepada masyarakat luas. Keajaiban Teknologi Smart Contract Inovasi terpenting setelah aset digital adalah penemuan kontrak pintar. Smart contract adalah program komputer yang berjalan secara otomatis. Program ini mengeksekusi perintah jika syarat tertentu terpenuhi. Ia menghilangkan kebutuhan akan notaris atau pengacara perantara. Proses bisnis menjadi lebih cepat, murah, dan akurat. Potensi penggunaannya mencakup asuransi hingga logistik rantai pasok. Integrasi dengan Berbagai Platform Modern Teknologi ini memungkinkan terciptanya sistem pasar prediksi yang akurat. Anda bisa melihatnya beroperasi di berbagai platform Prediction Market terkini. Semua transaksi dicatat transparan tanpa campur tangan bandar. Selain itu, ia melahirkan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Layanan pinjam meminjam kini tidak lagi butuh persetujuan bank. Inovasi ini membuka akses finansial bagi miliaran manusia. Cara Kerja Coin Crypto Setiap koin kripto beroperasi dengan logika algoritma murni. Ia tidak dicetak oleh otoritas bank sentral mana pun. Pergerakannya ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Dinamika Supply dan

Pasar Prediksi Jadi Senjata Baru untuk Mendorong Pertumbuhan Coinbase dan Robinhood

Pasar Prediksi Jadi Senjata Baru untuk Mendorong Pertumbuhan Coinbase dan Robinhood

Analis dari Cantor Fitzgerald mengungkapkan bahwa pasar saat ini mulai mengabaikan lesunya tren perdagangan kripto dan mengalihkan fokus pada peluncuran produk baru. Inovasi seperti prediction markets (pasar prediksi) kini dipandang sebagai motor penggerak pertumbuhan berikutnya bagi Coinbase dan Robinhood. Abaikan Penurunan Volume Kuartal Pertama Para investor tampaknya memaklumi proyeksi melemahnya kinerja pada kuartal pertama tahun 2026 dari Coinbase maupun Robinhood. Penurunan ini dipicu oleh koreksi harga kripto dan melambatnya aktivitas perdagangan. Sepanjang kuartal tersebut, harga Bitcoin dan Ethereum masing-masing merosot sekitar 23% dan 29%. Aktivitas perdagangan di Coinbase juga terpantau melambat seiring berjalannya kuartal, turun dari sekitar US$66 miliar pada bulan Januari menjadi US$54 miliar di bulan Maret. Cantor Fitzgerald bahkan memproyeksikan volume perdagangan ritel dan institusional Coinbase masing-masing hanya mencapai US$35 miliar dan US$167 miliar—keduanya berada di bawah ekspektasi Wall Street. Prospek Jangka Panjang Tetap Positif Meskipun dihadapkan pada tekanan volume dan pendapatan jangka pendek, analis Cantor, Ramsey El-Assal, tetap mempertahankan peringkat “overweight” untuk kedua saham tersebut dan menaikkan target harganya. Target harga Coinbase dikerek menjadi US$250, sementara **Robinhood** menjadi US$110. Menurut El-Assal, investor kini lebih memprioritaskan tren permintaan masa depan dan peta jalan produk perusahaan, alih-alih meratapi laporan kuartalan yang bersifat melihat ke belakang (backward-looking). Robinhood sendiri juga menghadapi tekanan jangka pendek serupa dengan proyeksi penurunan volume perdagangan akibat kondisi pasar yang melunak, serta potensi penurunan margin bunga bersih. Namun, model bisnis perusahaan dinilai cukup tangguh. Eksekusi inisiatif baru seperti prediction markets, tokenisasi aset, dan akses ke pasar privat diyakini mampu menopang diversifikasi pendapatan di luar siklus perdagangan kripto yang volatil. Optimisme jangka panjang ini tecermin pada pergerakan saham keduanya baru-baru ini. Saham Coinbase tercatat naik sekitar 18% pada kuartal ini, sementara Robinhood melesat sekitar 40% di bulan April dari titik terendahnya di akhir Maret, didorong oleh membaiknya sentimen risiko dan meredanya ketegangan geopolitik. Bayang-bayang Gugatan Hukum Namun, langkah ekspansi produk baru ini bukan tanpa rintangan. Pada hari Selasa, Kejaksaan Agung New York (NYAG) resmi melayangkan gugatan terhadap Coinbase dan bursa kripto Gemini terkait layanan prediction markets mereka. NYAG menuding bahwa produk tersebut pada dasarnya adalah bentuk perjudian terselubung yang melanggar regulasi negara bagian. Status legalitas prediction markets—terutama yang berkaitan dengan tebakan hasil olahraga—kini tengah menjadi perdebatan sengit di pengadilan tingkat negara bagian dan federal AS. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) berpendapat bahwa produk ini termasuk dalam kategori swaps sehingga harus diatur dan diawasi oleh lembaga federal. Di sisi lain, pemerintah negara bagian bersikeras bahwa kontrak olahraga tersebut bukanlah swaps dan harus mematuhi lisensi serta pengawasan otoritas lokal. Perselisihan yurisdiksi yang kompleks ini diperkirakan akan berujung dan diputuskan di Mahkamah Agung AS. Sebagai sumber terpercaya, Anda juga bisa mengakses Berita Crypto terbaru yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Pasar investasi global kembali berada di persimpangan kritis seiring dengan memanasnya tensi geopolitik. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, prospek Bitcoin justru kian menguat dengan harganya yang kokoh bertahan di atas level krusial US$75.000. Masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington, dengan peluang perpanjangan yang terbilang sangat tipis. Ketegangan memuncak pasca penyitaan kapal kargo Iran oleh AS pada akhir pekan lalu, disusul insiden baku tembak di Selat Hormuz—menjadikannya hari paling bergejolak di perairan tersebut sejak krisis bermula. Merespons keengganan AS untuk mencabut blokade laut, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 18 April dan menegaskan penolakannya terhadap negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Pergeseran Paradigma: Dari Aset Berisiko ke Pelindung Inflasi Secara teori, eskalasi konflik berskala besar semacam ini seharusnya menekan laju aset berisiko. Namun, Bitcoin justru menampilkan anomali pola pergerakan. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (22/4) pukul 06.50 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$76.050, mencatatkan kenaikan harian sebesar 0,32%. Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai ketahanan ini sebagai sinyal kematangan pasar yang patut diperhitungkan. Ia mengamati adanya pola konsisten: ancaman perang besar dan blokade militer saat ini hanya mampu menekan harga aset kripto dalam rentang waktu yang singkat, sebelum akhirnya lonjakan permintaan bersih kembali terjadi. “Posisi Bitcoin telah semakin bergeser menjadi inflation hedge (lindung nilai terhadap inflasi), setelah sebelumnya lebih banyak dipersepsikan sebagai risk-on asset,” papar Fahmi dalam keterangan resminya, Selasa (21/4/2026). Level US$75.000 kini menjadi titik tumpu strategis yang diawasi ketat oleh pelaku pasar. Stabilitas harga di atas batas ini dinilai mampu membuka jalan bagi tren kenaikan lanjutan yang lebih organik dan berkesinambungan. Dorongan Kuat dari Akumulasi Institusional Ketahanan harga ini tidak lepas dari dukungan fundamental berupa structural demand—yakni permintaan institusional yang terstruktur dan konsisten. Sebagai contoh, perusahaan raksasa Strategy tercatat memborong 34.164 BTC pada kisaran harga rata-rata US$74.395 per BTC antara 13-19 April. Total nilai akuisisi mencapai sekitar US$2,54 miliar, menjadikannya pembelian terbesar ketiga dalam sejarah entitas tersebut. Langkah masif ini menyusul pembelian pekan sebelumnya sebanyak 13.927 BTC senilai US$1 miliar. “Melihat kondisi keuangan dan kapasitas capital raising Strategy saat ini, akumulasi tersebut kemungkinan masih akan berlanjut meski mungkin dalam jumlah yang lebih moderat. Ini menciptakan tekanan beli yang stabil dan terus menekan suplai beredar, membuat Bitcoin semakin langka di tengah peningkatan adopsi,” jelas Fahmi. Strategi Investasi di Tengah Gejolak Fahmi menyoroti bahwa ini merupakan eskalasi keempat dalam pusaran konflik AS-Israel versus Iran yang berhasil diserap oleh pasar kripto sejak konflik meletus, dengan pola tekanan jual yang kian melemah. Di tengah bayang-bayang inflasi global akibat ancaman lonjakan harga minyak bumi, Bitcoin semakin diandalkan sebagai instrumen penjaga nilai kekayaan dari depresiasi mata uang fiat. Hal ini menjadi sangat relevan bagi investor di Indonesia, mengingat tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut. Menurutnya, investor yang mengintegrasikan aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum ke dalam portofolio mereka memiliki potensi meraih rasio risk/reward yang lebih menguntungkan di tengah situasi makroekonomi saat ini. “Bagi yang baru memulai, strategi DCA (Dollar Cost Averaging) atau membeli secara rutin dalam jumlah terukur tetap menjadi pendekatan paling prudent (bijak). Strategi ini berfokus pada fundamental jangka panjang, bukan fluktuasi harian yang dipicu sentimen berita,” saran Fahmi. Ia meyakini, jika supply shock jangka panjang benar-benar terbentuk akibat kombinasi kelangkaan pasokan dan adopsi yang meluas, nilai fundamental dari aset digital ini memiliki potensi apresiasi yang sangat signifikan di masa mendatang. Untuk mendapatkan update terkini, Anda dapat membaca Info Seputar Crypto yang kami sajikan lengkap dan terpercaya melalui beranda website Blockped.