Investor Profesional Lepas 52.000 BTC dari ETF Bitcoin pada Kuartal I 2026

Kepemilikan investor profesional terhadap ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini terjadi seiring melemahnya pasar Bitcoin dan meningkatnya aksi jual dari sejumlah institusi yang berorientasi pada perdagangan jangka pendek. Berdasarkan laporan terbaru dari CoinShares yang menganalisis dokumen 13F, yaitu laporan regulasi yang mengungkap kepemilikan aset para manajer investasi dengan aset kelolaan minimal 100 juta dolar AS, investor profesional tercatat mengurangi eksposur mereka terhadap ETF Bitcoin dari 313.000 BTC menjadi 261.000 BTC selama kuartal pertama. Penurunan tersebut setara dengan sekitar 52.000 BTC atau turun 17% dibandingkan periode sebelumnya. Selain jumlah kepemilikan yang berkurang, nilai total aset yang dimiliki investor profesional melalui ETF Bitcoin juga mengalami penurunan cukup tajam. Nilainya turun sekitar 35% menjadi 17,8 miliar dolar AS. Sementara itu, porsi kepemilikan ETF Bitcoin AS yang dimiliki oleh investor pelapor 13F juga turun dari 24,7% menjadi 20,8%. Hedge Fund Menjadi Kontributor Utama Aksi Jual Menurut analis aset digital CoinShares, Matt Kimmell, data tersebut menunjukkan pola yang sering terjadi ketika pasar Bitcoin mengalami tekanan. Ia menjelaskan bahwa strategi investasi yang memanfaatkan leverage maupun perdagangan taktis biasanya menjadi yang pertama dikurangi saat pasar memasuki fase penurunan. Aksi jual terbesar berasal dari hedge fund dan perusahaan pialang (brokerage), yang secara gabungan menyumbang sekitar 96% dari total pengurangan eksposur. Hedge fund tercatat mengurangi kepemilikan mereka sebesar 31.400 BTC atau turun sekitar 39%. Sementara itu, perusahaan pialang memangkas eksposur hingga 18.800 BTC, setara dengan penurunan sekitar 53%. Data tersebut menunjukkan bahwa investor yang lebih aktif melakukan perdagangan jangka pendek cenderung mengambil langkah defensif selama periode volatilitas pasar. Penasihat Investasi dan Bank Justru Menambah Eksposur Di tengah aksi jual dari hedge fund, beberapa kelompok investor justru menunjukkan pendekatan yang berbeda. Penasihat investasi (investment advisors), yang merupakan kelompok investor profesional terbesar dengan kepemilikan sekitar 150.300 BTC, hanya mengurangi eksposur sebesar 5,9%. Lebih menarik lagi, sektor perbankan justru meningkatkan kepemilikannya secara signifikan. Bank-bank yang memiliki eksposur terhadap ETF Bitcoin tercatat menambah sekitar 7.800 BTC selama kuartal pertama, sehingga total kepemilikan mereka meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Perbedaan perilaku ini mengindikasikan bahwa sebagian institusi masih memandang Bitcoin sebagai aset yang memiliki potensi jangka panjang meskipun pasar sedang mengalami koreksi. Penurunan Kepemilikan Terjadi Saat Harga Bitcoin Melemah Berkurangnya kepemilikan ETF Bitcoin oleh investor profesional terjadi bersamaan dengan koreksi harga yang cukup tajam. Sepanjang kuartal pertama 2026, harga Bitcoin turun sekitar 22% dan melanjutkan tren pelemahan yang telah dimulai sejak akhir 2025. Pada titik terendahnya, Bitcoin sempat diperdagangkan di bawah level 60.000 dolar AS. Jika dibandingkan dengan rekor tertinggi sepanjang masa yang tercapai pada Oktober 2025 di atas 126.000 dolar AS, harga Bitcoin sempat terkoreksi sekitar 50%. Kondisi tersebut mendorong banyak investor jangka pendek untuk mengurangi risiko dan menyesuaikan posisi investasi mereka. Regulasi Kripto Justru Menunjukkan Perkembangan Positif Meski pasar mengalami volatilitas tinggi, CoinShares menilai kuartal pertama 2026 juga menghadirkan sejumlah perkembangan regulasi yang berpotensi mendukung pertumbuhan industri aset digital dalam jangka panjang. Salah satu perkembangan penting adalah upaya regulator Amerika Serikat untuk memperjelas pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dalam mengawasi aset digital. Selain itu, muncul berbagai usulan terkait perlakuan aset digital dalam rekening pensiun dan instrumen investasi jangka panjang lainnya. Perkembangan positif tersebut berlanjut setelah kuartal pertama berakhir. SEC baru-baru ini menetapkan aset digital sebagai salah satu prioritas strategis hingga tahun 2030. Dalam dokumen rancangan yang dirilis pekan ini, SEC menyatakan komitmennya untuk membangun fondasi regulasi yang lebih jelas dan konsisten bagi aset digital serta teknologi distributed ledger. Institusi Keuangan Semakin Terbuka terhadap Bitcoin CoinShares juga menyoroti meningkatnya penerimaan Bitcoin di kalangan institusi keuangan tradisional. Awal tahun ini, BlackRock mengakui bahwa Bitcoin berpotensi memainkan peran penting dalam portofolio investasi modern. Menurut perusahaan tersebut, strategi diversifikasi tradisional yang hanya mengandalkan saham dan obligasi menjadi semakin kurang efektif dibandingkan periode sebelum 2020. Meski demikian, perhatian pelaku pasar saat ini masih tertuju pada nasib CLARITY Act, rancangan undang-undang yang bertujuan membentuk kerangka regulasi aset digital yang lebih komprehensif di Amerika Serikat. RUU tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai pembagian tugas antara SEC dan CFTC dalam mengawasi industri kripto. Walaupun mendapat sejumlah kritik dari industri perbankan, beberapa anggota parlemen memperkirakan pembahasan CLARITY Act dapat mencapai tahap pemungutan suara di Senat paling cepat pada Agustus mendatang. Ikuti berita cryptocurrency untuk mengikuti perkembangan terbaru ETF Bitcoin, regulasi aset digital, dan berbagai tren penting yang memengaruhi pasar kripto global.
Mengapa Pasar Kripto Perlu Memperhatikan Peran Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed?

Ketika membahas regulasi aset digital, perhatian publik biasanya tertuju pada parlemen, regulator sekuritas, atau lembaga pengawas keuangan. Namun, Ketua Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat juga memiliki pengaruh besar terhadap industri kripto, meskipun tidak mengatur aset digital secara langsung. Kevin Warsh, yang kini menjabat sebagai Ketua The Fed, menjadi sorotan karena latar belakang investasinya yang sempat memiliki keterkaitan dengan sektor blockchain dan kripto. Meski kepemilikan tersebut telah dilepas sebelum menjabat, banyak pelaku pasar masih memperhatikan bagaimana pandangannya terhadap ekonomi dan kebijakan moneter dapat memengaruhi industri aset digital. Mengapa Warsh Harus Menjual Aset Kripto yang Dimilikinya? Federal Reserve merupakan salah satu institusi keuangan paling berpengaruh di dunia. Oleh karena itu, pejabat senior di lembaga ini diwajibkan mematuhi standar etika yang ketat untuk menghindari konflik kepentingan. Aturan tersebut diperketat setelah muncul kritik terhadap aktivitas perdagangan yang dilakukan sejumlah pejabat regional The Fed selama periode volatilitas pasar pada masa pandemi COVID-19. Saat ini, pejabat tinggi The Fed dilarang memiliki berbagai jenis aset yang berpotensi dipengaruhi oleh keputusan kebijakan mereka, termasuk saham individu, mata uang kripto, komoditas, dan aset keuangan tertentu lainnya. Karena itu, Warsh diwajibkan menjual aset-aset yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan sebelum resmi menjalankan tugasnya sebagai Ketua The Fed. Pelepasan aset tersebut bukan berarti terdapat pelanggaran atau tindakan yang tidak etis. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap independensi lembaga dan memastikan bahwa setiap keputusan kebijakan dibuat tanpa pengaruh kepentingan pribadi. Seperti Apa Keterkaitan Warsh dengan Industri Kripto? Berdasarkan dokumen pengungkapan keuangan yang dipublikasikan sebelum pengangkatannya, keterlibatan Warsh di sektor kripto sebagian besar berasal dari investasi tidak langsung melalui dana ventura dan perusahaan investasi. Eksposur tersebut mencakup sejumlah bidang yang berkaitan dengan teknologi blockchain, seperti: Infrastruktur decentralized finance (DeFi). Solusi penskalaan jaringan Ethereum. Proyek yang memanfaatkan Bitcoin Lightning Network. Sistem prediction market berbasis blockchain. Karena sebagian besar investasi dilakukan melalui dana privat, nilai eksposur yang sebenarnya sulit diketahui secara pasti. Namun, fakta bahwa Ketua The Fed pernah berinvestasi di sektor-sektor tersebut dianggap menarik karena menunjukkan pemahamannya terhadap teknologi yang masih menjadi fokus perdebatan banyak pembuat kebijakan. Meski demikian, setelah menjabat, kepentingan institusi tetap harus ditempatkan di atas kepentingan investasi pribadi. Bagaimana The Fed Memengaruhi Pasar Kripto? Banyak orang menganggap regulasi kripto hanya bergantung pada lembaga seperti SEC atau CFTC. Padahal, kebijakan The Fed sering kali memiliki dampak yang lebih luas terhadap kondisi pasar. The Fed bertanggung jawab menentukan suku bunga acuan Amerika Serikat, mengelola likuiditas sistem keuangan, mengawasi sektor perbankan, serta memengaruhi kebijakan pembayaran dan stabilitas keuangan. Meskipun The Fed tidak memutuskan apakah suatu token termasuk sekuritas atau tidak, kebijakan yang dibuatnya dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Karena itu, keputusan yang diambil oleh Warsh berpotensi memengaruhi pasar aset digital secara signifikan. Mengapa Suku Bunga Sangat Penting bagi Kripto? Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Ketika suku bunga rendah dan likuiditas melimpah, investor cenderung lebih berani mengambil risiko. Pendanaan untuk startup menjadi lebih mudah diperoleh, biaya pinjaman menurun, dan minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin maupun altcoin biasanya meningkat. Sebaliknya, ketika suku bunga naik, banyak investor mulai mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah. Akibatnya, aset berisiko sering menghadapi tekanan jual yang lebih besar. Inilah alasan mengapa setiap pernyataan atau konferensi pers The Fed sering menjadi perhatian pelaku pasar kripto. Investor tidak hanya memperhatikan kondisi saat ini, tetapi juga mencoba memprediksi arah kebijakan di masa depan. Fokus Warsh terhadap Inflasi Bisa Berdampak pada Kripto Kevin Warsh dikenal cukup vokal dalam membahas risiko inflasi dan beberapa kali mengkritik kebijakan moneter di masa lalu. Bagi investor kripto, pandangan ini cukup penting. Jika Warsh memilih mempertahankan kebijakan yang ketat untuk mengendalikan inflasi, suku bunga dapat bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Kondisi tersebut umumnya kurang menguntungkan bagi aset berisiko. Namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap inflasi juga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian investor tertarik pada Bitcoin. Sebagian pelaku pasar melihat Bitcoin sebagai aset alternatif yang dapat membantu melindungi nilai kekayaan ketika daya beli mata uang fiat melemah akibat inflasi. Hal ini menciptakan dinamika yang menarik. Upaya mengendalikan inflasi dapat memberikan tekanan jangka pendek terhadap harga kripto, tetapi kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan minat terhadap aset digital dalam jangka panjang. Peran Neraca The Fed terhadap Likuiditas Pasar Selain suku bunga, ukuran neraca atau balance sheet The Fed juga menjadi faktor penting yang sering diperhatikan investor. Saat menjalankan kebijakan quantitative easing (QE), The Fed membeli berbagai surat berharga sehingga likuiditas dalam sistem keuangan meningkat. Periode seperti ini sering dikaitkan dengan performa yang lebih baik untuk aset berisiko. Sebaliknya, quantitative tightening (QT) bertujuan mengurangi ukuran neraca dan menyerap likuiditas dari pasar. Warsh sebelumnya pernah mempertanyakan efektivitas pembelian aset dalam skala besar. Jika selama masa kepemimpinannya The Fed semakin agresif mengurangi neraca, pasar kripto kemungkinan akan memantau langkah tersebut dengan cermat. Meskipun likuiditas tidak secara langsung menentukan harga Bitcoin, banyak analis menilai bahwa aset digital sangat sensitif terhadap perubahan kondisi likuiditas global. Stablecoin dan Akses Perbankan Bisa Menjadi Fokus Penting Pengaruh The Fed menjadi lebih nyata ketika membahas stablecoin. Penerbit stablecoin sangat bergantung pada sistem keuangan tradisional karena mereka harus menyimpan cadangan dana di bank dan terhubung dengan jaringan pembayaran yang ada. Walaupun Kongres dapat menetapkan kerangka regulasi, operasional harian stablecoin sering kali melibatkan regulator perbankan dan Federal Reserve. Di bawah kepemimpinan Warsh, kebijakan mengenai kustodian, pengelolaan cadangan, akses ke sistem pembayaran, dan standar manajemen risiko dapat memengaruhi perkembangan industri stablecoin. Meskipun bukan regulasi kripto secara langsung, kebijakan tersebut tetap dapat memberikan dampak besar terhadap perusahaan aset digital. Mengapa Independensi The Fed Penting bagi Investor Kripto? Independensi bank sentral merupakan salah satu faktor yang menjaga stabilitas pasar keuangan. Investor umumnya lebih menyukai kebijakan moneter yang didasarkan pada data ekonomi daripada tekanan politik. Jika pasar mulai meragukan independensi The Fed, ketidakpastian dapat meningkat dan memengaruhi berbagai aspek ekonomi seperti imbal hasil obligasi, nilai dolar AS, ekspektasi inflasi, hingga sentimen investasi. Bagi sebagian pendukung Bitcoin, campur tangan politik dalam kebijakan moneter justru memperkuat argumen untuk menggunakan sistem keuangan yang lebih terdesentralisasi. Sementara itu, sebagian investor lain menilai bahwa bank sentral yang
Anggota DPR AS Desak FTC Selidiki Platform Prediction Market

Sembilan anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat meminta Federal Trade Commission (FTC) untuk menyelidiki praktik pemasaran yang dilakukan oleh platform prediction market. Mereka menilai sejumlah perusahaan di sektor ini kemungkinan menyampaikan informasi yang berbeda kepada publik dan regulator. Permintaan tersebut disampaikan oleh anggota DPR Kevin Mullin dan Gabe Vasquez dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Rabu. Menurut mereka, FTC perlu meninjau apakah platform prediction market mempromosikan layanannya sebagai sarana taruhan atau perjudian kepada pengguna, sementara di sisi lain mengklaim kepada regulator bahwa produk mereka merupakan instrumen keuangan atau investasi. Apa Itu Prediction Market? Prediction market adalah platform yang memungkinkan pengguna memperdagangkan kontrak berdasarkan hasil suatu peristiwa di masa depan. Peristiwa tersebut dapat mencakup berbagai kategori, mulai dari politik, ekonomi, olahraga, hingga perkembangan teknologi. Secara sederhana, pengguna dapat membeli atau menjual kontrak yang merepresentasikan prediksi terhadap suatu kejadian. Nilai kontrak tersebut akan berubah sesuai dengan persepsi pasar mengenai kemungkinan hasil yang akan terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, prediction market semakin populer karena dianggap mampu mengumpulkan informasi dan sentimen pasar secara efisien. Banyak platform modern juga memanfaatkan teknologi blockchain serta aset kripto untuk memproses transaksi dan penyelesaian pembayaran. Tuduhan Adanya Pesan yang Bertentangan Para anggota DPR menilai beberapa platform prediction market menggunakan istilah yang identik dengan industri taruhan olahraga, seperti “legal betting” atau taruhan olahraga tanpa sportsbook. Namun, ketika berhadapan dengan regulator, perusahaan-perusahaan tersebut disebut lebih sering menggambarkan diri mereka sebagai penyedia produk keuangan atau instrumen investasi. Menurut Mullin, perbedaan cara penyampaian ini berpotensi membingungkan konsumen mengenai aturan, perlindungan hukum, dan risiko yang sebenarnya berlaku. Ia menilai masyarakat berhak mengetahui secara jelas apakah layanan yang mereka gunakan berada dalam kategori investasi, hiburan berbasis prediksi, atau bentuk aktivitas lain yang memiliki regulasi berbeda. Karena itu, para legislator meminta FTC memastikan bahwa tidak ada praktik pemasaran yang berpotensi menyesatkan konsumen. FTC Diminta Memberikan Penjelasan Selain meminta penyelidikan, para anggota DPR juga mengirim surat resmi kepada FTC yang meminta jawaban paling lambat pada 29 Juni. Dalam surat tersebut, mereka meminta informasi mengenai apakah FTC berencana melakukan investigasi atau tindakan penegakan hukum terhadap platform prediction market atas dugaan praktik yang menyesatkan. Mereka juga ingin mengetahui apakah FTC telah menerima keluhan dari masyarakat terkait layanan prediction market serta bagaimana lembaga tersebut mempertimbangkan persepsi publik dan dokumen hukum perusahaan ketika menilai kemungkinan adanya pelanggaran. Surat tersebut turut ditandatangani oleh beberapa anggota DPR lainnya, termasuk Jared Huffman, Raul Ruiz, Salud Carbajal, Mike Levin, Dina Titus, Paul Tonko, dan Valerie Foushee. Prediction Market Juga Disorot Terkait Dugaan Insider Trading Perhatian regulator terhadap prediction market tidak hanya berkaitan dengan masalah pemasaran. Pada Mei lalu, Kongres AS juga meluncurkan penyelidikan terhadap platform prediction market seperti Polymarket dan Kalshi terkait dugaan praktik insider trading. Para anggota parlemen meminta penjelasan mengenai bagaimana perusahaan menangani insiden yang melibatkan informasi nonpublik di platform mereka. Kasus tersebut menunjukkan bahwa prediction market kini semakin menjadi sorotan regulator karena pertumbuhannya yang pesat dan keterlibatannya dalam berbagai sektor yang sensitif, termasuk politik dan keuangan. Blockchain Semakin Berperan dalam Prediction Market Prediction market saat ini menjadi salah satu contoh penggunaan teknologi blockchain yang berkembang pesat di dunia nyata. Banyak platform memanfaatkan jaringan blockchain, stablecoin, dan aset kripto untuk memfasilitasi perdagangan kontrak serta penyelesaian transaksi secara lebih cepat dan efisien. Popularitas sektor ini juga terus meningkat. Pada Maret lalu, volume transaksi prediction market mencapai rekor tertinggi, didorong oleh meningkatnya minat terhadap kontrak politik dan geopolitik, kemudahan akses platform, serta perkembangan regulasi yang dianggap lebih mendukung industri tersebut. Meskipun menawarkan potensi inovasi dalam pengumpulan informasi dan prediksi pasar, sektor prediction market masih menghadapi berbagai tantangan regulasi. Perdebatan mengenai apakah layanan tersebut lebih dekat dengan investasi atau perjudian diperkirakan akan terus menjadi topik penting dalam perkembangan industri ini di masa mendatang. Kunjungi info blockchain untuk mendapatkan wawasan terbaru mengenai perkembangan teknologi blockchain, aset digital, dan berbagai inovasi yang sedang membentuk masa depan industri keuangan.
Maelstrom Sebut Worldcoin Jadi Taruhan yang Terabaikan di Tengah Gelombang IPO AI

Perusahaan investasi milik Arthur Hayes, Maelstrom, menilai bahwa Worldcoin (WLD) berpotensi menjadi salah satu aset kripto yang paling diuntungkan dari meningkatnya minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Bahkan, perusahaan tersebut memperkirakan harga WLD dapat melonjak hingga 800% dalam beberapa bulan ke depan. Menurut peneliti Maelstrom, Lukas Ruppert, pasar saat ini terlalu fokus pada perusahaan AI besar yang bersiap melantai di bursa, sementara salah satu aset yang memiliki keterkaitan kuat dengan tren tersebut justru belum mendapatkan perhatian yang sepadan. “Gelombang IPO raksasa AI akan segera datang, tetapi pasar tampaknya mengabaikan salah satu proxy paling menarik untuk mendapatkan eksposur terhadap sektor tersebut,” ujar Ruppert dalam unggahan yang dipublikasikan pada Rabu. Demam AI Mendorong Minat Investor Global Sektor AI terus menjadi pusat perhatian pasar keuangan Amerika Serikat sepanjang 2026. OpenAI diketahui telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada SEC pada 22 Mei dan menargetkan debut di pasar saham pada September 2026. Perusahaan tersebut dikabarkan ingin menghimpun dana hingga 60 miliar dolar AS dengan valuasi yang berpotensi mencapai 1 triliun dolar AS. Di sisi lain, pesaingnya, Anthropic, juga mengajukan dokumen IPO secara rahasia pada awal pekan ini. Sebelumnya, perusahaan AI tersebut mengumumkan valuasi sebesar 965 miliar dolar AS setelah memperoleh pendanaan baru senilai 65 miliar dolar AS. Antusiasme terhadap AI juga mendorong indeks saham utama Amerika Serikat mencetak rekor baru. Saham-saham yang bergerak di sektor kecerdasan buatan dan penyimpanan data seperti SanDisk, Micron, Seagate, dan Western Digital menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar. Meski demikian, Ruppert berpendapat bahwa lonjakan minat terhadap AI belum tercermin pada harga Worldcoin. Worldcoin Dinilai Memiliki Kaitan Kuat dengan Tren AI Worldcoin merupakan proyek aset digital yang didirikan bersama oleh CEO OpenAI, Sam Altman. Proyek ini bertujuan membangun jaringan identitas digital global yang mampu membedakan manusia asli dari bot atau sistem kecerdasan buatan. Token WLD berfungsi sebagai aset utama dalam ekosistem tersebut. Karena keterkaitannya dengan Sam Altman dan narasi perkembangan AI, Maelstrom melihat Worldcoin sebagai salah satu cara tidak langsung untuk mendapatkan eksposur terhadap pertumbuhan industri kecerdasan buatan melalui pasar kripto. Dua Faktor yang Berpotensi Mendorong Harga WLD Harga WLD sendiri mengalami tren penurunan sejak Februari. Tekanan jual semakin meningkat setelah adanya penjualan token secara privat pada Maret lalu. Pada periode tersebut, Worldcoin berhasil mengumpulkan dana sebesar 65 juta dolar AS melalui transaksi over-the-counter (OTC), yaitu penjualan token langsung kepada investor tertentu di luar bursa kripto. Dari total dana tersebut, sekitar 25 juta dolar AS berada dalam masa penguncian selama enam bulan. Menurut Ruppert, sejumlah investor yang membeli token dalam putaran tersebut melakukan lindung nilai dengan membuka posisi short di pasar perpetual futures. Strategi ini menciptakan tekanan jual tambahan yang membebani harga WLD. Namun, ia menilai terdapat dua katalis utama yang berpotensi mengubah kondisi tersebut. Faktor pertama berasal dari perusahaan publik Eightco (ORBS), yang telah mengakumulasi sekitar 283 juta token WLD. Perusahaan tersebut diketahui memiliki kas sekitar 144 juta dolar AS dalam neracanya. Jika dana tersebut digunakan untuk membeli lebih banyak WLD yang saat ini banyak diposisikan short oleh trader, maka hal itu dapat memicu kenaikan harga yang semakin memperbesar tekanan terhadap posisi short dan mendorong reli lanjutan. Faktor kedua adalah perubahan jadwal unlock token Worldcoin. Saat ini, token baru dilepas ke pasar setiap hari. Namun, mulai 24 Juli, jumlah token yang dibuka diperkirakan akan berkurang sekitar 43%. Berkurangnya pasokan baru yang masuk ke pasar dapat mengurangi tekanan jual yang selama ini membebani harga WLD. Potensi Kenaikan hingga 800% Ruppert menilai modal investor saat ini sedang mengalir deras ke perusahaan-perusahaan AI seperti OpenAI dan Anthropic. Menurutnya, ketika perusahaan-perusahaan tersebut memiliki valuasi ratusan miliar hingga triliunan dolar AS, kapitalisasi pasar WLD yang telah terbuka sepenuhnya masih berada di sekitar 2 miliar dolar AS. Nilai tersebut dianggap relatif kecil dibandingkan dengan besarnya sektor AI secara keseluruhan. Karena itu, Maelstrom melihat peluang kenaikan yang tidak seimbang antara risiko dan potensi keuntungan atau yang sering disebut sebagai asymmetric upside. Ruppert juga menekankan bahwa pergerakan WLD memang tidak selalu aktif. Namun ketika momentum mulai terbentuk, kenaikannya dapat berlangsung sangat agresif. Berdasarkan analisis tersebut, Maelstrom memperkirakan harga WLD dapat mencapai 5 dolar AS pada Agustus mendatang, yang setara dengan potensi kenaikan sekitar 800% dibandingkan level saat ini. Prediksi tersebut muncul ketika WLD menjadi salah satu aset kripto dengan performa terbaik di antara 100 token terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Dalam sepekan terakhir, harga token ini telah melonjak sekitar 60%. Bahkan dalam 24 jam terakhir, WLD mencatat kenaikan hampir 30% dan sempat diperdagangkan di atas level 0,55 dolar AS pada perdagangan Kamis pagi. Kunjungi Berita Blockchain untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar aset digital, teknologi blockchain, dan tren kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi pasar kripto global.
Mengamankan Aset dengan Dompet Multisig: Solusi Cerdas Tanpa Titik Kegagalan

Komunitas mata uang kripto global selalu dikenal karena semangat dan dedikasi mereka terhadap proyek atau token favorit masing-masing. Namun, di balik semangat tersebut, ada satu perdebatan klasik yang tak berkesudahan dan sering kali memicu gesekan tajam: manakah yang lebih baik antara Penyimpanan Kripto panas (hot storage) atau penyimpanan dingin (cold storage)? Kubu pendukung dompet panas (hot wallet) selalu mengedepankan aspek kepraktisan, akses transaksi yang kilat, dan biaya yang sangat rendah. Di sisi lain, para penganut garis keras dompet dingin (cold wallet) akan selalu membentengi argumen mereka dengan pepatah emas industri kripto: “Bukan kunci Anda, bukan koin Anda” (Not your keys, not your crypto). Meskipun perangkat keras luring (cold storage) memang menawarkan tingkat keamanan yang tak tertandingi oleh aplikasi daring, ada kalanya Anda memiliki tuntutan operasional yang mewajibkan aset kripto tersebut harus tetap berada dalam jaringan internet (misalnya untuk kebutuhan perputaran dana harian perusahaan). Terlebih lagi, pepatah penguasaan Kunci Pribadi tunggal tersebut menjadi sangat problematik dan tidak relevan ketika aset kripto yang harus dikelola bukanlah milik individu, melainkan kas milik sebuah perusahaan, lembaga institusi, maupun Organisasi Otonom Terdesentralisasi (DAO). Menitipkan miliaran rupiah kas perusahaan kepada satu orang pemegang kunci tentu adalah mimpi buruk secara manajerial. Oleh karena itu, kita akan membedah sebuah solusi penengah yang brilian untuk meroketkan keamanan aset tanpa harus bergantung pada perangkat keras luring, yakni dengan menggunakan Dompet Kripto Multi-Tanda Tangan (Multisignature atau Multisig). Konsep Dasar dan Arsitektur Dompet Multisig Dompet multisig, yang dalam dunia DeFi (Decentralized Finance) juga sering dijuluki sebagai brankas multisig (multisig vault), adalah sebuah Dompet Kripto berteknologi tinggi yang mewajibkan persetujuan dari dua atau lebih Kunci Pribadi sebelum sebuah transaksi keuangan dapat dieksekusi oleh jaringan blockchain. Sistem pertahanan berlapis ini diciptakan khusus untuk mengeliminasi pencurian. Proses kerjanya sangat ketat; dompet akan meminta tanda tangan digital dari sekumpulan alamat pengesah yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jika ada satu saja tanda tangan wajib yang tidak terpenuhi, maka dana tersebut tidak akan pernah bisa keluar dari brankas. Bayangkan sistem ini seperti prosedur pembukaan brankas rahasia di bank sentral yang mewajibkan tiga manajer berbeda untuk memasukkan kunci mereka masing-masing ke dalam lubang kunci secara bersamaan. Berdasarkan konfigurasi matematiknya, terdapat dua tipe skema persetujuan yang paling umum digunakan: Persetujuan Mutlak: Semua pihak yang terdaftar wajib memberikan tanda tangannya (misalnya skema 3-dari-3, di mana tiga kunci terdaftar harus menandatangani transaksi). Persetujuan Kuorum mayoritas: Hanya membutuhkan batas minimal persetujuan dari total peserta yang terdaftar (misalnya skema 2-dari-3, atau skema 3-dari-5). Skema ini paling populer karena fleksibel jika salah satu pihak sedang berhalangan. Satu perbedaan arsitektur yang paling mencolok antara dompet tradisional dan dompet multisig terletak pada mesin pembangunnya. Dompet tradisional (seperti MetaMask standar) bertindak sebagai Akun Milik Eksternal (Externally Owned Account / EOA) yang murni dikendalikan oleh frasa benih pengguna. Sebaliknya, dompet multisig dibangun secara utuh di atas kerangka Kontrak Pintar (Smart Contract). Dompet ini adalah potongan perangkat lunak yang berjalan secara otonom di atas blockchain, tidak memiliki frasa benih (seedless), dan murni dikendalikan oleh logika baris kode yang telah disetujui bersama oleh para pemiliknya. Tiga Keunggulan Utama Mengadopsi Arsitektur Multisig Selain menawarkan pengamanan berlapis ala militer dan fasilitas pengambilan keputusan kolektif, dompet multisig juga menyuguhkan berbagai keunggulan struktural yang membuatnya menjadi standar emas bagi tata kelola dana institusional dan DAO. 1. Menghapus Risiko Sosok Kunci Terpusat (Key Person Risk) Keunggulan paling fundamental dari dompet multisig adalah kemampuannya menyingkirkan “Risiko Sosok Kunci” (Key Person Risk). Ini adalah sebuah istilah manajemen yang merujuk pada kondisi fatal di mana kelangsungan hidup sebuah entitas bergantung sepenuhnya pada pundak satu individu. Di dunia Penyimpanan Kripto tradisional, membiarkan satu orang CEO atau bendahara menyimpan frasa benih dompet perusahaan adalah sebuah bom waktu. Sejarah kelam industri kripto pernah mencatat tragedi jatuhnya bursa QuadrigaCX. Ketika sang pendiri bursa mendadak meninggal dunia, barulah terungkap bahwa ia adalah satu-satunya manusia yang memegang kata sandi cold storage perusahaan. Akibatnya, dana deposit pelanggan senilai ratusan juta dolar lenyap terkurung selamanya tak tersentuh. Dengan dompet multisig berkonfigurasi 2-dari-3 atau 3-dari-5, tragedi semacam ini mustahil terjadi. Sistem ini melenyapkan titik kegagalan tunggal (single point of failure). Sekalipun salah satu direktur kehilangan kuncinya, mengundurkan diri, atau bahkan berkhianat, sisa mayoritas direktur lainnya tetap memiliki kendali penuh untuk mengakses dan menyelamatkan aset perusahaan. 2. Transparansi Tak Terbantahkan Karena beroperasi di atas kerangka kontrak pintar, dompet multisig secara alamiah mempromosikan tingkat transparansi tertinggi. Segala hal terkait tata kelola kas—mulai dari daftar publik para pihak penandatangan, jejak rekam mutasi saldo, hingga kebijakan persetujuan transaksi—tercatat rapi dan terbuka secara publik di buku besar blockchain. Sistem pencatatan yang transparan ini menghadirkan gambaran utuh mengenai tanggung jawab masing-masing pengambil keputusan. Lebih jauh lagi, kode sumber kontrak pintar multisig biasanya bersifat open-source, sehingga siapa pun (termasuk auditor keamanan independen dari luar) dapat membedah logika kode tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada pintu belakang (backdoor) yang bisa membahayakan aset. 3. Ekosistem Modular yang Terbuka untuk Dikembangkan Karena dompet multisig pada dasarnya adalah dompet pintar (smart wallet), ia memiliki sifat modular. Artinya, dompet ini bisa dimodifikasi, diperbarui, dan disesuaikan dengan kebutuhan kompleks dari institusi atau komunitas DAO di masa depan. Para pengembang web dapat dengan mudah mengintegrasikan protokol-protokol baru di atas antarmuka dompet tersebut. Misalnya, menambahkan fitur yang mengharuskan anggota komunitas untuk melakukan pemungutan suara (DAO voting) sebelum bendahara dompet multisig diizinkan untuk mengeluarkan dana investasi. Berkat infrastruktur pintar inilah, dompet multisig perlahan mulai berevolusi menjadi instrumen perbankan mandiri tingkat korporat yang tak tergantikan di era ekonomi digital masa depan.
Bitcoin Anjlok ke $67.000, Investor Kripto Ramai-ramai Amankan Dana ke Stablecoin

Pasar mata uang kripto tengah mengalami pergeseran modal yang signifikan. Di tengah tren penurunan harga Bitcoin (BTC) yang kini menyentuh kisaran US$ 67.000, para investor terlihat melakukan aksi pelarian modal (capital flight) besar-besaran menuju aset kripto yang dipatok ke dolar AS atau stablecoin. Menariknya, kepanikan yang terjadi di ekosistem kripto ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar tradisional yang justru terpantau stabil. Dominasi Bitcoin Merosot, Permintaan Stablecoin Melonjak Berdasarkan data pasar, harga Bitcoin telah tergelincir sekitar 12% dalam sepekan terakhir ke level US$ 66.800. Penurunan ini turut menyeret kinerja pasar kripto secara keseluruhan. Imbasnya, tingkat dominasi Bitcoin—yakni pangsa pasar BTC terhadap total kapitalisasi pasar kripto—turun menyentuh angka 58,5%. Kondisi ini menghapus tren kenaikan (reli) dominasi Bitcoin yang sebelumnya sempat mencapai level puncak 61,2% pada bulan April hingga awal Mei lalu. Di saat yang bersamaan, permintaan terhadap stablecoin justru melonjak tajam. Tether (USDT), stablecoin terbesar di dunia, mencatatkan lonjakan dominasi hingga 8,30%, yang merupakan level tertingginya sejak akhir Februari. USD Coin (USDC) juga terpantau merangkak naik ke level yang terakhir kali terlihat pada awal April. Meskipun gabungan pangsa pasar USDT dan USDC baru menyentuh porsi 11% dari total pasar, tren kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor mulai mencari perlindungan likuiditas dolar di tengah rontoknya nilai aset kripto. Altcoin Ikut Terkapar di Tengah Anomali Pasar Tradisional Peralihan dana ke stablecoin seperti ini bukanlah fenomena baru. Pola serupa pernah terjadi pada saat pasar mengalami koreksi tajam sebelumnya, termasuk pada periode Januari dan Februari ketika harga Bitcoin anjlok dari kisaran US$ 90.000 menuju US$ 60.000. Koreksi saat ini tidak hanya menghantam Bitcoin. Sejumlah altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP, dan Solana (SOL) juga mencatatkan penurunan antara 8% hingga 11% dalam sepekan terakhir. Bahkan, koin lain seperti Bitcoin Cash (BCH), SUI, dan RAO terperosok lebih dalam hingga hampir 20%. Semua rentetan penurunan ini semakin mempercepat rotasi dana ke aset digital setara dolar. Di sisi lain, pasar keuangan tradisional justru memperlihatkan anomali dan tidak menunjukkan adanya kepanikan serupa. Saat pasar kripto dihantam aksi jual, indeks saham utama Amerika Serikat seperti Nasdaq dan S&P 500 masih nyaman diperdagangkan di dekat level rekor tertinggi mereka. Sementara itu, Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap keranjang mata uang utama—tetap tertahan dalam rentang yang sangat ketat, yakni antara 98,50 dan 99,50. Sebagai sarana berbagi pengetahuan dan wawasan, Komunitas Crypto di Blockped menghadirkan berbagai informasi terbaru yang dapat Anda akses melalui beranda website Blockped.
Mengapa Pengguna Lansia Sering Menjadi Korban Penipuan Crypto ATM?

Penipuan yang melibatkan crypto ATM atau mesin ATM kripto semakin marak dalam beberapa tahun terakhir. Yang menarik, sebagian besar korbannya berasal dari kelompok usia lanjut. Banyak lansia kehilangan tabungan, dana pensiun, hingga aset berharga lainnya akibat berbagai modus penipuan yang berujung pada transfer dana melalui mesin kripto. Meski terlihat seperti masalah yang berkaitan dengan teknologi, akar persoalannya justru sering kali berasal dari manipulasi psikologis yang dilakukan jauh sebelum korban mendatangi crypto ATM. Penipuan Biasanya Dimulai Sebelum Korban Menggunakan Crypto ATM Dalam banyak kasus, mesin crypto ATM hanyalah tahap akhir dari sebuah skema penipuan yang telah berlangsung cukup lama. Pelaku biasanya menghubungi korban melalui telepon, pesan singkat, media sosial, atau aplikasi perpesanan. Mereka dapat menyamar sebagai petugas bank, aparat pemerintah, teknisi komputer, hingga calon pasangan romantis. Tujuannya adalah membangun rasa takut, kepanikan, kepercayaan, atau harapan keuntungan besar. Ketika korban akhirnya berdiri di depan mesin crypto ATM, keputusan untuk mengirim uang sering kali sudah dipengaruhi oleh manipulasi yang berlangsung selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Data dari Internet Crime Complaint Center (IC3) menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat lebih dari 13.400 laporan terkait penipuan yang melibatkan crypto ATM, dengan total kerugian melampaui 388 juta dolar AS. Lebih dari separuh kerugian tersebut dialami oleh individu berusia 50 tahun ke atas. Apa Itu Penipuan Crypto ATM? Crypto ATM adalah mesin yang memungkinkan pengguna menukar uang tunai dengan aset digital seperti Bitcoin dan mata uang kripto lainnya. Pada penggunaan yang sah, mesin ini memudahkan masyarakat membeli aset digital tanpa harus menggunakan platform perdagangan online. Namun, para pelaku penipuan memanfaatkan karakteristik transaksi blockchain yang sulit dibatalkan setelah dikirim. Skema penipuan biasanya berjalan melalui tahapan berikut: Penipu menghubungi korban. Korban diberi informasi mengenai ancaman, masalah keamanan, atau peluang investasi yang menggiurkan. Korban diminta menarik uang dari rekening bank. Penipu memberikan alamat dompet kripto atau kode QR. Korban menyetor uang tunai ke crypto ATM. Dana dalam bentuk aset kripto langsung dikirim ke dompet milik penipu. Berbeda dengan transaksi kartu kredit yang masih memiliki mekanisme pengembalian dana (chargeback), transaksi kripto umumnya tidak dapat dibatalkan setelah dikonfirmasi di jaringan blockchain. Mengapa Lansia Menjadi Sasaran Utama? Pelaku penipuan sering mengincar lansia karena kelompok ini umumnya memiliki akses terhadap dana pensiun, tabungan jangka panjang, investasi, atau aset properti. Namun, alasan utamanya tidak hanya berkaitan dengan jumlah aset yang dimiliki. Banyak modus penipuan memanfaatkan faktor emosional seperti kesepian, rasa takut, dan kepercayaan terhadap figur otoritas. Lansia juga cenderung lebih mungkin menjawab panggilan dari nomor tak dikenal atau mempercayai pesan yang tampak resmi. Penipuan romansa, misalnya, sering menyasar individu yang mengalami kesepian atau kehilangan pasangan. Sementara itu, penipuan teknis memanfaatkan kurangnya pemahaman mengenai keamanan digital, perangkat lunak, atau cara kerja transaksi blockchain. Pada 2025, laporan kejahatan siber yang diterima IC3 melampaui satu juta kasus. Kelompok usia 60 tahun ke atas menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan total kerugian mencapai 7,7 miliar dolar AS. Menariknya, rata-rata kerugian korban kejahatan siber tercatat sekitar 20.699 dolar AS. Namun, ketika melibatkan aset kripto, rata-rata kerugiannya melonjak hingga 62.604 dolar AS per korban. Modus Panggilan Palsu Mengatasnamakan Pemerintah Salah satu bentuk penipuan yang paling umum dimulai melalui panggilan telepon yang menakutkan. Pelaku dapat mengaku berasal dari lembaga pemerintah, aparat penegak hukum, kantor pajak, atau badan investigasi. Mereka memberi tahu korban bahwa identitasnya digunakan dalam tindak kriminal seperti pencucian uang atau perdagangan narkotika. Beberapa klaim yang sering digunakan antara lain: Data identitas korban telah bocor. Rekening sedang diselidiki. Aset berisiko disita. Akan ada tindakan hukum dalam waktu dekat. Untuk menghindari masalah tersebut, korban diminta memindahkan dana ke rekening “aman” melalui crypto ATM. Padahal, lembaga pemerintah yang sah tidak pernah meminta masyarakat mengirim uang menggunakan mesin kripto untuk menghindari penangkapan atau penyelidikan. Penipuan Romansa yang Berujung pada Transfer Kripto Modus romansa biasanya berkembang secara perlahan. Pelaku membangun hubungan emosional dengan korban melalui media sosial, aplikasi kencan, atau platform perpesanan. Setelah kepercayaan terbentuk, percakapan mulai mengarah pada kebutuhan finansial. Penipu dapat mengaku membutuhkan biaya perjalanan, mengalami keadaan darurat, atau menawarkan peluang investasi yang diklaim sangat menguntungkan. Dalam beberapa kasus, korban bahkan diperlihatkan laporan keuntungan investasi palsu untuk meyakinkan mereka agar mengirim dana dalam jumlah yang semakin besar. Karena sudah terikat secara emosional, korban sering mengabaikan berbagai tanda bahaya yang seharusnya menimbulkan kecurigaan. Penipuan Dukungan Teknis (Tech Support Scam) Modus lain yang cukup sering terjadi adalah penipuan dukungan teknis. Korban melihat peringatan palsu yang menyatakan perangkatnya terkena malware, diretas, atau mengalami kebocoran data. Setelah itu, mereka dihubungi seseorang yang mengaku sebagai teknisi dari perusahaan teknologi terkenal atau ahli keamanan siber. Korban kemudian diyakinkan bahwa dana mereka harus segera diamankan sebelum dicuri oleh peretas. Solusi yang ditawarkan adalah menarik uang dari rekening dan menyetorkannya melalui crypto ATM. Dalam banyak kasus, penipu bahkan tetap berada di telepon dan memandu korban langkah demi langkah selama proses transaksi berlangsung. Penipuan yang Mengatasnamakan Bank Pelaku juga sering menyamar sebagai petugas bank atau tim keamanan keuangan. Mereka memberi tahu korban bahwa telah terjadi aktivitas mencurigakan pada rekening atau kartu mereka. Untuk menambah tekanan, penipu biasanya meminta korban segera mengambil tindakan tanpa memberi kesempatan untuk melakukan verifikasi. Korban sering diminta untuk: Menarik uang tunai sesegera mungkin. Tidak memberi tahu keluarga. Tidak berdiskusi dengan pihak bank lain. Memindahkan dana ke akun kripto yang disebut aman. Permintaan untuk menjaga kerahasiaan merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa korban sedang berhadapan dengan penipuan. Investasi Bodong yang Memanfaatkan Crypto ATM Skema investasi palsu masih menjadi salah satu sumber kerugian terbesar dalam dunia kejahatan siber. Pelaku biasanya menawarkan: Keuntungan tinggi yang dijamin. Investasi kripto eksklusif. Platform trading berbasis kecerdasan buatan (AI). Strategi investasi berisiko rendah dengan imbal hasil besar. Korban sering diperlihatkan dashboard profesional dengan angka keuntungan yang tampak meyakinkan. Setelah menyetor dana dalam jumlah besar, mereka baru menyadari bahwa keuntungan tersebut hanyalah manipulasi. Saat mencoba menarik dana, korban justru diminta membayar biaya tambahan seperti pajak, biaya verifikasi, atau biaya aktivasi akun. Pada akhirnya, banyak pembayaran tersebut dilakukan melalui crypto ATM dan langsung masuk ke dompet milik penipu. Mengapa Crypto ATM Disukai Penipu? Crypto ATM memberikan beberapa keuntungan bagi pelaku kejahatan. Pertama, uang tunai dapat diubah menjadi aset digital dalam hitungan menit. Kedua, aset kripto
Pasar Kripto Melambat, Bitcoin Tetap Jadi Incaran Utama Investor Jangka Panjang

Kinerja pasar aset kripto dilaporkan masih tertinggal jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya sepanjang tahun ini. Tingginya ketidakpastian ekonomi global membuat para investor lebih berhati-hati dan memilih memarkirkan dananya di aset pelindung nilai (safe haven), sementara pasar kripto masih harus bergulat dengan volatilitas tinggi dan maraknya aksi ambil untung (profit taking). Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, dua aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia mengalami tekanan harga yang cukup signifikan: Aset Kripto Koreksi Mei 2026 (MoM) Koreksi Sejak Awal Tahun (YtD) Bitcoin (BTC) 4,66% 16,84% Ethereum (ETH) 11,79% 32,78% Faktor Makroekonomi dan Migrasi Aset Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa pelemahan kinerja kripto saat ini tidak lepas dari kombinasi tekanan makroekonomi dan dinamika pasar. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global mendorong investor memindahkan likuiditas mereka ke instrumen dengan profil risiko yang lebih rendah. “Setelah mencatatkan reli yang cukup signifikan pada periode sebelumnya, sangat wajar jika pasar kripto kini memasuki fase konsolidasi dan profit taking,” jelas Antony, Senin (1/6/2026). Sebagai perbandingan, pasar saham masih mendapatkan angin segar dari pesatnya perkembangan sektor teknologi dan Kecerdasan Buatan (AI), sementara harga emas terus melonjak berkat tingginya permintaan aset safe haven. Investor Lebih Selektif, Bitcoin Jadi Primadona Koreksi tajam yang dialami Ethereum mencerminkan perubahan perilaku investor yang kini jauh lebih selektif. Dana segar saat ini lebih banyak mengalir ke Bitcoin, yang dinilai memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan altcoin lainnya. Posisi Bitcoin semakin kokoh berkat likuiditas pasar yang sangat besar, meningkatnya adopsi oleh institusi global, serta perannya yang semakin diakui sebagai emas digital (digital gold). Meski begitu, Antony menegaskan bahwa anjloknya Ethereum bukan berarti runtuhnya minat publik terhadap ekosistem blockchain. Investor hanya sedang memprioritaskan aset dengan narasi fundamental yang paling kuat di tengah kondisi pasar yang belum stabil. Fase Akumulasi Dimulai: Proyeksi Kuartal III-2026 Meski pasar tengah memerah, Antony melihat adanya sinyal pembentukan fase akumulasi. Banyak investor institusi dan jangka panjang yang memanfaatkan momentum penurunan harga ini untuk memborong dan menambah kepemilikan aset kripto mereka secara bertahap. “Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek jangka panjang industri aset kripto masih cukup terjaga, meskipun dalam jangka pendek sentimen pasar masih menghadapi berbagai tantangan,” tambahnya. Menatap ke depan, prospek Bitcoin masih ditopang oleh keterbatasan pasokan pasca-halving dan adopsi institusional. Di sisi lain, Ethereum tetap memegang peran krusial sebagai tulang punggung infrastruktur aset kripto, mulai dari tokenisasi aset hingga aplikasi kontrak pintar (smart contract). Dengan asumsi tidak ada gejolak makroekonomi yang luar biasa, berikut adalah proyeksi pergerakan harga kripto pada kuartal III-2026: Bitcoin (BTC): Berpotensi bergerak di kisaran US$ 65.000 hingga US$ 90.000. Ethereum (ETH): Diproyeksikan berada di rentang US$ 1.800 hingga US$ 3.000. Untuk membantu Anda memahami perkembangan dunia aset digital, Berita Crypto terbaru dapat diakses dengan mudah melalui beranda website Blockped.
CEO Swan Bitcoin: Sentimen Investor Ritel Masih Berpengaruh pada Pergerakan Bitcoin

Meningkatnya keterlibatan institusi keuangan besar di industri kripto tidak serta-merta mengurangi pentingnya sentimen investor ritel terhadap Bitcoin. Menurut CEO Swan Bitcoin, Cory Klippsten, pandangan dan perilaku investor individu masih memiliki pengaruh besar terhadap dinamika pasar aset digital tersebut. Dalam wawancara bersama Cointelegraph yang dipublikasikan melalui YouTube pada Selasa, Klippsten menjelaskan bahwa kepemilikan Bitcoin belum terkonsentrasi pada perusahaan investasi besar seperti BlackRock atau Fidelity. Menurutnya, sebagian besar permintaan yang masuk melalui produk investasi institusional tetap berasal dari investor ritel. Ia menilai banyak investor membeli eksposur Bitcoin melalui berbagai produk investasi yang dikelola lembaga keuangan. Meskipun dilakukan melalui perantara, aset yang dibeli tetap harus didukung oleh Bitcoin asli yang disimpan dalam kustodian, sehingga permintaan tersebut tetap berdampak pada pasokan Bitcoin yang tersedia di pasar. Klippsten mengakui bahwa terdapat sejumlah instrumen seperti kontrak berjangka dan produk derivatif lainnya yang dapat menciptakan dinamika pasokan yang berbeda. Namun, ia menegaskan bahwa keunikan Bitcoin terletak pada kemampuannya untuk dimiliki dan dipindahkan secara langsung melalui jaringan blockchain. Menurutnya, permintaan terhadap Bitcoin yang benar-benar berada di jaringan (on-chain) tetap menjadi faktor utama yang membedakan aset tersebut dari instrumen keuangan tradisional. Sementara itu, data dari Farside menunjukkan bahwa ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih gabungan sebesar 2,90 miliar dolar AS sejak 15 Mei. Dalam periode yang sama, harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 9,5%. Pada saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran 73.630 dolar AS berdasarkan data CoinMarketCap. Penurunan harga tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian dan kehati-hatian investor. Sentimen pasar kripto sepanjang 2026 juga terpantau cukup fluktuatif. Crypto Fear & Greed Index, yang digunakan untuk mengukur kondisi psikologis pelaku pasar kripto, sempat menunjukkan skor 23 atau berada pada kategori “Extreme Fear” pada Jumat lalu. Angka tersebut mengindikasikan bahwa banyak investor masih mengambil sikap defensif terhadap aset kripto. Peluang Bitcoin Mencetak Rekor Harga Baru Dinilai Menurun Selain membahas kondisi pasar saat ini, Klippsten juga menyampaikan pandangannya mengenai peluang Bitcoin mencapai rekor harga tertinggi baru sepanjang 2026. Ia mengaku sebelumnya cukup optimistis ketika Bitcoin masih diperdagangkan di sekitar level 95.000 dolar AS pada awal tahun. Saat itu, ia memperkirakan peluang munculnya rekor harga baru berada di kisaran 50%. Namun, setelah harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 23% dari level tersebut dan bahkan sempat turun hingga mendekati 60.000 dolar AS, pandangannya menjadi lebih konservatif. Menurut Klippsten, peluang Bitcoin mencatatkan all-time high baru pada tahun ini kini hanya berada di kisaran 20% hingga 25%. Ia menilai posisi harga yang masih bertahan di area 70.000 dolar AS membuat potensi untuk menembus rekor sebelumnya menjadi lebih menantang dibandingkan perkiraannya di awal tahun. Meski demikian, pernyataan tersebut lebih mencerminkan pandangan pribadi berdasarkan kondisi pasar saat ini. Pergerakan harga Bitcoin ke depan masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen investor, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, serta arus dana yang masuk maupun keluar dari produk investasi berbasis kripto. Kunjungi Berita Kripto Terbaru untuk mengikuti perkembangan terkini pasar aset digital, pergerakan harga Bitcoin, dan berbagai informasi penting dari industri kripto global.
SEC Setujui Paxos sebagai Clearing Agency Berbasis Blockchain Pertama

Platform infrastruktur blockchain dan penerbit stablecoin Paxos mengumumkan bahwa mereka menjadi perusahaan “blockchain-native” pertama yang memperoleh registrasi sebagai clearing agency dari Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat. Dalam pengumuman yang disampaikan pada Kamis, Paxos menyatakan bahwa anak usahanya, Paxos Securities Settlement Company, kini menjadi satu-satunya perusahaan yang berfokus pada teknologi blockchain yang mendapatkan persetujuan SEC untuk menyediakan layanan kliring dan penyelesaian transaksi sebagai central securities depository di Amerika Serikat. Persetujuan ini dinilai sebagai langkah penting bagi perkembangan infrastruktur pasar keuangan modern. Seiring meningkatnya integrasi antara teknologi blockchain dan pasar modal tradisional, kehadiran clearing agency berbasis blockchain dapat membantu mempercepat transformasi sistem keuangan menjadi lebih efisien dan transparan. Sebagai informasi, clearing agency memiliki peran penting dalam memastikan transaksi sekuritas berjalan dengan baik. Dalam perdagangan saham, pembeli dan penjual tidak melakukan pertukaran aset secara langsung. Sebaliknya, lembaga kliring dan penyelesaian bertugas memverifikasi transaksi, mencocokkan pihak yang terlibat, serta memastikan proses pertukaran dana dan aset berlangsung secara akurat dan aman. Dengan adanya lembaga kliring berbasis blockchain yang telah terdaftar dan disetujui SEC, hambatan bagi bank maupun perusahaan pialang untuk mengembangkan infrastruktur keuangan berbasis aset digital menjadi lebih rendah. Hal ini berpotensi mendorong adopsi teknologi blockchain dalam sistem keuangan arus utama. Perjalanan Paxos menuju persetujuan ini telah berlangsung selama beberapa tahun. Pada Oktober 2019, SEC mengeluarkan no-action letter yang mengizinkan Paxos menguji layanan penyelesaian transaksi saham AS berbasis blockchain. Program percontohan tersebut kemudian resmi diluncurkan pada Februari 2020. Menurut Paxos, hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pasca-perdagangan berbasis blockchain mampu menghadirkan penyelesaian transaksi pada hari yang sama (same-day settlement), menekan biaya operasional, serta meningkatkan efisiensi proses tanpa mengabaikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Co-founder sekaligus CEO Paxos, Charles Cascarilla, menyatakan bahwa registrasi sebagai clearing agency merupakan hasil dari kerja sama yang telah terjalin selama tujuh tahun dengan SEC. Upaya tersebut dimulai dari penerbitan no-action letter pada 2019 hingga pelaksanaan program percontohan bersama sejumlah institusi keuangan terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Selain dikenal sebagai penyedia infrastruktur blockchain, Paxos juga merupakan penerbit berbagai aset digital dan stablecoin, termasuk PayPal USD (PYUSD), Global Dollar (USDG), dan Pax Gold (PAXG). Meski demikian, hubungan Paxos dengan SEC tidak selalu berjalan mulus. Pada masa kepemimpinan mantan Ketua SEC Gary Gensler, perusahaan ini sempat menerima Wells Notice pada 2023. Saat itu, SEC berencana merekomendasikan tindakan penegakan hukum terkait penerbitan Binance USD (BUSD), stablecoin yang terhubung dengan bursa kripto Binance dan dianggap sebagai sekuritas yang belum terdaftar. Pada periode yang sama, New York Department of Financial Services (NYDFS) juga memerintahkan Paxos untuk menghentikan pencetakan token BUSD baru. Namun, investigasi SEC terhadap perusahaan tersebut akhirnya ditutup pada 2024 melalui pemberitahuan resmi yang menyatakan bahwa tidak akan ada tindakan penegakan hukum lebih lanjut. Paxos juga berhasil menyelesaikan permasalahan regulasinya dengan NYDFS melalui kesepakatan senilai 48,5 juta dolar AS pada Agustus 2025 terkait isu kepatuhan yang melibatkan Binance dan BUSD. Persetujuan terbaru dari SEC ini menjadi tonggak penting bagi Paxos sekaligus menunjukkan semakin besarnya pengakuan regulator terhadap potensi teknologi blockchain dalam mendukung infrastruktur pasar keuangan modern. Bagi industri aset digital, langkah ini dapat menjadi sinyal positif bahwa integrasi antara sistem keuangan tradisional dan teknologi blockchain terus berkembang ke arah yang lebih matang. Kunjungi Komunitas Crypto untuk mendapatkan informasi, wawasan, dan perkembangan terbaru mengenai dunia aset digital serta teknologi blockchain.