Blockped

Sinyal Perubahan Tren Bitcoin Muncul, Tapi Butuh Konfirmasi di Atas $80.000

Bitcoin kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah sempat berjuang di level $78.000. Para pelaku pasar kini melihat peluang perubahan tren, meskipun konfirmasi kuat masih dibutuhkan, khususnya jika harga mampu bertahan di atas $80.000. Beberapa faktor mulai mendukung sentimen positif ini, mulai dari struktur pasar yang membaik, masuknya dana institusional ke ETF Bitcoin spot, hingga optimisme bahwa regulasi seperti CLARITY Act akan disahkan sebelum pemilu paruh waktu di AS. Aliran Dana Institusional Perkuat Support Dari sisi institusi, aliran dana baru membantu membangun area support yang lebih kuat di kisaran $68.000 hingga $70.000. Sepanjang April, ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk dana sebesar $2,03 miliar. Selain itu, Strategy membeli 34.000 BTC senilai $2,54 miliar, sementara Morgan Stanley melalui ETF MSBT yang baru diluncurkan berhasil menarik lebih dari $153 juta dalam dua minggu pertama. Analis ETF dari Bloomberg, Eric Balchunas, menyebut bahwa arus dana ke ETF Bitcoin kini kembali berada dalam kondisi sangat positif. Ia mencatat bahwa hampir semua periode pengamatan menunjukkan tren inflow yang konsisten, sesuatu yang jarang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, CIO Bitwise, Matt Hougan, memberikan perspektif berbeda. Ia menilai bahwa minat institusi sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang, hanya melambat, sementara arus keluar sebelumnya lebih dipicu oleh trader jangka pendek. Level $80.000 Jadi Penentu Arah Selanjutnya Meski Bitcoin sempat naik hingga sekitar $79.000, para analis sepakat bahwa harga perlu menutup candle harian secara konsisten di atas $80.000 hingga $83.000 untuk memastikan perubahan tren yang valid. Analis teknikal Aksel Kibar mencatat bahwa pola channel pada grafik semakin jelas, dengan beberapa kali penolakan di batas atas. Sementara itu, Fidelity melalui direktur global makro Jurrien Timmer melihat pergerakan saat ini masih bisa dikategorikan sebagai pola bear flag. Namun, ia juga menilai bahwa Bitcoin sedang membangun fondasi kuat untuk potensi kenaikan besar berikutnya. Data Orderbook Tunjukkan Optimisme Terlepas dari sinyal teknikal yang masih beragam, data orderbook menunjukkan adanya peningkatan minat beli. Platform analisis TRDR mencatat bahwa pembeli mulai menaikkan posisi bid mereka di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa “lantai harga” Bitcoin perlahan naik, dengan fokus utama pasar saat ini tertuju pada level psikologis $80.000 sebagai penentu arah selanjutnya. Untuk mendapatkan update terkini dan analisis mendalam seputar pergerakan pasar kripto, kamu juga bisa mengikuti berbagai Berita Bockchain yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.

Industri Kripto Desak AS Segera Sahkan RUU Struktur Pasar Digital

Lebih dari 120 organisasi yang terkait dengan industri kripto dan blockchain mendesak para legislator di Amerika Serikat untuk segera melanjutkan pembahasan undang-undang terkait struktur pasar aset digital. Dalam surat yang ditujukan kepada Komite Perbankan Senat AS, organisasi seperti Crypto Council for Innovation dan Blockchain Association meminta agar pembahasan CLARITY Act segera dilanjutkan ke tahap berikutnya. Mereka menilai regulasi ini penting untuk menciptakan kerangka hukum yang jelas dan menyeluruh bagi industri kripto di tingkat federal. RUU tersebut sebelumnya telah lolos dari Dewan Perwakilan Rakyat pada Juli 2025, namun hingga kini masih tertunda di Senat. Penundaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk shutdown pemerintah serta perdebatan terkait isu seperti imbal hasil (yield) stablecoin. Risiko Kehilangan Daya Saing Global Dalam surat tersebut, para pelaku industri menekankan bahwa keterlambatan regulasi dapat membuat Amerika Serikat tertinggal dari negara lain yang sudah lebih dulu menerapkan kerangka hukum kripto yang komprehensif. Mereka memperingatkan bahwa tanpa kepastian regulasi, potensi investasi, lapangan kerja, dan inovasi teknologi bisa berpindah ke luar negeri. Oleh karena itu, keberadaan regulasi yang jelas dinilai krusial untuk menjaga daya saing AS di sektor aset digital. Proses Legislasi Masih Tertunda Komite Perbankan Senat yang dipimpin oleh Tim Scott sebelumnya menunda pembahasan lanjutan RUU ini pada Januari. Penundaan tersebut terjadi tak lama setelah CEO Coinbase, Brian Armstrong, menyatakan bahwa pihaknya belum bisa mendukung versi RUU yang ada saat ini. Sejak saat itu, perwakilan dari industri kripto dan perbankan terus berdiskusi dengan pembuat kebijakan untuk mencari solusi, khususnya terkait pengaturan yield stablecoin. Hingga saat ini, belum ada jadwal baru yang diumumkan untuk pembahasan lanjutan. Bahkan, Senator Thom Tillis mengusulkan agar proses tersebut ditunda hingga Mei guna memberi waktu tambahan untuk mencapai kesepakatan. Dukungan Luas dari Industri Surat ini ditandatangani oleh berbagai pelaku industri, termasuk platform seperti Kraken serta organisasi seperti Texas Blockchain Council dan Solana Policy Institute. Sebelumnya, organisasi advokasi The Digital Chamber juga telah mendesak agar pembahasan RUU segera dijadwalkan kembali, mengingat waktu legislasi yang semakin terbatas. Isu Stablecoin Masih Jadi Perdebatan Di sisi lain, American Bankers Association meminta tambahan waktu 60 hari kepada regulator untuk memberikan masukan terkait aturan stablecoin dalam kerangka regulasi GENIUS. Jika disetujui, permintaan ini berpotensi memperlambat implementasi regulasi secara keseluruhan. Untuk mengikuti perkembangan kebijakan dan tren terbaru di industri aset digital, kamu juga bisa mengakses berbagai Portal Crypto yang kami sajikan secara lengkap dan terpercaya.

Volume Taker Ether Naik 72%, Trader Bidik Area $2.600

Ethereum menunjukkan sinyal bullish setelah aktivitas pembelian di pasar derivatif meningkat signifikan. Dalam sepekan terakhir, volume taker buy melonjak tajam, menandakan dominasi pembeli yang semakin kuat dan membuka peluang kelanjutan tren naik. Di Binance, volume taker bersih dalam 24 jam mencapai sekitar $5,5 miliar, naik 72% dibanding awal bulan yang berada di kisaran $3,2 miliar. Indikator ini mengukur selisih antara order beli dan jual di market, sehingga mencerminkan siapa yang lebih dominan dalam pergerakan harga. Rata-rata 30 hari untuk metrik ini juga tetap berada di zona positif sejak 1 Maret, kembali ke level yang terakhir terlihat pada Juli 2022. Hal ini menunjukkan tekanan beli yang konsisten dari pelaku pasar. Analis kripto Amr Taha menjelaskan bahwa lonjakan pembelian di dekat level harga tinggi biasanya mencerminkan keyakinan kuat dari trader. Selama permintaan ini bertahan, arah harga jangka pendek cenderung tetap dikuasai oleh pembeli. Resistance $2.400 Jadi Kunci Menuju Zona Likuiditas Saat ini, harga ETH bergerak di bawah level resistance $2.400, yang sudah tiga kali diuji sejak awal Februari. Setiap penolakan di level ini secara bertahap mengurangi tekanan jual di atasnya. Jika harga berhasil menembus level tersebut secara meyakinkan, maka potensi kenaikan terbuka menuju area $2.475 hingga $2.634. Zona ini dikenal sebagai fair value gap, yaitu area yang terbentuk saat harga bergerak cepat tanpa banyak transaksi, sehingga menyisakan likuiditas yang belum terisi. Dalam kondisi seperti ini, harga sering kali kembali ke area tersebut untuk menyeimbangkan pergerakan pasar. Dukungan Indikator Teknikal dan Derivatif ETH juga sedang berusaha menembus garis 100-day exponential moving average (EMA), yang sering menjadi indikator lanjutan tren. Jika harga mampu bertahan di atas level ini, peluang reli lanjutan akan semakin kuat. Sementara itu, EMA 200 hari bergerak mendekati area atas zona likuiditas di sekitar $2.634, menciptakan pertemuan sinyal teknikal yang penting. Dari sisi derivatif, data cumulative volume delta (CVD) terus meningkat hingga mendekati $12,6 miliar, sementara funding rate masih relatif netral. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak didorong oleh leverage berlebihan, melainkan oleh permintaan riil dari pasar. Keseimbangan ini menjaga potensi kenaikan tetap sehat, dengan area $2.475 hingga $2.634 menjadi fokus utama dalam jangka pendek. Untuk terus mengikuti perkembangan harga dan analisis pasar kripto terbaru, kamu juga bisa membaca berbagai Info Kripto yang kami sajikan secara rutin dan terpercaya.

New York dan Illinois Larang Pegawai Negara Ikut Prediction Market

Gubernur New York, Kathy Hochul, resmi menandatangani perintah eksekutif yang melarang pegawai negara bagian terlibat dalam aktivitas prediction market. Kebijakan ini menyusul langkah serupa yang lebih dulu diambil oleh Gubernur Illinois, JB Pritzker. Hochul menegaskan bahwa memanfaatkan informasi internal untuk meraih keuntungan pribadi merupakan bentuk korupsi. Ia juga menekankan bahwa kebijakan ini bertujuan memastikan pejabat publik bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan demi keuntungan pribadi. Selain itu, Hochul mengkritik pemerintahan Donald Trump dan anggota Kongres dari Partai Republik karena dinilai belum menetapkan standar etika yang jelas untuk mencegah praktik insider trading di prediction market. Popularitas Naik, Risiko Ikut Meningkat Prediction market sendiri tengah mengalami pertumbuhan pesat. Volume perdagangan bulanan terus meningkat selama tujuh bulan berturut-turut dan mencapai rekor baru sekitar $23,6 miliar pada Maret. Platform ini memungkinkan pengguna “bertaruh” pada berbagai peristiwa dunia nyata, mulai dari olahraga, politik, hingga kondisi ekonomi. Namun, pertumbuhan cepat ini juga diiringi kekhawatiran terkait manipulasi pasar dan penyalahgunaan informasi rahasia. Sebagai respons, Illinois menerapkan aturan ketat yang melarang pegawai negara: Menggunakan informasi non-publik untuk trading Membantu pihak lain memanfaatkan informasi tersebut Langkah ini merupakan bagian dari upaya menjaga transparansi dan integritas pemerintahan. Dugaan Insider Trading Picu Kekhawatiran Keputusan ini juga dipicu oleh beberapa kasus mencurigakan di prediction market. Salah satunya melibatkan trader yang memasang taruhan dengan probabilitas rendah terkait jatuhnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, lalu memperoleh keuntungan besar ketika peristiwa itu benar-benar terjadi. Kasus lain mencakup transaksi mencurigakan terkait konflik geopolitik, seperti invasi Iran dan isu terkait pemimpin tertingginya. Perintah eksekutif dari New York menegaskan bahwa pelanggaran aturan ini dapat berujung pada pemecatan hingga tindakan hukum. Selain itu, pegawai juga dilarang membantu orang lain memanfaatkan informasi rahasia untuk keuntungan di prediction market. Industri dan Regulasi Masih Beradaptasi Di sisi lain, platform prediction market juga mulai mengambil langkah untuk mengatasi isu ini. Misalnya, Kalshi dilaporkan pernah melarang seorang kandidat politik karena bertaruh pada hasil pemilihannya sendiri. Langkah New York dan Illinois ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas, di mana berbagai negara bagian di AS mulai memperketat pengawasan terhadap prediction market, yang selama ini berada di wilayah abu-abu antara investasi dan perjudian. Untuk mengikuti perkembangan regulasi dan tren terbaru di industri aset digital, kamu juga bisa membaca berbagai Berita Crypto yang kami sajikan secara up-to-date dan terpercaya.

Apa Itu Blockchain dan Bagaimana Teknologi Ini Mengubah Dunia Digital

Apa Itu Blockchain dan Bagaimana Teknologi Ini Mengubah Dunia Digital

Saat ini, kebocoran data pribadi sangat sering terjadi di internet. Sistem server terpusat terbukti rentan terhadap peretasan siber. Privasi pengguna internet dunia semakin terancam bahaya nyata. Jika dibiarkan, kerugian finansial global akan terus membengkak tajam. Manipulasi data dapat menghancurkan bisnis Anda secara instan. Kepercayaan publik terhadap transaksi digital perlahan akan hancur lebur. Teknologi pencatatan mutakhir hadir sebagai solusi yang revolusioner. Sangat penting memahami apa itu blockchain saat ini. Temukan literasi terbaik bersama portal blockchain andalan Anda, Blockped. Memahami Fondasi Dasar dan Konsep Desentralisasi Data Banyak orang awam masih bingung mengenai teknologi mutakhir ini. Padahal, inovasi ini mengubah struktur digital secara fundamental. Mari bedah konsep sistem terdistribusi ini secara perlahan. Sejarah Singkat Inovasi Satoshi Nakamoto Semuanya bermula dari ide brilian seorang tokoh anonim. Sosok bernama Satoshi Nakamoto merilis whitepaper pada tahun 2008. Dokumen tersebut menjadi cikal bakal lahirnya aset Bitcoin. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem keuangan tanpa otoritas perantara. Ia ingin masyarakat bertransaksi langsung secara peer-to-peer. Inilah awal mula revolusi desentralisasi finansial dunia. Mengenal Konsep Buku Besar Terdistribusi Sistem ini berfungsi layaknya buku kas digital publik. Bedanya, buku catatan ini tidak disimpan di satu tempat. Salinan data disebarkan ke seluruh perangkat di dunia. Konsep buku besar terdistribusi ini sangat transparan. Siapa saja dapat melihat riwayat transaksi yang terjadi. Namun, tidak ada satu pihak pun yang bisa mengubahnya. Tabel Perbandingan Sistem Tradisional vs Inovasi Baru Membedakan sistem terpusat dengan terdesentralisasi sebenarnya cukup mudah. Tabel komparasi di bawah merangkum perbedaan arsitektur utamanya. Pahami matriks ini untuk wawasan teknis yang lebih dalam. Fitur Utama Database Tradisional (Terpusat) Teknologi Blockchain (Terdesentralisasi) Kontrol Dipegang oleh satu entitas pusat Dikelola oleh seluruh anggota jaringan Keamanan Rentan serangan titik tunggal (SPOF) Sangat aman dengan enkripsi tinggi Transparansi Tertutup untuk pihak internal saja Terbuka dan bisa diverifikasi publik Perbedaan Blockchain dan Crypto Banyak orang masih menyamakan kedua istilah teknis ini. Faktanya, mereka memiliki fungsi yang sangat berbeda. Memahami perbedaannya mencegah Anda dari kesalahan fatal. Infrastruktur Jaringan vs Aset Digital Blockchain adalah buku besar digital yang mencatat data. Ia bertindak sebagai jalan raya sistem digital. Anda tidak bisa memperjualbelikan jalan raya ini. Di sisi lain, crypto adalah kendaraan di jalan tersebut. Ia merupakan aset digital yang memiliki nilai ekonomi. Aset inilah yang sering diperdagangkan oleh publik. Relasi Keduanya di Era Web3 Mata uang kripto tidak bisa hidup tanpa jaringannya. Jaringan mencatat setiap pergerakan koin dengan sangat presisi. Keduanya membentuk ekosistem keuangan terdesentralisasi yang utuh. Mekanisme Kerja dan Proses Validasi Blok Setelah paham konsep dasarnya, kita harus melihat cara kerjanya. Proses ini melibatkan banyak perangkat komputer di seluruh dunia. Mari kita bedah alur validasi transaksi secara teknis. Bagaimana cara kerja blockchain? Setiap kali transaksi terjadi, data dikumpulkan ke dalam blok. Blok ini memiliki kapasitas memori yang sangat terbatas. Setelah blok penuh, sistem harus memvalidasi data tersebut. Node atau komputer dalam jaringan akan saling berkomunikasi. Mereka memastikan pengirim memiliki saldo yang cukup. Jika valid, blok baru akan ditambahkan ke rantai sebelumnya. Pentingnya Protokol Konsensus Jaringan Sistem tanpa pemimpin membutuhkan aturan baku untuk sepakat. Aturan inilah yang disebut sebagai konsensus jaringan. Ia mencegah adanya transaksi ganda atau penipuan digital. Seluruh node harus setuju dengan status buku besar terbaru. Mekanisme ini memastikan desentralisasi data berjalan sempurna. Tanpa konsensus, jaringan akan mengalami kekacauan fatal. Peran Penambang dan Validator Jaringan Dalam proses ini, kita mengenal istilah penambang (miner). Mereka mendedikasikan daya komputasi tinggi untuk mengamankan jaringan. Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan aset kripto baru. Menurut laporan dari World Economic Forum, validator sangat krusial. Mereka adalah tulang punggung dari keamanan jaringan global. Kinerja mereka menjaga integritas seluruh riwayat transaksi. Peran Penting Kriptografi Tingkat Lanjut Keamanan sistem ini tidak bergantung pada tembok pelindung fisik. Ia murni menggunakan ilmu matematika dan sandi yang kompleks. Inilah yang membuatnya sangat kebal terhadap manipulasi. Mengapa blockchain aman digunakan? Jawaban utamanya terletak pada penggunaan fungsi hash kriptografi. Setiap blok memiliki sidik jari digital yang unik. Jika satu huruf diubah, sidik jari akan berubah total. Perubahan ini akan otomatis memutus rantai blok selanjutnya. Seluruh jaringan akan langsung menolak blok yang dimanipulasi tersebut. Ini membuat peretasan data menjadi sangat tidak rasional. Sistem Kunci Publik dan Kunci Privat Keamanan akun pengguna dijaga oleh sepasang kunci digital. Konsep kriptografi asimetris ini merupakan standar keamanan tingkat militer. Kunci publik berfungsi seperti nomor rekening bank Anda. Sementara kunci privat adalah PIN rahasia untuk mengakses dana. Anda tidak boleh memberikan kunci privat kepada siapa pun. Jika hilang, aset Anda tidak akan bisa kembali. Spesifikasi Algoritma Enkripsi SHA-256 Pada jaringan Bitcoin, enkripsi yang digunakan adalah SHA-256. Algoritma ini mengubah input data menjadi kode 64 karakter. Proses ini bersifat satu arah dan tidak bisa dibalikkan. Mesin peretas tercanggih pun butuh ribuan tahun memecahkannya. Kompleksitas komputasi inilah yang menjamin keamanan aset digital. Ini adalah standar emas dalam dunia kriptografi modern. Evolusi Menuju Ekosistem Web3 Baru Teknologi ini tidak lagi sekadar tentang uang digital. Ia telah berevolusi menjadi fondasi internet masa depan. Kita sedang memasuki era internet yang sepenuhnya baru. Transformasi Menuju Internet Terdesentralisasi Era baru ini populer dengan sebutan Web3. Ini adalah internet yang dimiliki oleh penggunanya sendiri. Tidak ada lagi monopoli data oleh perusahaan teknologi raksasa. Sebagai penyedia Info Seputar Crypto, Blockped mendukung transisi ini. Kami percaya pengguna harus mengontrol aset dan data mereka. Desentralisasi mengembalikan privasi kepada masyarakat luas. Keajaiban Teknologi Smart Contract Inovasi terpenting setelah aset digital adalah penemuan kontrak pintar. Smart contract adalah program komputer yang berjalan secara otomatis. Program ini mengeksekusi perintah jika syarat tertentu terpenuhi. Ia menghilangkan kebutuhan akan notaris atau pengacara perantara. Proses bisnis menjadi lebih cepat, murah, dan akurat. Potensi penggunaannya mencakup asuransi hingga logistik rantai pasok. Integrasi dengan Berbagai Platform Modern Teknologi ini memungkinkan terciptanya sistem pasar prediksi yang akurat. Anda bisa melihatnya beroperasi di berbagai platform Prediction Market terkini. Semua transaksi dicatat transparan tanpa campur tangan bandar. Selain itu, ia melahirkan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Layanan pinjam meminjam kini tidak lagi butuh persetujuan bank. Inovasi ini membuka akses finansial bagi miliaran manusia. Cara Kerja Coin Crypto Setiap koin kripto beroperasi dengan logika algoritma murni. Ia tidak dicetak oleh otoritas bank sentral mana pun. Pergerakannya ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Dinamika Supply dan

Pasar Prediksi Jadi Senjata Baru untuk Mendorong Pertumbuhan Coinbase dan Robinhood

Pasar Prediksi Jadi Senjata Baru untuk Mendorong Pertumbuhan Coinbase dan Robinhood

Analis dari Cantor Fitzgerald mengungkapkan bahwa pasar saat ini mulai mengabaikan lesunya tren perdagangan kripto dan mengalihkan fokus pada peluncuran produk baru. Inovasi seperti prediction markets (pasar prediksi) kini dipandang sebagai motor penggerak pertumbuhan berikutnya bagi Coinbase dan Robinhood. Abaikan Penurunan Volume Kuartal Pertama Para investor tampaknya memaklumi proyeksi melemahnya kinerja pada kuartal pertama tahun 2026 dari Coinbase maupun Robinhood. Penurunan ini dipicu oleh koreksi harga kripto dan melambatnya aktivitas perdagangan. Sepanjang kuartal tersebut, harga Bitcoin dan Ethereum masing-masing merosot sekitar 23% dan 29%. Aktivitas perdagangan di Coinbase juga terpantau melambat seiring berjalannya kuartal, turun dari sekitar US$66 miliar pada bulan Januari menjadi US$54 miliar di bulan Maret. Cantor Fitzgerald bahkan memproyeksikan volume perdagangan ritel dan institusional Coinbase masing-masing hanya mencapai US$35 miliar dan US$167 miliar—keduanya berada di bawah ekspektasi Wall Street. Prospek Jangka Panjang Tetap Positif Meskipun dihadapkan pada tekanan volume dan pendapatan jangka pendek, analis Cantor, Ramsey El-Assal, tetap mempertahankan peringkat “overweight” untuk kedua saham tersebut dan menaikkan target harganya. Target harga Coinbase dikerek menjadi US$250, sementara **Robinhood** menjadi US$110. Menurut El-Assal, investor kini lebih memprioritaskan tren permintaan masa depan dan peta jalan produk perusahaan, alih-alih meratapi laporan kuartalan yang bersifat melihat ke belakang (backward-looking). Robinhood sendiri juga menghadapi tekanan jangka pendek serupa dengan proyeksi penurunan volume perdagangan akibat kondisi pasar yang melunak, serta potensi penurunan margin bunga bersih. Namun, model bisnis perusahaan dinilai cukup tangguh. Eksekusi inisiatif baru seperti prediction markets, tokenisasi aset, dan akses ke pasar privat diyakini mampu menopang diversifikasi pendapatan di luar siklus perdagangan kripto yang volatil. Optimisme jangka panjang ini tecermin pada pergerakan saham keduanya baru-baru ini. Saham Coinbase tercatat naik sekitar 18% pada kuartal ini, sementara Robinhood melesat sekitar 40% di bulan April dari titik terendahnya di akhir Maret, didorong oleh membaiknya sentimen risiko dan meredanya ketegangan geopolitik. Bayang-bayang Gugatan Hukum Namun, langkah ekspansi produk baru ini bukan tanpa rintangan. Pada hari Selasa, Kejaksaan Agung New York (NYAG) resmi melayangkan gugatan terhadap Coinbase dan bursa kripto Gemini terkait layanan prediction markets mereka. NYAG menuding bahwa produk tersebut pada dasarnya adalah bentuk perjudian terselubung yang melanggar regulasi negara bagian. Status legalitas prediction markets—terutama yang berkaitan dengan tebakan hasil olahraga—kini tengah menjadi perdebatan sengit di pengadilan tingkat negara bagian dan federal AS. Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) berpendapat bahwa produk ini termasuk dalam kategori swaps sehingga harus diatur dan diawasi oleh lembaga federal. Di sisi lain, pemerintah negara bagian bersikeras bahwa kontrak olahraga tersebut bukanlah swaps dan harus mematuhi lisensi serta pengawasan otoritas lokal. Perselisihan yurisdiksi yang kompleks ini diperkirakan akan berujung dan diputuskan di Mahkamah Agung AS. Sebagai sumber terpercaya, Anda juga bisa mengakses Berita Crypto terbaru yang kami sajikan secara lengkap melalui beranda website Blockped.

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Bitcoin Tetap Stabil di Atas US$75.000, Sinyal Penguatan Semakin Terlihat

Pasar investasi global kembali berada di persimpangan kritis seiring dengan memanasnya tensi geopolitik. Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, prospek Bitcoin justru kian menguat dengan harganya yang kokoh bertahan di atas level krusial US$75.000. Masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington, dengan peluang perpanjangan yang terbilang sangat tipis. Ketegangan memuncak pasca penyitaan kapal kargo Iran oleh AS pada akhir pekan lalu, disusul insiden baku tembak di Selat Hormuz—menjadikannya hari paling bergejolak di perairan tersebut sejak krisis bermula. Merespons keengganan AS untuk mencabut blokade laut, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada 18 April dan menegaskan penolakannya terhadap negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Pergeseran Paradigma: Dari Aset Berisiko ke Pelindung Inflasi Secara teori, eskalasi konflik berskala besar semacam ini seharusnya menekan laju aset berisiko. Namun, Bitcoin justru menampilkan anomali pola pergerakan. Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (22/4) pukul 06.50 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$76.050, mencatatkan kenaikan harian sebesar 0,32%. Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai ketahanan ini sebagai sinyal kematangan pasar yang patut diperhitungkan. Ia mengamati adanya pola konsisten: ancaman perang besar dan blokade militer saat ini hanya mampu menekan harga aset kripto dalam rentang waktu yang singkat, sebelum akhirnya lonjakan permintaan bersih kembali terjadi. “Posisi Bitcoin telah semakin bergeser menjadi inflation hedge (lindung nilai terhadap inflasi), setelah sebelumnya lebih banyak dipersepsikan sebagai risk-on asset,” papar Fahmi dalam keterangan resminya, Selasa (21/4/2026). Level US$75.000 kini menjadi titik tumpu strategis yang diawasi ketat oleh pelaku pasar. Stabilitas harga di atas batas ini dinilai mampu membuka jalan bagi tren kenaikan lanjutan yang lebih organik dan berkesinambungan. Dorongan Kuat dari Akumulasi Institusional Ketahanan harga ini tidak lepas dari dukungan fundamental berupa structural demand—yakni permintaan institusional yang terstruktur dan konsisten. Sebagai contoh, perusahaan raksasa Strategy tercatat memborong 34.164 BTC pada kisaran harga rata-rata US$74.395 per BTC antara 13-19 April. Total nilai akuisisi mencapai sekitar US$2,54 miliar, menjadikannya pembelian terbesar ketiga dalam sejarah entitas tersebut. Langkah masif ini menyusul pembelian pekan sebelumnya sebanyak 13.927 BTC senilai US$1 miliar. “Melihat kondisi keuangan dan kapasitas capital raising Strategy saat ini, akumulasi tersebut kemungkinan masih akan berlanjut meski mungkin dalam jumlah yang lebih moderat. Ini menciptakan tekanan beli yang stabil dan terus menekan suplai beredar, membuat Bitcoin semakin langka di tengah peningkatan adopsi,” jelas Fahmi. Strategi Investasi di Tengah Gejolak Fahmi menyoroti bahwa ini merupakan eskalasi keempat dalam pusaran konflik AS-Israel versus Iran yang berhasil diserap oleh pasar kripto sejak konflik meletus, dengan pola tekanan jual yang kian melemah. Di tengah bayang-bayang inflasi global akibat ancaman lonjakan harga minyak bumi, Bitcoin semakin diandalkan sebagai instrumen penjaga nilai kekayaan dari depresiasi mata uang fiat. Hal ini menjadi sangat relevan bagi investor di Indonesia, mengingat tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut. Menurutnya, investor yang mengintegrasikan aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum ke dalam portofolio mereka memiliki potensi meraih rasio risk/reward yang lebih menguntungkan di tengah situasi makroekonomi saat ini. “Bagi yang baru memulai, strategi DCA (Dollar Cost Averaging) atau membeli secara rutin dalam jumlah terukur tetap menjadi pendekatan paling prudent (bijak). Strategi ini berfokus pada fundamental jangka panjang, bukan fluktuasi harian yang dipicu sentimen berita,” saran Fahmi. Ia meyakini, jika supply shock jangka panjang benar-benar terbentuk akibat kombinasi kelangkaan pasokan dan adopsi yang meluas, nilai fundamental dari aset digital ini memiliki potensi apresiasi yang sangat signifikan di masa mendatang. Untuk mendapatkan update terkini, Anda dapat membaca Info Seputar Crypto yang kami sajikan lengkap dan terpercaya melalui beranda website Blockped.

BIS Beri Peringatan: Stablecoin Dolar AS Berpotensi Beri Tekanan pada Bank dan Kebijakan

Manajer Umum Bank for International Settlements (BIS), Pablo Hernández de Cos, pada hari Senin menyerukan perlunya koordinasi global yang lebih komprehensif terkait regulasi stablecoin. Ia memperingatkan bahwa token kripto berbasis dolar AS berpotensi membawa “dampak material” terhadap kebijakan ekonomi dan stabilitas keuangan jika pertumbuhannya dibiarkan membesar hingga menyaingi mata uang fiat konvensional. Saat berbicara dalam sebuah seminar Bank of Japan di Tokyo, de Cos menyoroti bahwa infrastruktur stablecoin saat ini belum memenuhi standar sebagai alat pembayaran yang aman untuk masyarakat luas, meskipun menawarkan kecepatan transfer lintas negara dan integrasi smart contract. Menurutnya, stablecoin dolar AS dengan kapitalisasi terbesar seperti USDT dan USDC justru memiliki karakteristik yang lebih menyerupai produk investasi—seperti Exchange-Traded Funds (ETF)—ketimbang uang tunai. Hal ini terindikasi dari beberapa faktor: Adanya biaya tebusan dan persyaratan khusus di pasar primer. Fluktuasi harga yang kerap melenceng dari nilai acuan fiatnya di pasar sekunder. Mengingat penerbit stablecoin menyimpan aset cadangan dalam bentuk deposito bank dan utang pemerintah jangka pendek, de Cos memperingatkan bahwa struktur ini rentan memicu risiko penarikan dana massal (bank run) dan efek domino. Dalam situasi krisis, penarikan dana besar-besaran dari stablecoin dapat memaksa penjualan aset cadangan secara masif ke pasar yang sudah rapuh, yang pada akhirnya memindahkan tekanan likuiditas tersebut langsung ke sektor perbankan. Lebih lanjut, ia menyoroti penggunaan blockchain publik tanpa izin dan dompet non-kustodian (unhosted wallets). Hal ini membuat sebagian besar aktivitas transaksi kripto beroperasi di luar radar pengawasan standar untuk pencucian uang (AML) dan pendanaan terorisme (CFT). Tanpa adanya sistem pengamanan khusus pada titik konversi kripto-ke-fiat (on/off-ramps), stablecoin akan terus menjadi instrumen yang menarik bagi aktivitas ilegal. Eropa dan Berbagai Negara Mulai Perketat Pengawasan Peringatan dari BIS ini sejalan dengan langkah agresif para pembuat kebijakan di Eropa yang tengah mendorong pengawasan ketat terhadap stablecoin non-euro dan instrumen tokenisasi serupa. Awal bulan ini, Deputi Gubernur Pertama Bank of France, Denis Beau, mendesak Uni Eropa untuk memperluas aturan Markets in Crypto Assets (MiCA). Ia mengusulkan pembatasan penggunaan stablecoin non-euro untuk pembayaran sehari-hari serta memperketat aturan penerbitan koin demi mencegah celah arbitrase regulasi saat pasar sedang tertekan. Bank Sentral Eropa (ECB) dan negara-negara maju lainnya juga mulai mengkalibrasi ulang regulasi mereka: Inggris: Pada bulan Maret lalu, anggota House of Lords mencecar Coinbase terkait potensi stablecoin dalam menguras deposito bank komersial, memicu krisis runtuhnya bank seperti kasus Silicon Valley Bank, hingga memfasilitasi kejahatan finansial, seiring dengan persiapan pemerintah merampungkan regulasi token berbasis fiat. Swiss: Pada 8 April, UBS dan beberapa lembaga keuangan lokal telah meluncurkan uji coba stablecoin berbasis franc dalam lingkungan sandbox. Langkah ini diambil untuk mengeksplorasi pembayaran blockchain sekaligus memastikan instrumen tersebut tetap terikat kuat pada sistem keuangan tradisional yang diawasi ketat. Untuk terus mengikuti perkembangan regulasi keuangan global dan pergerakan aset digital terkini, pastikan Anda selalu menjadikan Portal Crypto kami sebagai rujukan utama yang menyajikan informasi terpercaya.

Strategy Beli 34.164 Bitcoin Senilai $2,5 Miliar, Total Kepemilikan Tembus 800.000 BTC

Pekan lalu, Strategy sukses memborong 34.164 Bitcoin senilai $2,54 miliar. Langkah ini tercatat sebagai pembelian BTC terbesar ketiga dalam sejarah perusahaan. Perusahaan yang dipimpin oleh Michael Saylor ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemegang Bitcoin publik terbesar di dunia, dengan total aset yang kini telah melampaui 800.000 BTC. Berdasarkan laporan 8-K kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada hari Senin, akumulasi puluhan ribu koin tersebut dilakukan antara tanggal 13 hingga 19 April. Secara volume koin, ini merupakan rekor akuisisi ketiga terbesar mereka, membuntuti rekor pembelian 55.500 BTC dan 51.780 BTC pada November 2024 lalu. Setelah mengantongi sekitar 780.897 BTC dari transaksi senilai $1 miliar seminggu sebelumnya, portofolio perusahaan kini resmi mencapai 815.061 BTC dengan total modal pembelian sebesar $61,56 miliar. Pembelian terbaru ini dieksekusi di harga rata-rata $74.395 per koin, sedikit lebih rendah dibandingkan harga rata-rata historis perusahaan di angka $75.527. Michael Saylor sendiri telah memberikan isyarat mengenai aksi beli skala besar ini sejak hari Minggu. Selain itu, pada hari Jumat, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk membayarkan dividen dua kali sebulan untuk Stretch (STRC), sekuritas preferen abadi milik perusahaan. CEO Strategy, Phong Le, menyatakan, “Jika kami menerapkan pembayaran STRC secara semi-bulanan, kami akan masuk ke kategori utama sebagai satu-satunya sekuritas preferen di dunia yang membayarkan dividen dua kali dalam sebulan. Kami rasa terobosan ini sangat unik dan menarik.” Pendanaan STRC Dominasi 85% Pembelian Sama seperti beberapa aksi akuisisi sebelumnya, mayoritas pembelian Bitcoin terbaru ini didanai melalui STRC. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa STRC menyumbang sekitar $2,18 miliar atau sekitar 85,7% dari total dana pembelian. Sementara itu, sisa dana sebesar $366 juta didapatkan dari penjualan saham biasa Kelas A (MSTR). Pekan lalu juga menjadi momen bersejarah bagi STRC dengan terciptanya serangkaian rekor baru, termasuk rekor aksi beli harian terbesar perusahaan melalui program at-the-market (ATM). Pada 13 April, STRC mencetak rekor harian estimasi sebesar 7.741 BTC dari penjualan 11,9 juta saham via program ATM, yang menghasilkan volume perdagangan lebih dari $1 miliar. Rekor tersebut kembali pecah pada keesokan harinya dengan estimasi 9.364 BTC yang bersumber dari penjualan 14,4 juta saham melalui program yang sama. Jika digabungkan, pergerakan dalam dua hari tersebut menghasilkan sekitar 17.204 BTC, menandai lonjakan tajam sebesar 518% dibandingkan rata-rata pergerakan empat minggu sebelumnya. Sebagai referensi tambahan untuk memantau pergerakan pasar dan tren koin digital lainnya, pastikan Anda selalu mengikuti pembaruan Berita Crypto yang faktual dan terpercaya di platform kami.

5 Pernyataan Donald Trump yang Pernah Mempengaruhi Pergerakan Bitcoin, dan Alasan Potensi Terulangnya Dampak Tersebut Pekan Ini

5 Pernyataan Donald Trump yang Pernah Mempengaruhi Pergerakan Bitcoin, dan Alasan Potensi Terulangnya Dampak Tersebut Pekan Ini

Harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya terpantau semakin sensitif terhadap pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Unggahan di media sosial maupun pengumuman kebijakannya kepada pers kerap memicu fluktuasi harga yang tajam antara 5% hingga 12% hanya dalam hitungan menit. Fenomena ini semakin mengaburkan batas antara kebijakan negara dan manuver yang memengaruhi pasar. Sorotan Terhadap Potensi Manipulasi Pasar Kondisi ini memicu pengawasan ketat dari para pembuat undang-undang, akademisi, dan pakar pasar. Mereka mempertanyakan apakah pergerakan harga yang sangat reaktif ini dimanfaatkan untuk praktik perdagangan orang dalam (insider trading). Sebuah studi dari University of Oxford Faculty of Law menyoroti adanya ayunan tajam di pasar global menyusul perubahan cepat pada kebijakan tarif AS. Salah satu contohnya adalah ketika harga kripto dan saham anjlok usai pengumuman tarif baru, namun kembali melonjak setelah Trump menarik sebagian kebijakan tersebut beberapa hari kemudian. Dinamika maju-mundur yang kerap dijuluki efek “TACO” (Trump Again Chickens Out) ini dinilai menciptakan peluang keuntungan yang fantastis bagi pihak-pihak yang mungkin mengetahui informasi tersebut lebih awal. Kecurigaan ini semakin menguat ketika Trump mengunggah pesan berbunyi “INI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBELI!!” di Truth Social pada April 2025, sesaat sebelum penyesuaian tarif yang akhirnya melambungkan pasar. Insiden ini mendorong anggota parlemen, termasuk Senator Adam Schiff, untuk menuntut penyelidikan terkait manipulasi pasar. Meskipun tidak ada bukti konklusif bahwa Trump atau pemerintahannya melanggar undang-undang sekuritas demi keuntungan pribadi, transaksi skala besar yang waktunya sangat akurat terus memicu perdebatan. Sebuah episode dari CBC’s Front Burner pada bulan Maret menyoroti perdagangan berjangka minyak yang sangat menguntungkan tepat sebelum pengumuman militer terkait Iran. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Stephen Lynch, turut menyuarakan kekhawatiran serius mengenai potensi penyalahgunaan informasi keamanan nasional oleh pejabat pemerintah. 5 Momen Pernyataan Trump Mengguncang Bitcoin Berikut adalah lima momen krusial ketika pernyataan atau unggahan media sosial Trump memicu pergerakan ekstrem pada harga Bitcoin: 11 Juli 2019 — Sentimen Negatif Pertama: Dalam kritik terbuka pertamanya, Trump mencuit bahwa dirinya “bukan penggemar Bitcoin dan Kripto lainnya,” dan menyebut aset tersebut tidak berwujud. Harga BTC langsung anjlok 7,1% dalam waktu 45 menit. 3 Maret 2025 — Poros Cadangan Strategis: Usai kampanye pro-kripto, Trump mengonfirmasi via Truth Social bahwa “Cadangan Kripto Nasional Strategis” AS akan mencakup keranjang aset digital dengan Bitcoin sebagai pilar utama. BTC melonjak 8,2% dari US$84.000 menjadi lebih dari US$91.000 dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. 10 Oktober 2025 — Tarif 100% untuk China: Trump mengumumkan tarif impor 100% untuk semua produk China guna membalas kontrol ekspor logam tanah jarang (rare-earth). Bitcoin terjun bebas 12,4% dalam dua jam, jatuh dari rekor tertingginya di US$124.714 menuju US$102.000. Peristiwa ini memicu likuidasi senilai US$19,38 miliar yang menjadi rekor penyapuan pasar satu hari terbesar dalam sejarah kripto. 3 Maret 2026 — Pembelaan “Genius Act”: Mengkritik bank-bank Wall Street di Truth Social karena dianggap menjegal regulasi kripto (Genius Act dan Clarity Act), sentimen anti-bank ini direspons positif oleh pasar. Bitcoin naik 5,2% hanya dalam 10 menit ke level US$71.000, menyoroti kesiapan pemerintahannya untuk berhadapan dengan sistem keuangan tradisional. 14 April 2026 — Sinyal Pembicaraan Damai: Menyusul ketegangan dari blokade Selat Hormuz, Trump menyatakan bahwa Iran telah membuka komunikasi untuk pembicaraan damai. Dalam waktu 30 menit, Bitcoin melesat 6,2% dari US$70.000 ke kisaran US$75.000. Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi Lagi Pekan Ini? Pola volatilitas yang dipicu oleh pernyataan politik ini tampaknya akan terus berulang. Pada hari Jumat lalu, Bitcoin sempat meroket ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan dengan menembus US$78.000, usai Trump mengisyaratkan berakhirnya konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Namun, ketidakpastian segera membayangi. Pada Sabtu pagi, pihak militer Iran mengonfirmasi bahwa selat tersebut kembali ditutup, diwarnai laporan adanya kapal yang harus berputar arah atau mendapat tembakan peringatan. Akibatnya, sentimen pasar langsung berbalik, menghapus keuntungan yang diraih pada hari Jumat dan menarik Bitcoin kembali merosot ke bawah level US$76.000. Sebagai referensi tambahan, Anda juga dapat mengakses Portal Crypto kami untuk mendapatkan update terbaru dan terpercaya melalui beranda website Blockped.