Blockped

Harga Emas Anjlok 20%, Bitcoin Tunjukkan Ketahanan di Tengah Gejolak Global

Harga Emas Anjlok 20%, Bitcoin Tunjukkan Ketahanan di Tengah Gejolak Global

Pasar keuangan global saat ini sedang menghadapi gelombang ketidakpastian yang semakin meningkat. Situasi geopolitik yang memanas akibat konflik AS-Israel dan Iran, yang meletus sejak akhir Februari 2026, telah melumpuhkan jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Dampak konflik ini kini meluas dan mulai mempengaruhi berbagai Aset Investasi. Di sisi lain, outlook ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan sikap yang hawkish. Tantangan kenaikan inflasi di negara tersebut semakin nyata, menambah beban spekulasi di pasar. Kombinasi faktor geopolitik dan makroekonomi ini menciptakan anomali menarik pada pergerakan harga aset safe haven tradisional seperti Emas dibandingkan dengan aset digital seperti Bitcoin. Anomali Pasar: Emas Terkoreksi Dalam, Bitcoin Stabil Kejatuhan Harga Emas dari Rekor Tertinggi Secara mengejutkan, harga Emas mengalami penurunan yang sangat signifikan. Aset yang biasanya diburu saat krisis ini anjlok lebih dari 20% dari rekor tertingginya di level US$ 5.589. Pada Jumat (27/3/2026), harga Emas terkoreksi ke kisaran US$ 4.427 per troy ons. Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai koreksi dalam pada Emas dipicu oleh faktor struktural. Penguatan mata uang dolar AS dan potensi berlanjutnya kenaikan yield obligasi AS pasca-sikap hawkish The Fed menjadi penyebab utama. Faktor-faktor ini menggerus daya tarik Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), ditambah adanya likuidasi masif di pasar derivatif. Ketahanan Bitcoin sebagai ‘Emas Digital’ Modern Di tengah keterpurukan Emas, Bitcoin (BTC) justru menunjukkan ketahanan yang sulit diabaikan oleh para pelaku Investasi. Berdasarkan data per Jumat (27/3), BTC masih diperdagangkan solid di kisaran US$ 66.000. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 1,86% dalam sebulan terakhir. Fahmi mencatat bahwa sejak konflik di Timur Tengah bermula pada 28 Februari lalu, performa harga Bitcoin telah mengungguli Emas sekitar 20%. Meskipun BTC tidak terlepas dari tekanan makro, karakteristiknya yang borderless (tanpa batas negara) dan suplai yang terbatas secara algoritmik mulai mengisi celah yang ditinggalkan Emas di mata investor institusional. Sentimen Institusional dan Fundamental On-Chain Bitcoin Akumulasi Agresif oleh Korporasi dan Target Sentimen Positif Data institusional memperkuat narasi ketahanan Bitcoin. Perusahaan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) kini menggenggam 762.099 BTC, setara dengan sekitar 3,6% dari total pasokan global. Sepanjang tahun ini, perusahaan tersebut tercatat menambah kepemilikan Bitcoin mereka secara lebih agresif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Katalis sentimen terbesar pekan ini datang dari manajer aset raksasa, Bernstein, yang memiliki AUM lebih dari US$ 800 miliar. Pada 24 Maret, Bernstein menegaskan bahwa Bitcoin kemungkinan besar telah menemukan titik terendahnya. Mereka mempertahankan target harga akhir tahun yang optimis di level US$ 150.000, yang berarti ada potensi kenaikan lebih dari 110% dari harga saat ini. Dinamika Suplai yang Semakin Ketat (Supply Squeeze) Dari sisi fundamental on-chain, tekanan pada sisi suplai semakin nyata. Data dari Glassnode menunjukkan bahwa lebih dari 60% pasokan Bitcoin saat ini dipegang oleh pemegang jangka panjang (long-term holders). Hal ini mengindikasikan kuatnya keyakinan investor terhadap nilai jangka panjang BTC. Selain itu, pada sekitar 10 Maret lalu, Bitcoin mencapai milestone penting dengan 20 juta BTC yang telah beredar. Ini berarti hanya menyisakan sekitar 1 juta BTC lagi yang masih bisa ditambang selama 114 tahun ke depan. “Kombinasi akumulasi institusional yang masih cukup agresif dan dinamika supply squeeze ini menciptakan fondasi yang semakin kokoh untuk pergerakan harga jangka panjang,” tambah Fahmi. Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai potensi volatilitas tinggi dalam jangka pendek. Implikasi bagi Investor di Indonesia: Peluang Diversifikasi Dinamika pasar global ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang nyata bagi investor di Indonesia. Sebagai negara net-importer minyak, kenaikan harga minyak mentah (crude oil) akibat konflik global secara langsung menekan nilai tukar Rupiah. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi domestik menjadi lebih tinggi. Situasi tersebut diperparah oleh potensi berlanjutnya penguatan dolar AS menyusul sikap hawkish The Fed. Dalam konteks ekonomi seperti ini, Fahmi menilai Bitcoin menawarkan proposisi nilai yang semakin relevan bagi pasar Investasi Indonesia. Bitcoin merupakan aset likuid global dengan batas suplai tetap yang tidak terpengaruh oleh kebijakan moneter negara mana pun. Ketika inflasi menggerus daya beli mata uang domestik, eksposur terhadap aset seperti Bitcoin dapat menjadi salah satu strategi Diversifikasi Portofolio yang patut dipertimbangkan oleh investor.

Risiko vs Imbal Hasil XRP Membaik, Tapi Apakah Harga Akan Mengikuti?

Performa XRP mulai menunjukkan perbaikan dari sisi risk-reward, terutama dengan meningkatnya akumulasi oleh investor besar (whale). Namun di balik sinyal positif ini, pasar derivatif masih terlihat rapuh akibat tingginya penggunaan leverage dan seringnya terjadi likuidasi. Salah satu indikator penting, yaitu Sharpe Ratio—yang mengukur imbal hasil terhadap risiko—berhasil kembali ke zona positif pada 26 Maret. Sebelumnya, indikator ini sempat berada di level nol atau negatif selama beberapa bulan, dari Oktober 2024 hingga Februari 2025. Saat ini, rata-rata return 30 hari berada di angka 0,00063, dengan Sharpe Ratio sebesar 0,0267. Angka ini menunjukkan bahwa imbal hasil XRP masih sedikit lebih tinggi dibandingkan risikonya, meskipun belum signifikan. Akumulasi Whale Beri Sinyal Positif Data on-chain menunjukkan bahwa whale terus mengakumulasi XRP secara konsisten dalam satu bulan terakhir, meskipun harga belum menunjukkan kenaikan yang kuat. Hal ini mengindikasikan adanya permintaan yang tetap stabil di tengah pergerakan harga yang relatif lemah. Analis kripto Arab Chain menilai bahwa peningkatan Sharpe Ratio ini sejalan dengan naiknya aktivitas trading. Ia melihat adanya proses penyeimbangan yang mulai membaik, yang berpotensi membatasi penurunan harga dalam jangka panjang. Namun, ia juga mengingatkan bahwa jika indikator tersebut kembali ke zona negatif, maka volatilitas bisa meningkat lagi dan momentum pasar berisiko melemah. Dari sisi arus dana, aliran whale kini mencapai rata-rata $9 juta per hari dalam 30 hari terakhir. Tren ini telah berlangsung sejak 27 Februari, menjadikannya fase akumulasi terpanjang sejak periode April hingga Juli 2025. Sebagai perbandingan, fase akumulasi sebelumnya pada kuartal kedua 2025 sempat mendorong harga XRP naik hingga mencapai all-time high di $3,65 pada 18 Juli 2025. Kombinasi antara Sharpe Ratio yang positif dan arus masuk whale yang stabil menunjukkan adanya sentimen yang mulai membaik. Meski demikian, kenaikan yang terjadi masih terbatas dan volatilitas relatif terkendali, sehingga pasar masih menunggu apakah tren ini bisa berlanjut. Open Interest Naik, Tapi Pasar Masih Rentan Di sisi lain, aktivitas di pasar futures menunjukkan gambaran yang lebih berhati-hati. Analis kripto Amr Taha mencatat bahwa open interest XRP naik 14,8% dalam 24 jam pada 26 Maret—level tertinggi sejak awal bulan. Ini menandakan meningkatnya partisipasi trader. Namun, kenaikan ini juga diiringi oleh tekanan pada posisi long. Likuidasi besar tercatat beberapa kali, termasuk lebih dari $2,5 juta pada 18 Maret, diikuti oleh $2,45 juta pada 21 Maret dan $2,15 juta pada 26 Maret. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak posisi long yang masih rentan terhadap volatilitas jangka pendek, sehingga sering “dibersihkan” oleh pasar. Artinya, meskipun aktivitas meningkat, struktur pasar masih belum stabil dan rawan perubahan cepat. Secara teknikal, tren XRP saat ini masih cenderung bearish. Pola ascending triangle yang sebelumnya terbentuk telah gagal dipertahankan, dengan harga turun sekitar 13,63% dalam 10 hari terakhir. Jika kondisi ini berlanjut, XRP berpotensi menguji kembali level support di sekitar $1,27, bahkan bisa turun hingga mendekati level terendah tahunan di $1,11 dalam beberapa minggu ke depan.

Stablecoin Disebut Jadi “ChatGPT Moment” Dunia Bisnis, Ini Alasannya

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyebut bahwa stablecoin berpotensi menjadi “ChatGPT moment” bagi dunia bisnis—yakni titik di mana adopsi teknologi meningkat drastis karena manfaatnya mulai terasa nyata. Menurutnya, banyak perusahaan kini mulai serius mempertimbangkan penggunaan stablecoin untuk sistem pembayaran yang lebih cepat dan efisien. Dalam wawancaranya dengan FOX Business, Garlinghouse menjelaskan bahwa diskusi terkait stablecoin kini sudah sampai ke level tertinggi perusahaan. Mulai dari dewan direksi hingga CEO perusahaan besar seperti Fortune 500 dan Fortune 2000, mereka mulai bertanya kepada tim keuangan tentang strategi penggunaan stablecoin dalam operasional bisnis. Ia menekankan bahwa memberikan opsi ini kepada CFO dan treasurer perusahaan bisa menjadi kunci utama adopsi. Dari sinilah, stablecoin berpotensi menjadi pintu masuk bagi perusahaan untuk memanfaatkan berbagai layanan berbasis blockchain secara lebih luas. Volume Stablecoin Melonjak, Potensi Terus Tumbuh Data menunjukkan bahwa penggunaan stablecoin sudah berkembang sangat pesat. Sepanjang 2025, volume transaksi stablecoin mencapai lebih dari $33 triliun. Sebagian besar aktivitas ini masih didominasi oleh Tether (USDT) dan Circle (USDC), yang menyumbang hampir 90% dari total volume tersebut. Ke depan, pertumbuhan ini diperkirakan akan semakin besar. Bloomberg Intelligence memproyeksikan bahwa arus transaksi stablecoin bisa mencapai $56,6 triliun pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 80%. Jika tercapai, stablecoin akan menjadi salah satu alat pembayaran paling penting dalam sistem keuangan global. Ripple Perkuat Posisi di Pasar Stablecoin Untuk ikut bersaing di pasar ini, Ripple meluncurkan stablecoin mereka sendiri, Ripple USD, pada Desember 2024. Saat ini, aset tersebut telah masuk dalam 10 besar stablecoin berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan nilai sekitar $1,4 miliar menurut data CoinGecko. Selain itu, Ripple juga memperkuat infrastruktur pembayarannya melalui dua akuisisi besar: Hidden Road, perusahaan prime brokerage berbasis institusi senilai $1,25 miliar, serta platform treasury korporat GTreasury senilai $1 miliar. Garlinghouse menyebut bahwa langkah-langkah ini berkontribusi pada performa perusahaan yang sangat kuat, bahkan diperkirakan akan mencetak “rekor kuartal” dalam waktu dekat. Regulasi Jadi Faktor Penentu Adopsi Di sisi lain, perkembangan industri kripto—termasuk stablecoin—juga sangat dipengaruhi oleh regulasi. Garlinghouse menilai bahwa adopsi akan semakin cepat jika regulasi yang jelas, seperti CLARITY Act, berhasil disahkan di Amerika Serikat. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan yang stabil dan tidak dipolitisasi, agar industri dapat berkembang secara sehat. Menurutnya, pelaku pasar ingin kepastian hukum yang mendukung inovasi, bukan kebijakan yang justru menghambat pertumbuhan.

Revolusi Strategi TradingView untuk Pengalaman Maksimal

Dunia perdagangan aset finansial modern selalu menuntut tingkat efisiensi dan fleksibilitas eksekusi yang sangat tinggi dari para pelakunya. Bagi Anda yang sering mengutak-atik sistem algoritma di grafik, inovasi terbaru ini pasti akan menjadi angin segar yang sangat dinantikan. Platform penyedia grafik terkemuka akhirnya merilis pembaruan revolusioner yang memungkinkan Anda untuk menghubungkan berbagai alat ukur secara jauh lebih mulus. Fitur terbaru ini secara fundamental memberikan kebebasan penuh bagi Anda untuk menggunakan hasil keluaran dari sebuah alat ukur sebagai sumber data. Hal ini tentu saja akan sangat mempermudah proses perhitungan matematis yang rumit di dalam Strategi TradingView andalan Anda. Anda kini bisa mendelegasikan sebagian besar beban komputasi teknikal ke skrip lain yang dibangun secara terpisah dan lebih rapi. Sebagai contoh sederhana, Anda bisa merancang sebuah alat ukur khusus yang murni bertugas hanya untuk menghitung kondisi jenuh beli atau jenuh jual. Nantinya, sinyal matang dari alat tersebut bisa langsung ditangkap dan diproses lebih lanjut oleh sistem strategi utama untuk mengeksekusi pesanan. Pendekatan modular semacam ini jelas membuat kode pemrograman Anda menjadi jauh lebih bersih, ringan, dan sangat mudah untuk dievaluasi. Perbedaan Dasar Antara Studi dan Strategi Sebelum kita melangkah lebih jauh, amatlah penting untuk menyegarkan kembali ingatan tentang perbedaan mendasar antara skrip studi dan strategi. Skrip studi atau yang lebih sering kita kenal sebagai alat ukur visual biasanya hanya bertugas menampilkan garis atau grafik data di layar. Alat ini murni berfungsi sebagai penunjuk arah tanpa memiliki kemampuan sama sekali untuk melakukan simulasi transaksi masa lalu. Di sisi lain, sebuah Strategi TradingView adalah program yang jauh lebih kompleks karena dibekali dengan kemampuan mengeksekusi perintah beli dan jual. Program cerdas ini bisa melakukan simulasi pengujian data historis atau backtesting untuk mengukur seberapa akurat tingkat kemenangan sistem Anda. Penggabungan antara ketajaman alat ukur dan kemampuan eksekusi strategi inilah yang selama ini selalu menjadi impian para pedagang kuantitatif. Dengan adanya pembaruan sistem yang luar biasa ini, garis pembatas yang tadinya kaku antara kedua jenis program tersebut perlahan mulai memudar. Anda bisa menikmati keunggulan komputasi dari sebuah studi visual sekaligus memanfaatkan fitur simulasi transaksi yang dimiliki oleh modul strategi. Sinergi sempurna ini pada akhirnya akan sangat membantu Anda dalam menciptakan mesin pencetak keuntungan yang jauh lebih presisi dan konsisten. Mengapa Fitur Integrasi Ini Sangat Dinantikan Pada masa lalu, para pembuat kode sering kali merasa frustrasi karena harus menjejalkan semua logika perhitungan ke dalam satu fail yang sama. Jika Anda ingin menggunakan perhitungan rata-rata pergerakan harga yang rumit, Anda harus menulis ulang seluruh kodenya dari nol di dalam skrip strategi. Praktik penulisan kode yang berulang-ulang ini tidak hanya sangat membuang waktu, tetapi juga membuat ruang kerja Anda terlihat sangat berantakan. Kemampuan untuk menarik data langsung dari Indikator Analisis eksternal secara instan memecahkan masalah birokrasi penulisan kode tersebut hingga ke akarnya. Anda tidak perlu lagi merasa pusing memikirkan ratusan baris kode yang saling tumpang tindih dan rawan mengalami kerusakan bug. Fokus utama Anda kini bisa sepenuhnya dialihkan pada penyempurnaan taktik manajemen risiko dan penentuan titik masuk yang paling ideal. Selain itu, komunitas global juga bisa saling berbagi hasil karya mereka dengan cara yang jauh lebih interaktif dan kolaboratif dari sebelumnya. Anda bisa saja meminjam skrip pengukur tren karya orang lain dan langsung menempelkannya ke dalam modul simulasi transaksi buatan Anda sendiri. Ekosistem terbuka yang saling mendukung inilah yang selalu menjadi kekuatan utama dalam mendorong kemajuan inovasi di bidang teknologi finansial. Menggabungkan Indikator Analisis Eksternal ke Dalam Sistem Anda Cara kerja penarikan data masukan eksternal untuk modul strategi sebenarnya dirancang agar sangat identik dengan cara kerja pada skrip studi biasa. Pengembang sistem sengaja mempertahankan antarmuka yang sudah sangat familier ini agar para pengguna setia tidak perlu lagi melalui proses adaptasi yang panjang. Anda dijamin akan langsung merasa terbiasa saat pertama kali mencoba mengutak-atik menu pengaturan integrasi data yang baru ini. Setiap penyesuaian parameter sumber data bisa Anda lakukan secara langsung melalui menu pengaturan visual yang muncul melayang di atas grafik. Jika Anda lebih menyukai pendekatan teknis, Anda juga tetap bisa mengubah rujukan data tersebut langsung dari dalam panel penulisan kode. Kemudahan kustomisasi ini memastikan bahwa setiap rentetan modifikasi Indikator Analisis bisa dieksekusi dalam hitungan detik tanpa hambatan teknis yang berarti. Fleksibilitas tinggi ini juga membuka pintu bagi para pedagang untuk berani melakukan eksperimen penggabungan berbagai macam aliran data yang unik. Bayangkan saja Anda bisa menggabungkan data volume perdagangan dari satu skrip dengan sinyal perpotongan harga dari skrip yang sama sekali berbeda. Hasil perkawinan silang data semacam ini sering kali sukses melahirkan wawasan pasar yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Aturan Main dan Batasan Teknis Input Eksternal Meskipun terdengar sangat membebaskan, ada beberapa aturan teknis mutlak yang wajib Anda patuhi agar fitur penyelarasan data ini bisa berjalan mulus. Pengembang platform memang sengaja menerapkan batasan struktural tertentu guna menjaga stabilitas server dan mencegah sistem mengalami kelebihan beban komputasi. Agar tidak kebingungan saat mulai menyusun program, mari kita cermati bersama beberapa batasan teknis yang sangat penting untuk diingat: Sistem saat ini hanya mengizinkan penggunaan maksimal satu sumber input eksternal saja untuk setiap Strategi TradingView yang beroperasi secara bersamaan. Skrip kode Anda secara hukum sintaksis hanya diperbolehkan memuat tepat satu buah pemanggilan fungsi input yang menggunakan format tipe sumber secara spesifik. Target input eksternal yang ditarik mutlak harus berupa sebuah visualisasi plot atau gambar garis dari skrip studi yang sedang aktif menyala. Manfaat Delegasi Perhitungan Rumit Menyerahkan tugas perhitungan matematika yang rumit kepada Indikator Analisis pihak ketiga adalah sebuah langkah taktis yang sangat cerdas dan menghemat tenaga. Anda tidak perlu lagi memaksa otak untuk memecahkan rumus aljabar yang rumit saat sedang berusaha membangun logika pesanan beli atau jual. Biarkanlah alat ukur eksternal tersebut yang bekerja keras mengolah data mentah harga hingga matang dan siap untuk Anda santap. Pendekatan delegasi tugas ini sangat cocok diterapkan saat Anda sedang membangun sistem perdagangan algoritma yang sangat sensitif terhadap perubahan waktu. Skrip utama yang ringan dan terbebas dari beban komputasi berat dijamin akan mampu merespons gejolak perubahan harga dengan jauh lebih gesit. Pada akhirnya, kecepatan respons yang presisi inilah yang akan menyelamatkan portofolio Anda dari ancaman keterlambatan masuk pasar yang sering terjadi. Anda juga akan merasakan

Bitcoin Diperkirakan Punya “Floor” di $70K Saat Minat Institusi Kembali: Akankah Perang dan Inflasi Mengganggu?

Adopsi Bitcoin oleh investor institusional mulai menunjukkan peningkatan lagi. Namun di sisi lain, kondisi global yang tidak stabil—terutama potensi kenaikan inflasi di Amerika Serikat—masih menjadi penghambat bagi BTC untuk bergerak stabil di atas $70.000. Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin masih berada dalam fase konsolidasi. Pihak bullish terlihat kesulitan mempertahankan level $70.000, sementara pasar dihadapkan pada dua narasi yang saling bertolak belakang: meningkatnya minat institusi versus tekanan dari faktor makro ekonomi yang melemahkan pasar saham AS. Menurut analis Bloomberg yang mengacu pada proyeksi harga $150.000 pada 2026 dari Bernstein, data menunjukkan bahwa investor institusional mulai kembali masuk ke pasar dalam jumlah besar. Hal ini memperkuat asumsi bahwa Bitcoin kemungkinan sudah mencapai titik dasar (floor). Pada awal Maret, arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot hampir menyentuh $1 miliar hanya dalam waktu satu minggu. Selain itu, Strategy membeli lebih dari 22.000 BTC senilai $1,6 miliar melalui instrumen barunya, Stretch (STRC). Perusahaan tersebut bahkan berencana mengumpulkan dana tambahan untuk membeli Bitcoin hingga $44,1 miliar. Langkah serupa juga datang dari Morgan Stanley yang tengah mengajukan ETF Bitcoin spot mereka sendiri. Mereka juga menyarankan alokasi sekitar 2%–4% portofolio ke aset kripto. Di waktu yang sama, regulasi baru di AS mulai membuka peluang bagi dana pensiun 401(k) untuk berinvestasi di Bitcoin. Sementara itu, Coinbase menghadirkan inovasi baru dengan memungkinkan penggunaan BTC dan USDC sebagai uang muka kredit rumah melalui kerja sama dengan Fannie Mae. Fitur ini memberi kesempatan bagi investor untuk memanfaatkan likuiditas aset mereka tanpa harus menjualnya. Seberapa Penting Level $70.000? Meski minat institusi meningkat, Bitcoin masih menghadapi tantangan besar. Volatilitas harga yang tinggi dan tren penurunan selama hampir enam bulan terakhir menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya pulih. Faktor geopolitik juga ikut memperkeruh situasi. Konflik antara AS-Israel dan Iran, ditambah pernyataan keras dari Presiden Donald Trump, membuat pasar semakin waspada. Ancaman pengiriman pasukan darat ke Iran bahkan memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dalam waktu dekat. Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Indeks saham utama di AS mengalami penurunan, sementara harga minyak justru melonjak lebih dari 4% akibat ketegangan geopolitik yang meningkat. Ketidakpastian ini membuat banyak investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Hal ini menjelaskan mengapa harga Bitcoin sering turun kembali di bawah $70.000, dan mengapa kenaikan ke kisaran $71.000–$76.000 cenderung tidak bertahan lama. Meski begitu, ada satu sinyal positif. Baik investor institusi maupun ritel tampaknya melihat area $70.000 ke bawah sebagai zona beli yang menarik. Ini membuat level tersebut semakin kuat sebagai support penting bagi pergerakan Bitcoin ke depan.

Twenty One Capital Jadi Pemegang Bitcoin Publik Terbesar Kedua Usai Penjualan oleh MARA

Perusahaan investasi kripto milik Jack Mallers, Twenty One Capital, kini menempati posisi sebagai perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar kedua. Posisi ini diraih setelah perusahaan penambangan MARA Holdings menjual sebagian besar cadangan BTC-nya dan turun ke peringkat ketiga. Saat ini, Twenty One Capital memiliki sekitar 43.514 BTC dalam kas perusahaan, dengan nilai lebih dari 2,9 miliar dolar berdasarkan harga pasar terbaru, menurut data dari BitcoinTreasuries. Perusahaan tersebut mulai melantai di bursa pada akhir tahun lalu melalui penggabungan dengan Cantor Equity Partners, sebuah perusahaan SPAC. Sahamnya kini diperdagangkan di NYSE dengan kode XXI, meskipun kinerjanya tercatat turun lebih dari 25% sejak awal tahun. Sementara itu, MARA menjual sekitar 15.133 BTC sepanjang Maret 2026, dengan nilai sekitar 1,1 miliar dolar. Di bawah Twenty One Capital, perusahaan Jepang Metaplanet berada di posisi berikutnya dengan kepemilikan sekitar 35.100 BTC. Analis dari Bitcoin Treasuries, Tyler Rowe, menilai situasi ini sebagai peringatan bagi industri. Ia menjelaskan bahwa MARA sebelumnya menggunakan utang secara agresif untuk mengakumulasi Bitcoin selama pasar bullish, namun kini terpaksa menjual aset tersebut—bahkan dengan potensi kerugian—untuk memenuhi kewajiban utangnya. Strategi ini dinilai berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh Strategy, yang memperlakukan Bitcoin sebagai “kredit digital jangka panjang” dan menggunakannya sebagai jaminan untuk terus membiayai akumulasi aset. Rowe juga mempertanyakan apakah perusahaan penambangan dapat bertahan sebagai perusahaan treasury Bitcoin tanpa dukungan infrastruktur pasar modal yang kuat seperti yang dimiliki Strategy. Tekanan pada perusahaan treasury kripto Perubahan posisi ini juga mencerminkan tekanan yang sedang dialami perusahaan kripto, baik di sektor penambangan maupun treasury, terutama akibat kondisi pasar yang menantang sejak tren bearish dimulai pada Oktober 2025 serta penurunan harga saham. Sebelumnya, firma modal ventura Breed memprediksi bahwa hanya sebagian kecil perusahaan treasury kripto yang mampu bertahan dari “death spiral” akibat penurunan nilai aset bersih pasar (mNAV). Perusahaan yang masih dapat mempertahankan premi harga memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendanaan tambahan. Sebaliknya, perusahaan yang kehilangan akses ke pembiayaan murah kemungkinan harus menjual kepemilikan Bitcoin mereka untuk memenuhi kewajiban utang. CEO HashKey Capital, Deng Chao, juga menyatakan bahwa perusahaan yang memperlakukan aset kripto hanya sebagai spekulasi cenderung tidak mampu bertahan dalam siklus pasar. Sementara itu, perusahaan dengan strategi pengelolaan aset yang disiplin memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Pengadilan Tolak Upaya Pengembang Kripto Hindari Hukum Pengiriman Uang

Pengadilan Texas baru saja membatalkan gugatan yang diajukan oleh pengembang kripto Michael Lewellen. Lewellen sebelumnya meminta kepastian hukum (declaratory judgment) agar perangkat lunaknya, Pharos—sebuah platform donasi crowdfunding—tidak dijerat oleh undang-undang pengiriman uang. Poin-Poin Utama dari Putusan: Alasan Penolakan: Hakim Reed O’Connor membatalkan kasus ini karena menilai Lewellen gagal membuktikan adanya ancaman penuntutan hukum yang nyata dan mendesak. Peran Memo DOJ: Hakim merujuk pada memo Departemen Kehakiman AS (DOJ) yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menargetkan bursa kripto, layanan mixing, atau dompet luring (offline wallets) atas pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna akhir mereka. Perbedaan dengan Kasus Lain: Lewellen sempat menggunakan kasus penahanan pendiri Tornado Cash dan Samourai Wallet sebagai bukti adanya ancaman nyata bagi pengembang. Namun, Hakim O’Connor menegaskan bahwa kasus-kasus tersebut murni berakar pada tindak pidana pencucian uang secara sadar, berbeda dengan Pharos yang diklaim hanya memfasilitasi bisnis donasi yang sah. Reaksi Industri dan Langkah Selanjutnya: Meskipun gugatan ditolak, status pembatalan ini bersifat without prejudice, yang berarti Lewellen masih bisa mengajukan kembali gugatannya dengan beberapa perbaikan. Lewellen dan Peter Van Valkenburgh dari Coin Center (kelompok advokasi kripto yang mendukung gugatan ini) menyatakan kekecewaan mereka. Mereka berpendapat bahwa memo DOJ yang tidak mengikat secara hukum bukanlah pengganti kepastian hukum yang riil. Sebagai solusi jangka panjang, mereka kini mendesak Kongres AS untuk segera mengesahkan Undang-Undang Kepastian Regulasi Blockchain 2026 guna melindungi para pengembang perangkat lunak non-custodial.

Kedaluwarsa Opsi Bitcoin Senilai $18,6 Miliar: Sanggupkah BTC Menembus $75.000?

Menjelang batas waktu kedaluwarsa opsi Bitcoin bulan Maret pada hari Jumat mendatang, para investor yang mengharapkan kenaikan (bulls) menghadapi tantangan berat. Untuk membalikkan keadaan menjadi keuntungan, mereka membutuhkan lonjakan harga Bitcoin setidaknya 6% untuk mencapai level $75.000. Poin-Poin Utama: Risiko Kerugian Bulls: Lebih dari 90% opsi beli (call options) kemungkinan akan hangus tanpa nilai jika harga Bitcoin tidak berhasil menembus angka $71.000 pada hari Jumat. Sentimen Pasar: Harga Bitcoin saat ini terjebak di kisaran sempit antara $67.700 dan $71.600. Pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh reaksi pasar saham AS terhadap kondisi makroekonomi, termasuk inflasi yang masih membayangi (dengan harga minyak WTI di atas $90) dan ketidakpastian geopolitik terkait konflik AS dan Israel-Iran. Krisis Kredit Swasta: Ketidakpastian ekonomi semakin diperparah oleh adanya pembatasan penarikan dana pada beberapa manajer aset kredit swasta besar di AS akibat kekhawatiran atas kualitas pinjaman. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi para investor yang memprediksi penurunan harga (bears). Mengapa Pihak Bears Sedang Di Atas Angin? Secara keseluruhan, volume opsi beli sebenarnya mendominasi pasar bulan Maret dengan nilai $11,2 miliar, dibandingkan opsi jual (put options) yang bernilai $7,4 miliar. Namun, angka ini menjadi kurang relevan karena Bitcoin gagal bertahan di atas $74.000 dalam beberapa minggu terakhir. Di bursa Deribit—yang memegang 76% pangsa pasar—para investor bullish tampaknya terlalu percaya diri. Sebagian besar dari mereka memasang target harga di atas $90.000 (kemungkinan besar taruhan ini dilakukan pada bulan Februari ketika harga BTC sempat menyentuh $86.000). Akibatnya, jika harga tetap di kisaran $71.000 saat kedaluwarsa, sekitar 92% dari total opsi beli ini tidak akan ada harganya. Di sisi lain, sekitar 40% opsi jual masih cukup aman dan relevan. Empat Skenario Harga pada Hari Kedaluwarsa (Data Deribit): Berdasarkan tren harga saat ini, berikut adalah proyeksi keuntungan bersih antara pihak calls (beli) dan puts (jual): $65.000 hingga $69.000: Pihak put (jual) menang dengan selisih $1,8 miliar. $69.001 hingga $72.000: Pihak put (jual) menang dengan selisih $950 juta. $72.001 hingga $75.000: Pihak put (jual) menang dengan selisih $430 juta. $75.001 hingga $78.000: Pihak call (beli) berbalik menang dengan selisih $790 juta. Kesimpulan: Agar hasil kedaluwarsa opsi bulan Maret ini berpihak pada investor bullish, Bitcoin mutlak membutuhkan reli sebesar 6% dari level saat ini ($70.900) menuju $75.000. Jika tidak, pihak bears yang akan mengambil keuntungan.

VersaBank Perluas Deposito Tokenisasi dengan Fitur Valas Lintas Negara

Bank digital asal Kanada, VersaBank, menambahkan fitur konversi mata uang asing pada platform deposito tokenisasinya. Pembaruan ini memungkinkan pengguna menukar dolar AS dan dolar Kanada secara langsung dalam sistem berbasis blockchain. Diumumkan pada Selasa, fitur tersebut memanfaatkan Real Bank Tokenized Deposits (RBTDs), yaitu representasi digital dari deposito fiat yang diterbitkan dan dijamin oleh bank tersebut. Dengan adanya pembaruan ini, proses konversi mata uang dapat dilakukan secara real-time selama 24 jam. Fitur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara dengan mengurangi ketergantungan pada sistem valuta asing tradisional yang umumnya lebih lambat dan terbatas oleh jam operasional bank. Langkah ini masih merupakan tahap pengembangan menuju komersialisasi, bukan peluncuran penuh produk. Sejak tahun lalu, VersaBank telah menguji coba sistem deposito tokenisasi mereka, dan penambahan konversi USD–CAD menjadi perluasan fungsi, terutama untuk transaksi antara Amerika Serikat dan Kanada. Menurut American Bankers Association, RBTD adalah versi tokenisasi dari deposito bank yang dapat ditransfer melalui infrastruktur blockchain, namun tetap menjadi kewajiban bank penerbit dan didukung sepenuhnya oleh dana nasabah. Berbeda dengan stablecoin yang biasanya diterbitkan oleh entitas nonbank, model ini tetap berada dalam kerangka sistem perbankan tradisional. Bank mulai eksplorasi deposito tokenisasi Sejumlah institusi keuangan kini semakin aktif mengeksplorasi deposito tokenisasi sebagai cara menggabungkan kecepatan dan fleksibilitas blockchain dengan keamanan deposito konvensional. Pendekatan ini dinilai relevan untuk berbagai kebutuhan, seperti pembayaran lintas negara dan penyelesaian transaksi keuangan. Sebagai contoh, BNY telah meluncurkan layanan deposito tokenisasi untuk klien institusional, khususnya untuk mendukung kebutuhan jaminan dan margin. Langkah ini diambil karena meningkatnya permintaan akan metode pemindahan aset yang lebih cepat dan efisien. Di tingkat global, inisiatif seperti Project Guardian di Singapura juga tengah menguji penerapan tokenisasi aset di pasar keuangan, termasuk melalui program percontohan yang melibatkan deposito tokenisasi dan aset digital lainnya. Tren ini sejalan dengan pertumbuhan pesat tokenisasi sebagai salah satu use case utama blockchain. Data industri menunjukkan bahwa nilai aset yang telah ditokenisasi kini telah melampaui 27 miliar dolar, mencakup berbagai instrumen seperti kredit privat, obligasi pemerintah AS, hingga saham.

Coin Center Desak SEC Utamakan Regulasi Jelas daripada No-Action Letter

Kelompok advokasi kripto berbasis di Washington D.C., Coin Center, meminta U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) untuk berhenti menangani kasus kripto secara reaktif melalui pendekatan individual, dan mulai fokus pada penyusunan aturan yang lebih jelas dan menyeluruh. Dalam surat yang dikirimkan kepada SEC, Coin Center menyatakan bahwa no-action letter memang dapat memberikan kejelasan jangka pendek, namun berisiko menimbulkan fragmentasi, regulasi implisit berdasarkan penilaian tertentu, serta perlakuan yang tidak merata antar proyek. Mereka juga menekankan bahwa nilai utama jaringan kripto terletak pada sifatnya sebagai infrastruktur publik yang mirip utilitas, bukan sebagai layanan yang dikendalikan oleh entitas privat. Surat tersebut, yang dipublikasikan pada Selasa dan bertanggal 5 Maret, muncul di tengah langkah regulator yang mulai memberikan panduan lebih rinci terkait klasifikasi aset kripto. SEC baru-baru ini merilis interpretasi mengenai bagaimana aset kripto yang bukan sekuritas diperlakukan dalam hukum sekuritas federal, termasuk klasifikasi untuk komoditas digital, koleksi digital, alat digital, stablecoin, dan sekuritas digital. Selain itu, SEC juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) pada 12 Maret untuk meningkatkan koordinasi pengawasan pasar keuangan, sekaligus mengakhiri konflik kewenangan yang telah berlangsung lama antara kedua lembaga tersebut. Kritik terhadap pendekatan berbasis kasus Penggunaan no-action letter di industri kripto masih terus berlangsung. Salah satu contoh terbaru adalah surat dari divisi Market Participants CFTC kepada perusahaan dompet kripto Phantom Technologies. Dalam kondisi tertentu, surat tersebut menyatakan bahwa regulator tidak akan merekomendasikan tindakan penegakan hukum terhadap perusahaan atau stafnya terkait kewajiban pendaftaran sebagai broker. Dalam beberapa bulan terakhir, SEC juga telah mengeluarkan beberapa no-action letter untuk proyek kripto tertentu, termasuk di sektor jaringan infrastruktur fisik terdesentralisasi (DePIN). Sebelumnya, regulator juga memberikan izin bagi penasihat investasi untuk menggunakan perusahaan trust tingkat negara bagian sebagai kustodian aset kripto. Namun, Coin Center menilai pendekatan seperti ini menciptakan ketidakpastian di pasar secara keseluruhan. Mereka berargumen bahwa pemberian keringanan secara selektif dapat menguntungkan pihak tertentu yang memiliki sumber daya dan insentif untuk mengajukan permohonan tersebut, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam industri. Upaya legislatif untuk kejelasan regulasi Di sisi lain, para legislator di Amerika Serikat juga tengah mengupayakan solusi melalui jalur hukum. Salah satunya adalah RUU CLARITY Act yang saat ini sedang diproses di Kongres. Jika disahkan, undang-undang tersebut akan memberikan panduan yang lebih jelas bagi SEC dan CFTC mengenai pembagian kewenangan dalam mengawasi aset digital. Tujuannya adalah mengurangi ambiguitas regulasi serta memastikan perlakuan yang lebih konsisten terhadap seluruh pelaku di industri kripto.