DPR AS Selidiki Dugaan Insider Trading di Kalshi dan Polymarket

Komite Oversight dan Government Reform DPR Amerika Serikat resmi meluncurkan investigasi terhadap platform prediction market Kalshi dan Polymarket terkait dugaan insider trading. Penyelidikan ini muncul setelah ditemukan sejumlah transaksi mencurigakan yang terjadi sebelum operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran diumumkan ke publik. Ketua komite, James Comer, mengirim surat langsung kepada CEO Polymarket, Shayne Coplan, dan CEO Kalshi, Tarek Mansour, untuk meminta data internal terkait bagaimana kedua perusahaan menangani potensi insider trading di platform mereka. Kongres AS Khawatir Pejabat Memanfaatkan Informasi Rahasia Dalam unggahannya di platform X, James Comer menyebut ada kekhawatiran bahwa pejabat pemerintah atau pihak yang memiliki akses informasi rahasia memanfaatkan prediction market untuk memperoleh keuntungan finansial. Menurut Comer, terdapat lebih dari 80 transaksi yang dianggap “mencurigakan” dan dilakukan sebelum operasi militer terkait Iran diumumkan secara resmi. Ia menilai praktik seperti ini harus dihentikan karena berpotensi menjadi bentuk insider trading berbasis informasi pemerintah. Kasus tersebut pertama kali mendapat perhatian luas setelah laporan media mengungkap adanya pengguna prediction market yang memasang taruhan terkait operasi militer Israel terhadap Iran, pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump, hingga kontrak politik pemilu Kongres. Polymarket dan Kalshi Klaim Punya Sistem Pengawasan Polymarket sebelumnya mengumumkan pembaruan kebijakan terkait insider trading pada Maret lalu. Platform tersebut menyatakan melarang penggunaan informasi rahasia atau nonpublik dalam aktivitas trading. Sementara itu, Kalshi pada April lalu juga mengumumkan telah melarang tiga politisi Amerika Serikat karena melakukan taruhan pada pemilu mereka sendiri. Juru bicara Polymarket mengatakan bahwa perusahaan memiliki “framework integritas pasar yang komprehensif” dan siap bekerja sama dengan Kongres terkait transparansi platform. Kalshi juga menyatakan bangga dengan sistem perlindungan mereka terhadap insider trading dan akan berkoordinasi dengan regulator AS. Kasus Tentara AS Jadi Sorotan Besar Investigasi ini juga berkaitan dengan kasus sebelumnya yang melibatkan seorang anggota militer Amerika Serikat. Pada April lalu, Departemen Kehakiman AS mendakwa Master Sergeant Gannon Ken Van Dyke karena diduga menggunakan informasi rahasia terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraih keuntungan lebih dari $400 ribu di Polymarket. Van Dyke didakwa atas tuduhan penipuan komoditas dan penyalahgunaan informasi pemerintah rahasia demi keuntungan pribadi. Namun ia menyatakan tidak bersalah dan saat ini dibebaskan dengan jaminan sebesar $250 ribu sambil menunggu proses persidangan. Prediction Market Makin Diawasi Regulator Kasus ini memperlihatkan bagaimana prediction market kini semakin menjadi perhatian regulator Amerika Serikat. Platform seperti Polymarket dan Kalshi memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari politik, perang, ekonomi, hingga olahraga. Namun meningkatnya aktivitas tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait manipulasi pasar dan penggunaan informasi rahasia. Beberapa analis menilai prediction market berada di wilayah abu-abu regulasi karena memiliki karakteristik yang mirip antara pasar finansial dan perjudian digital. Dengan meningkatnya tekanan politik dan investigasi Kongres, industri prediction market kemungkinan akan menghadapi aturan yang lebih ketat dalam waktu dekat. Kunjungi situs berita cryptocurrency untuk mendapatkan update terbaru seputar prediction market, regulasi aset digital, dan perkembangan industri blockchain global.
Mengapa Bank Sentral Masih Lebih Percaya Emas daripada Aset Digital?

Bank sentral di berbagai negara mulai mengeksplorasi teknologi blockchain, mata uang digital bank sentral (CBDC), hingga aset tokenisasi. Meski inovasi digital semakin berkembang pesat, mayoritas bank sentral dunia ternyata masih memilih emas sebagai aset cadangan utama mereka. Hal ini menunjukkan satu fakta penting dalam dunia keuangan global: teknologi canggih belum tentu langsung dianggap layak menjadi aset cadangan negara. Bagi bank sentral, prioritas utama bukan mengejar keuntungan besar, melainkan menjaga stabilitas, likuiditas, dan kepercayaan ekonomi nasional saat terjadi krisis global. Bank Sentral Membutuhkan Aset yang Stabil dan Aman Cadangan devisa memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang, membiayai kebutuhan impor saat darurat, serta memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi suatu negara. Karena itu, aset cadangan harus memenuhi berbagai syarat ketat seperti: Likuiditas tinggi Diterima secara internasional Relatif stabil Memiliki perlindungan hukum yang kuat Tetap bernilai saat terjadi krisis ekonomi atau geopolitik Berbeda dengan investor biasa yang mengejar keuntungan besar, bank sentral cenderung menghindari aset dengan volatilitas tinggi. Dana Moneter Internasional atau IMF bahkan masih memasukkan emas sebagai salah satu aset cadangan resmi dalam sistem moneter global. Bagi bank sentral, emas bukan sekadar komoditas, melainkan aset cadangan yang telah terbukti selama ratusan tahun. Emas Masih Menjadi Simbol Kepercayaan Global Kekuatan utama emas bukan berasal dari teknologi atau potensi keuntungan, melainkan dari kepercayaan global yang telah terbentuk selama berabad-abad. Bank sentral memiliki data historis panjang mengenai bagaimana emas bertahan menghadapi inflasi, perang, sanksi ekonomi, hingga krisis keuangan besar. Berbeda dengan mata uang fiat, emas tidak bergantung pada kondisi ekonomi satu negara tertentu. Emas juga tidak memiliki penerbit seperti saham atau obligasi perusahaan. Karakteristik tersebut membuat emas dianggap lebih independen, terutama saat ketegangan geopolitik meningkat. Menurut data World Gold Council dan IMF, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, Prancis, China, hingga India masih menyimpan ribuan ton emas sebagai cadangan resmi mereka. Permintaan Emas oleh Bank Sentral Terus Meningkat Meski aset digital berkembang pesat, permintaan emas dari bank sentral justru tetap tinggi dalam beberapa tahun terakhir. European Central Bank (ECB) melaporkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral menyumbang lebih dari seperlima permintaan emas global sepanjang 2024. Selain itu, survei World Gold Council tahun 2025 menunjukkan bahwa 43% bank sentral berencana menambah cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan. Salah satu faktor pendorongnya adalah meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap sistem keuangan internasional. Pembekuan aset bank sentral Rusia setelah invasi ke Ukraina menjadi contoh bahwa cadangan devisa luar negeri dapat dibatasi melalui sanksi internasional. Dalam kondisi tersebut, emas dianggap lebih aman karena dapat disimpan langsung di dalam negeri tanpa bergantung pada jaringan keuangan asing. Emas Dinilai Lebih Sulit Dikendalikan Secara Politik Salah satu alasan utama bank sentral menyukai emas adalah karena aset ini tidak bergantung pada satu institusi atau negara tertentu. Cadangan berbentuk obligasi pemerintah, mata uang asing, atau rekening luar negeri tetap memiliki risiko terkena sanksi, konflik diplomatik, atau kebijakan politik. Sebaliknya, emas fisik yang disimpan langsung oleh negara tidak membutuhkan pihak ketiga, jaringan pembayaran luar negeri, maupun penerbit tertentu. Bagi banyak bank sentral, hal tersebut memberikan perlindungan tambahan saat kondisi global tidak stabil. Kripto Dinilai Masih Terlalu Berisiko sebagai Cadangan Negara Walaupun aset kripto semakin populer, sebagian besar bank sentral masih belum menganggapnya cocok sebagai aset cadangan utama. Salah satu alasan terbesarnya adalah volatilitas harga yang sangat tinggi. Bitcoin dan aset kripto lain dapat mengalami kenaikan maupun penurunan harga besar dalam waktu singkat. Kondisi tersebut dinilai kurang sesuai untuk cadangan negara yang harus menjaga kestabilan ekonomi. Selain itu, regulasi aset digital di berbagai negara masih terus berkembang dan belum seragam. Isu lain yang menjadi perhatian bank sentral meliputi: Risiko keamanan siber Penyimpanan private key Ketergantungan pada jaringan digital Risiko exchange bangkrut Ketidakpastian hukum Bank Dunia bahkan pernah menyatakan bahwa Bitcoin dan Ether saat ini belum memenuhi syarat utama untuk menjadi aset cadangan bank sentral. Pada April 2025, Ketua Swiss National Bank, Martin Schlegel, juga menolak usulan memasukkan Bitcoin ke cadangan negara dengan alasan volatilitas dan likuiditas pasar yang belum memadai. Bitcoin Disebut “Digital Gold”, Tetapi Belum Dianggap Setara Pendukung Bitcoin sering menyebut aset tersebut sebagai “digital gold” karena memiliki suplai terbatas dan tidak dikendalikan satu otoritas pusat. Namun bagi bank sentral, penilaian aset cadangan tidak hanya soal potensi keuntungan atau teknologi baru. Mereka lebih fokus pada: Stabilitas jangka panjang Likuiditas saat krisis Kepastian hukum Kedalaman pasar Kemampuan mendukung kewajiban nasional Bitcoin dinilai masih terlalu muda untuk membuktikan ketahanannya dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi global selama puluhan tahun. Sebaliknya, emas telah memiliki sejarah panjang sebagai aset cadangan resmi dunia. Bahkan ECB melaporkan bahwa emas menjadi aset cadangan global terbesar kedua setelah dolar AS pada 2024. Stablecoin Juga Memiliki Tantangan Tersendiri Stablecoin memang dirancang lebih stabil dibanding aset kripto biasa. Namun stablecoin juga memiliki tantangan besar bagi bank sentral. Sebagian besar stablecoin masih bergantung pada perusahaan penerbit, cadangan aset, serta mekanisme penukaran tertentu. Artinya, kepercayaan terhadap stablecoin tidak hanya bergantung pada teknologi blockchain, tetapi juga kualitas cadangan aset dan regulasi perusahaan penerbit. Regulator khawatir stablecoin berskala besar dapat memicu risiko sistemik jika terjadi masalah pada cadangan aset atau proses penebusannya. Bagi bank sentral, menggunakan stablecoin sebagai cadangan devisa berarti menukar satu jenis risiko dengan risiko lain seperti: Risiko penerbit Risiko likuiditas Risiko regulasi Risiko kualitas cadangan aset Bank Sentral Mulai Percaya Blockchain, Bukan Kriptonya Meski skeptis terhadap aset kripto sebagai cadangan devisa, banyak bank sentral tetap mendukung pengembangan teknologi blockchain. Beberapa bank sentral kini meneliti tokenisasi aset, tokenisasi uang bank sentral, hingga sistem settlement digital yang lebih efisien. Bank for International Settlements (BIS) bahkan menilai tokenisasi dapat membantu mempercepat proses settlement dan meningkatkan efisiensi sistem keuangan global. Namun penting dipahami bahwa mendukung teknologi blockchain tidak berarti bank sentral otomatis akan menyimpan Bitcoin atau stablecoin sebagai aset cadangan. Banyak bank sentral tampaknya memilih memanfaatkan teknologi digital sambil tetap mempertahankan prinsip konservatif dalam pengelolaan cadangan negara. Emas Memiliki Kekurangan, Tetapi Risikonya Sudah Dipahami Emas sebenarnya juga memiliki berbagai kekurangan. Aset ini tidak menghasilkan bunga, membutuhkan biaya penyimpanan, dan tetap dapat mengalami fluktuasi harga. Namun bank sentral sudah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola risiko tersebut. Sementara itu, aset kripto masih menghadapi tantangan baru seperti keamanan
IG Europe Gandeng Bitpanda untuk Perluas Trading Kripto di Eropa

IG Europe resmi bekerja sama dengan exchange kripto Bitpanda untuk menghadirkan layanan trading aset digital bagi investor di kawasan Eropa. Dalam kolaborasi ini, Bitpanda akan menyediakan infrastruktur utama seperti likuiditas, konektivitas perdagangan, dan data pasar kripto. Langkah tersebut menjadi bagian dari ekspansi layanan spot crypto milik IG Group setelah sebelumnya meluncurkan layanan serupa di Inggris pada 2025. IG Europe Perluas Layanan Kripto untuk Investor Eropa Melalui kerja sama ini, IG Europe berupaya menghadirkan akses trading kripto yang lebih luas bagi klien di berbagai negara Uni Eropa tanpa harus membangun infrastruktur kripto sendiri. Managing Director IG Europe, Esteve Jane, mengatakan bahwa kemitraan dengan Bitpanda akan memperluas penawaran produk perusahaan sekaligus memberikan akses ke berbagai kelas aset tambahan bagi investor berpengalaman. Menurutnya, investor saat ini semakin membutuhkan layanan perdagangan yang aman, berkualitas, dan sesuai regulasi. IG Europe sendiri berada di bawah pengawasan regulator keuangan Jerman, BaFin, sementara induk perusahaannya, IG Group, merupakan platform trading yang terdaftar di indeks FTSE 100 London dengan sekitar 1,3 juta klien di seluruh dunia. Regulasi MiCA Dorong Kolaborasi Industri Kripto Kerja sama antara IG Europe dan Bitpanda juga terjadi di tengah semakin ketatnya regulasi aset digital di Eropa melalui Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA). Regulasi tersebut menghadirkan standar kepatuhan yang lebih tinggi terkait modal perusahaan, tata kelola, manajemen risiko, hingga layanan kustodian aset digital. Akibatnya, banyak perusahaan keuangan memilih bekerja sama dengan penyedia infrastruktur kripto yang sudah siap regulasi dibanding membangun sistem sendiri dari nol. Bagi IG Europe, menggandeng Bitpanda dinilai menjadi jalur yang lebih cepat untuk memperluas layanan kripto di pasar Eropa. Pendapatan Kripto IG Group Masih Relatif Kecil Meski terus memperluas bisnis aset digital, kontribusi pendapatan kripto terhadap bisnis IG Group masih tergolong kecil. Pada kuartal pertama tahun ini, IG Group mencatat pendapatan sebesar 331,2 juta pound sterling atau sekitar $444,5 juta. Dari jumlah tersebut, layanan spot crypto hanya menyumbang sekitar $3,2 juta atau kurang dari 1% total pendapatan perusahaan. Walaupun kontribusinya masih kecil, IG tetap agresif mengembangkan layanan kripto di berbagai wilayah. Perusahaan sebelumnya mengakuisisi exchange kripto asal Australia, Independent Reserve, yang kemudian mendukung peluncuran layanan spot crypto bagi klien IG di Australia pada Maret lalu. Selain itu, IG juga telah memperoleh lisensi MiCA di Jerman pada 2025. IG dan Kraken Pernah Jalin Kerja Sama Sebelumnya pada Oktober lalu, IG juga menjual platform futures exchange miliknya, Small Exchange, kepada Kraken sebagai bagian dari kerja sama terpisah dengan exchange kripto global tersebut. Langkah ini memperlihatkan bahwa IG Group terus memperkuat posisinya di industri aset digital melalui berbagai kolaborasi strategis. Bitpanda Terus Perluas Ekspansi Bisnis Di sisi lain, Bitpanda juga terus mengembangkan layanan di luar perdagangan kripto tradisional. Perusahaan asal Austria tersebut saat ini tengah membangun Vision Chain, sebuah jaringan Ethereum layer-2 yang dirancang agar bank dan perusahaan fintech Eropa dapat menerbitkan serta memperdagangkan aset tokenisasi seperti saham, obligasi, dan reksa dana sesuai regulasi MiCA dan MiFID II. Bitpanda juga baru-baru ini menambahkan ribuan produk saham dan exchange-traded fund (ETF) ke dalam platformnya sebagai bagian dari transformasi menuju platform keuangan full-stack. Selain itu, perusahaan yang berbasis di Wina tersebut juga telah resmi berekspansi ke Inggris pada awal tahun ini dan dikabarkan tengah mempertimbangkan rencana initial public offering (IPO). Kunjungi Portal Crypto untuk mendapatkan update terbaru seputar exchange kripto, regulasi MiCA, dan perkembangan industri blockchain di Eropa.
Kraken Semakin Dekat Meluncur di UEA Setelah Dapat Persetujuan Regulator Dubai

Exchange kripto Kraken semakin mendekati peluncuran resminya di Uni Emirat Arab (UEA) setelah perusahaan induknya, Payward, memperoleh persetujuan awal dari regulator aset virtual Dubai, Virtual Assets Regulatory Authority (VARA). Persetujuan tersebut menjadi langkah penting bagi Kraken untuk memperluas layanan aset digitalnya di kawasan Timur Tengah yang saat ini berkembang menjadi salah satu pusat industri kripto global. Kraken Kantongi Persetujuan Awal dari VARA Dubai Payward mengumumkan ekspansi bisnisnya ke UEA bersamaan dengan diterimanya persetujuan awal untuk lisensi broker-dealer, investasi, dan manajemen aset virtual dari VARA pada Kamis lalu. Juru bicara Kraken mengatakan bahwa persetujuan awal tersebut resmi diberikan pada hari Kamis, sementara tanggal peluncuran penuh layanan Kraken di Dubai masih akan diumumkan kemudian. Saat resmi beroperasi nanti, Kraken berencana menghadirkan layanan pendanaan menggunakan mata uang dirham Uni Emirat Arab (AED), sekaligus menyediakan berbagai layanan perdagangan kripto lainnya. Kraken Akan Hadirkan Margin Trading Hingga Layanan Institusi Kraken menyebutkan bahwa platformnya di UEA nantinya akan menyediakan layanan lengkap mulai dari margin trading, over-the-counter (OTC) trading, hingga akses Kraken Prime bagi klien institusional. Langkah ini memperkuat jejak regulasi Kraken di kawasan Timur Tengah setelah sebelumnya memperoleh izin operasional di Abu Dhabi pada 2022 melalui kerangka regulasi zona keuangan bebas setempat. Dengan hadirnya layanan baru tersebut, Kraken berupaya memperluas akses investor regional terhadap layanan aset digital yang lebih terregulasi dan profesional. Dubai Kini Jadi Rumah bagi Puluhan Perusahaan Kripto Global Berdasarkan data publik VARA, saat ini terdapat 49 perusahaan kripto aktif yang telah terdaftar di Dubai. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di berbagai sektor seperti exchange kripto, broker-dealer, layanan kustodian, hingga pinjaman aset digital. Beberapa nama besar industri kripto global yang sudah lebih dulu masuk dalam daftar tersebut antara lain Binance, Crypto.com, OKX, Deribit, dan HashKey. Kehadiran berbagai perusahaan besar itu menunjukkan ambisi Dubai untuk menjadi pusat utama industri aset digital di kawasan Timur Tengah. Meski telah memperoleh persetujuan awal, nama Kraken dan Payward masih belum tercantum di daftar publik VARA. Perusahaan terbaru yang masuk daftar regulator adalah exchange CoinCorner yang memperoleh persetujuan layanan broker-dealer aset virtual pada 5 Mei lalu. UEA Semakin Menarik bagi Industri Kripto Ekspansi Kraken ke Dubai menambah bukti bahwa Uni Emirat Arab terus berkembang sebagai salah satu pusat kripto terbesar dunia. Hal ini tetap terjadi meskipun kawasan Timur Tengah sempat menghadapi ketegangan geopolitik terkait Iran yang memengaruhi sentimen investor dan beberapa aktivitas ekonomi regional. Banyak eksekutif industri menilai kejelasan regulasi menjadi alasan utama perusahaan kripto memilih UEA dibanding wilayah lain yang masih memiliki aturan tidak pasti. Co-CEO Kraken dan Payward, Arjun Sethi, mengatakan bahwa Dubai sudah menyusun regulasi khusus aset kripto bahkan sebelum banyak negara lain mulai mengakui kelas aset tersebut. Menurutnya, kepastian regulasi inilah yang akhirnya menarik likuiditas besar dan modal institusional masuk ke Uni Emirat Arab. Kunjungi Berita Crypto untuk mendapatkan update terbaru seputar regulasi aset digital, perkembangan exchange kripto, dan industri blockchain global.
ETF Hyperliquid Kejutkan Pasar dengan Lonjakan Volume 50% Setelah Debut Lambat

Exchange-traded fund (ETF) berbasis token Hyperliquid (HYPE) di Amerika Serikat berhasil mencatat lonjakan volume perdagangan hingga 50% hanya beberapa hari setelah peluncurannya. Kenaikan ini dinilai cukup langka untuk produk ETF baru, terutama setelah awal perdagangan yang relatif sepi. Dua ETF Hyperliquid yang diterbitkan oleh Bitwise dan 21Shares mencatat total nilai perdagangan hampir $41 juta sejak resmi diluncurkan awal bulan ini, berdasarkan data SoSoValue. Analis Sebut Kenaikan Volume ETF Baru Sangat Jarang Terjadi Analis ETF Bloomberg, Eric Balchunas, mengatakan bahwa peningkatan volume perdagangan seperti ini sangat jarang terjadi pada ETF baru. Dalam unggahannya di platform X pada Rabu, Balchunas menjelaskan bahwa sebagian besar ETF biasanya hanya mengalami lonjakan besar di hari pertama sebelum akhirnya kehilangan momentum selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Menurutnya, ETF Hyperliquid justru menunjukkan pola berbeda karena volume perdagangan terus meningkat setelah debut awalnya. Balchunas menilai pertumbuhan tersebut terjadi karena waktu peluncuran ETF yang dianggap sangat tepat. Saat sebagian besar aset seperti saham, obligasi, emas, Bitcoin, dan pasar kripto mengalami penurunan, token HYPE justru bergerak naik signifikan. Harga HYPE Melonjak di Tengah Pelemahan Pasar Token Hyperliquid mencatat kenaikan sekitar 120% sepanjang tahun ini dan naik 18,5% dalam 24 jam terakhir hingga mencapai harga $56 berdasarkan data CoinGecko. Lonjakan harga tersebut membuat banyak trader mulai melirik HYPE dan platform Hyperliquid sebagai salah satu proyek kripto paling menarik saat ini. Beberapa analis bahkan mulai menyebut Hyperliquid sebagai tren besar berikutnya di industri kripto karena platform tersebut berhasil menguasai sebagian besar pasar perpetual futures kripto. Sebagai perbandingan, indeks S&P 500 hanya naik sekitar 8,6% dalam setahun terakhir, sementara Nasdaq 100 naik 16%. Di sisi lain, Bitcoin justru mengalami penurunan sekitar 11% dalam periode yang sama. Bitwise Sebut HYPE Lebih dari Sekadar Exchange Kripto Kenaikan minat terhadap ETF HYPE terjadi sehari setelah Bitwise menyatakan bahwa pasar masih salah menilai potensi Hyperliquid. Menurut Bitwise, Hyperliquid bukan sekadar exchange kripto biasa, melainkan sebuah “super-app” yang berpotensi mencakup berbagai kelas aset sekaligus. Pernyataan tersebut semakin memperkuat narasi bahwa Hyperliquid dapat berkembang menjadi platform keuangan digital yang lebih luas di masa depan. ETF Hyperliquid Awalnya Tumbuh Lambat 21Shares menjadi perusahaan pertama yang meluncurkan ETF Hyperliquid di Amerika Serikat melalui produk 21Shares Hyperliquid ETF (THYP) pada 12 Mei. Namun pada awal peluncurannya, ETF tersebut hanya mencatat net inflow sekitar $1,2 juta, jauh lebih rendah dibanding peluncuran ETF altcoin lainnya seperti ETF Solana staking. Sementara itu, Bitwise Hyperliquid ETF (BHYP) yang diluncurkan pada 14 Mei juga hanya memperoleh sekitar $750 ribu net inflow di hari-hari awal perdagangan. Meski begitu, kedua ETF tersebut akhirnya mulai mengalami lonjakan minat investor beberapa hari setelah debutnya. Arus Dana ETF HYPE Meningkat Tajam Pada Rabu, kedua ETF mencatat hari terbaik mereka sejak diluncurkan dengan total net inflow mencapai $25,5 juta. ETF milik 21Shares memperoleh arus masuk dana sebesar $16,6 juta, sedangkan ETF Bitwise mencatat sekitar $8,8 juta. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa investor mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap ekosistem Hyperliquid dan token HYPE. Grayscale Juga Siapkan ETF Hyperliquid Selain Bitwise dan 21Shares, perusahaan manajemen aset kripto Grayscale juga telah mengajukan proposal ETF Hyperliquid sejak Maret lalu. Saat ini, proposal tersebut masih berada dalam tahap peninjauan regulator Amerika Serikat. Di sisi lain, akun analitik blockchain Lookonchain mengungkap bahwa dua wallet yang diduga terkait dengan Grayscale membeli token HYPE senilai sekitar $25 juta dalam sepekan terakhir dan langsung melakukan staking. Meski demikian, belum ada konfirmasi apakah pembelian tersebut berkaitan langsung dengan rencana peluncuran ETF Hyperliquid milik Grayscale. Kunjungi Komunitas Crypto untuk mendapatkan update terbaru seputar ETF kripto, perkembangan Hyperliquid, dan tren aset digital global.
Apakah Stablecoin Hanya Dolar Digital dengan Label Blockchain?

Kasus dompet digital yang dikaitkan dengan Iran kembali memunculkan pertanyaan besar di industri kripto: apakah stablecoin benar-benar aset terdesentralisasi, atau sebenarnya hanya dolar digital yang berjalan di atas blockchain? Meski stablecoin bergerak di jaringan blockchain publik seperti aset kripto lainnya, banyak token stablecoin ternyata lebih mirip instrumen keuangan tradisional yang tunduk pada regulasi dan kontrol penerbit. Stablecoin Berada di Antara Kripto dan Sistem Keuangan Tradisional Stablecoin memang terlihat seperti aset kripto karena dapat dikirim melalui blockchain publik. Namun di balik itu, sebagian besar stablecoin diterbitkan oleh perusahaan terpusat yang memiliki kewenangan penuh atas token tersebut. Token seperti USDt dan USDC didukung oleh cadangan aset tradisional dan dirancang untuk mengikuti aturan hukum yang berlaku. Penerbit stablecoin bahkan memiliki kemampuan untuk membekukan wallet, mem-blacklist alamat tertentu, serta bekerja sama dengan otoritas regulator. Perbedaan ini semakin terlihat dalam kasus wallet yang diduga terkait dengan bank sentral Iran. Firma analitik blockchain Arkham Intelligence mengidentifikasi sejumlah alamat wallet setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) Amerika Serikat menandai dua alamat jaringan Tron yang dikaitkan dengan institusi tersebut. Tak lama setelah itu, Tether mengumumkan telah membekukan lebih dari $344 juta USDt di wallet tersebut bekerja sama dengan otoritas AS. Menariknya, blockchain tetap berjalan normal. Riwayat transaksi masih dapat dilihat publik dan wallet tetap ada. Namun stablecoin di dalam wallet tersebut tidak lagi dapat digunakan karena penerbit memiliki kendali teknis untuk melakukan intervensi. Stablecoin Masih Bergantung pada Sistem Keuangan Tradisional Walaupun berjalan di blockchain, stablecoin tetap sangat bergantung pada infrastruktur keuangan konvensional. Nilai stablecoin biasanya dijaga melalui cadangan aset yang disimpan dalam bank komersial, instrumen kas, atau surat utang pemerintah seperti US Treasury jangka pendek. Penerbit stablecoin membutuhkan hubungan dengan perbankan untuk menyimpan cadangan dana, melakukan konversi mata uang, serta mendukung proses penukaran antara token digital dan uang fiat. Karena itu, stablecoin sebenarnya lebih menyerupai versi digital dari uang konvensional yang bergerak melalui jalur blockchain yang lebih cepat. Jika pasar mulai meragukan kualitas atau aksesibilitas cadangan aset tersebut, nilai stablecoin dapat langsung tertekan. Selain itu, stablecoin juga membutuhkan dukungan auditor independen, kustodian profesional, kerangka hukum, dan jaringan pembayaran tradisional agar dapat beroperasi secara global. Tanpa akses ke layanan perbankan dan sistem settlement tradisional, stablecoin akan kesulitan mempertahankan stabilitas maupun menangani penarikan dana dalam jumlah besar. Stablecoin dan Deposito Bank Memiliki Banyak Kesamaan Stablecoin dalam banyak hal sebenarnya lebih mirip deposito bank dibanding aset kripto terdesentralisasi. Keduanya sama-sama mewakili klaim atas mata uang fiat seperti dolar AS dan bergantung pada institusi untuk menjaga kepercayaan pengguna. Perbedaannya terletak pada cara uang tersebut bergerak. Stablecoin berpindah melalui blockchain publik yang transparan dan dapat diakses secara global. Sementara uang di bank bergerak melalui jaringan perbankan tertutup milik institusi keuangan. Namun dari sisi regulasi, keduanya memiliki kemiripan besar. Pemerintah dapat membekukan rekening bank melalui perintah hukum, sedangkan penerbit stablecoin dapat memblokir wallet tertentu jika diperlukan. Artinya, akses terhadap dana tetap bergantung pada kepatuhan terhadap aturan hukum, bukan sepenuhnya pada kontrol teknis pengguna. Kasus Wallet Iran Menunjukkan Kendali Besar Penerbit Stablecoin Kasus wallet terkait Iran menjadi contoh nyata bagaimana stablecoin dapat dikendalikan oleh penerbitnya. Arkham Intelligence merilis profil on-chain dari wallet tersebut setelah laporan intelijen menunjukkan bahwa alamat tersebut telah memproses ratusan juta dolar transaksi sejak 2021. Menurut firma pemantau blockchain TRM Labs, wallet tersebut menerima sekitar $370 juta melalui hampir 1.000 transaksi berbeda. Kasus ini memperlihatkan bagaimana perusahaan analitik blockchain, regulator pemerintah, dan penerbit stablecoin dapat bekerja sama ketika muncul isu kepatuhan hukum atau keamanan nasional. Blockchain Publik Justru Memudahkan Pelacakan Stablecoin Banyak orang masih menganggap aktivitas blockchain bersifat anonim sepenuhnya. Padahal jaringan publik seperti Bitcoin, Ethereum, dan Tron bersifat sangat transparan. Siapa pun dapat melihat saldo wallet, riwayat transaksi, dan pergerakan dana menggunakan blockchain explorer. Walaupun identitas pengguna tidak langsung terlihat, perusahaan analitik blockchain mampu menghubungkan alamat-alamat tertentu melalui pola transaksi dan interaksi dengan exchange terpusat. Perusahaan seperti Chainalysis, Arkham Intelligence, dan TRM Labs menyediakan layanan pelacakan tersebut untuk pemerintah dan lembaga penegak hukum di berbagai negara. Dalam kasus stablecoin, transparansi blockchain dipadukan dengan kemampuan penerbit untuk membekukan aset membuat pelacakan dan pembatasan dana menjadi jauh lebih mudah. Apa yang Terjadi Ketika Wallet Masuk Daftar Sanksi? Saat regulator memasukkan alamat blockchain ke dalam daftar sanksi, institusi keuangan dan platform yang patuh regulasi biasanya akan memblokir interaksi dengan wallet tersebut. Di Amerika Serikat, OFAC kini rutin memasukkan alamat wallet kripto ke dalam daftar sanksi bersama individu maupun organisasi. Blockchain tetap berjalan normal dan aset di wallet tetap ada. Namun pengguna wallet tersebut biasanya tidak lagi dapat menggunakan layanan exchange besar, payment processor, maupun jalur konversi fiat resmi. Akibatnya, wallet tersebut menjadi terisolasi dari ekosistem ekonomi yang lebih luas meskipun secara teknis masih aktif di blockchain. Penerbit Stablecoin Bisa Membekukan Dolar Digital di Blockchain Stablecoin seperti USDt dan USDC dirancang untuk menjaga kestabilan harga dengan dukungan cadangan aset berbasis dolar AS. Berbeda dengan Bitcoin atau Ether yang tidak memiliki otoritas pusat, stablecoin dikelola oleh perusahaan penerbit yang mengontrol smart contract token tersebut. Kondisi ini memungkinkan penerbit melakukan berbagai tindakan seperti: Membekukan aset di alamat tertentu Memblokir transfer dana Membatasi akses penggunaan token Memberlakukan pembatasan melalui smart contract Ketika sebuah wallet dimasukkan ke daftar blacklist, token di dalamnya tetap terlihat di blockchain explorer. Namun pemiliknya tidak lagi dapat menggunakan atau memindahkan aset tersebut secara efektif. Blockchain Bisa Terdesentralisasi, Tetapi Asetnya Tidak Tidak semua aset kripto memiliki tingkat desentralisasi yang sama. Bitcoin tidak memiliki otoritas pusat yang bisa membekukan saldo pengguna. Ether juga bekerja dengan prinsip serupa. Namun stablecoin seperti USDt dan USDC tetap memiliki kontrol terpusat yang memungkinkan penerbit membatasi penggunaan aset. Hal ini menunjukkan bahwa blockchain yang sepenuhnya terdesentralisasi tetap dapat digunakan untuk aset yang memiliki unsur sentralisasi tinggi. Stablecoin pada akhirnya lebih berfungsi sebagai jembatan antara dunia blockchain dan sistem keuangan tradisional dibanding aset kripto independen sepenuhnya. Mengapa Penerbit Stablecoin Bekerja Sama dengan Regulator? Penerbit stablecoin menghadapi tekanan regulasi yang besar karena token mereka dianggap sebagai representasi digital mata uang tradisional. Untuk mempertahankan hubungan dengan bank dan akses ke sistem pembayaran global, penerbit stablecoin umumnya bekerja sama dengan regulator dan lembaga penegak hukum. Menolak kerja sama dapat memicu denda besar, masalah
Panduan Lengkap Memahami Grafik Candlestick dan Pola-Polanya

Bagi pengguna Supercharts, Anda pasti sudah tidak asing dengan grafik candlestick (grafik lilin). Metode pemetaan yang dikembangkan pada abad ke-18 di Jepang untuk menganalisis pasar beras ini kini menjadi salah satu metode tertua sekaligus paling populer di dunia trading. Melalui visualisasinya, candlestick membantu para trader memahami sentimen pasar dan dinamika pergerakan harga dalam rentang waktu tertentu. Berikut adalah panduan lengkap untuk memahami cara kerjanya. Anatomi Dasar Candlestick Saat ini, candlestick sangat luas digunakan dalam analisis teknikal bersamaan dengan grafik garis (line chart) dan grafik batang (bar chart). Mempelajari variasinya memang membutuhkan waktu, tetapi wawasan yang didapatkan sangat berguna untuk mengidentifikasi potensi kelanjutan atau pembalikan tren. Setiap batang lilin terdiri dari dua komponen utama: Tubuh (Body): Menunjukkan rentang antara harga pembukaan (open) dan harga penutupan (close). Sumbu/Bayangan (Wick/Shadow): Garis yang memanjang di atas atau di bawah tubuh lilin. Sumbu ini mewakili harga tertinggi (high) dan terendah (low) selama periode waktu tersebut. Warna pada candlestick juga memberikan informasi arah pergerakan harga: Lilin Hijau (Bullish): Harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan (harga bergerak naik). Lilin Merah (Bearish): Harga penutupan lebih rendah dari harga pembukaan (harga bergerak turun). Candlestick vs Grafik Batang (Bar Chart) Keduanya adalah jenis grafik yang krusial bagi trader karena menyajikan data yang hampir sama (Open, High, Low, Close). Namun, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing: Candlestick: Sangat intuitif dan menarik secara visual. Cocok bagi trader yang fokus pada area buka/tutup harga. Bentuk pola yang dihasilkan dapat memberikan informasi komprehensif tentang sentimen pasar bahkan sebelum Anda menerapkan alat gambar atau indikator teknikal. Grafik Batang (Bar Chart): Lebih menyoroti harga penutupan sebagai standar harga aset yang sebenarnya. Namun, memindai dan memahami sekumpulan harga penutupan dari banyak grafik batang secara cepat cenderung lebih sulit dan kurang intuitif dibandingkan dengan melihat warna dan bentuk tubuh candlestick. Cara Mengaktifkan dan Mengatur Grafik Untuk memunculkan grafik ini di Supercharts, buka menu jenis grafik pada bilah alat (toolbar) di bagian atas, lalu pilih “Candles”. Agar visualisasinya lebih nyaman, Anda bisa menyesuaikan pengaturannya dengan mengeklik ikon roda gigi (Settings) dan membuka tab “Symbol”: Warna berdasarkan penutupan sebelumnya: Jika diaktifkan, warna lilin akan ditentukan berdasarkan perbandingan harga penutupannya dengan harga penutupan batang sebelumnya (bukan harga buka/tutup lilin itu sendiri). Body, Borders, dan Wick: Anda dapat mengubah warna tubuh, garis tepi, hingga sumbu lilin sesuai selera visual Anda. Mengenal Pola-Pola Candlestick Pola candlestick adalah formasi visual yang berulang, baik dari segi bentuk, urutan, maupun posisi antar-lilin, yang dapat memberikan sinyal mengenai pergerakan harga di masa depan. Sebuah pola bisa terbentuk hanya dari satu lilin tunggal, atau gabungan hingga lima lilin. Semakin banyak formasi lilin yang dibutuhkan, semakin jarang pola tersebut muncul. Terdapat tiga jenis pola utama: Pola Pembalikan Arah (Reversal Patterns) Memberikan sinyal bahwa tren yang sedang berlangsung kemungkinan akan berakhir dan berbalik arah. Contohnya adalah Tweezer Top (Bearish)—pola dua lilin yang muncul di puncak tren tren naik. Harga tertinggi dari lilin kedua sejajar dengan lilin pertama, mengindikasikan bahwa pembeli (bulls) sudah kehabisan tenaga untuk mendorong harga lebih tinggi. Pola Kelanjutan (Continuation Patterns) Mengindikasikan bahwa tren saat ini akan terus berlanjut. Contohnya adalah Rising Three Methods, yang terdiri dari satu lilin hijau panjang, diikuti tiga lilin merah kecil (yang tubuhnya tetap berada di dalam rentang lilin pertama), dan ditutup dengan satu lilin hijau panjang yang kembali melanjutkan tren naik. Pola Netral (Neutral Patterns) Pola ini sangat sering muncul di berbagai fase harga, salah satunya adalah Doji. Doji adalah pola satu lilin yang memiliki tubuh sangat tipis (harga buka dan tutup hampir sama) dengan sumbu yang seimbang. Warna Doji (merah atau hijau) tidak terlalu penting karena esensinya menunjukkan keraguan atau keseimbangan kekuatan di pasar. Menggunakan Indikator Pola Otomatis Untuk menghemat waktu analisis, Anda tidak perlu menghafal dan mencari semua pola tersebut secara manual. Platform penyedia grafik biasanya menyediakan alat pendeteksi otomatis. Di bilah alat atas, buka “Indicators” → “Technicals”, lalu pilih “Patterns” dan cari “Candlestick patterns”. Alat otomatis ini akan menyoroti konfigurasi spesifik pada grafik Anda. Meski begitu, ingatlah bahwa tidak semua indikator pola bekerja sempurna 100%. Terkadang sinyalnya bisa bertentangan dengan indikator lain. Oleh karena itu, penting untuk selalu melihat konteks pasar secara lebih luas dan menyesuaikannya dengan strategi Anda. Kesimpulan Fungsi utama candlestick adalah untuk menganalisis pergerakan harga. Metode ini telah menjadi standar emas dalam trading modern karena kesederhanaannya dalam merangkum data keuangan yang kompleks. Meskipun saat ini terdapat banyak variasi seperti hollow candles atau volume candles, menguasai bentuk orisinalnya beserta pola-polanya (dari Doji hingga formasi multi-lilin) adalah langkah awal terbaik untuk menavigasi kerasnya pasar keuangan.
Gagal Tembus Resisten, Harga Bitcoin Terkoreksi 4,75% Dihantam Arus Keluar ETF dan Makro Global

JAKARTA — Laju pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat mencetak reli dan menyentuh level US$ 81.500 pada akhir pekan lalu, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini gagal mempertahankan posisinya dan kembali merosot ke kisaran US$ 76.500–US$ 77.000 pada awal pekan ini. Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada Selasa (19/5/2026) pukul 18.40 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 76.799, mencatatkan penurunan sebesar 4,75% dalam sepekan terakhir. Katalis Reli Singkat: Regulasi AS dan Arus Masuk Institusi Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa reli singkat yang terjadi sebelumnya didorong oleh kombinasi sentimen positif yang kuat. “Ada optimisme terkait regulasi di Amerika Serikat setelah draf Clarity Act menunjukkan kemajuan di Senat. Sentimen ini sempat memberikan dorongan jangka pendek pada aset kripto dan saham-saham terkait, sebelum akhirnya tertahan oleh aksi hindar risiko (risk-off) di pasar yang lebih luas,” ungkap Fyqieh, Selasa (19/5). Selain sentimen regulasi, derasnya arus modal institusional juga sempat memompa harga. Merujuk pada data Farside, produk Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot sempat mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) yang masif, yakni US$ 629,8 juta pada 4 Mei dan US$ 532,3 juta pada 5 Mei 2026. Penyebab Koreksi: Tembok Resisten dan Tekanan Makro Meski didukung oleh arus dana besar, Bitcoin akhirnya kehabisan tenaga. Ada beberapa faktor utama yang memicu koreksi harga saat ini: Gagal Tembus Tembok Resisten: Secara teknikal, area US$ 82.000–US$ 82.500 terbukti menjadi batas atas (key ceiling) yang sangat solid. Kegagalan menembus area krusial ini memicu aksi tarik mundur (pullback) yang luas di pasar digital. Aksi Jual di Pasar ETF: Tren arus dana institusi berbalik arah dengan cepat. Data Farside menunjukkan adanya arus keluar (outflow) dari ETF Bitcoin sebesar US$ 648,6 juta pada 18 Mei, membalikkan tren positif di awal bulan. Tekanan Makroekonomi Global: Kondisi ekonomi global turut membebani pasar kripto. Naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, kekhawatiran atas inflasi yang persisten, serta tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik membuat investor cenderung menjauhi aset berisiko tinggi. Likuidasi Posisi Leverage: Penurunan harga diperparah oleh tingginya aksi likuidasi pada posisi leverage (perdagangan margin), yang mempercepat laju koreksi ketika momentum bullish patah. Prospek Harga: Fase Konsolidasi Berlanjut Melihat dinamika saat ini, Fyqieh menilai bahwa pergerakan Bitcoin masih terjebak dalam fase konsolidasi. Pasar belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren (trend reversal) skala besar selama harga gagal kembali ke atas area resisten utamanya. Ke depan, jika tekanan makro global dan arus keluar dana ETF masih terus berlanjut, Bitcoin berpotensi menguji area support (batas bawah) di kisaran US$ 77.800–US$ 78.500. “Selama Bitcoin belum mampu kembali menembus dan bertahan secara solid di atas level US$ 82.500, pergerakan harga saat ini masih akan cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan bayang-bayang risiko koreksi lanjutan,” tutup Fyqieh. Sebagai tambahan referensi, kami juga menyediakan Info Seputar Crypto terbaru yang dapat Anda akses kapan saja melalui beranda website Blockped.
Mengenal Apa Itu ICO (Initial Coin Offering)

Pada masa kejayaannya di tahun 2017, Initial Coin Offering (ICO) sempat merajai dunia pendanaan startup blockchain, bahkan mengalahkan metode modal ventura tradisional. Namun, apa sebenarnya ICO itu, dan bagaimana cara kerjanya? Definisi dan Cara Kerja ICO ICO atau Initial Coin Offering adalah sebuah metode penggalangan dana yang pernah sangat populer di kalangan proyek mata uang kripto tahap awal. Konsepnya mirip dengan crowdfunding (urun dana) digital. Dalam sebuah ICO, startup berbasis blockchain akan mencetak token digital asli mereka sendiri, lalu menawarkannya kepada investor awal. Sebagai gantinya, investor biasanya membayar menggunakan mata uang kripto yang sudah mapan seperti Bitcoin atau Ethereum. Bagi startup, ICO adalah cara brilian untuk mengumpulkan modal tanpa harus menyerahkan ekuitas atau kepemilikan saham perusahaan. Di sisi lain, metode ini juga membantu mereka membangun komunitas pengguna yang sangat termotivasi. Investor tentu berharap proyek tersebut sukses agar nilai token presale yang mereka beli ikut melonjak. Keuntungan bagi pembeli token terbagi menjadi dua: mereka mendapatkan akses ke layanan yang ditawarkan platform tersebut, dan jika proyeknya meledak sukses, harga token di bursa akan meroket tajam. Salah satu contoh kesuksesan terbesar adalah ICO Ethereum pada tahun 2014. Saat itu, 50 juta token Ether (ETH) dijual seharga $0,311 per keping. Pada Mei 2021, harga ETH menyentuh angka $4.382,73, memberikan keuntungan fantastis lebih dari 1,4 juta persen bagi investor awalnya. Jejak Sejarah ICO Perjalanan ICO dipenuhi dengan pasang surut yang luar biasa: 2013: Dimulai ketika J.R. Willet menulis “The Second Bitcoin White Paper” untuk proyek MasterCoin (kini Omni Layer) dan sukses meraup $600.000. 2014: Mulai berkembang dengan 7 proyek yang mengumpulkan total $30 juta. Ethereum mendominasi dengan meraup lebih dari $18 juta. 2016: Aktivitas ICO kembali menggeliat dengan 43 proyek yang berhasil mengumpulkan $256 juta. Tahun ini juga ditandai dengan insiden The DAO, sebuah dana investasi otonom yang berhasil mengumpulkan rekor $150 juta, namun sayangnya diretas sebesar $60 juta yang berujung pada keruntuhan proyek dan hard fork jaringan Ethereum. 2017 (Puncak Kejayaan): Berkat kemajuan teknologi, ICO mengalami ledakan luar biasa. Terdapat 342 penerbitan token yang menghasilkan hampir $5,4 miliar. Orang-orang berlomba-lomba berinvestasi secara tergesa-gesa tanpa terlalu memedulikan fundamental proyek. Sorotan Tajam dari Regulator Seiring dengan popularitasnya yang meroket, ICO mulai menarik perhatian ketat dari para penegak hukum. Pada tahun 2017, Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat merilis peringatan bahwa jika sebuah aset digital memiliki karakteristik sekuritas (seperti hak kepemilikan atau ekspektasi keuntungan dari pihak lain), maka aset tersebut harus tunduk pada hukum sekuritas AS. Ketua SEC, Gary Gensler, bahkan meyakini bahwa hampir semua ICO adalah sekuritas ilegal. Negara-negara lain pun mengambil tindakan: Regulator di Inggris, Australia, dan berbagai negara lain mengeluarkan peringatan keras kepada investor ritel terkait potensi penipuan. Tiongkok dan Korea Selatan mengambil langkah tegas dengan melarang ICO secara total. Thailand sempat memberlakukan larangan sementara untuk menyusun kerangka hukum yang baru. Hingga saat ini, belum ada konsensus global yang seragam mengenai undang-undang perlindungan investor dari penjualan token bodong. Risiko Tinggi di Balik ICO Token yang dibeli melalui ICO diklasifikasikan sebagai investasi berisiko sangat tinggi. Sebuah laporan dari Satis Group untuk Bloomberg pada tahun 2018 mengungkapkan fakta mengejutkan: hampir 80% dari ICO pada masa itu diyakini sebagai penipuan (scam). Jika Anda tertarik berinvestasi di proyek kripto baru, lakukanlah riset mendalam (due diligence) dengan langkah-langkah berikut: Periksa Tim Pengembang: Pastikan mereka memiliki pengalaman nyata dan rekam jejak yang jelas dalam membangun bisnis. Cari tahu akun media sosial profesional mereka. Baca White Paper dan Roadmap: Pahami bagaimana produk tersebut bekerja dan kapan fitur-fiturnya akan diluncurkan. Audit Keamanan: Proyek yang serius biasanya menyewa pihak ketiga untuk mengaudit kode komputer mereka. Waspadai Red Flag: Situs web yang dibuat asal-asalan, penuh salah ketik (typo), sering kali merupakan indikasi penipuan. Selain risiko penipuan, ada juga risiko pump and dump. Sangat umum terjadi di mana investor awal langsung menjual koin diskon mereka secara massal begitu token tersebut masuk ke bursa kripto demi keuntungan instan. Hal ini sering membuat harga token hancur dan jarang bisa pulih kembali. Faktanya, studi tahun 2018 menunjukkan bahwa lebih dari 50% proyek ICO gagal bertahan lebih dari empat bulan, menyisakan ribuan “koin mati” (dead coins) di pasar.
Bawa Dogecoin ke Arus Utama, Revolut Rilis Kartu Debit Fisik Tanpa Biaya Tukar Tambahan

Raksasa teknologi finansial (fintech) asal Eropa, Revolut, kembali melakukan gebrakan dengan meluncurkan kartu debit fisik bertema Dogecoin (DOGE). Langkah strategis ini bertujuan untuk mengintegrasikan budaya kripto, khususnya koin meme populer tersebut, ke dalam sistem pembayaran arus utama sehari-hari. Bisa Digunakan di Jaringan Visa dan Mastercard Dalam pengumumannya pada hari Senin lalu, Revolut mengonfirmasi bahwa kartu debit ini dapat digunakan di seluruh merchant atau pedagang yang menerima pembayaran melalui jaringan Visa dan Mastercard. Pada peluncuran tahap awal, fasilitas kartu ini akan tersedia bagi para pengguna di Inggris dan sebagian besar negara Uni Eropa. Namun, layanan ini untuk sementara waktu belum tersedia di Hungaria, Swiss, dan Portugal. Bebas Biaya Tukar, Namun Tetap Tunduk pada Pajak Lokal Melalui platform X (sebelumnya Twitter), pihak Revolut menegaskan bahwa pengguna tidak akan dikenakan biaya pertukaran tambahan (extra exchange fees) saat melakukan pembelian menggunakan kartu ini. Meski demikian, terdapat beberapa catatan penting bagi pengguna: Nilai Tukar Real-Time: Pembayaran menggunakan kartu kripto ini akan tunduk pada nilai tukar yang berlaku tepat pada saat transaksi dilakukan. Kewajiban Pajak: Penggunaan kripto untuk transaksi belanja berpotensi memicu kewajiban pelaporan pajak, yang mekanismenya akan sangat bergantung pada regulasi di masing-masing yurisdiksi lokal. Mendorong Kripto Lebih dari Sekadar Aset Spekulasi Peluncuran kartu Dogecoin ini hadir di tengah tren ekspansi kartu debit berbasis kripto secara global. Sebelumnya, bursa kripto raksasa seperti Coinbase dan Crypto.com juga telah memperluas jangkauan program kartu mereka untuk menghubungkan aset digital dengan transaksi ritel. Manuver bisnis ini mencerminkan upaya yang lebih luas di industri kripto untuk beranjak dari sekadar instrumen trading dan spekulasi. Perusahaan-perusahaan keuangan kini berlomba mendorong pengguna agar mulai membelanjakan kripto mereka melalui jaringan pembayaran yang sudah familier, alih-alih hanya menyimpannya di dalam dompet digital (wallet). Agresivitas Ekspansi Revolut di Sektor Perbankan dan Kripto Inovasi kartu DOGE ini sekaligus menandai semakin dalamnya penetrasi Revolut di sektor layanan perbankan dan aset digital. Sepanjang tahun 2025 lalu, Revolut telah melakukan integrasi jaringan Polygon ke dalam aplikasinya, memungkinkan pengguna untuk melakukan pengiriman uang (remittance), staking token POL, hingga melakukan pembayaran kripto in-app. Selain memperkuat ekosistem kriptonya, Revolut juga terus memantapkan posisinya sebagai lembaga keuangan tradisional. Pada bulan Maret lalu, perusahaan ini telah mengantongi persetujuan regulasi untuk beroperasi sebagai bank berlisensi penuh di Inggris, serta tengah mengajukan permohonan lisensi perbankan baru (de novo) di Amerika Serikat. Untuk memperoleh informasi terbaru dan terpercaya, Anda dapat mengunjungi Portal Crypto kami yang selalu menghadirkan update terkini melalui beranda website Blockped.