BIS Beri Peringatan: Stablecoin Dolar AS Berpotensi Beri Tekanan pada Bank dan Kebijakan

Manajer Umum Bank for International Settlements (BIS), Pablo Hernández de Cos, pada hari Senin menyerukan perlunya koordinasi global yang lebih komprehensif terkait regulasi stablecoin. Ia memperingatkan bahwa token kripto berbasis dolar AS berpotensi membawa “dampak material” terhadap kebijakan ekonomi dan stabilitas keuangan jika pertumbuhannya dibiarkan membesar hingga menyaingi mata uang fiat konvensional. Saat berbicara dalam sebuah seminar Bank of Japan di Tokyo, de Cos menyoroti bahwa infrastruktur stablecoin saat ini belum memenuhi standar sebagai alat pembayaran yang aman untuk masyarakat luas, meskipun menawarkan kecepatan transfer lintas negara dan integrasi smart contract. Menurutnya, stablecoin dolar AS dengan kapitalisasi terbesar seperti USDT dan USDC justru memiliki karakteristik yang lebih menyerupai produk investasi—seperti Exchange-Traded Funds (ETF)—ketimbang uang tunai. Hal ini terindikasi dari beberapa faktor: Adanya biaya tebusan dan persyaratan khusus di pasar primer. Fluktuasi harga yang kerap melenceng dari nilai acuan fiatnya di pasar sekunder. Mengingat penerbit stablecoin menyimpan aset cadangan dalam bentuk deposito bank dan utang pemerintah jangka pendek, de Cos memperingatkan bahwa struktur ini rentan memicu risiko penarikan dana massal (bank run) dan efek domino. Dalam situasi krisis, penarikan dana besar-besaran dari stablecoin dapat memaksa penjualan aset cadangan secara masif ke pasar yang sudah rapuh, yang pada akhirnya memindahkan tekanan likuiditas tersebut langsung ke sektor perbankan. Lebih lanjut, ia menyoroti penggunaan blockchain publik tanpa izin dan dompet non-kustodian (unhosted wallets). Hal ini membuat sebagian besar aktivitas transaksi kripto beroperasi di luar radar pengawasan standar untuk pencucian uang (AML) dan pendanaan terorisme (CFT). Tanpa adanya sistem pengamanan khusus pada titik konversi kripto-ke-fiat (on/off-ramps), stablecoin akan terus menjadi instrumen yang menarik bagi aktivitas ilegal. Eropa dan Berbagai Negara Mulai Perketat Pengawasan Peringatan dari BIS ini sejalan dengan langkah agresif para pembuat kebijakan di Eropa yang tengah mendorong pengawasan ketat terhadap stablecoin non-euro dan instrumen tokenisasi serupa. Awal bulan ini, Deputi Gubernur Pertama Bank of France, Denis Beau, mendesak Uni Eropa untuk memperluas aturan Markets in Crypto Assets (MiCA). Ia mengusulkan pembatasan penggunaan stablecoin non-euro untuk pembayaran sehari-hari serta memperketat aturan penerbitan koin demi mencegah celah arbitrase regulasi saat pasar sedang tertekan. Bank Sentral Eropa (ECB) dan negara-negara maju lainnya juga mulai mengkalibrasi ulang regulasi mereka: Inggris: Pada bulan Maret lalu, anggota House of Lords mencecar Coinbase terkait potensi stablecoin dalam menguras deposito bank komersial, memicu krisis runtuhnya bank seperti kasus Silicon Valley Bank, hingga memfasilitasi kejahatan finansial, seiring dengan persiapan pemerintah merampungkan regulasi token berbasis fiat. Swiss: Pada 8 April, UBS dan beberapa lembaga keuangan lokal telah meluncurkan uji coba stablecoin berbasis franc dalam lingkungan sandbox. Langkah ini diambil untuk mengeksplorasi pembayaran blockchain sekaligus memastikan instrumen tersebut tetap terikat kuat pada sistem keuangan tradisional yang diawasi ketat. Untuk terus mengikuti perkembangan regulasi keuangan global dan pergerakan aset digital terkini, pastikan Anda selalu menjadikan Portal Crypto kami sebagai rujukan utama yang menyajikan informasi terpercaya.
Strategy Beli 34.164 Bitcoin Senilai $2,5 Miliar, Total Kepemilikan Tembus 800.000 BTC

Pekan lalu, Strategy sukses memborong 34.164 Bitcoin senilai $2,54 miliar. Langkah ini tercatat sebagai pembelian BTC terbesar ketiga dalam sejarah perusahaan. Perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemegang Bitcoin publik terbesar di dunia, dengan total aset yang kini telah melampaui 800.000 BTC. Berdasarkan laporan 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada hari Senin, akumulasi puluhan ribu koin tersebut dilakukan antara tanggal 13 hingga 19 April. Secara volume koin, ini merupakan rekor akuisisi ketiga terbesar mereka, membuntuti rekor pembelian 55.500 BTC dan 51.780 BTC pada November 2024 lalu. Setelah mengantongi sekitar 780.897 BTC dari transaksi senilai $1 miliar seminggu sebelumnya, portofolio perusahaan kini resmi mencapai 815.061 BTC dengan total modal pembelian sebesar $61,56 miliar. Pembelian terbaru ini dieksekusi di harga rata-rata $74.395 per koin, sedikit lebih rendah dibandingkan harga rata-rata historis perusahaan di angka $75.527. Michael Saylor sendiri telah memberikan isyarat mengenai aksi beli skala besar ini sejak hari Minggu. Selain itu, pada hari Jumat, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk membayarkan dividen dua kali sebulan untuk Stretch (STRC), sekuritas preferen abadi milik perusahaan. CEO Strategy, Phong Le, menyatakan, “Jika kami menerapkan pembayaran STRC secara semi-bulanan, kami akan masuk ke kategori utama sebagai satu-satunya sekuritas preferen di dunia yang membayarkan dividen dua kali dalam sebulan. Kami rasa terobosan ini sangat unik dan menarik.” Pendanaan STRC Dominasi 85% Pembelian Sama seperti beberapa aksi akuisisi sebelumnya, mayoritas pembelian Bitcoin terbaru ini didanai melalui STRC. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa STRC menyumbang sekitar $2,18 miliar atau sekitar 85,7% dari total dana pembelian. Sementara itu, sisa dana sebesar $366 juta didapatkan dari penjualan saham biasa Kelas A (MSTR). Pekan lalu juga menjadi momen bersejarah bagi STRC dengan terciptanya serangkaian rekor baru, termasuk rekor aksi beli harian terbesar perusahaan melalui program at-the-market (ATM). Pada 13 April, STRC mencetak rekor harian estimasi sebesar 7.741 BTC dari penjualan 11,9 juta saham via program ATM, yang menghasilkan volume perdagangan lebih dari $1 miliar. Rekor tersebut kembali pecah pada keesokan harinya dengan estimasi 9.364 BTC yang bersumber dari penjualan 14,4 juta saham melalui program yang sama. Jika digabungkan, pergerakan dalam dua hari tersebut menghasilkan sekitar 17.204 BTC, menandai lonjakan tajam sebesar 518% dibandingkan rata-rata pergerakan empat minggu sebelumnya. Sebagai referensi tambahan untuk memantau pergerakan pasar dan tren koin digital lainnya, pastikan Anda selalu mengikuti pembaruan Berita Crypto yang faktual dan terpercaya di platform kami.
5 Pernyataan Donald Trump yang Pernah Mempengaruhi Pergerakan Bitcoin, dan Alasan Potensi Terulangnya Dampak Tersebut Pekan Ini

Harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya terpantau semakin sensitif terhadap pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Unggahan di media sosial maupun pengumuman kebijakannya kepada pers kerap memicu fluktuasi harga yang tajam antara 5% hingga 12% hanya dalam hitungan menit. Fenomena ini semakin mengaburkan batas antara kebijakan negara dan manuver yang memengaruhi pasar. Sorotan Terhadap Potensi Manipulasi Pasar Kondisi ini memicu pengawasan ketat dari para pembuat undang-undang, akademisi, dan pakar pasar. Mereka mempertanyakan apakah pergerakan harga yang sangat reaktif ini dimanfaatkan untuk praktik perdagangan orang dalam (insider trading). Sebuah studi dari University of Oxford Faculty of Law menyoroti adanya ayunan tajam di pasar global menyusul perubahan cepat pada kebijakan tarif AS. Salah satu contohnya adalah ketika harga kripto dan saham anjlok usai pengumuman tarif baru, namun kembali melonjak setelah Trump menarik sebagian kebijakan tersebut beberapa hari kemudian. Dinamika maju-mundur yang kerap dijuluki efek “TACO” (Trump Again Chickens Out) ini dinilai menciptakan peluang keuntungan yang fantastis bagi pihak-pihak yang mungkin mengetahui informasi tersebut lebih awal. Kecurigaan ini semakin menguat ketika Trump mengunggah pesan berbunyi “INI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBELI!!” di Truth Social pada April 2025, sesaat sebelum penyesuaian tarif yang akhirnya melambungkan pasar. Insiden ini mendorong anggota parlemen, termasuk Senator Adam Schiff, untuk menuntut penyelidikan terkait manipulasi pasar. Meskipun tidak ada bukti konklusif bahwa Trump atau pemerintahannya melanggar undang-undang sekuritas demi keuntungan pribadi, transaksi skala besar yang waktunya sangat akurat terus memicu perdebatan. Sebuah episode dari CBC’s Front Burner pada bulan Maret menyoroti perdagangan berjangka minyak yang sangat menguntungkan tepat sebelum pengumuman militer terkait Iran. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Stephen Lynch, turut menyuarakan kekhawatiran serius mengenai potensi penyalahgunaan informasi keamanan nasional oleh pejabat pemerintah. 5 Momen Pernyataan Trump Mengguncang Bitcoin Berikut adalah lima momen krusial ketika pernyataan atau unggahan media sosial Trump memicu pergerakan ekstrem pada harga Bitcoin: 11 Juli 2019 — Sentimen Negatif Pertama: Dalam kritik terbuka pertamanya, Trump mencuit bahwa dirinya “bukan penggemar Bitcoin dan Kripto lainnya,” dan menyebut aset tersebut tidak berwujud. Harga BTC langsung anjlok 7,1% dalam waktu 45 menit. 3 Maret 2025 — Poros Cadangan Strategis: Usai kampanye pro-kripto, Trump mengonfirmasi via Truth Social bahwa “Cadangan Kripto Nasional Strategis” AS akan mencakup keranjang aset digital dengan Bitcoin sebagai pilar utama. BTC melonjak 8,2% dari US$84.000 menjadi lebih dari US$91.000 dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. 10 Oktober 2025 — Tarif 100% untuk China: Trump mengumumkan tarif impor 100% untuk semua produk China guna membalas kontrol ekspor logam tanah jarang (rare-earth). Bitcoin terjun bebas 12,4% dalam dua jam, jatuh dari rekor tertingginya di US$124.714 menuju US$102.000. Peristiwa ini memicu likuidasi senilai US$19,38 miliar yang menjadi rekor penyapuan pasar satu hari terbesar dalam sejarah kripto. 3 Maret 2026 — Pembelaan “Genius Act”: Mengkritik bank-bank Wall Street di Truth Social karena dianggap menjegal regulasi kripto (Genius Act dan Clarity Act), sentimen anti-bank ini direspons positif oleh pasar. Bitcoin naik 5,2% hanya dalam 10 menit ke level US$71.000, menyoroti kesiapan pemerintahannya untuk berhadapan dengan sistem keuangan tradisional. 14 April 2026 — Sinyal Pembicaraan Damai: Menyusul ketegangan dari blokade Selat Hormuz, Trump menyatakan bahwa Iran telah membuka komunikasi untuk pembicaraan damai. Dalam waktu 30 menit, Bitcoin melesat 6,2% dari US$70.000 ke kisaran US$75.000. Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi Lagi Pekan Ini? Pola volatilitas yang dipicu oleh pernyataan politik ini tampaknya akan terus berulang. Pada hari Jumat lalu, Bitcoin sempat meroket ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan dengan menembus US$78.000, usai Trump mengisyaratkan berakhirnya konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Namun, ketidakpastian segera membayangi. Pada Sabtu pagi, pihak militer Iran mengonfirmasi bahwa selat tersebut kembali ditutup, diwarnai laporan adanya kapal yang harus berputar arah atau mendapat tembakan peringatan. Akibatnya, sentimen pasar langsung berbalik, menghapus keuntungan yang diraih pada hari Jumat dan menarik Bitcoin kembali merosot ke bawah level US$76.000. Sebagai referensi tambahan, Anda juga dapat mengakses Portal Crypto kami untuk mendapatkan update terbaru dan terpercaya melalui beranda website Blockped.
Ekspansi Massal, TRIV Gandeng Indomaret Jual Voucher Kripto di 300 Ribu Gerai

Platform perdagangan aset kripto, TRIV Group, resmi mengumumkan kemitraan strategis dengan jaringan ritel raksasa, Indomaret. Kolaborasi perdana ini menghadirkan kemudahan bagi masyarakat luas untuk membeli Voucher TRIV secara langsung, sekaligus menjadi langkah esensial dalam mempercepat adopsi massal aset digital di Indonesia. Melalui jaringan distribusi Indomaret yang masif, masyarakat kini memiliki akses yang jauh lebih mudah dan praktis untuk mulai berinvestasi pada produk berbasis aset digital tanpa harus sepenuhnya bergantung pada ekosistem pembayaran online. Bawa Kripto Lebih Dekat ke Masyarakat Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder TRIV Group, Gabriel Rey, mengungkapkan bahwa inisiatif ini dirancang khusus untuk memecah hambatan akses (barrier to entry) dan mendekatkan dunia investasi kripto ke kehidupan sehari-hari masyarakat umum. “Melalui kerja sama eksklusif dengan Indomaret, Voucher TRIV kini telah tersedia di lebih dari 300.000 gerai di seluruh Indonesia,” jelas Gabriel dalam pernyataan resminya pada hari Senin (20/4/2026). Yang tak kalah penting, Gabriel menegaskan bahwa langkah distribusi voucher fisik di jaringan ritel ini telah sepenuhnya legal dan mengantongi lampu hijau dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan nomor surat persetujuan S-35/IK.11. Dorong Inklusi Keuangan dan Penerimaan Negara Kehadiran produk investasi kripto di rak-rak minimarket diharapkan mampu membawa efek domino yang positif. Selain meningkatkan literasi dan inklusi keuangan digital secara langsung, kemudahan ini diproyeksikan akan menarik minat demografi investor baru. Lebih lanjut, bertambahnya basis investor kripto di Tanah Air secara otomatis berpotensi mendongkrak kontribusi terhadap penerimaan negara, khususnya yang bersumber dari pajak transaksi aset digital. Prospek Jangka Panjang TRIV Group Sebagai informasi, TRIV bukanlah pemain baru di industri ini. Platform bursa kripto tersebut telah beroperasi sejak tahun 2015 dan kini terus melebarkan sayapnya. Dalam pengembangannya, TRIV Group telah merambah berbagai lini bisnis, mulai dari platform bursa (exchange), media, hingga ranah gaya hidup (lifestyle) di bawah bendera Rata Kanan Capital. Ke depannya, TRIV Group berkomitmen untuk terus memperluas ekosistem perusahaannya. Ekspansi ini ditargetkan mampu memperkuat konektivitas di dalam industri kripto nasional dan mewujudkan ekosistem investasi yang inklusif serta berkelanjutan Untuk menambah wawasan Anda, jangan lewatkan Komunitas Crypto kami yang aktif berbagi insight dan update terbaru melalui beranda website Blockped.
ETF Bitcoin Spot Catat Arus Masuk Hampir $1 Miliar Seiring Membaiknya Sentimen Risiko

Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot berhasil mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) mendekati $1 miliar selama sepekan terakhir. Pencapaian ini merupakan performa mingguan terkuat dalam tiga bulan terakhir, yang didorong oleh pergeseran sentimen pasar yang kembali meminati aset-aset berisiko. Berdasarkan data dari SoSoValue, ETF Bitcoin spot meraup total arus masuk bersih sebesar $996 juta pada pekan lalu. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal Januari, di mana arus masuk saat itu sempat menyentuh $1,4 miliar. Lonjakan terbesar terjadi pada hari Jumat dengan nilai $663,9 juta, disusul oleh hari Selasa ($411,5 juta), Rabu ($186 juta), dan Kamis ($26 juta), setelah sebelumnya sempat mengalami arus keluar (outflow) sebesar $291 juta di hari Senin. Hingga Jumat lalu, total aset bersih di seluruh produk ETF Bitcoin spot telah melampaui angka $101 miliar. Hal ini juga dibarengi dengan peningkatan tajam pada aktivitas perdagangan, dengan volume harian yang mendekati $4,8 miliar. Pasar Merespons Penurunan Ketegangan Geopolitik Menurut para analis dari Bitunix, pelaku pasar kini lebih merespons arah meredanya ketegangan geopolitik ketimbang memikirkan potensi eskalasi lanjutan. Sinyal de-eskalasi, khususnya terkait hubungan AS dan Iran, telah meminimalisir skenario risiko ekstrem dan menurunkan permintaan terhadap aset safe haven tradisional seperti dolar AS. Di sisi lain, bank sentral AS (The Fed) masih mengambil langkah kehati-hatian, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap terbatas. Kekhawatiran seputar tingginya imbal hasil jangka panjang dan utang AS perlahan mulai menggerus kepercayaan investor terhadap aset “bebas risiko”. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada dolar dan mendorong aliran dana masuk ke aset alternatif seperti Bitcoin. “Secara struktur pasar kripto, BTC saat ini berada dalam fase redistribusi likuiditas yang klasik,” ungkap para analis tersebut. Mereka menambahkan bahwa Bitcoin bergerak dalam rentang harga yang terukur, dengan titik support di sekitar $72.000 dan resistance di atas $75.000. Data likuidasi juga menunjukkan bahwa pasar sedang membangun zona keseimbangan baru alih-alih memperpanjang tren satu arah. Pembukaan Selat Hormuz Dorong Lonjakan Bitcoin Pada hari Jumat, Menteri Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka untuk jalur pelayaran komersial selama masa gencatan senjata, sebuah langkah yang langsung dikonfirmasi oleh Presiden AS, Donald Trump. Keputusan ini meredakan kepanikan terkait gangguan pasokan di salah satu jalur transit minyak paling krusial di dunia, yang memicu reaksi positif di pasar global. Menyusul kabar baik tersebut, harga Bitcoin melonjak tajam hingga menembus $77.000. Sebaliknya, harga minyak mentah Brent merosot sekitar 10% ke kisaran $85 per barel. Sebagai referensi tambahan, kami juga senantiasa menyediakan berbagai Info Kripto terupdate dan terpercaya. Pantau terus platform kami agar Anda selalu mendapatkan wawasan terbaru dan tidak tertinggal momentum penting di pasar aset digital!
Analis Moody’s: Stablecoin Belum Menjadi Ancaman bagi Bank dalam Waktu Dekat

Infrastruktur pembayaran yang sudah mapan di Amerika Serikat serta adanya larangan terhadap stablecoin yang memberikan imbal hasil (yield-bearing) membuat aset kripto ini diproyeksikan belum akan merebut pangsa pasar perbankan dalam waktu dekat. Dampak stablecoin terhadap sektor perbankan saat ini dinilai masih “terbatas”. Namun, seiring dengan membesarnya kapitalisasi pasar stablecoin dan tokenisasi Aset Dunia Nyata (Real-World Assets/RWA), bank kemungkinan akan menghadapi persaingan yang lebih ketat dan berisiko kehilangan pangsa pasarnya. Abhi Srivastava, Associate Vice President Moody’s Investors Service Digital Economy Group, mengungkapkan bahwa meskipun penggunaannya masih terbatas, kapitalisasi pasar stablecoin telah menembus angka $300 miliar pada akhir tahun lalu. Peranan stablecoin dalam transaksi pembayaran, perdagangan lintas negara, dan keuangan on-chain juga terus meluas, kendati sistem pembayaran tradisional di AS saat ini sudah tergolong cepat, murah, dan terpercaya. Lebih jauh, Srivastava memperingatkan bahwa dalam jangka panjang, adopsi stablecoin dan RWA (aset fisik atau tradisional yang ditokenisasi di blockchain) dapat memberikan “tekanan” nyata pada perbankan. Hal ini berpotensi memicu penarikan dana deposito dan menurunkan kapasitas pemberian pinjaman oleh bank. Kebijakan regulasi stablecoin kini menjadi isu panas antara para petinggi industri kripto dan sektor perbankan. Kekhawatiran bahwa stablecoin berbunga dapat menggerus porsi pasar bank telah menjadi batu sandungan utama bagi pengesahan RUU struktur pasar kripto CLARITY di Kongres AS. CLARITY Act Terhambat Akibat Penolakan Stablecoin Berbunga Digital Asset Market Clarity Act of 2025 (Undang-Undang CLARITY), yang dirancang sebagai kerangka regulasi komprehensif untuk menentukan taksonomi aset serta pengawasan pasar kripto, saat ini tengah terhenti di Kongres. Kebuntuan ini terjadi setelah sekelompok perusahaan kripto yang dipimpin oleh exchange Coinbase secara terbuka menentang draf awal rancangan undang-undang tersebut. Beberapa isu paling kontroversial yang disoroti oleh kubu penentang meliputi kurangnya perlindungan hukum bagi pengembang perangkat lunak open-source dan adanya larangan tegas terhadap stablecoin yang menghasilkan yield. Berbagai upaya negosiasi telah dilakukan oleh anggota parlemen AS dan Gedung Putih guna menyusun RUU yang dapat diterima oleh industri kripto sekaligus lobi perbankan. Awal bulan ini, Senator Carolina Utara, Thom Tillis, berencana merilis draf revisi yang diharapkan bisa memuaskan kedua belah pihak. Sayangnya, menurut laporan Politico, rancangan tersebut kembali mendapat penolakan dan belum dipublikasikan secara resmi. Di sisi lain, para analis pasar dan eksekutif industri kripto telah mewanti-wanti bahwa jika CLARITY Act gagal disahkan, industri kripto akan sangat rentan terhadap tindakan keras dan persekusi regulasi di masa depan oleh pihak berwenang yang anti-kripto. Sebagai referensi tambahan, kami juga menyediakan Berita Crypto terupdate dan terpercaya untuk membantu Anda memantau setiap pergerakan pasar. Pastikan Anda tidak tertinggal informasi penting lainnya dengan terus mengikuti pembaruan di platform kami!
Kalahkan Investor Saham, Pengguna Kripto RI Tembus 21 Juta di Tengah Ancaman Kesenjangan Literasi

Minat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda, terhadap instrumen investasi digital terpantau semakin masif. Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, jumlah investor aset kripto di Tanah Air telah menyentuh angka 21,07 juta orang. Menariknya, angka ini secara resmi telah melampaui jumlah investor di pasar saham domestik. Lonjakan adopsi ini sejalan dengan tren global yang ada. Laporan dari World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa sekitar 42% investor dari kalangan Generasi Z saat ini telah mengantongi aset kripto. Kendati antusiasme generasi muda ini menjadi sinyal positif bagi industri, hal tersebut memunculkan tantangan baru terkait urgensi penguatan literasi keuangan. Fokus Beralih: Dari Adopsi ke Edukasi Chief Marketing Officer (CMO) Pintu, Timothius Martin, memaparkan bahwa tingkat adopsi kripto secara global kini telah mencapai sekitar 700 juta pengguna. “Rasionya sekitar 1 banding 15. Artinya, dari setiap 15 orang di dunia, satu di antaranya sudah pernah melakukan trading atau berinvestasi kripto,” jelas pria yang akrab disapa Timo tersebut. Untuk konteks Indonesia, dengan jumlah 21 juta investor yang telah melampaui pasar saham, Timo menegaskan bahwa masalah utama saat ini bukan lagi soal bagaimana mendorong adopsi. Tantangan terbesar yang sesungguhnya tengah dihadapi oleh industri adalah literasi dan edukasi. Sebagai langkah nyata, platform pertukaran kripto Pintu saat ini aktif menggandeng OJK dan berbagai universitas untuk menggelar kampanye literasi ke kampus-kampus. “Tujuannya agar mahasiswa dapat memiliki pemahaman yang matang sebelum mereka mulai menyisihkan uang untuk berinvestasi,” tambahnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026). OJK Soroti Fenomena FOMO dan Kesenjangan Inklusi Salah satu agenda edukasi terbaru digelar di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, Bandung, yang dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa. Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya pemahaman finansial sejak dini. “Kalau kita tidak kenal (dengan instrumen investasinya), maka ini akan memicu hal-hal yang menjadi permasalahan di masa yang akan datang,” ungkap Arief. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Djoko Kurnijanto, menyoroti adanya anomali di tengah masyarakat. Ia memaparkan bahwa OJK menemukan adanya celah atau gap yang signifikan antara tingkat inklusi (keikutsertaan berinvestasi) dengan tingkat literasi (pemahaman produk) di sektor kripto. “Inilah yang kemudian membuat kami terus melakukan langkah-langkah mitigasi. Bagaimana caranya supaya masyarakat yang melakukan investasi kripto ini tidak sekadar ikut-ikutan (FOMO),” tegas Djoko. Di tengah laju inovasi industri yang sangat cepat serta berbagai dinamika makroekonomi global yang memengaruhi volatilitas pasar, generasi muda diimbau untuk tidak sekadar menunggangi tren semata. Pemahaman mendalam dan manajemen risiko yang baik dinilai sebagai kunci utama agar investasi di aset digital dapat memberikan manfaat finansial yang optimal. Untuk mengikuti perkembangan teknologi terbaru, Anda bisa membaca Berita Blockchain terkini yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.
Gencatan Senjata Kerek Bitcoin Lewati US$75.000, Namun Laju Tertahan Data Ekonomi AS

Harga Bitcoin (BTC) sempat mencatatkan penguatan signifikan hingga menembus level psikologis US$75.000. Momentum positif ini dipicu oleh tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon pada Jumat (17/4/2026) dini hari. Meredanya tensi geopolitik ini sukses mengembalikan selera risiko investor terhadap aset-aset berisiko, termasuk mata uang kripto. Berdasarkan data pasar pada Minggu (19/4/2026) pagi, Bitcoin diperdagangkan pada level US$75.693, menandai kenaikan sebesar 3,62% dalam sepekan terakhir. Penguatan ini sekaligus menyapu bersih tren pelemahan di awal pekan, didorong oleh optimisme pasar bahwa konflik Timur Tengah dapat segera mereda dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Tertahan oleh Sentimen Makroekonomi AS Kendati mendapat dorongan dari sentimen geopolitik, laju bullish Bitcoin tidak berjalan mulus. Tekanan jual kembali muncul menyusul rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang menunjukkan fundamental pasar tenaga kerja masih sangat tangguh, sehingga memicu koreksi harian Bitcoin sebesar 1,92%. Berikut adalah rincian data ekonomi AS yang memengaruhi sentimen pasar: Klaim Pengangguran Awal (Initial Jobless Claims): Turun ke angka 207.000, jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar yang berada di kisaran 213.000. Inflasi Konsumen (CPI): Tercatat di level 3,3% pada bulan Maret. Angka ini sedikit di bawah ekspektasi, namun mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Inflasi Produsen (PPI): Berada di level 4%, lebih rendah dari perkiraan. Kombinasi data ini dinilai belum cukup kuat untuk mendorong bank sentral AS (The Fed) melakukan pelonggaran kebijakan moneter atau pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Bitcoin di Persimpangan Jalan Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini tengah berada di persimpangan antara angin segar geopolitik dan tekanan makroekonomi global. “Kenaikan Bitcoin ke area US$75.000 jelas didorong oleh meredanya risiko geopolitik. Namun, data ekonomi AS yang tangguh justru menjadi penahan karena mengecilkan peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat,” jelas Fyqieh, Jumat (17/4/2026). Menurutnya, dinamika ini membuktikan bahwa karakter pasar kripto kini semakin sensitif terhadap kondisi makro. Pergerakan harga tidak lagi murni didorong oleh sentimen internal industri kripto, melainkan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global, khususnya langkah The Fed. Fundamental Kuat, Namun Rawan Profit Taking Dari sisi fundamental, Fyqieh menyoroti bahwa pasar sebenarnya masih memancarkan sinyal positif. Arus dana segar dari institusi melalui produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin mulai kembali mencatatkan inflow. Selain itu, aksi akumulasi oleh investor skala besar (whale) terpantau terus berlangsung selama beberapa pekan terakhir. “Akumulasi oleh whale dan kembalinya minat institusional ini menjadi fondasi yang kokoh untuk tren jangka menengah. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih dihantui oleh aksi ambil untung (profit taking),” terangnya. Setiap kali harga mencoba mendekati level resistensi US$76.000, investor jangka pendek cenderung memanfaatkannya untuk merealisasikan keuntungan. Hal ini tercermin dari meningkatnya volume aliran Bitcoin yang masuk ke bursa (exchange), yang secara historis menjadi sinyal distribusi aset. Dengan kondisi tarik-menarik sentimen tersebut, Fyqieh memproyeksikan Bitcoin masih akan berada dalam fase konsolidasi. Selama belum ada katalis yang benar-benar kuat—seperti kepastian pemangkasan suku bunga The Fed atau terobosan perdamaian geopolitik yang lebih masif—pergerakan Bitcoin diperkirakan akan tetap terbatas di sekitar area resistensi saat ini. Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto yang selalu diperbarui dan dapat Anda akses langsung melalui beranda website Blockped.
Apakah Kriptografi Tahan Kuantum Akan Memperlambat Ethereum?

Perkembangan teknologi komputasi kuantum mulai menjadi perhatian serius di dunia kripto. Saat ini, Ethereum masih menggunakan sistem kriptografi yang aman dari komputer klasik. Namun, di masa depan, komputer kuantum yang cukup canggih berpotensi membobol sistem tersebut, membuka akses ke private key dan membahayakan aset bernilai miliaran dolar. Meski ancaman ini belum terjadi dalam waktu dekat, pengembang Ethereum tidak ingin menunda persiapan. Targetnya, jaringan ini siap menghadapi era kuantum sekitar tahun 2029. Proses ini tentu tidak sederhana, karena melibatkan perubahan protokol, koordinasi ekosistem, serta pengujian menyeluruh. Tantangan Utama: Performa vs Keamanan Kriptografi tahan kuantum umumnya membutuhkan lebih banyak sumber daya dibanding sistem yang digunakan saat ini. Beberapa konsekuensinya antara lain: Ukuran tanda tangan (signature) lebih besar, sehingga data transaksi meningkat Proses verifikasi lebih berat secara komputasi Belum mendukung agregasi data secara efisien seperti sistem saat ini Hal ini memunculkan tiga tantangan utama: 1. Bandwidth dan PenyimpananData transaksi menjadi lebih besar, mempercepat pertumbuhan ukuran blockchain dan meningkatkan beban jaringan. 2. Biaya KomputasiValidator harus bekerja lebih keras untuk memverifikasi transaksi, yang berpotensi memperlambat jaringan dan meningkatkan kebutuhan hardware. 3. Efisiensi Agregasi MenurunSaat ini, Ethereum memanfaatkan tanda tangan BLS untuk menggabungkan banyak data secara efisien. Sayangnya, sebagian besar solusi tahan kuantum belum memiliki fitur ini secara optimal. Masalah di Layer Konsensus Risiko terbesar ada di layer konsensus, di mana ribuan validator mengirimkan validasi yang kemudian digabungkan menggunakan tanda tangan BLS. Sistem ini memungkinkan jaringan tetap cepat dan efisien. Jika Ethereum langsung mengganti sistem tersebut dengan solusi yang lebih berat, dampaknya bisa berupa: Proses blok menjadi lebih lambat Beban validator meningkat Efisiensi jaringan menurun Solusi Ethereum: Bukan Mengganti, Tapi Mendesain Ulang Alih-alih sekadar mengganti teknologi, Ethereum memilih pendekatan yang lebih cerdas, yaitu merancang ulang sistemnya. Salah satu solusi utama adalah penggunaan SNARK, yang memungkinkan ribuan data besar dikompresi menjadi satu bukti kriptografi yang ringkas. Dengan cara ini: Data bisa dipadatkan Beban verifikasi berkurang Skalabilitas tetap terjaga Dampak ke Pengguna Perubahan ini paling terasa di layer eksekusi, yaitu bagian yang berhubungan langsung dengan pengguna, seperti wallet dan transaksi. Beberapa dampak yang mungkin terjadi: Biaya gas sedikit meningkat Desain wallet akan diperbarui (misalnya melalui account abstraction) Transisi dilakukan secara bertahap, bukan langsung sekaligus Tujuannya adalah agar sistem lama dan baru bisa berjalan berdampingan, memberi waktu bagi pengguna dan developer untuk beradaptasi. Beban Tambahan pada Jaringan Kriptografi tahan kuantum juga berdampak pada lapisan data. Ukuran data yang lebih besar bisa: Menambah tekanan pada sistem penyimpanan Mempengaruhi solusi scaling seperti blob storage Memperlambat distribusi data di jaringan Karena itu, roadmap Ethereum tidak hanya fokus pada kriptografi, tetapi juga mencakup peningkatan di berbagai lapisan sistem. Trade-off: Keamanan atau Performa? Inti dari perubahan ini adalah mencari keseimbangan antara: Keamanan (melindungi dari ancaman kuantum) Performa (kecepatan dan efisiensi) Biaya (gas fee dan kebutuhan validator) Desentralisasi (akses yang tetap terbuka bagi semua) Jika tidak dikelola dengan baik, perubahan ini bisa meningkatkan biaya dan mempersempit partisipasi jaringan. Namun jika berhasil, justru bisa memperkuat desain kriptografi dan menjaga desentralisasi. Pendekatan Hati-hati dari Ethereum Ethereum tidak terburu-buru memilih satu solusi. Pengembang ingin memastikan fleksibilitas agar sistem bisa terus diperbarui di masa depan tanpa terjebak pada teknologi yang kurang optimal. Pendekatan ini disebut cryptographic agility, yaitu kemampuan untuk mengganti algoritma sesuai kebutuhan tanpa risiko besar. Kesimpulan: Apakah Ethereum Akan Melambat? Jika Ethereum hanya mengganti sistem kriptografi tanpa penyesuaian lain, kemungkinan besar jaringan akan menjadi lebih lambat dan mahal. Namun, strategi Ethereum berbeda. Dengan kombinasi teknologi seperti SNARK, account abstraction, dan redesign protokol, mereka berusaha menanggung beban tambahan tersebut tanpa membebani pengguna. Artinya, kriptografi tahan kuantum tidak harus membuat Ethereum melambat—selama implementasinya dilakukan dengan tepat. Untuk mendapatkan insight lebih dalam seputar teknologi blockchain dan perkembangan terbaru industri kripto, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Crypto yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.
Eksekutif Kripto Tingkatkan Keamanan Pribadi di Tengah Lonjakan Serangan “Wrench Attack”

Kasus penculikan dan pemerasan terhadap tokoh-tokoh penting di industri kripto mengalami peningkatan tajam dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini bahkan dikenal di komunitas sebagai “$5 wrench attack,” yaitu metode sederhana namun efektif untuk memaksa korban menyerahkan aset kripto mereka. Perhatian terhadap isu ini semakin meningkat, terutama dalam ajang Paris Blockchain Week, di mana banyak pelaku industri mulai menyoroti pentingnya keamanan pribadi. Pemerintah Prancis pun mulai mengambil langkah dengan menghadirkan platform pencegahan, sementara sektor swasta seperti perusahaan asuransi menawarkan perlindungan khusus yang mencakup pelatihan keamanan dan mitigasi risiko. Mengapa Pelaku Kripto Jadi Target? Serangan terhadap pemilik aset kripto bukanlah hal baru. Tokoh awal Bitcoin, Jameson Lopp, bahkan mendokumentasikan ratusan kasus serupa sejak 2014. Hingga kini, setidaknya ratusan insiden telah tercatat, termasuk puluhan kasus pada 2025 dan puluhan lainnya yang sudah terjadi di 2026. Menurut Christian Ogden Davies dari Relm Insurance, banyak individu yang tiba-tiba menjadi sangat kaya dari kripto tidak memiliki sistem manajemen risiko yang memadai. Berbeda dengan perusahaan tradisional yang memiliki tim khusus seperti chief risk officer, banyak pelaku kripto belum memiliki perlindungan yang setara. Selain itu, sifat industri kripto yang terbuka dan sosial juga menjadi faktor. Para CEO dari perusahaan yang bahkan saling bersaing sering kali tetap berinteraksi secara santai, sehingga meningkatkan eksposur terhadap risiko. Kripto juga dikenal sangat likuid, sehingga dana hasil kejahatan relatif lebih mudah dicairkan dibandingkan aset lain. Bahkan dengan pengawasan ketat dan sanksi internasional, kelompok seperti Lazarus Group masih mampu memindahkan dana curian. Paris Jadi Sorotan Utama Prancis, khususnya Paris, menjadi salah satu pusat kejadian penculikan terkait kripto. Salah satu kasus paling terkenal adalah penculikan pada 2025 terhadap David Balland, salah satu pendiri Ledger. Rekan pendirinya, Eric Larchevêque, menyebut bahwa regulasi lokal yang mengharuskan pengusaha mencantumkan identitas dan alamat mereka bisa menjadi salah satu faktor risiko. Selain itu, daya tarik Paris sebagai kota global juga membuat banyak individu kaya berkumpul di sana, sehingga meningkatkan potensi target bagi pelaku kejahatan. Pengeluaran Keamanan Melonjak Sebagai respons, para eksekutif kripto kini mulai meningkatkan pengeluaran untuk keamanan pribadi secara signifikan. Coinbase, misalnya, menghabiskan sekitar $6,2 juta pada 2024 untuk perlindungan CEO-nya, Brian Armstrong—jumlah yang bahkan melampaui total biaya keamanan eksekutif dari beberapa perusahaan besar lainnya. Sementara itu, Larchevêque dilaporkan mengeluarkan lebih dari $50.000 per bulan untuk keamanan keluarga, termasuk pemasangan sistem pengawasan dan perlindungan tambahan di rumah. Pemerintah Prancis juga mulai bertindak. Dalam Paris Blockchain Week, pejabat dalam negeri Jean-Didier Berger mengumumkan peluncuran platform pencegahan yang telah menarik ribuan pengguna. Selain itu, kehadiran aparat keamanan di acara tersebut juga ditingkatkan secara signifikan. Asuransi dan Edukasi Jadi Solusi Perusahaan asuransi kini melihat lonjakan permintaan untuk perlindungan penculikan dan tebusan (kidnap and ransom/K&R). Menurut pelaku industri, hampir semua klien kini mulai mempertimbangkan perlindungan ini. Polis K&R tidak hanya menawarkan kompensasi finansial, tetapi juga edukasi dan pelatihan untuk mencegah situasi berbahaya. Mulai dari cara berkomunikasi, mengenali risiko, hingga kebiasaan sederhana seperti menghindari rute berbahaya, semuanya menjadi bagian penting dari strategi keamanan. Untuk tetap update dengan perkembangan terbaru di dunia aset digital dan isu penting lainnya, kamu juga bisa mengikuti berbagai Komunitas Crypto yang aktif membahas tren dan keamanan di industri ini.